
"Kenapa sampai sejauh ini rencanamu, Mic?"
"Biarkan saja, akan kubuat dia bertekuk lutut di hadapanku."
"Daddy sampai jatuh sakit mendengar semua rencana gila ini, dan kamu masih aja asik main-main dengan wanita itu! Ayolah, fokus pada perusahaan, lepaskan dia."
"Mom, dia sudah berani melaporkan keluarga kita ke polisi sampai media berulang kali mendatangi kantor untuk wawancara denganku. Belum lagi surat panggilan yang dilayangkan polisi. Michael tidak bisa tinggal diam."
"Bukankah ini ulahmu sendiri? Siapa suruh ganggu wanita itu, daddymu bilang kan dia cukup kritis jangan sampai hal yang lebih buruk terjadi padamu dan juga perusahaan kita!"
"Tenang aja, Michael yakin cara ini akan membuatnya diam tak berkutik."
"Tapi bukan sedikit uang yang kamu keluarkan untuk membangun kantor di sana. Belum lagi penyuapan yang anak buah kamu lakukan terhadap aparat pemerintah di sana demi mendapatkan tanah itu! Ini bukan lagi soal sepele. karena ambisi, kamu akan berurusan dengan hukum, Nak!"
"Mommy tenang aja, mengorbankan satu orang demi menyejahterakan banyak orang pasti lebih menggiurkan untuk orang-orang pelosok seperti mereka."
"Kamu ini selalu keras kepala. Itulah kenapa, daddy begitu berat memberikan tanggung jawab ini padamu. Jika sampai terjadi sesuatu lagi, kami tidak akan ikut campur!"
Sang ibu yang geram berbalik meninggalkan anaknya. Ia tak sanggup lagi mendengar lebih gila lagi ambisi Michael.
Sepeninggal ibunya ia tampak bengong, memandang ke langit-langit kantornya. Tangannya sibuk membolak-balikan ponsel yang dipegangnya. Ia terus menunggu wanita itu menghubunginya lagi.
"Ah sial! Kenapa juga gue nungguin dia," keluhnya mengusap wajahnya kasar.
***
Embun yang menempel pada dedaunan perlahan mengkristal, memenuhi padang rumput di sepanjang jalan menuju desa. Angin yang berembus menusuk kulit hingga ke tulang.
Seorang wanita menenteng tas ransel menyusuri jalanan sepi, hatinya tak karuan saat di kejauhan sayup terlihat tumpukan material bangunan memenuhi setengah badan jalan.
"Pria gila itu, apa yang dia lakukan di rumah mama?" gumamnya geram.
Ia mempercepat langkahnya, dengan hati kesal.
Sesampainya di halaman, Hanna langsung menuju ke dalam. Alangkah terkejutnya ia melihat isi rumahnya berantakan dan barang-barangnya sudah tidak ada di sana. Begitu pun dengan orang tuanya.
Saat ia membuka kamar depan, ada beberapa pria tengah tertidur pulas. Mulutnya ternganga jantungnya berdegup kencang, semua kamar ia buka tak satu pun orang di dalamnya yang ia kenal.
"Kemana Mama dan Anin?" tanyanya dalam hati.
Kepanikan menyelimutinya, ingin sekali ia menggedor pintu dengan keras. Dan bertanya keberadaan mereka. Tapi, bagaimana jika para pria ini orang-orang jahat yang tempo hari menculiknya.
Ia pun mengurungkan niatnya dan segera berlari menuju rumah Pak RT. Diliriknya jam di ponselnya pukul 3 pagi. Dengan tak memedulikan waktu, Hanna sampai di depan rumah ketua RT dan langsung mengetuknya pelan.
"Assalamualaikum," ucapnya berulang kali.
Entah ketukan yang ke berapa pintu kayu itu terbuka. Terlihat pria paruh baya tengah mengenakan kacamatanya kaget melihat Hanna.
__ADS_1
"Maaf pak, saya mengganggu." ucap Hanna setengah membungkuk.
"Iya, siapa yah? Dan ada keperluan apa?" mimik wajahnya berubah pucat dan salah tingkah.
"Saya Hanna, Pak. Anaknya Bu Ratna," jawabnya.
"Oohh iyaa, Nak Hanna anak Bu Ratna yah. Mari silahkan masuk, saya kira siapa maaf pangling bapak. Tak kira siapa tadi," ujarnya mempersilahkan Hanna masuk.
"Iya nggak papa, Pak. Sudah lama juga kan nggak ketemu."
"Iya, sekarang sudah dewasa sekali dan mau menikah yah?"
Deg! Pak RT pasti sudah mendengar kabar itu, pikir Hanna. Hatinya girang berharap bapak ini mengetahui keberadaan sang mama.
Setelah Hanna duduk, terlihat Bu RT juga keluar kamar dan menghampirinya.
Hanna memilih tidak menjawab pertanyaan tadi dia hanya tersenyum sopan dan duduk di kursi ujung.
"Ada apa Mba Hanna, subuh-subuh begini ke sini?" tanyanya duduk di samping Hanna.
"Itu Bu, maaf, Mama saya kemana yah? Di rumah nggak ada, dan ada beberapa orang pria yang tak dikenal, di dalam kamar." ucap Hanna melihat kedua orang di depannya.
Untuk sejenak mereka berdua malah saling berpandangan, sebelum akhirnya menjawab pertanyaan Hanna.
"Nggak ada di rumah? Waduh, nggak ada yang laporan ke saya mereka pergi. Saya pikir itu mau bangunan dan ada di dalam sibuk beres-beres." jawab pak RT melihat Hanna ragu.
"Tidak ada, Pak. Sudah saya cari-cari tadi. Keadaan rumah juga berantakan sekali barang-barang saya pun nggak ada," katanya putus asa.
"Tidak usah Pak, saya coba tanyakan tetangga sebelah saja nanti."
Hanna yakin, ini pasti ada hubungannya dengan Michael.
"Lah itu Nak Hanna mau dibangunkan rumah sama calon suaminya bener? Ko saya denger dari para tetangga Bu Ratna malah tidak tahu menahu soal itu," tanyanya.
"Mmm ... sebenarnya sedang ada masalah Pak. Keluarga saya sedang diancam oleh laki-laki gila. Dan saya curiga, Mama dan Anin dibawa mereka pergi."
"Ya Allah, laki-laki itu siapa? Bukannya calon suaminya Nak Hanna?"
Hanna menghela napas panjang, ia mengurungkan niatnya untuk menceritakan semuanya pada lelaki ini. Diliat dari gelagatnya sepertinya ada yang aneh. Sedari tadi beliau menekankan kata calon suami, seolah ada yang hendak dipastikannya.
"Lain kali saya cerita deh, Pak. Saya permisi, mau cari Mama saya dulu yah." Hanna memutuskan untuk berpamitan saja.
"Coba lapor polisi aja Mba Hanna kalo sudah 1x24 jam," Bu RT yang sedari tadi diam buka suara.
"Baik, Bu, Pak terimakasih. Dan maaf sekali sudah mengganggu," ucapnya seraya bersalaman. Ia pun keluar pintu dan bergegas pergi.
Hanna berpikir, tak mungkin kembali ke rumahnya. Ia butuh bantuan Reyhan untuk menemui Michael. Tapi, dia takut terjadi sesuatu pada kekasihnya itu jika turut membantunya.
__ADS_1
"Apa aku harus lapor polisi lagi? Ah, yang kemarin aja belum juga dilakukan penangkapan. Hukum selalu saja tumpul ke atas," keluhnya.
Ia bingung harus kemana, nggak mungkin ganggu tetangganya dini hari seperti ini. Rumah saudara dari mamanya pun ada di kampung sebelah yang jaraknya lumayan jauh kalo ditempuh jalan kaki.
Akhirnya ia memutuskan untuk ke mushola sambil menunggu subuh di sana.
Baru bebarapa menit sampai di mushola, terlihat Bu RT tergopoh menyusulnya.
"Tunggu, Mba Hanna!" katanya setengah berlari. Kini ia sudah berganti pakaian lebih rapi dan mengenakan jilbab serta menenteng tas belanja.
"Iya Bu RT? Mau ke pasar?"
Wanita paruh baya itu pun menarik tangan Hanna pelan, seraya meletakkan jari telunjuk di bibirnya. Kepalanya celingukan ke belakang memastikan tak ada orang.
Dia membawanya ke sisi mushola, tempat yang masih sepi.
"Ada apa Bu?" tanya Hanna heran.
"Beberapa hari yang lalu ada empat pria mendatangi rumah Bapak, mereka meminta ijin untuk membangun sebuah kantor di atas tanah Bu Ratna." paparnya pelan.
"Apa? Kantor? Ko tadi Bapak diam saja," tanya Hanna dengan alis mengerut.
"Kami diancam, dan tolong jangan beri tahu informasi ini dari saya." pintanya memelas.
Hanna terdiam sejenak, benar dugaannya dari respon pak rt tadi dia sudah menduga ada sesuatu yang ditutupi.
"Makannya Bapak tadi nanya, benar tidak lelaki itu calon suami Mba Hanna. Soalnya waktu bapak mau konfirmasi ke Bu Ratna mereka melarangnya, dan bilang kalo kalian sudah setuju. Dan bahkan mereka juga mau mengurus surat-suratnya ke kantor agraria," jelas Bu RT setengah berbisik.
"Astagfirullahaladzim, sudah sejauh ini lelaki itu bertindak. Apa maunya?" tanya Hanna geram. Kedua tangannya mengepal, giginya gemerutuk menahan amarah.
"Bapak pun sudah menduga, ada hal yang tidak beres dengan keluargamu. Tapi, kami bisa apa? Mba Hanna tau kan, kita ini hanya orang kecil sedangkan mereka dilihat dari kendaraan, pakaian dan tutur bahasanya seperti orang-orang besar." kata wanita itu, terpancar jelas di wajahnya kekhawatiran.
Tubuh Hanna lemas, ia roboh menyandar pada tembok mushola.
"Aku harus mempertahankan tanah ini, tidak ada satu orang pun yang berhak berbuat seperti ini pada keluargaku." batinnya.
Setelah berterimakasih pada Bu RT Hanna berjalan menuju rumahnya. Masih jam 4 pagi, ia yakin mereka masih tertidur.
Benar saja, mereka semua masih terlelap. Perlahan ia mengendap lewat pintu belakang, mencari surat-surat yang kemungkinan ada di sana. Selang beberapa menit tak kunjung juga ketemu surat apa pun di sana.
Saat hendak berbalik dari ruang tamu, ia melihat tumpukan kertas di dekat lemari tv. Dengan cepat ia mengambilnya.
"Denah dan struktur jabatan," gumamnya dengan terus memperhatikan kertas itu.
Mendadak matanya membulat, melihat nama Zea terpampang sebagai direktur utama.
"Zea?" ucapnya tak percaya.
__ADS_1
"Hei siapa kamu?" tanya seseorang dari depan pintu kamar.
Bersambung...