
Suasana di meja makan terlihat sunyi. Berulang kali Martin melirik pintu menunggu anak sulung dan menantunya itu. Sementara kedua anaknya telah lebih dulu menyantap roti bakar isi selai blueberry.
Di depannya terhidang menu sarapan lengkap, dari nasi goreng, ayam goreng, nasi putih dan cah brokoli campur telur. Serta roti tawar bakar isi berbagai selai.
Laura terlihat sudah rapi mengenakan blazer biru dan kemeja senada serta celana bahan warna putih. Sedangkan David hanya memakai kaos dan celana jeans biru dengan jas casual warna hitam yang ia selampirkan di kursi.
Terlihat Hanna dan Michael berjalan tergesa menuju meja makan. Mereka langsung menuju dua kursi kosong di samping sang ayah.
"Pagi Dad, Mom," sapanya berbarengan dengan sang istri.
"Hhmm," jawab sang ayah yang melirik Hanna dengan rambut basahnya.
"Kakak mau kemana rapi bener?" tanya Laura melihat Hanna.
"Ke kantor," jawabnya seraya tersenyum simpul.
"Asiikk, aku nebeng kakak yah?" timpalnya.
Hanna melirik suaminya yang tengah fokus dengan rotinya tanpa menanggapi sang adik.
"Aku juga." David menyahut tanpa ditanya.
"Mau ngapain Lu?" tanya Laura.
"Liat-liat aja lusa gue balik kan."
"Kamu sudah siapkan ruangan untuk Hanna?" Martin melihat Michael yang terdiam sedari tadi.
"Sudah," jawabnya singkat.
Ia tampak tengah menghabiskan suapan terakhirnya. Sementara Hanna baru saja hendak menyuap roti bakar dengan selai coklat di tangannya.
"Kalian berdua pakai mobil masing-masing saja. Ayo jalan," ajaknya pada sang istri.
Wanita itu terpaksa membawa rotinya dan berpamitan kepada kedua mertuanya.
Martin dan Belinda hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah sang anak.
"Tega banget Kak Martin, Kakak ipar baru saja mau nyuap udah diseret aja." celoteh David.
"Udah ah, Laura jalan ya Dad."
"Tungguuu, gue nebeng!"
"Bawa mobil sendiri!" gertak gadis itu.
"Peliiittt!"
"Bomat!"
Mereka pun tampak berebut menuju pintu keluar.
Kali ini Belinda terkekeh melihat tingkah anak bungsunya.
"Hari ini jadwal cek up nanti jam 8 kita jalan yah," kata wanita itu kepada suaminya.
"Pulang dari RS kita mampir ke kantor," ajak Martin masih menyuap roti polos tanpa selai.
"Mau ngapain? Kamu kan belum sepenuhnya pulih."
"Aku penasaran sikap Michael pada istrinya saat di kantor."
Belinda hanya bisa menghela napas panjang. Sejak dulu keputusan suaminya adalah mutlak baginya dan juga keluarga. Tak ada yang berani menolak jika Martin sudah melayangkan ultimatum. Dirinya memang jarang hadir saat acara-acara sekolah sang anak. Jarang terlihat mengobrol dan menemani mereka belajar.
Namun, layaknya seorang ayah lainnya. Semua kebutuhan anak-anaknya selalu menjadi nomor satu baginya. Fasilitas terbaik selalu ia utamakan untuk pendidikan ketiga anaknya. Bekerja keras dan tanggung jawab terhadap keluarga adalah bentuk kasih sayang yang bisa ia lakukan.
***
Di dalam mobil Hanna menggerutu sambil menyuap roti yang baru digigitnya sekali itu. Dia kesal pria di sampingnya yang terlambat bangun malah dirinya yang diburu-buru.
__ADS_1
"Udah cepetan habisin! Nggak usah banyak protes, siapa suruh bangunin saya telat."
"Yeee, anda kan biasanya bangun lebih awal! Lagian alarm sudah bunyi malah dimatiin dan tidur lagi. Dasar kebluk!" umpatnya berpaling menghadap jendela.
"Apa kamu bilang?"
"Nggak!"
Michael tersenyum kecut, ia menyadari pagi ini memang enggan rasanya untuk bangun dan berangkat ke kantor. Rasanya ingin berlama-lama di kasur mengenang kejadian semalam.
Pria itu tak menyangka ternyata Hanna bermain dengan sangat lihai. Bahkan ia merasakan bagian sensitif istrinya itu terasa masih gadis meskipun sudah memiliki anak. Dugaannya selama ini salah, yang mengira wanita di sebelahnya itu adalah perempuan murahan.
"Kapan kamu bercerai?" tanyanya tiba-tiba.
Hanna mengerutkan keningnya, mendengar sang suami memanggilnya kamu. Terlebih dia bertanya soal masa lalunya.
"Kenapa?"
"Jawab aja," katanya tanpa menoleh.
"Sekitar empat tahun yang lalu."
"Selama itu berapa pria yang mengencanimu?"
"Apaan sih?"
"Jawab aja!"
"Ya kamu nanyanya ambigu gitu, dikiranya saya cewek apaan?"
"Maksud saya berapa cowok yang menjalin hubungan denganmu? Selain Reyhan."
Nama itu mendadak terlintas saat ia mengingat kejadian di villa tempo hari.
"Saya punya hak untuk tidak menjawab kan?"
"Bagi saya, masa lalu adalah sebuah aib. Dan aib tidak untuk dikonsumsi publik."
"Publik? saya suamimu, bukan orang lain. Wajarkan suami ingin tahu masa lalu istrinya?"
"Nggak usah berpura-pura, ini sudah di luar rumah. Bersikaplah seperti orang asing."
"Orang asing? Jadi kamu menganggapku orang asing?"
"Kita menikah karena terpaksa kan? Bahkan kejadian semalam pun terjadi karena keterpaksaan. Bagaimana mungkin seorang CEO besar menjatuhkan harga dirinya pada wanita miskin?"
Michael terdiam dia merasa termakan omongannya sendiri.
"Oke, orang asing."
Lalu mereka pun hanya saling terdiam sepanjang jalan. Meski sesekali pria itu mencuri pandang istrinya lewat spion. Entah kenapa hatinya terasa sedikit terluka saat mendengar kata orang asing.
Tiga puluh menit kemudian mereka sampai di perusahaan gemilang grup. Hari ini adalah pertama kalinya mereka berangkat ke kantor bersama.
"Ada yang ingin kau sampaikan? Misal jangan dekat-dekat? Atau pura-pura tak kenal gitu?" tanya Hanna sebelum mereka keluar dari mobil.
Namun, pria itu tak menjawab dia langsung keluar tanpa melihat istrinya.
"Pria aneh!" gerutunya.
Hanna berjalan tepat di belakang Michael, karena langkah kaki suaminya itu panjang sehingga ia tertinggal jauh di belakang. Dia pun setengah berlari menyusulnya.
Beberapa pasang mata tampak memperhatikan saat mereka memasuki lobi. Sebagian orang tampak menundukkan kepala memberi hormat pada atasannya. Lalu terheran melihat Hanna di belakangnya.
Maklum pernikahan mereka memang tak mengundang banyak orang. Tapi desas desus wanita yang berhasil meluluhkan hati sang CEO arogan itu sudah tersebar seantero pabrik.
"Ternyata benar, si Hanna itu yang jadi istrinya."
"Oohh jadi ini cewek yang godain bos kita!"
__ADS_1
"Wah waahh, pake pelet apa dia?"
Dan masih banyak lagi komentar pedas yang tak sengaja terdengar di telinga Hanna.
Mereka sampai di ruangan Michael. Hanna bengong melihat perubahan ruangan itu. Kini ada 1 meja dan kursi yang tak jauh dari meja suaminya.
"Ruangan saya dimana?"
Michael hanya menjawab dengan ekor matanya menunjuk meja itu.
"Saya mau satu ruangan terpisah bukan seperti ini," protesnya.
"Kamu di sini sebagai apa? Sekertaris kan? Jelas harus ada di samping bosnya," ucap Michael menyandarkan kakinya di meja.
"Anda kan sudah punya sekertaris? Saya hanya ingin bekerja freelance di sini!" jawabnya tegas.
"Apa salahnya punya dua sekertaris?" Pria itu mencondongkan wajahnya kepada Hanna. Hingga membuat wanita itu mundur selangkah.
"Cepat beri saya dokumen yang menyatakan kecurangan dari Yukka!" perintahnya seraya berjalan menuju mejanya.
Wanita itu mendengus kesal, mengumpat dalam hati.
"Sabar Hanna, ini tak akan lama. Setelah misimu selesai kau tak perlu lagi berhadapan dengan pria arogan itu," bisiknya dalam hati.
Ddrrttzzz ... drrttzzz
Ponselnya bergetar, terlihat nama sang mama memanggil.
Ia pun menuju pintu keluar untuk menjawab telepon. Terlihat Michael melihatnya dengan tatapan tajam.
"Halo Ma, ada apa?" tanyanya setengah berbisik saat sudah di luar ruangan mencari tempat sepi.
"Bagaimana kabarmu, Nak?"
"Hanna baik, Mama gimana?"
"Alhamdulillah baik,"
"Anin sama bapak gimana? Mereka baik-baik aja kan?"
"Iya, kami semua di sini baik. Justru Mama khawatir sama kamu, suamimu sudah ... maksud mama kamu sudah tidur dengan suamimu?" tanya Ratna ragu.
"Sudah Ma, papa mertua menyuruh kami untuk segera memiliki anak. Dan jika Hanna menolak, khawatir rencana kita tidak akan berjalan baik."
"Kamu sudah KB kan?"
"KB? Astaga Mamaaa, Hanna lupa!" pekiknya seraya menutup mulutnya.
"Ya Allah Hannaaa, udah cepetan sekarang juga kamu ke bidan!" suruh sang mama.
"Tapi Ma, Hanna hari ini akan sibuk sekali. Ini hari pertama Hanna ke kantor."
"Nak, kamu nggak berniat punya anak dari pria itukan?"
Hanna terdiam, ia menggigit bibir bawahnya. Dengan ragu ia menjawab," tidaklah Ma. Hanna niat mau KB nanti, mungkin pulang dari kantor. Ada yang harus Hanna lakukan saat ini."
"Ingat Nak, anak akan membuatmu terikat selamanya dengan keluarga itu. Jika kamu tidak ingin itu terjadi, dari sekarang harus bisa menjaganya. Jangan sampai, kamu mengandung keturunan mereka."
"Baik Ma, nanti kita sambung lagi yah."
Hanna melihat Michael di jendela tengah mengintainya.
Dan panggilan mereka pun berakhir. Hanna bergegas masuk kembali ke ruangannya lalu mengambil tas.
"Maaf, tiba-tiba perut saya sakit. Saya ke dokter dulu yah!" ucap Hanna buru-buru.
"Hei tunggu!" seru Michael.
Bersambung...
__ADS_1