
"Aku kerja dulu ya," pamit Ara saat keduanya sudah berada didepan tempat kerja Ara. Gio memang mengantar Ara setiap paginya.
Melihat Ara yang pamit padanya, bukannya menanggapi, Gio malah terdiam cukup lama menatap istrinya dalam-dalam. Ada rasa tidak enak dan tidak tega membiarkan istrinya harus ikut susah-susah bekerja seperti ini.
"Gak mau berhenti aja?" tanya Gio tiba-tiba.
Ara kembali menatap Gio yang masih duduk diatas motor tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun. Ara menghela nafas pelan, berjalan mendekat dan menggenggam tangan Gio.
"Berhentinya nanti aja ya?" tanya Ara berusaha memberi pengertian.
"Aku udah dapat kerja, jadi harusnya kamu juga gak usah kerja lagi, kan soal ini aku sebagai suami yang tanggung jawab. Aku juga takut kamu kecapean," jawab Gio lembut.
"Tapi Gii, kondisi kita lagi kayak gini," sahut Ara yang berhasil membuat Gio menarik senyum mirisnya, sedikit tersinggung dengan ucapan Ara.
"Walaupun aku gak kerja lagi kayak kemarin-kemarin, aku masih bisa kok biayain kamu," ucapnya pelan tanpa menatap Ara. Sedangkan perempuan itu seketika terdiam merasa bersalah dengan apa yang sudah dia ucapkan.
"Bukan gitu maksud...,"
"Maaf kalau aku malah bikin kamu susah, aku gak bermaksud. Maaf juga kalau sama aku, kamu malah makin kekurangan,"
"Gii, gak gitu maksudnya, aku...."
"Aku pamit dulu," potong Gio cepat. Setelah mengatakan itu, Gio tanpa menatap Ara berlalu begitu saja. Ara menatap kepergian Gio dalam diam. Perempuan itu menghela nafas pelan. Mungkin nanti di rumah dia akan membicarakan lagi dengan Gio.
...πΌπΌ...
Gio memarkirkan motornya dihalaman gedung besar yang dulu menjadi tempatnya bekerja. Hari ini, sebelum masuk bekerja dia menyempatkan diri untuk datang menemui ayahnya. Hari ini dia berniat kembali membujuk ayahnya untuk meminta restu darinya. Mungkin orang akan berfikir dia mengemis restu dari ayahnya agar bisa kembali bekerja dan memegang jabatan CEO lagi tapi bagi Gio bukan itu point utamanya. Dia masih berusaha meminta restu meski sudah menikah karena baginya restu ayah dan bundanya untuk setiap langkah dalam hidup yang dia ambil sangat penting. Mungkin restu untuk pernikahannya memang sudah sangat terlambat karena dia nekat menikah tanpa restu tapi bagi Gio tak masalah, dia akan terus meminta pada ayahnya.
Gio berjalan memasuki lift yang akan membawanya menuju ruangan besar ayahnya. Setelah beberapa menit, Gio akhirnya sampai tepat didepan ruangan besar ayahnya. Sejenak Gio terdiam memandangi pintu berwarna coklat yang menjadi pembatasnya sekarang. Gio menarik nafasnya dalam-dalam sebelum masuk menemui sang ayah.
Setelah mengetuk pintu dan diperbolehkan masuk, Gio melangkah masuk dan langsung bertatapan dengan laki-laki paru baya yang memiliki kemiripan wajah dengannya. Laki-laki yang selama ini menjadi panutannya, laki-laki yang selama ini membimbing dan membesarkannya dengan baik. Bukan hanya itu, bundanya juga ada disana. Demi Tuhan, Gio begitu merindukan wanita yang satu itu.
Pertanyaan seketika muncul diotak Gio, untuk apa bundanya sepagi ini datang ke kantor. Gio tersenyum tipis dan mendengus geli, ya untuk apa lagi jika bukan menemani ayahnya yang kelakuannya 11 12 dengannya, sama-sama tidak bisa jauh dari orang yang begitu dicintainya.
"Abang," panggil Vio dengan girangnya.
Perempuan itu berhambur memeluk putranya yang sudah beberapa minggu ini tidak bertemu dengannya.
"Abang apa kabar, dimana aja selama ini?" tanya Vio.
__ADS_1
"Abang baik, bunda sendiri gimana, sehat?" tanya Gio memeluk bundanya erat.
"Sangat sehat. Bunda rindu,"
"Abang juga, makanya kesini,"
"Adek udah isi loh, Dara juga. Mereka beda satu bulan," ucap Vio memberitahu Gio.
Gio membulatkan matanya terkejut sekaligus bahagia mendengar kabar baik dari dua adik kesayangannya itu.
"Benarkah ?" tanya Gio membuat bundanya mengangguk antusias.
"Nanti abang temui kalau gitu," ujar Gio lagi.
Tatapannya lalu beralih pada laki-laki yang masih terduduk menatapnya sedari tadi. Laki-laki dengan balutan jas kerjanya itu hanya menatap Gio datar. Kali ini Gio tidak tau apa arti dari tatapan ayahnya, entah dia marah karena kedatangan Gio atau cemburu karena sudah memeluk istrinya. Ingin rasanya Gio tertawa mengingat ayahnya begitu tidak sukanya jika waktu berdua dengan sang bunda diganggu.
"Ayah," panggil Gio pelan.
Laki-laki itu masih bersikap biasa saja seolah pertengkaran dengan ayahnya sama sekali tidak pernah terjadi. Dia menganggap kemarahan ayahnya hanyalah kemarahan sesaat.
Kevin diam saja saat putranya sudah duduk di kursi depannya, disusul Vio yang ikut duduk di samping putranya.
"Abang sama Ara udah nikah," ucapnya tanpa beban sedikit pun.
Ucapan Gio tadi berhasil membuat ayah dan bundanya terkejut. Bagaimana bisa Gio menikah tanpa memberitahu keluarganya sama sekali. Kevin akui, putra sulungnya memang orang yang nekat.
"Abang datang kesini, sekali lagi mau minta restu ayah dan bunda untuk pernikahan kami. Abang tau tidak seharusnya kami menikah saat ayah gak kasi restu tapi ini satu-satunya cara agar ayah gak pisahin kami," lanjutnya masih menatap ayahnya dengan tatapan teduhnya.
Kevin dan Vio kompak terdiam. Tidak tahu harus mengatakan pada putranya yang begitu keras kepala dan nekat itu.
"Abang sudah bilang gak mau pisah lagi dan ini satu-satunya cara biar kalian gak ambil Ara lagi. Demi apapun, Yah, abang benar-benar gak mau pisah sama Ara lagi,"
"Kalau ayah sama bunda belum kasi restu sama kami, gak papa kok. Abang akan selalu berusaha minta restu sama ayah sampai ayah mau,"
Setelah mengatakan itu, Gio terdiam cukup lama. Saat dirasa tak mendapat balasan sama sekali, Gio menghela nafas pelan lalu menatap ayahnya yang masih menatapnya datar. Pandangan Gio lalu beralih pada sang bunda. Gio menatap teduh perempuan kesayangannya itu, lalu mencium pipi Vio sekilas.
"Abang pamit,"
...ππ...
__ADS_1
Ara menatap kunci motor yang berada diatas meja sedari tadi. Tatapannya kosong, pikirannya melambung jauh memikirkan satu orang yang mampu membuat pikirannya hari ini kacau.
Ara pikir Gio tidak akan semarah itu dengan ucapannya tadi pagi tapi ternyata salah, Gio sangat tersinggung dengan apa yang dia lontarkan sampai-sampai laki-laki itu tak menjemputnya bahkan menyuruhnya untuk pulang sendiri.
Tadi sore, Ara mendapat pesan dari teman kerjanya bahwa motornya ada didepan. Ara sudah berkali-kali menghubungi Gio tapi laki-laki tidak bisa dihubungi dan terpaksa Ara pulang sendiri dengan motor kesayangannya itu. Semarah itu kah Gio sampai dirinya tak mau pulang bersama Ara, bahkan sampai mengembalikan motornya begitu saja. Ara akui dia salah bicara tapi apa pantas Gio bersikap seperti ini disaat status keduanya bukan lagi pacaran.
Pandangan Ara teralih ke jam dinding ruang tamu apartemennya. Jam 9 malam dan Gio belum juga pulang, apa laki-laki itu tidak akan pulang. Ara menghela nafas pelan, menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa sebelum suara pintu terbuka memenuhi ruangan sunyi itu.
Tatapan Ara langsung terkunci pada tatapan Gio yang kini menatapnya datar. Laki-laki dengan balutan kemeja putih itu berjalan mendekat dan berdiri tepat di hadapan istrinya yang juga sudah berdiri dari duduknya.
"Kenapa belum tidur?" tanya Gio. Meskipun begitu, nada datar dan tatapan dingin Gio bisa Ara rasakan.
"Tungguin kamu. Tangannya kenapa diperban gitu?" tanya Ara saat melihat telapak tangan suaminya diperban.
"Gak papa," setelah mengatakan itu, Gio mengusap rambut Ara lalu melangkah meninggalkan Ara menuju kamarnya.
Ara kembali menghela nafas pelan, dia menatap punggung suaminya yang sudah hampir hilang di balik pintu kamar. Tak menunggu lama, Ara ikut menyusul Gio. Didalam kamar, Ara melihat Gio yang sedikit kesusahan membuka kemejanya. Dengan cepat Ara mendekat dan hendak membantu Gio, namun saat tangan Ara terulur, Gio menghindar dan menarik bajunya hingga terlepas begitu saja.
Ara semakin terdiam melihat tingkah Gio, perempuan itu semakin yakin jika suaminya itu masih marah. Melihat Gio yang berbalik hendak kekamar mandi, Ara menubruk punggung tegap suaminya, memeluknya erat dari belakang.
"Aku minta maaf," ujar Ara pelan.
"Gak papa,"
"Tapi kamu diamin aku,"
"Enggak didiamin, sayang. Aku..."
"Dari tadi kamu cuek terus, gak mau aku bantuin,"
Gio berbalik menatap istrinya dengan senyum kecil. Tangannya terulur mengusap pipi Ara dengan lembut.
"Kamu istirahat ya, pasti hari ini capek kan?" tanya Gio lembut.
"Tapi...."
"Aku mandi dulu, sayang. Kamu tidur duluan aja,"
Ara menghela nafas pelan lalu mengangguk saja, mungkin nanti dia akan membicarakannya lagi dengan Gio. Melihat itu, Gio tersenyum tipis lalu mengecup kening istrinya. Setelah itu tanpa kata lagi, dengan helaan nafas pelan Gio berbalik menuju kamar mandi dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
__ADS_1
...-To be Continued-...