
"Benar juga yah dia suamiku percuma mau berontak yang ada pak Martin dan yang lainnya malah curiga," batin Hanna.
"Oke-oke wait! Saya ada satu permintaan," ucap Hanna menahan tubuh itu dengan tangannya.
"Permintaan? Hei, jangan salah paham! Kamu pikir ini keinginanku?"
"Oh jadi bukan keinginanmu? Oke, minggir!" Hanna mendorong tubuh Michael ke samping dan ia kembali merapihkan piyama tidurnya.
Pria itu menelan ludah, saat pundak mulus itu kembali tertutup. Adik jantannya sudah berdiri sempurna tinggal menunggu aba-aba dengan posisi siap tancap. Namun, sepertinya perang terhenti bahkan sebelum dimulai.
Setiap malam Michael menahan diri untuk tidak tergoda, melihat kemolekan sang istri yang tidur di sofa depannya. Belum lagi saat selimut itu tersingkap, paha mulus dan lekukan tubuh bak biola spanyol terpampang nyata di depannya.
Tapi, gengsi dalam dirinya masih lebih besar dari rasa ingin menggeledah setiap inci pemandangan di depannya. Dan sepertinya, malam ini keinginan itu sudah dapat mengalahkan egonya. Terlebih, ultimatum sang ayah terus terngiang di telinganya.
"Permintaan apa?" gertak Michael.
"Pecat Ansell," kata Hanna dengan tenang.
"Why?"
"Tidak ada alasan khusus saya hanya merasa tidak nyaman bekerja bersamanya," jawabnya.
"Kau masih mencintainya?" Michael menelisik perubahan raut wajah istrinya.
"Sama sekali tidak."
"Lalu kenapa mesti terganggu? Bukankah ini bagus mantan istrinya menikahi atasannya?" ledeknya terkekeh.
"Tidak. Saya tidak mau melihat seseorang dari masa lalu terus membayangi masa depan," terangnya.
"Kelihatan sekali anda belum move on. Lagi pula Ansell adalah orang kepercayaan Daddy yang sangat kompeten tak akan mudah menyingkirkannya," tolak Michael.
"Anda cukup menyetujui, saya yang akan bertindak."
"Jangan gegabah! Kecerobohanmu nanti akan berimbas padaku."
"Satu lagi, proyek di desamu akan menjadi kantor penyedia jasa ekspor import. Persiapkan dengan baik," lanjutnya.
Hanna hanya mengangguk-angguk seraya melirik pria di depannya. Perlahan ia beringsut menjauh.
"Tunggu apa lagi? Cepat tunaikan kewajibanmu!"
"Mmm, sebentar saya ...."
Baru saja ia hendak berbalik menghindari permintaan suaminya, tangan Michael kembali menarik pinggangnya hingga terjatuh ke atas tubuhnya.
"Ayolah Hanna, kesampingkan rasa bencimu pada pria ini. Ada banyak rencana di depan sana yang harus terealisasikan dari pernikahan ini," bisiknya dalam hati.
Ia memejamkan matanya saat bibir suaminya melekat tanpa ragu. Lalu, tangan kekar itu mulai bergerilya menelusuri setiap inci tubuhnya. Tanpa sadar perlahan tapi pasti ******* itu meluncur dari mulut Hanna.
"Astaga! Apa aku mendesah?" pekiknya dalam hati menahan malu.
Tubuhnya menggeliat merasakan sensasi sentuhan itu. Lambat laun semakin jauh jatuh terbuai dalam permainan sang ahli. Malam pertama yang tertunda itu akhirnya datang juga.
__ADS_1
Bulan bersinar terang di luar sana, angin berembus mesra membelai dedaunan dan menggoyahkan ranting-ranting pohon yang berjejer rapi di halaman rumah mewah itu.
Malam itu, pergulatan dua orang yang menyimpan ambisi terjadi. Bukan atas dasar cinta melainkan nafsu sesaat yang harus mereka lakukan demi sebuah pencapaian. Pernikahan menjadi topeng, demi menuruti keinginan sang ayah. Keduanya merasa diuntungkan dengan hubungan ini.
Akankah cinta hadir di antara keduanya? Akankah saling memiliki mereka rasakan seiring berjalannya waktu?
***
Keluarga Ansell
Terlihat pria berpostur tinggi putih itu tengah memanaskan mobil di garasi. Di kamar kedua anak kembarnya, pembantu setengah baya itu tengah sibuk memakaikan baju dan menyiapkan barang bawaan.
"Bi, sudah selesai?" tanya Zea memasuki kamar.
"Belum Bu, anak-anak sedang memilih baju."
"Ya sudah biar saya yang urus mereka tolong siapkan makanannya yah," pintanya sopan.
Hari ini Ansell cuti dari kantor mereka ada janji piknik bersama keluarga Athifa kakaknya. Setelah Zea melepas pekerjaan itu, dia kini lebih fokus pada keluarganya.
Dia mulai percaya sepenuhnya kepada sang suami karena sudah menuruti kemauannya, untuk tidak lagi memberikan uang kepada Anindira anak kandungnya dari Hanna.
Meski diam-diam pria itu tetap saja menyuruh acounting untuk memotong gajinya dan langsung mengirimkan uang itu ke rekening Ratna sang nenek dari anaknya.
Saat semua sudah siap, mereka tampak keluar rumah dengan segala barang bawaan di tangan masing-masing. Kedua anaknya tertawa bahagia berlari menuju mobil. Tas punggung berkarakter super hero bersayap itu mereka tenteng dengan semangat.
"Tolong ambilkan dompetku di tas kantor donk," seru Ansell kepada istrinya.
Setelah meletakkan tas berisi baju ganti anak-anaknya ke dalam mobil, Zea kembali ke kamar mengambil dompet Ansell. Saat ia membuka resleting tas laptop berwarna hitam itu, sebuah amplop berwarna merah marun bertengger di sana.
"Nggak mungkin si ****** itu kan?" gumamnya.
Ia mengambil dompet dan membawa surat undangan itu di tangannya. Tanggalnya sudah terlewat beberapa hari yang lalu. Dan suaminya tak memberi tahu apa pun perihal pernikahan ini, sepertinya Ansell juga tak hadir karna di tanggal itu dia ada bersamanya di rumah.
Setelah berada di dalam mobil dan duduk di samping suaminya, Zea mengacungkan undangan itu.
"Apa wanita ini adalah si ****** itu?" tanyanya melirik Ansell.
"Apaan sih bahasanya, Ma." kata Ansell melirik ke kursi belakang.
"Heran aja pake mantra apa dia? Palingan juga nggak jauh dari jual diri," ledeknya.
"Ada anak-anak di belakang, jaga bahasanya Ze!" seru Ansell sambil menyalakan mobil.
"Kenapa kamu tak datang waktu mereka menikah?" tanyanya kemudian.
"Nggak papa," jawabnya singkat.
"Ko nggak papa? Dia kan bosmu."
"Datang salah, nggak datang salah juga. Kamu mah aneh yah serba salah," protesnya.
"Ya kamu kenapa nggak bilang? Malah diumpetin aja di tas."
__ADS_1
"Siapa yang ngumpetin Ma, aku aja udah lupa itu ada di tas."
"Kenapa nggak langsung dibuang? Apa karna ada nama si ****** itu?"
Ansell menghela napas panjang, percuma dia bicara pada istrinya jika menyangkut Hanna. Wanita itu pasti akan terus memaki dan menghina mantan madunya itu.
"Mau jadi pergi nggak nih? Kalo masih bahas yang nggak penting mending nggak usah deh," gertak Ansell menginjak rem.
Seketika wanita itu terdiam, bibirnya mengatup rapat. Matanya sesekali melirik suaminya sinis. Di belakang anaknya tengah menonton layar yang dipasang di belakang kursi dengan serius. Sang bibi pun turut menghela napas dalam mendengar pertengkaran kecil majikannya.
***
Pagi sekali Hanna sudah selesai mandi, ia melirik suaminya yang masih terpejam di balik selimut tebal itu. Diraihnya remot AC dan mematikannya. Meski mandi dengan air hangat, saat memasuki kamar tubuhnya menggigil.
Michael menggeliat saat mendengar AC dimatikan, ia menyingkap selimut yang menutupinya. Spontan Hanna berteriak melihat tubuh naked suaminya dan reflek menutup wajahnya.
"Heh apaan sih? Pagi-pagi teriak?" seru pria itu seraya berdiri.
Hanna berbalik badan melihat pemandangan menggelikan di depannya. Bukan hanya suaminya yang berdiri, adik kecilnya pun tak kalah tegang di bawah sana.
"Udah buruan mandi!" pekiknya.
Michael menahan geli melihat ekspresi istrinya itu.
"Nak, ada apa?" seru suara di balik pintu.
Rupanya teriakannya tadi terdengar sampai keluar kamar. Martin yang baru saja didorong keluar kamar terkejut mendengar teriakan dari kamar menantunya.
"Tidak papa, Dad. Ta-tadi ada kecoa," kilahnya melirik sinis suaminya yang bersiul menuju kamar mandi dan masih bertelanjang.
"Sepertinya kamar mereka harus kembali dibersihkan," kata Martin kepada Belinda di belakangnya.
Wanita itu hanya menanggapi dengan kedua alisnya ke atas. Mereka menuju meja makan untuk sarapan.
Tak lama kemudian, Laura disusul David turun dari tangga.
Meski sudah kaya raya, keluarga mereka selalu rajin bangun pagi dan berangkat bekerja tepat waktu. Kebiasaan yang tertanam sejak kecil sudah melekat di keseharian mereka.
Namun, pagi ini Michael sedikit terlambat. Hanna sudah siap sedari tadi dan sedang menunggu suaminya yang tengah berpakaian.
Pria itu melirik istrinya yang sudah terlihat rapi. Kemeja merah muda dan rok span selutut warna hitam serta rambut basah yang dibiarkan tergerai. Aroma parfum yang tercium membuat Michael terus memperhatikan sang istri dari kaca lemari 5 pintu itu.
Senyum terus tersungging dari bibirnya, yang diperhatikan tak sadar. Hanna tengah serius merapikan laptop dan memasukkannya ke dalam tas.
Pandangan Michael tertuju pada belahan kancing baju Hanna. Sejurus kemudian bayangan pertempuran semalam terlintas di benaknya. Ia pun mengusap wajahnya membuyarkan bayangan itu.
"Saya keluar duluan yah," ucap Hanna melihat Michael.
"Tunggu!" jawabnya singkat.
"Huft." Wanita itu menghela napas.
"Ingat Michael, semalam itu pertama dan terakhir. Bukan keinginanmu tapi perintah Daddy," gumamnya dalam hati.
__ADS_1
Bersambung