Pembalasan Dendam Hanna

Pembalasan Dendam Hanna
Mata-mata


__ADS_3

Perusahaan Yukka sedang mengalami masalah keuangan, belum lagi beberapa perusahaan yang sudah langganan memakai jasanya, mendadak berpaling kepada kompetitor.


Chandra dan Hendi tak habis pikir pengaruh Gemilang sangat kuat pada perusahaan mereka. Citra mereka seketika hilang karena ditinggalkan perusahaan besar itu.


"Hanna benar-benar tak berperasaan, dia membalas perbuatanku dengan menyengsarakan seluruh karyawan yang pernah menjadi temannya." kata Chandra kepada keponakannya itu.


"Wajar sih, kita tak ada di saat masalah pelik yang dihadapinya Om. Hendi denger dari Sinta, suaminya itu merebut tanah dan meratakan bangunan rumah orang tuanya di kampung. Dia mungkin saja kesulitan ekonomi saat itu, dan kita malah memecatnya tanpa kata apa pun."


"Ya harusnya dia bicara baik-baik sama kita, jangan main ngilang aja tanpa kabar. Perusahaan kan juga tetap harus jalan meski tanpa dia," sahutnya tak terima Hendi membela wanita itu.


"Ya udah, kita juga harus bisa terima konsekuensinya sekarang. Entah gimana ceritanya pada akhirnya mereka menikah dan Hanna mengambil alih beberapa proyek di Gemilang." jelas Hendi.


"Memang dari awal dia sudah menjadikan kita targetnya."


Sinta yang mendengarkan pembicaraan mereka pun hanya diam menyimak. Dalam hati ia membenarkan ucapan bosnya itu.


"Lalu bagaimana sekarang?" tanya Hendi mengalihkan pembicaraan.


"Kita harus bisa masuk ke salah satu perusahaan yang menjadi saingannya Gemilang. Kamu siapkan proposalnya besok kita akan menemui salah satu kenalan om," kata Chandra seraya berdiri meninggalkan ruangan.


Hendi menghela napas dalam, jika terus dibiarkan seperti ini yang sangat dikhawatirkannya adalah Yukka akan kolaps dan harus merumahkan beberapa staff yang sudah cukup lama menemani hingga sampai sejauh ini.


"Sinta, kamu siapkan company profile-nya. Besok harus sudah siap di meja saya yah," perintah Hendi.


"Baik, Pak."


"Mmm ... Pak Hendi-"panggil Sinta tertahan.


"Hm?" jawab Hendi tanpa menoleh ia tengah menyiapkan proposal yang diminta Chandra.


"Apa perlu kita temui Hanna lagi dan membujuknya?"


"Kamu sudah lihat kan sikapnya seperti apa, percuma menemuinya kembali. Kita akan tetap mendapatkan hasil yang sama," jawabnya putus asa.


"Jangan di kantor, Pak. Kita ajak makan di luar, ajak juga suaminya Pak Michael," usul Sinta.


"Saya tidak yakin dia akan menerimanya."


"Kita coba saja dulu, biar saya yang coba hubungi Hanna yah?"

__ADS_1


Hendi tampak diam sejenak berpikir serius.


"Ya udah, kamu coba aja." jawabnya kemudian.


Sinta merasa dia juga turut andil dalam kejadian ini. Sikapnya yang menusuk sahabatnya dari belakang semakin menambah kebencian dalam diri Hanna. Dan inilah imbas yang didapatkannya. Kekuasaan memang sering membuat pemiliknya lupa diri dan menuruti ego sesaatnya.


"Siapa tau kali ini suasana hati Hanna sudah baikan dan gue bisa minta maaf. Lagi pula dia sudah menikah dan punya segalanya, tidak mungkin selamanya menyimpan dendam sama Pak Chandra mau pun gue. Lagian setau gue ini bukan sifat aseli Hanna," bisiknya dalam hati.


Ia lupa bahwa seiring berjalannya waktu sifat seseorang bisa saja berubah. Apalagi jika terus merasa tersakiti da diperlakukan tidak adil. Bahkan seekor semut pun bisa menggigit jika dirinya dalam keadaan terjepit.


***


Hanna tengah menghubungi kedua orang tuanya saat Belinda kembali masuk ke ruangan VVIP itu. Jelas terdengar isak tangis saat menantunya itu menceritakan perihal keguguran janinnya.


"Kamu yang sabar ya, Nak. Mungkin Allah punya rencana lain atas hidupmu," ucap Ratna menenangkan sang anak.


"Iya, Ma. Hanna berharap gadis itu segera tertangkap dan dia harus dihukum seberat-beratnya karena sudah menghilangkan nyawa seseorang," katanya dengan sengaja mengeraskan suaranya menyadari kedatangan sang mertua.


Degh! Jantung Belinda seolah tertohok mendengar ucapan Hanna ia duduk di sofa dengan memegang benda pipih di tangannya.


"Iya, Michael pasti tidak akan tinggal diam kan. Kamu tenang aja udah nggak usah sedih lagi, nanti kalo sudah di rumah kabarin saja. In Syaa Allah, mama dan bapak akan berkunjung."


"Eehh sebentar, bapak mau ngomong katanya nih."


Ardi segera meraih ponsel itu.


"Halo, Hanna. Bapak mau ngomong sesuatu," ucapnya sedikit ragu.


"Ada apa, Pak?" tanya Hanna mulai cemas.


"Kata orang di kantor desa, beberapa kali mereka melihat seorang perempuan muda ke ruangan Pak Lurah. Menurut Pak Bayan, yang bekerja menghidangkan minuman ke ruangan itu, dia mendengar perempuan itu menanyakan perihal rumah kita dan tanah Pak Wiyanto. Apa kamu mengirim seseorang?"


"Perempuan muda? Hanna nggak pernah nyuruh orang untuk mengurus semua itu selain Bapak."


"Lalu kira-kira siapa yah? Malah kata Pak Bayan dia kaya yang mengorek-ngorek informasi tentang keluarga kita dan apa yang sedang kita lakukan."


"Bapak tanya aja langsung ke Pak Lurah supaya jelas, Hanna nggak pernah ngirim siapapun ke sana."


"Ooh ya sudah kalo gitu, bapak mau nanya takutnya memang kamu yang nyuruh atau suamimu."

__ADS_1


"Suamiku?" batin Hanna.


Dia terdiam sejenak berpikir sesuatu.


"Apa jangan-jangan Michael yang mengirim wanita itu untuk menjadi mata-mata di sana?" gumamnya dalam hati.


Mengingat Michael juga mengetahui semua rencana yang ia lakukan bersama kedua orang tuanya.


"Halo Nak," suara Adri mengagetkannya.


"I-iya Pak, ya udah nanti Hanna kabarin lagi. Hanna perlu memastikan sesuatu. Bapak tanya aja ke pak Lurah kalo bisa lihat cctv di kantor desa dan foto perempuan itu, lalu kirm ke Hanna fotonya yah," perintahnya.


"Ya sudah, kamu baik-baik ya. Kabarin lagi mamamu nanti," ucapnya seraya menutup penggilannya.


Belinda yang mendengarkan pembicaraan menantunya bertanya-tanya dalam hati arah obrolan mereka.


"Ada apa Hanna?" tanyanya kemudian mendekati menantunya.


"Nggak papa Mom, ada sedikit masalah saja di rumah Mama," jawabnya.


Mereka kembali saling terdiam, hubungan keduanya memang tidak dekat. Jadi, wajar saja rasa canggung jelas terlihat di mimik wajah mereka.


"Kata suster tadi besok kamu kuret yah?" tanyanya lagi.


"Iya Mom," jawab Hanna singkat.


"Nggak usah takut, kamu tidak akan merasakan apa-apa nanti biasanya akan dibius separuh badan."


Hanna hanya mengangguk pertanda memahami ucapan sang mertua. Meskipun perempuan setengah baya itu terlihat berkata lembut dan mulai menunjukkan perhatiannya. Tetap saja pesan itu tidak mengena di hatinya. Gap di antara mereka masih jelas terlihat.


"Kamu serius mau Jessica masuk penjara?"


Hanna sudah menduga, mertuanya itu pasti akan membahas perihal gadis itu yang notabennya memang dekat dengannya.


"Aku pernah dengar seseorang berkata, darah balas darah, nyawa balas nyawa. Tapi, sepertinya itu terlalu kejam, karena negara kita negara hukum cukup membuatnya meringkuk di penjara dan melupakan masa depan cerah saja bagiku itu sudah setimpal dengan perbuatannya."


Belinda melirik dengan ekor matanya dan menghela napas dalam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2