Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 36. fakta menyenangkan


__ADS_3


...---Happy reading---...


Siang ini, Ara berada di kamar Gio atas paksaan laki-laki itu. Bunda pun tak mempermasalahkannya asal tak berbuat macam-macam dan dia percaya dengan putranya itu. Orang rumah entah kemana, Gea yang katanya sedari tadi pergi bersama Zian, Arsal yang sudah pulang setelah makan siang tadi dan bunda yang katanya menyusul ayahnya yang berada di rumah kakeknya. Bicara soal Kevin ayahnya, Gio belum mengenalkan Ara dengan laki-laki panutannya itu. Bukan tidak ingin hanya saja ayahnya itu akhir-akhir ini memang jarang dirumah, ayahnya selalu pulang tengah malam. Mungkin jika nanti ayahnya tak sibuk lagi, dia akan mengenalkan Ara. Jangankan Ara, dia sendiri hanya memiliki waktu yang sedikit untuk bertemu dengan ayahnya.


"Kita mau ngapain ?", tanya Ara saat melihat Gio keluar dari kamar mandi.


"Temenin tidur", sahut Gio.


Laki-laki dengan balutan kaos hitam itu beralih duduk disamping Ara yang sedari tadi hanya memperhatikan setiap sudut kamarnya. Ara sedikit di buat terpaku saat melihat fotonya dipajang tepat disamping foto keluarga Gio dan terlebih lagi, saat Ara mendapati suatu figura kecil yang letakkan di rak samping miniatur mobil yang dibiarkan begitu saja. Ara dibuat bertanya-tanya namun juga tidak enak untuk menanyakannya.


"Mau, ya", pinta Gio dengan memelas.


"Mau apa ?", tanya Ara tak fokus.


"Temenin tidur", sahut Gio.


Ara menatap Gio yang juga sudah menatapnya. Tapi tunggu dulu, sesuatu yang melingkar di leher jenjang Ara menarik perhatiannya.


"Kalungnya udah di pake", kata Gio dengan mata berbinar.


Ara tersenyum senang lalu mengangguk dengan antusiasnya.


"Cocok gak ?", tanya Ara.


"Banget", sahut Gio.


"Ada pasangannya tau", kata Gio mengangkat pergelangan tangan kirinya memperlihatkan sebuah gelang berwarna hitam dengan bandul gembok.


"Cantik banget", sahut Ara.


"Ya udah, temanin tidur", pinta Gio kembali.


"Pacaran kok malah nemenin tidur, bukannya ngajak jalan", kata Ara bercanda.


"Cara pacaran kita beda. Siangnya tidur malamnya baru jalan", sahut Gio.


Dia benar-benar mengantuk, semalam dia tidak bisa tidur. Bahkan beberapa tahun ini dia kesulitan untuk tidur dengan tenang. Ara mengetahui itu, beberapa waktu lalu Gio sempat menceritakan jika dia selalu susah tidur karena mimpi buruknya yang entah sampai kapan berakhir. Saat bersama Ara kemarin, dia menemukan kenyamanan dan tak lagi mimpi buruk. Itu yang membuat Gio menahan gadis itu hanya sekedar untuk menemaninya tidur dengan tenang walau hanya sebentar. Lagi pula dia juga rindu dengan gadisnya ini.


"Ya udah, tidur gih", perintah Ara.


Tanpa aba-aba, Gio memeluk Ara erat membuat keduanya jatuh di kasur dengan Gio yang sudah menenggelamkan wajahnya diceruk leher Ara.


"Gio...",


"Gini aja. Tidurnya bakal aman kalau gini, dia gak akan datang", kata Gio.


"Masih sering mempi buruk ?", tanya Ara mengusap pelan rambut Gio.

__ADS_1


Laki-laki itu hanya mengangguk. Dia belum menceritakan alasannya pada Ara, dia belum siap. Suatu saat dia pasti menceritakannya tapi bukan sekarang.


"Ya udah tidur gih", kata Ara lagi.


"Tapi jangan gini, nanti ada orang datang trus liat gimana ?", tanya Ara sedikit khawatir. Yaah dia khawatir jika tiba-tiba bunda atau lebih parahnya ayah laki-laki ini yang datang dan melihat mereka takutnya mereka berfikiran macam-macam.


"Bagus dong, ntar langsung dinikahin", celetuk Gio santai.


"Iish nikah mulu", kata Ara kesal.


"Emang kamu gak mau ?", tanya Gio mendongak menatap Ara.


"Mau sih, tapi gak sekarang juga. Kan butuh persiapan", sahut Ara membuat sudut bibir Gio terangkat.


"Makanya kamu lulusnya cepat habis itu kita urus nikahan kita sama-sama", kata Gio membuat tawa Ara terdengar.


"Iya nanti, bakal cepat kok", sahut Ara.


"Nanti pulang aku yang antar", kata Gio membuat Ara mengangguk.


Setelah itu keduanya kembali diam dengan pikiran masing-masing.


"Tapi Gii, nanti kalau kita gak jodoh gimana ?", tanya Ara pelan dan tak mendapat sahutan. Ara merenggangkan pelukannya dan menatap wajah tenang Gio yang ternyata sudah tertidur. Ara terdiam menatap wajah tenang Gio. Ada hal yang mengganjal di hatinya tapi dia tidak tahu apa, begitupun dengan pertanyaan-pertanyaan yang masih menghantui pikirannya. Sudah beberapa minggu ini menjalin hubungan dengan Gio tapi Ara belum mengetahui dengan jelas seperti apa Gio. Dia hanya tau laki-laki itu baik dan selalu memperlakukannya dengan baik, bahkan sangat baik. Gio masih terlalu abu-abu untuknya.


Gio menggeliat kecil mempererat pelukannya membuat Ara terkekeh pelan dan mengusap lembut rambut Gio. Keheningan melanda kamar besar itu. Mata Ara hanya fokus menatap pada setiap bingkai foto yang terpajang di dinding kamar kekasihnya. Banyak sekali foto-foto disana, foto keluarga sampai foto saat Gio masih SMA bersama teman-temannya dan bahkan sekarang bertambah ada fotonya berukuran besar disana.


...---🌻🌻🌻---...


"Bundaaa", teriak Gio saat tak mendapati satu orang pun disana. Rumah besar ini terlihat begitu sepi. Lalu dimana Ara.


"Bundaaa", lagi, Gio berteriak dengan keras hingga suaranya terdengar disetiap sudut rumah membuat seseorang keluar dari kamar dan menatapnya panik.


"Kenapa bang ?", tanya laki-laki paruh baya yang masih begitu tampan itu.


"Loh, ayah kapan pulangnya?", tanya Gio berbalik menatap ayahnya.


"Tadi sore. Ayah kebangun gara-gara teriakan kamu itu", sahut Kevin.


Gio cengengesan. Ayah dan bundanya sudah begitu paham sikap kedua anaknya yang bisa sewaktu-waktu berteriak.


"Bunda mana ?", tanya Gio.


"Mana ayah tau", sahut Kevin cuek.


"Ayah....",


"Mandi bang. Setelah itu kita cari bunda mu", kata Kevin lalu beranjak masuk kembali ke kamarnya. Gio mendengus pelan tapi tetap menuruti perkataan ayahnya.


Sedangkan dibawah sana, bunda dan Ara sedang sibuk didapur sampai-sampai tak menghiraukan apa-apa. Bahkan teriakan menggelar Gio sama sekali tidak mereka dengar. Saat hendak mengambil minum utnuk Gio, Ara dikejutkan dengan bunda yang sudah ada didapur dan sibuk menata bahan makanan kedalam kulkas, membuat gadis itu berinisiatif membantu ibu dari kekasihnya. Sebenarnya Ara hendak pulang tapi bunda melarang, katanya dia akan memperkenalkan Ara dengan ayah yang kebetulan hari ini free. Ara tentu saja gugup tapi sebisa mungkin terlihat biasa-biasa saja.

__ADS_1


"Gak mau nginap lagi, Ra?", tanya bunda membuat Ara menoleh sekilas lalu kembali fokus menuangkan makanan kedalam piring.


"Kapan-kapan lagi ya Bun, nenek dirumah sendirian soalnya", sahut Ara lembut.


"Yaa padahal.....",


"Adek mana ?", tanya Gio memotong ucapan bunda. Entah kapan laki-laki itu berada didapur yang jelas keberadaannya membuat dua wanita itu terkejut.


"Ngagetin aja bang", sahut bunda.


"Gea di kamar, lagi mandi. Baru pulang dia", sahut Ara.


"Emang dari mana ?", tanya Gio sambil duduk di kursi dekat pantry mengamati apa yang dilakukan Ara dan bunda.


"Jalan sama pacarnya lah. Emang abang, pacaran kok minta pacarnya temanin tidur, gak takut bang ?", tanya bunda sarkas menatap Gio sinis.


"Takut apa ?", tanya Gio dengan ekspresi polosnya.


"Yang ketiga setan", sahut bunda membuat pipi Ara memerah malu.


"Abang gak senakal dan senekat itu ya, Bun. Abang halalin dulu lah", sahut Gio lalu mengalihkan tatapannya pada Ara.


"Bunda jangan gitu, liat pipi pacar abang merah tau", sahut Gio menunjuk Ara membuat bunda menoleh dan itu semakin membuat pipi Ara merona.


"Tapi gaya pacaran kamu gak berkelas, masa dirumah doang gak diajak jalan", kata bunda dengan nada mengejek.


"Gaya pacaran abang sama Ara memang beda dari yang lain. Siang kita tidur, malam baru jalan", kata Gio bersedekap dada. Semua orang tidak ada yang tahu tentang bagaiman Gio melewati malam dengan mimpi buruknya itu. Dia tidak memberitahu siapapun, yang tahu sekarang hanya dia, Arsal dan Ara.


"Jangan keseringan bang, takutnya khilaf", kata bunda dengan tawa kecil.


"Enggak lah. Bunda percaya sama abang, Abang gak akan keluar jalur sebelum halal", sahut Gio.


"Harus. Kamu harus halalin dulu. Bunda gak mau ya kamu pacaran diluar batas", sahut bunda serius yang langsung mendapat anggukan pasti dari Gio. Sedangkan Ara hanya menyimak dengan senyum tipisnya.


"Abang udah punya pacar?", tanya seseorang yang berjalan mendekat kearah mereka.


Ara yang melihat pria paru baya dengan balutan baju santai itu tengah berjalan kearah mereka refleks menunduk malu sekaligus gugup. Ini pertama kalinya dia bertemu dengan ayah kekasihnya.


"Ada dong, Yah. Itu", tunjuk Gio pada Ara.


Kevin mengikuti arah pandang Gio dan menatap Ara. Seketika langkahnya terhenti, dengan mata membulat lalu secepat kilat menatap Vio, istrinya yang juga tengah menatapnya dengan senyum kecil dan tatapan yang begitu sulit Gio artikan.


"Bunda...", panggil ayah pelan seolah tak percaya dengan apa yang dia lihat.


"Terkejut ?", tanya bunda dengan senyum tipis membuat Gio menatap ayah dan bundanya dengan kening berkerut, maksudnya apa.


"Ini pacar abang ?", tanya ayah tanpa mengalihkan tatapannya dari Ara.


"Iya, cantikan Yah?", tanya Gio dengan mata berbinar.

__ADS_1


"Aira",


...---To Be Continued---...


__ADS_2