
Jam 02:30 dini hari, Ken tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Laki-laki yang tak menggunakan atasan itu, menatap wanita yang kini tidur dalam pelukannya. Wanita yang hari ini sudah sah menjadi istrinya bahkan sudah mengandung anaknya. Raut kelelahan akibat acara panjang tadi siang terlihat jelas di wajah wanita itu.
Ken mengusap lembut pipi Veronica. Menatapnya teduh. Tangannya turun mengusap perut rata istrinya. Sebelum ijab kabul tadi siang, Ken dan Veronica menyempatkan diri konsul ke dokter perihal perkembangan janin Veronica dan dokter mengatakan semuanya baik-baik saja. Pagi tadi juga merupakan kali pertamanya Ken melihat anaknya yang masih belum terbentuk sempurna. Jantung Ken berdetak cepat saat menyaksikan itu dengan mata kepalanya sendiri. Dia tidak menyangka jika dia sebentar lagi akan menjadi ayah. Bahagia? Jelas saja.
Ken menghela nafas pelan saat Veronica bergerak didalam pelukannya, mencari posisi nyaman untuknya tidur. Ken tidak berbohong, semakin hari cinta dihatinya untuk Veronica semakin bertambah. Pernikahan tadi sama sekali tak dihadiri keluarga perempuan itu, selain karena mereka tidak tahu, Ken juga tidak mau jika mereka datang. Yah dia tidak ingin orang-orang yang sudah menyakiti istrinya hadir dihari bahagianya.
Bayangan saat Gio dan Ara datang di pernikahannya tadi tiba-tiba terlintas dalam pikirannya. Entahlah, sejauh ini dia sudah berhasil beranjak dari Aluna, masa lalunya tapi dia belum bisa memaafkan Gio. Benar-benar tidak bisa. Jika orang lain mengatakan dia egois, maka Ken membenarkan itu. Dia memang egois, dia tidak memaafkan Gio karena Gio lah penyebab kematian Aluna dan calon anaknya. Apa salah jika Ken belum bisa memaafkan Gio? Jawabannya adalah tidak. Rasa sakit itu masih ada sampai sekarang dan itu tidak mudah untuk hilang begitu saja.
"Enghhh....." lenguhan keluar dari bibir Veronica membuyarkan lamunan Ken.
"Sssttttt...." Ken menepuk punggung istrinya pelan agar perempuan itu kembali tertidur namun usahanya gagal. Veronica sudah terlanjur terbangun.
"Kok belum tidur?" tanyanya dengan suara serak.
"Kebangun sayang. Kamu kenapa bangun?" tanya Ken.
"Mau minum," jawabnya.
Ken terkekeh pelan lalu beranjak duduk dan mengambil air yang selalu dia siapkan di meja samping tempat tidur. Dengan segera Veronica meneguknya lalu kembali berbaring.
"Tidur lagi," perintah Ken ikut berbaring setelah meletakkan gelas ditempat semula.
"Kamu juga," ujar Veronica yang diangguki Ken.
"Good night istri,"
...—🌻🌻🌻—...
"SAYANG....." teriakan melengking Gio terdengar disetiap sudut apartemen. Bahkan Ara yang berada di dapur terkejut mendengar teriakan itu.
Malam tadi, Gio kembali menginap di apartemen. Ara tak melarang, toh apartemen itu milik Gio jadi Ara tak punya hak apa-apa disini meskipun kata Gio dia sudah mengubah kepemilikannya menjadi nama Ara tapi perempuan itu tetap menganggap itu punya Gio.
Satu minggu ini, Gio sering sekali menginap dan memaksanya tidur bersama. Hanya tidur dan memeluknya, tidak lebih. Setelah malam itu, keduanya tidak pernah melakukannya lagi karena mereka tau itu salah cukup malam itu saja mereka kelepasan itupun karena pengaruh obat yang masuk kedalam tubuh Gio.
"SAYANG..." teriaknya panik.
Demi apapun, saat dirinya terbangun dan tidak menemukan Ara disampingnya membuat dia ketakutan dan panik.
__ADS_1
"Apa sih teriak-teriak. Masih pagi loh Gii," kata Ara yang berdiri di pintu masuk dapur sambil memegang spatula menatap Gio yang baru saja keluar kamar.
Rambut acak-acakan dan muka bantalnya menandakan laki-laki itu baru saja bangun dan langsung berteriak memanggilnya.
"Kamu dari mana?" tanya Gio berjalan tergesa-gesa kearah Ara.
"Dapur, Gio. Aku tadi masak. Ini weekend, tumben kamu bangun sepagi ini?" tanya Ara.
Dia tahu betul kebiasaan Gio yang akan selalu bangun siang jika hari libur. Katanya dia sudah bangun pagi untuk bekerja setiap hari jadi tidak ada salahnya bangun siang jika libur. Oke, terserah Gio saja.
"Kamu sih tiba-tiba hilang," jawabnya sambil menjatuhkan kepalanya pada bahu Ara.
"Sayang, ngantuk," rengeknya.
"Ya udah, sana tidur lagi," perintah Ara.
"Mau sama kamu,"
"Aku masak buat makan siang kamu, jadi kamu tidur sendiri aja,"
"Gak mau, maunya sama Ara,"
"Gio, tidur sendiri dulu ya. Aku selesaikan masakan aku dulu terus nanti temani kamu," bujuknya dengan lembut.
Gio menggeleng membuat Ara lagi-lagi menghela nafas pelan.
"Kalau gitu duduk di situ aja," tunjuk Ara pada meja makan. Lagi, Gio menggeleng sebagai jawaban.
Namun saat mendengar Ara menghela nafas kasar, Gio mengangkat kepalanya lalu menatap Ara dengan sendu.
"Kenapa?" tanya Ara bingung.
"Kepala aku pusing," jawabnya.
"Kok bisa, makan dulu ya terus minum obat," ujar Ara panik.
Gio menggeleng seperti anak kecil yang membuat Ara justru gemas dengan laki-laki dihadapannya itu.
__ADS_1
"Terus maunya apa?" tanya Ara lembut.
"Cium, biar cepat sembuh,"
Modus, batin Ara. Meskipun mengumpat dalam hati, Ara tetap menuruti permintaan Gio, daripada berujung perdebatan yang tak bermutu. Ara berjinjit dan memberi kecupan di kedua pipi Gio membuat senyum manis laki-laki itu mengembang sempurna.
"I love you sayang," teriak Gio dan berlari menuju sofa setelah mencuri satu kecupan dibibir Ara.
Ara tersenyum dan geleng-geleng kepala melihat tingkah Gio yang tak ubahnya seperti anak kecil. Menggemaskan sekali.
...——🌻🌻🌻——...
Seseorang dengan jas berwarna hitam duduk sambil menatap kosong kearah jendela besar di ruang kerjanya. Hawa dingin ruangan tersebut membuatnya semakin betah duduk berlama-lama di sana. Ditangan kanannya terdapat foto seorang gadis cantik yang tersenyum manis kearah kamera.
Laki-laki itu menghela nafas panjang dan berat. Seakan dadanya dihimpit beban berat hingga tak dapat bernafas dengan baik. Bagai orang idiot yang harus belajar bagaimana cara kerja hidung dan paru-paru untuk mengalirkan udara sebagai tanda kehidupan, laki-laki itu memukul dadanya yang sesak. Sakit sekali rasanya.
Tatapan yang biasanya tajam, kini berubah sendu dan kosong. Hatinya sakit dan dia tidak tahu harus menyembuhkannya seperti apa. Laki-laki itu kembali menatap foto berbalut bingkai hitam yang ada ditangannya. Mengusapnya lembut seolah yang dia usap adalah wujud nyata dari orang yang ada didalam foto itu. Tatapan kerinduan dan raut sedih benar-benar terlihat jelas dimatanya.
"Aku kangen," ucapnya lirih dengan mata berkaca-kaca.
"Kenapa kamu pergi ninggalin aku begitu cepat, Aluna," lanjutnya pelan hampir seperti berbisik.
Di kaca foto yang dia panggil Aluna itu sudah menetes air matanya. Air mata yang menjadi saksi bagaimana dia tersiksa akan rindunya, bagaimana dia menjalani hari dengan rasa sesak dan juga dendam. Semua ini tidak mudah untuknya. Kehilangan orang yang benar-benar dia cintai adalah hal paling berat didalam hidupnya.
Isak tangis memecah keheningan ruang besar yang minum pencahayaan itu. Suara langkah kaki yang mendekatinya tak membuat dia menghentikan tangisannya, justru semakin keras saat sebuah tangan mengusap punggungnya lembut.
"Kangen ya nak?" tanya wanita paruh baya yang baru saja datang menemuinya.
Laki-laki itu mengangguk lemah. Hanya wanita itu yang tahu bagaimana tersiksanya dia selama ini.
"Selesaikan semuanya segera agar hati mu tenang dan dendam mu terbalaskan," ujar wanita itu lagi.
"Semuanya sudah ku rencanakan, Ma. Sebentar lagi dia akan hancur sama seperti ku," sahutnya.
"Apa yang kamu rencanakan?"
Laki-laki itu mengusap air matanya kasar lalu kembali menatap jendela besar ruang kerjanya dengan senyum miring.
__ADS_1
"Melakukan apa yang sudah pernah dia lakukan untuk menghancurkan hidup ku," jawabnya begitu yakin.
...---To be continued---...