Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 100. Kabar (?)


__ADS_3

Gio berjalan masuk kedalam rumah besarnya. Tangan yang diperban dengan jaket bomber dan celana ripped jeans berwarna cream menjadi penampilannya hari ini. Gio sudah sangat jarang masuk kantor dan sekarang dia juga tidak masuk. Dia hanya diam di rumah sambil terus berfikir bagaimana hidupnya kedepan. Kantung mata yang membesar dan lingkaran mata yang terlihat jelas menggambarkan jika selama ini dia benar-benar tidak bisa tidur dengan tenang. Berat badannya juga menurun drastis.


Setelah kembali ke negaranya, ini kali pertamanya Gio menginjakkan kaki di rumah orang tuanya. Dia rindu bundanya dan dia ingin makan masakan bundanya. Meskipun dirinya menarik diri dari keluarganya, tak dipungkiri juga jika Gio sesekali datang menemui bundanya jika tubuhnya sudah berada diambang batas lelahnya. Hanya bundanya yang bisa memberinya ketenangan untuk sementara.


"Abang," panggil Vio yang sedikit terkejut akan kehadiran putranya.


Vio tahu betul jika Gio datang padanya seperti ini, maka putra sulungnya itu memiliki beban. Entah pekerjaan atau apapun itu. Vio dan Kevin tidak ada yang tahu kondisi Gio sekarang. Hanya Gea, hanya adiknya itu yang tahu bagaimana dirinya. Gio bukannya tidak mau memberikan kedua orang tuanya, tapi Gio tetaplah Gio yang tidak mau membebani orang tuanya atau bahkan sampai membuat kedua orang tuanya bersedih. Dia akan menyelesaikan masalahnya sendiri, itu janjinya. Dia hanya memberi alasan sibuk dengan pekerjaan hingga harus tinggal sendiri dan soal pernikahannya, Gio punya cara sendiri hingga orang tuanya tak perlu khawatir tentang itu.


Gio mendekati Vio yang sedang duduk di sofa ruang keluarga sedang menonton TV. Laki-laki itu tanpa banyak bicara langsung merebahkan kepalanya dipangkuan sang bunda.


"Abang capek," keluh Gio dengan mata terpejam.


"Mau dipeluk bunda," pintanya menatap sang bunda dari bawah.


"Sini peluk," ucap Vio dengan senyum khasnya.


Gio kembali duduk dengan tegap dan tanpa menunggu lama, dia memeluk Vio begitu erat. Menahan rasa tak nyaman, sesak dan rasa sakit yang menghantam dadanya tiba-tiba. Bukan hanya soal kebohongannya bertahun-tahun ini yang membuatnya sakit, tapi kenyataan yang dia hadapi benar-benar sakit bukan main.


"Abang boleh nangis gak, Nda?" tanya Gio lirih.


Vio menepuk-nepuk punggung putranya berusaha memberi ketenangan dan rasa nyaman pada sang anak.


"Boleh, siapa yang larang abang nangis. Bilang sama bunda," jawab Vio.


"Tapi kata ayah, laki-laki gak boleh cengeng, gak boleh nangis," sahut Gio.


Vio tersenyum tipis, tangannya beralih mengelus rambut Gio lalu turun ke punggung. Usapan lembut itu membuat Gio merasa nyaman.


"Nangis bukan berarti cengeng, bang. Kita manusia, abang sebagai laki-laki juga manusia, punya hati dan perasaan. Kalau abang mau nangis karena lelah, atau karena sakit yang mungkin tidak bisa abang ungkapkan gak papa kok, itu manusiawi," ujar Vio.

__ADS_1


"Jadi gak papa kalo abang nangis?" tanya Gio dengan suara bergetar. Jujur saja, dibalik punggung sang bunda, Gio sudah berusaha mati-matian menahan tangisnya.


"Gak papa bang. Nangis aja," jawab Vio.


Setelah mendengar jawaban sang bunda, Gio terdiam tak membalas apa-apa. Dia hanya mengeratkan pelukannya pada sang ibu dan menangis dalam diam. Terserah jika kalian mau mengatakan Gio cengeng, lemah dan apapun sebutannya itu, yang jelas dia hanya butuh untuk meredakan sesak dan sakit didadanya. Dua tahun tak cukup membuatnya ikhlas dan lupa semuanya, bahkan mungkin tidak pernah.


Vio yang lama kelamaan mendengar isakan Gio hanya diam dengan beribu pertanyaan yang muncul di kepalanya. Untuk pertama kalinya lagi Gio menangis seperti ini dihadapannya. Terakhir kali Gio menangis saat kelas 6 SD, itupun karena Gea yang meninggalkannya saat bermain bersamanya di taman. Vio tidak tahu apa masalah yang Gio hadapi sekarang, putranya itu terlalu tertutup jika menyangkut masalah pribadinya. Vio hanya diam dan terus mengusap punggung putranya berusaha menenangkan.


Bermenit-menit berlalu, Gio masih setia memeluk sang bunda, namun kali ini sudah tidak ada lagi isakan. Deru nafas Gio yang teratur membuat Vio yakin, putranya itu tertidur. Vio dengan perlahan memperbaiki posisi Gio dan memindahkan kepala Gio ke pangkuannya. Vio menatap mata Gio yang tertutup, kantung mata dan juga lingkaran hitam terlihat jelas menandakan anaknya begitu kurang istirahat.


"Kamu kenapa sih, Nak?" tanya Vio pelan. Tangannya mengusap lembut rambut sang anak.


"Apa yang buat kamu kayak gini, gak mungkin karena lelah bekerja kamu jadi menangis sekencang itu sama bunda tadi," lanjut Vio.


Sebenarnya dia sadar akan pertanyaannya yang tidak akan terjawab karena Gio sedang tidur tapi sebagai seorang Ibu, Vio tentu memiliki ikatan batin dengan sang anak dan dia yakin putra sulungnya ini sedang dalam keadaan yang tidak baik-baik saja.


Vio beralih menatap tangan Gio yang diperban asal. Bahkan dia baru menyadari anaknya terluka. Vio meraih tangan Gio dan mengelusnya lembut.


"Ada apa sebenarnya, nak. Apa yang kamu sembunyikan dari bunda,"


...🍃🍃...


Jam menunjukkan pukul 13.00 saat Gio terbangun. Laki-laki itu menatap ruangan yang dia tempati. Ruang keluarga di rumah utamanya. Gio menghela nafas pelan, ternyata tidurnya kali ini sedikit lebih nyenyak. Laki-laki itu bangun dan duduk dengan tegap di sofa. Suara dari arah belakang membuatnya menoleh.


"Udah bangun, mau makan?" tanya Vio yang langsung diangguki Gio.


Keduanya lalu berjalan beriringan menuju dapur untuk makan siang. Di rumah besar ini hanya ada mereka berdua dan beberapa pekerja di rumah ini.


Setelah sampai di dapur, senyum Gio terukir sangat tipis bahkan Vio tak menyadari jika putranya itu sedang tersenyum. Masakan bundanya memang selalu jadi favorit.

__ADS_1


Keduanya duduk dikursi meja makan. Gio menerima piring yang berisi makanan dan beberapa lauk kesukaannya saat Vio menyodorkannya tepat dihadapan Gio. Laki-laki itu makan begitu lahap seolah tak makan dua hari ini.


"Abang balik ya," pamit Gio setelah menghabiskan makanannya.


"Kok cepet banget?" tanya Vio.


"Banyak kerjaan," jawab Gio.


Vio hanya menghela nafas pelan lalu mengangguk mengiyakan. Setelah mendapat persetujuan, Gio beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu utama. Tepat didepan pintu, Gio bertemu dengan calon adik iparnya yang terlihat kebingungan.


"Gea mana?" tanya Gio.


"Didalam mobil, lagi tidur. Bisa minta tolong abang bawa ke kamarnya," ucap Zian yang hanya mendapat tatapan datar dari Gio.


"Gue gak enak," ucap Zian lagi.


Gio menghela nafas pelan, mendekati mobil Zian dan menggendong adiknya yang tengah tertidur pulas. Gio membaringkan tubuh adiknya setelah sampai dikamar gadis itu. Gio duduk diam menatap wajah tenang sang adik. Beberapa hari lagi adiknya akan menikah, dia akan berpisah dengan Gea. Sejujurnya dia rindu dengan adiknya tersebut. Sudah lama mereka tak saling bertukar cerita. Tapi apa boleh buat, Gio enggan melakukan itu lagi untuk sekarang ini, mungkin nanti. yah nanti.


Saat hendak beranjak, pergerakannya terhenti saat tangan mungil adiknya menahan tangannya. Gio kembali duduk dan menatap Gea dengan datar. Adik perempuannya itu tanpa berkata apa-apa langsung duduk dan memeluk Gio erat.


"Dia disini, bang," kata Gea membuat Gio seketika menegang.


"Temui dia dan jelaskan semuanya," kata Gea lagi.


Gio melepas pelukan adiknya dan menatap Gea meminta penjelasan lebih.


"Aku ketemu sama dia di rumah Rania dan....."


Belum sempat menyelesaikan ucapannya, Gio sudah lebih dulu pergi dari kamarnya dengan tergesa-gesa. Gea hanya menatap punggung sang kakak hingga hilang dari pandangannya. Gea berharap hubungan keduanya kembali membaik. Semoga

__ADS_1


...-To Be Continued-...


__ADS_2