
Hari berganti hari dan bulan berganti bulan. Beberapa bulan telah berlalu, waktu begitu terasa cepat untuk Ara dan Gio. Minggu depan adalah hari dimana tepat Ara akan wisudah, begitupun dengan Gio. Setelah melalui berbagai macam langkah, akhirnya keduanya kini akan menyelesaikan pendidikan dan akan menuju ke jenjang yang bisa dibilang itulah dunia sesungguhnya. Dunia kerja yang akan menentukan seperti apa mereka kedepannya, sukses atau kebalikannya
"Aaaaaa gak mau", rengek Gio yang kini berada dipelukan Ara. Keduanya sedang berada di apartemen laki-laki itu.
Sedari tadi laki-laki itu merengek kepada Ara karena gadis itu mengatakan jika dia ingin kerja dan pindah diluar negeri saja. Dia sudah mendaftar disana, tentu saja itu tidak benar, Ara hanya bercanda.
Hubungan keduanya sejauh ini terbilang lancar. Meski ada beberapa hambatan tapi kesalahpahaman itu selalu cepat diatasi keduanya. Beberapa kali Ara salah paham dengan Gio dan Rania, begitupun Gio yang selalu naik darah jika Ara berdekatan dengan Ken. Meskipun begitu sejauh ini masalah itu bukanlah masalah besar, justru semakin membuat keduanya semakin dekat. Bahkan Ara kini sudah tidak canggung lagi pada Gio. Usaha dua orang itu untuk memisahkan keduanya masih belum membuahkan hasil.
"Kan bisa disini aja, sayang. Sok-sokan mau pindah", kesal Gio.
"Emang kenapa sih kalau pindah, kan lebih bagus", sahut Ara.
"Gak mau. Kamu disini aja. Kamu kerja sama aku, bantu diperusahaan", sahut Gio cepat. Sedari tadi sudah begitu banyak alasan yang dia keluarkan agar Ara tetap tinggal padahal Ara hanya bercanda tapi dibawa serius oleh laki-laki itu.
"Emang ngapain sih pindah segala", tanya Gio lagi.
"Ya gak papa, mau aja. Kan diluar negeri keren", sahut Ara.
"Keren apanya, mau nyari pacar baru kan lo, ganjen banget sih", sahut Gio makin kesal justru malah membuat Ara tertawa. Sejauh menjalin hubungan dengan Gio, gadis itu paham, jika Gio sudah mengganti cara bicaranya, maka dia benar-benar diambang kesal dan marah.
"Becanda doang sayang", sahut Ara tertawa lepas.
"Becanda, becanda. Gue kurung tau rasa lo", sahut Gio masih kesal.
"Dih kasar", sahut Ara meredam tawanya.
"Makanya jangan pergi",
"Iya gak akan".
Gio merenggangkan pelukannya menatap Ara yang juga menatapnya dengan senyum kecil.
"Kamu mau hadiah apa?", tanya Gio membuat Ara menggeleng pelan.
"Gak mau apa-apa ?", tebak Gio lagi membuat Ara kembali menggeleng.
"Terus apa iih", kesal Gio mengerucutkan bibirnya kesal. Bukan hanya cerewet, sekarang Gio berubah jadi super manja.
"Gak mau apa-apa, kamu datang aja udah seneng banget kok", kata Ara membuat senyum Gio mengembang.
"Aku pasti datang" sahutnya begitu yakin.
Kembali mengeratkan pelukannya pada Ara. Keduanya kini tengah menikmati waktu berdua setelah satu minggu kemarin tak bisa bertemu lantaran Ara yang sibuk akan urusannya dan Gio yang sibuk dengan skripsinya. Keduanya memilih tak kemana-mana, hanya duduk, diam dan bercerita diapartemen laki-laki itu. Sepanjang Ara datang pun Gio tak melepaskan gadis itu.
"Nenek apa kabar ?", tanya Gio.
"Kemarin sempat drop lagi, tapi sekarang udah gak papa", sahut Ara.
"ASTAGFIRULLAH, MATA GUE", teriak seseorang dari arah pintu masuk membuat Gio berdecak kesal. Arsal syok saat melihat pemandangan indah dihadapannya itu dimana Ara yang sedang duduk disofa dengan Gio yang memeluknya erat. Nasib, dia agak sedikit menyesal datang kesini, pasalnya hanya dirinya saja yang tidak memiliki pasangan.
Lima orang kini masuk kedalam apartemennya tanpa permisi dan membawa beberapa kantong belanjaan berisi makanan. Arsal, Gea, Dara, Zian dan Reyhan datang mengunjungi Gio dengan niat hendak membuat party kecil-kecilan tanpa sepengetahuan Gio. Tentu saja ini kerjaan dari adik kesayangannya.
"Ngapain?", tanya Gio ketus sambil melepas pelukannya dan menatap bergantian pada lima orang yang kini duduk disofa ruang tamunya.
__ADS_1
Arsal menunjuk dua kantong besar yang tadi dia letakkan diatas meja.
"Party dong", sahutnya girang.
"Gak ada, pulang gak lo semua", ketus Gio.
Arsal, Gea dan Dara kompak mendengus kasar melihat tingkah Gio. Sedangkan Zian dan Reyhan yang notabenenya kekasih dari dua adik perempuan Gio hanya terkekeh kecil.
"Gak mau banget waktunya diganggu", ejek Gea.
"Adek ngapain sih, ya Allah. Abang mau istirahat", todong Gio pada dua adiknya yang kini hanya cengengesan.
"Istirahat apa ***-***?", tanya Arsal sewot.
"***-*** apaan ?", tanya Gea spontan membuat Gio membulatkan matanya pada Arsal.
"O-oh itu dek, makan bareng. Iya makan bareng", jawab Arsal gugup melihat tatapan tajam Gio.
"Ohh yaa, ada istilah gitu ya", sahut Gea dengan polos.
Dara, Zian dan Reyhan hanya menggeleng pelan melihat keduanya.
"Iyalah dek. Kamu mau gak ?", tanya Arsal cengengesan tak memperdulikan Gio yang seperti sudah siap menerkamnya.
"Iya mau, tapi nanti. Habis dari sini Gea mau ***-*** sama kak Zian. Iya kan kak?", tanya Gea dengan polosnya. Sedangkan yang ditanya hanya tersenyum kikuk. Mendengar ucapan Gea, spontan Dara menepuk dahinya pelan. Sahabatnya ini memang masih polos. Bisa-bisanya Gea percaya ucapan Arsal, tapi memang sih, Gea dan Zian sudah berencana akan makan bersama nanti malam.
"Anjir, adek gue", kata Arsal tertawa ngakak yang mendapat tatapan tajam dari Gio dan Zian.
"Dek, mau ngapain kok bawa makanan banyak banget?", tanya Ara lembut pada Gea dan Dara. Mengalihkan pembicaraan.
"Kata kak Arsal party, buat ngerayain kelulusannya kalian", jawab Dara.
"Kok gue", kesal Arsal. Pasalnya ini bukan rencananya tapi rencana Gea tapi kenapa dia yang dikambing hitamkan.
"Lah kan emang usulan kak Arsal", sahut Gea santai tanpa dosa. Memang benar mereka berniat mengadakan acara kecil-kecil sebelum wisudah minggu depan, tapi ini bukan saran Arsal melainkan Gea sendiri.
"Wah minta dilelepin ke laut nih anak", kata Arsal mengangkat bantal sofa hendak melayangkannya pada Gea namun suara bariton dari dua orang laki-laki menghentikan niatnya seketika.
"Lo sentuh dia, gue seret keluar", kata Gio dan Zian bersamaan membuat nyali Arsal menciut. Seketika tangan Arsal beralih menepuk pelan puncak kepala Gea dengan senyum yang dipaksakan. Oke ingatkan dia jika dua adik Gio tidak boleh disentuh, terlebih ada Gio dan pawang keduanya.
"Sayanggggg", rengak Gio kembali memeluk Ara.
"Kenapa?", tanya Ara lembut.
"Ck mereka ganggu aja sih, kesel. Marahin", kesal Gio.
Keempat orang yang ada didepan mereka melongo tak percaya dengan sikap Gio sekarang. Untuk pertama kalinya mereka melihat Gio semanja itu, berbeda dengan Gea, dia sudah sering melihat abangnya seperti itu pada bundanya.
"Sudahlah, yang jomblo masak aja", kata Arsal beranjak menuju dapur dengan menenteng dua kantong besar bawaannya tadi. Dia sudah tidak kuat melihat keromantisan orang-orang disana.
...---💫💫💫---...
"Gio, makan", teriak Ara dari arah dapur.
__ADS_1
Tadi, Ara memilih membantu Arsal didapur bersama dengan Dara dan Reyhan. Sedangkan Gea, Zian dan Gio berada diruang tamu sedang bermain PS bersama.
"Bentar lagi, sayang", sahut Gio fokus pada layar tv didepannya.
Tak mempedulikan apa-apa, Gio fokus melawan Zian. Dia harus menang, gengsi dong harus kalah sama adik ipar.
"Yeeey abang kalah", sorak Gea girang.
"Abangnya kalah malah semangat banget", cibir Gio.
Dengan kesal Gio melempar stik gamenya lalu beranjak meninggalkan Zian dan Gea dengan mulut yang terus mendumel.
"Emang lagi gak fokus aja, makanya kalah", gumam Gio masih kesal.
Dia masih begitu kesal dengan kelima orang yang tiba-tiba menganggu waktunya bersama Ara. Sungguh, jika bukan adik dan sahabatnya, sudah dipastikan Gio akan menyeretnya keluar dari apartemennya.
"Gio mana ?", tanya Ara yang baru saja datang dari dapur.
"Tuh", tunjuk Gea pada Gio yang hampir menghilang dibalik pintu kamarnya.
"Aku susul dulu. Adek kedapur makan sama yang lain", kata Ara yang langsung diangguki Gea.
"Kakak gak makan ?", tanya Gea membuat Ara tersenyum singkat.
"Kalian duluan aja,, bayi kakak harus diurus dulu", sahut Ara melirik kearah pintu kamar yang sudah tertutup.
"Masih kesal", lanjutnya terkekeh pelan.
"Lagi gak mood dia kak. Hati-hati", kata Gea terkekeh yang hanya dibalas senyum tipis oleh Ara.
"Ya udah, kakak tinggal ya", pamit Ara.
Ara berjalan masuk kedalam kamar tak lupa kembali menutup pintu, matanya menatap Gio yang kini duduk ditepi kasur dengan muka ditekuk.
"Kenapa sih ?", tanya Ara berjalan mendekat.
"Kesel", sahut Gio langsung memeluk pinggang Ara yang berdiri didepannya.
"Kesel mulu perasaan, kenapa sih ?", tanya Ara lembut mengusap rambut Gio.
"Kan maunya berduaan, itu makhluk pada datang ganggu", sahut Gio. Percayalah semakin kesini, Gio semakin cerewet dan manja sekaligus.
"Iih kan sekali-kali doang. Gak papa ya. Kan besok-besok bisa berduaan lagi", celetuk Ara perhatian.
"Mandi ya, habis itu makan", kata Ara melepas pelukannya Gio dan membantu laki-laki itu melepas hoodienya. Ara sudah seperti merawat bayi sekarang. Jika hanya berdua seperti ini, Gio akan sangat manja padanya tapi jika diluar atau bersama orang lain, laki-laki itu yang akan memanjakan.
"Cium", tunjuk Gio pada pipinya sendiri membuat Ara terkekeh lalu mencium gemas wajah Gio.
"Sana mandi, aku tunggu diluar", kara Ara lagi lalu beranjak setelah mendapat anggukan dari Gio.
"Aiiish sayang banget gue sama tuh cewek", batin Gio menatap kepergian Ara.
...---To Be Continued---...
__ADS_1