
Ara duduk merenung di sebuah bangku taman. Malam ini udara sedikit lebih dingin setelah hujan deras tadi. Tatapan Ara menatap ke sekitar taman yang memang terbilang sepi. Taman yang jaraknya hanya dipisah dua rumah dari rumah Rania ini memang jarang ditempati orang-orang. Ara sengaja datang untuk menenangkan pikirannya yang sudah beberapa hari ini tak karuan.
Ara mengeratkan jaket yang dia kenakan saat angin berhembus membawa udara dingin yang menusuk tulang. Ara mengusap kedua tangannya lalu meniupnya pelan. Rambut panjang gadis itu terbang saat angin kembali berhembus.
Ara membuang nafas pelan, datang kesini bukanlah hal yang tepat. Bukannya menghilangkan sedikit beban pikirannya, tapi kesunyian di taman itu justru semakin membuatnya berfikir begitu keras.
Apa yang sebenarnya Ara sudah lewatkan beberapa tahun ini, melihat keadaan Gio kemarin, Gea yang memohon padanya, Arsal yang tak henti-henti menghubunginya dan Rania yang terus membujuknya. Semua pikirannya harus berpusat di lingkungan masa lalunya, tidak untuk masa depan. Masa depan? Ara bahkan tidak tahu masa depan seperti apa yang akan menjadi miliknya nanti. Keluarga yang hancur, cinta yang sama hancurnya, anak yang pergi sebelum dia lihat, bukankah semua itu cukup menjelaskan bahwa Ara tak berhak untuk merasakan apa yang namanya bahagia.
Ara marah? Jelas, dia ingin marah, dia sangat marah tapi pada siapa? Dia harus menyalakan siapa? Tuhan? Tidak mungkin, bukan. Mungkin Tuhan memang menakdirkan hidupnya seperti ini. Ara percaya pada kalimat 'semua ada porsinya masing-masing' ? Iya, Ara percaya itu. Ara pernah bahagia, Ara pernah merasakan yang namanya disayang dan mungkin sekarang waktunya dia merasakan kesedihan. Tapi bukankah ini terlalu berlarut, bukankah ini terlalu menyakitkan untuknya yang tak memiliki siapa-siapa untuk bertukar cerita?. Jika orang bertanya, tidak kah dia mengadu pada sang pencipta, jawabannya adalah dia sering. Hanya itu satu-satunya tempat dia mengadu dan mengeluh tapi dia juga tidak ingin menyalahkan Tuhan tentang bagaimana jalan hidupnya sekarang. Tugasnya sekarang hanyalah, sabar dan menerima semuanya.
Ara kembali menghela nafas pelan. Tatapannya kembali pada sebuah kotak yang ada di pangkuannya. Gerimis kembali turun, tapi hal itu tak membuat Ara beranjak dari tempat duduknya. Lagipula jika sejam dibawah gerimis ini pun dia tidak akan basah, hanya rambutnya saja yang akan lembab.
Ara terdiam cukup lama sampai akhirnya memutuskan pulang setelah melihat jam sudah hampir jam 9. Ara kembali memasukkan kotak yang sedari tadi dia pangku kedalam paper bag lalu beranjak dari duduknya dan berjalan meninggalkan taman menuju rumah Rania. Ara memperhatikan sekeliling, nampak sepi. Orang-orang pasti sudah berkumpul dengan keluarganya dijam seperti ini. Ara terkekeh miris saat ingatannya kembali ke masa lalu. Yah, rasanya Ara terlalu berlarut dalam masa lalunya, tapi hanya itu satu-satunya cara untuk mengobati rindunya pada orang-orang yang pernah ada dimasa itu.
Ara mengerutkan keningnya beberapa saat lalu menoleh kebelakang. Sejak dari taman tadi, Ara sadar betul jika ada seseorang yang mengikutinya. Namun saat menoleh, tidak ada satu orang pun membuat Ara mengangkat bahunya acuh.
"Perasaan aku aja kali," gumamnya.
Ara kembali berjalan, dia harus sampai di rumah dengan cepat. Dia takut Rania mengkhawatirkannya karena dia memang tidak pamit saat keluar tadi. Namun sialnya, tepat didepan rumah kosong yang bersebelahan dengan rumah Rania, seseorang membekap mulut dan hidung Ara. Perempuan berambut panjang itu berusaha memberontak, namun sialnya tenaganya kalah dibandingkan orang tersebut.
"Sorry, tapi gue janji gak bakal nyakitin lo." hanya kalimat itu yang sempat Ara dengar sebelum semuanya berubah jadi gelap.
...🍃🍃...
__ADS_1
Ken berjalan memasuki sebuah rumah bercat putih yang sudah bertahun-tahun tidak dia jejaki lagi. Rumah yang dulu menjadi tempat tinggal gadis yang dia cintai. Tapi sayangnya, rasa itu sudah hilang dan berpindah pada istri dan putri kecilnya.
Ken berhenti melangkah saat matanya langsung bersitatap dengan seseorang yang baru saja turun dari lantai dua. Tatapan keduanya sama-sama tajam. Gio lebih dulu memutuskan kontak mata tersebut lalu mengangkat bahunya acuh dan kembali melanjutkan langkahnya hendak kedapur, menganggap Ken tidak ada. Belum sampai dipintu dapur, langkah Gio kembali berhenti saat suara dari arah belakang memanggilnya.
"Gii.." panggil Ken.
Gio diam menunggu apa yang akan Ken ucapkan selanjutnya.
"Gue kesini..."
"Mending lo pulang, gue gak ada waktu," potong Gio cepat, malas sekali berbasa-basi.
"Gue minta tanggung jawab lo untuk Aluna," kata Ken berhasil membuat Gio seketika membalikkan badannya.
Gio menatap Ken tak percaya, sebejat itukah Gio dimata Ken sampai-sampai Ken sama sekali tidak percaya padanya.
"Lo yang udah bunuh Aluna dan lo masih bebas berkeliaran sampai sekarang. Gue pengen lo sekarang tanggung jawab sama perbuatan lo," ujar Ken.
Gio terkekeh miris lalu menggeleng tak percaya. Entah bagaimana lagi caranya Gio meyakinkan Ken jika bukan dia awal dari segalanya.
"Gue gak mau," sahut Gio cepat.
Keduanya menatap tajam dengan jarak yang terbilang cukup jauh. Gio melangkah mendekat, berdiri didepan Ken dengan jarak tiga langkah dari mantan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Lo yakin tau segalanya?" tanya Gio dengan nada mengejek.
Ken mengepalkan tangannya kuat melihat reaksi Gio yang seperti itu. Lihatlah bahkan Gio sama sekali tidak merasa bersalah sedikit pun.
"Gue gak mau bertanggung jawab atas segala hal yang gak gue lakukan." tekan Gio. Dia memang tidak salah lalu untuk apa dia harus tanggung jawab.
"Pergi dari sini atau gue yang nuntut lo atas tuduhan pencemaran nama baik," lanjut Gio.
"Gue punya bukti dan lo gak ada, lo cuma dengar cerita orang lain yang belum tentu benar. Apa polisi akan percaya?" tanya Gio lagi.
Sudah cukup, selama ini Gio tak pernah menghiraukan Ken karena masih menganggap Ken sahabatnya tapi kali ini, Gio merasa Ken sudah terlalu kelewatan dan yang membuatnya begitu marah pada Ken sekarang karena dia tahu bahwa yang mencampur minumannya dengan obat perangsang hari itu adalah Ken. Selama ini, Gio diam-diam mencari tahu segala kejanggalan yang pernah dia alami. Namun masalah tentang Aluna masih belum bisa dia dapatkan titik terangnya. Bahkan alasan kepergian Ara pun dia tidak tahu. Apakah kedua masalah itu berhubungan dengan orang yang sama.
"Gue tau lo mau bikin hubungan gue dan Ara hancur dengan cara murahan seperti itu," ujar Gio dengan tangan mengepal kuat.
"Sekarang gue sama Ara pisah dan dia menghilang. Puas lo sekarang, Hah?" tanya Gio dengan nada meninggi.
"Sekarang lo bisa hidup bahagia dengan istri dan anak lo, lalu semua masalah yang terjadi lo limpahkan semua ke gue. Lo gak mikir sama sekali. GUE YANG NANGGUNG SEMUA, ANJING," teriak Gio.
"PERGI," usir Gio.
Mata laki-laki itu sudah memerah menahan amarah dengan rahang mengeras dan kedua tangan yang terkepal kuat hingga urat-urat tangannya terlihat.
"PERGI BANGSAT," usir Gio lagi dengan nada semakin meninggi.
__ADS_1
Ken yang melihat kemarahan Gio menghela nafas kasar. Laki-laki dengan stelan jas kerjanya itu berbalik dan meninggalkan Gio yang masih menatap punggungnya. Tidak, Ken tidak takut. Hanya saja dia tidak ingin semakin memancing amarah Gio dan berakhir baku hantam dengannya. Bukannya apa-apa, dia harus segera pulang dan dia tidak ingin istri dan anaknya khawatir jika melihatnya pulang dalam keadaan babak belur nantinya.
...-To be continued-...