Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 9. pengganggu


__ADS_3

Gio melangkahkan kakinya dengan tenang di koridor kampus, hari ini suasana hatinya cukup baik apalagi mengingat dia akan pulang dengan Ara nanti, ah sungguh dia tidak sabar menunggu jam pulang nanti.


"Gio", panggil seseorang dari arah belakang dan Gio tahu betul siapa pemilik suara itu.


Arsal Leondra


Pemuda seumur Gio yang biasa di sapa Arsal dan yang tak lain dan tak bukan sahabat Gio. Sifat laki-laki ini berbanding terbalik dengan Gio. Jika Gio pada dasarnya cuek dan lebih banyak diam, Arsal kebalikan dari itu dia friendly dan cerewet. Kadang Gio bingung dengan tingkah ajaib sahabatnya itu.


Dengan cengiran khasnya, Laki-laki berkulit putih itu berjalan mendekat pada Gio yang sudah berbalik menatapnya dengan datar.


Setelah sampai, tanpa permisi Arsal langsung merangkul pundak Gio membuat laki-laki itu menepisnya kesal.


"Gak bawa tas lagi?", kesal Gio.


Inilah salah satu tingkah sahabatnya yang menurutnya begitu ajaib, pasalnya dia kuliah bukannya membawa buku dia justru tidak mau repot-repot. Jangankan buku, tas saja di jarang sekali membawa, jika di tanya kenapa alasannya pasti lupa.


Dan yang makin membuatnya kesal adalah, laki-laki yang tengah merangkulnya ini sering sekali meminjam bukunya dan tidak pernah kembali, kalau pun kembali pasti ada yang lecet, persisi anak SMA.


Untung otaknya masih bisa diajak kerja sama untuk mengingat materi-materi yang diberikan dosen yah meskipun tidak semuanya.


"Kan ada lo", jawab Arsal.


Jawaban yang sama setiap kali Gio bertanya dengan pertanyaan yang sama.


Gio berdecak sebal lalu memilih melanjutkan langkahnya, dia sedang tidak ingin membuat dirinya sendiri kesal akan tingkah sahabatnya itu.


"Gii, lo tau gak. Tadi malam gue banyak ketemu cewek-cewek cakep di club", kata Arsal saat berhasil menyamakan langkah mereka.


Yaps Arsal itu setiap malam kerjaannya selalu club club dan club. Dia juga sering mengajak Gio tapi laki-laki itu yang selalu menolak dengan alasan dia sibuk.


Gio bukan laki-laki yang begitu suci dan jauh dari tempat-tempat seperti itu, dia juga pernah merokok dan minum-minum tapi semua itu berhenti ketika Kevin, ayahnya mengetahui semuanya. Bukan berhenti begitu saja tapi dia juga mendapat pelajaran yang benar-benar membuatnya jera terlebih lagi saat itu dia didiamkan bundanya selama beberapa hari membuatnya kapok melakukan hal-hal seperti itu lagi.


Oke terdengar seperti anak mami tapi memang begitu keadaannya dan begitulah dirinya. Dia bisa saja dijauhi semua teman-teman bahkan kehilangan apapun yang dia punya asal jangan ayah, bunda dan adiknya. Baginya itulah dunianya, keluarganya yang paling penting dan keluarganyalah diatas segalanya. Kehilangan salah satu dari mereka adalah hal yang paling ditakuti Gio. Dia benar-benar laki-laki yang cinta akan keluarganya tapi dia bukan anak manja seperti yang orang lain pikirkan.


"Terus aing kudu naon ?", tanya Gio saat mendengar cerita Arsal.


"Lo gak minta gue kenalin satu ?", tanya Arsal balik.


Gio menggeleng lalu meletakkan tas di meja yang sering dia duduki.


"Buat lo aja, gue udah punya", jawab Gio.


"Bunda dan Gea, cuma mereka perempuan yang ada dihidup lo, Gii. Lo gak mau nambah satu gitu?", tanya Arsal tau betul bagaimana seorang Gio Pratama Ananda.


"Ada", jawabnya singkat lalu duduk dan mengeluarkan buku paketnya.


Mata Arsal membulat sempurna mendengar penuturan Gio, bukannya lebay atau bagaimana tapi ini perdana Gio menjawab seperti itu jika ditanya tentang pasangan.


"Bener ?, siapa ? atau jangan-jangan si.. siapa namanya, Gii yang selalu ngejar lo. Ah Rania Rania itu", kata Arsal heboh membuat perhatian beberapa orang teralih padanya.


Mendengar nama itu membuat Gio mendengus kasar, sahabatnya ini sudah tau jika dia paling tidak suka dengan gadis yang seenaknya itu tapi kenapa masih menyebutnya juga.

__ADS_1


"Bukan", jawabannya.


"Terus siapa anjir", kesal Arsal yang sudah tidak sabar untuk mengetahui itu.


"Ada", jawabnya singkat.


Saat ingin kembali bersuara, suara cempreng seorang gadis lebih dulu menyela.


"Gio..", panggil gadis itu.


Gio menghela nafas kasar, baru saja dibicarakan sudah datang dan itu berhasil membuat moodnya hancur dalam sekejap, Gio tidak suka dengan gadis ini tapi dia selalu saja mengikuti dan mendekatinya meskipun Gio sudah menunjukkan ketidaksukaannya. Yah dia Rania Maheswari, adik angkatannya sekaligus gadis yang begitu Gio benci, yang jelas bukan tanpa alasan dia membencinya


"Gio nanti pulang bareng yuk", ajak gadis berambut sebahu itu.


"Gak", balas Gio.


"Kenapa ?, dari kemarin kamu selalu nolak aku dan gak pernah mau diajak pulang bareng", kata Rania menatap sendu kearah Gio yang hanya menatapnya dingin.


"Gue ada janji", jawab Gio apa adanya.


Sedangkan Arsal hanya menatap mereka, sikap Gio yang seperti ini sudah biasa untuknya dan dia tahu Gio membenci gadis ini, jadi tidak ada yang perlu dia lakukan. Dia hanya akan bertindak jika Gio berlaku kasar dan sejauh ini masih belum hanya kata-katanya saja yang biasa pedas.


"Kamu alasannya itu terus, jalan sama siapa sih?", tanya Rania penasaran.


"Pacar" jawab Gio singkat


...****************...


Gio menghela nafas lega saat kelasnya selesai. Dia sudah mengirim pesan pada Ara bahwa dia akan segera menjemputnya. Setelah membereskan barang-barangnya, Gio beranjak dan mendekat pada sahabatnya itu.


Gio berjalan menuju tempat dimana mobilnya terparkir dan lagi-lagi dia harus menghela nafas kasar saat melihat seorang gadis bersandar di mobilnya.


"Minggir", ketus Gio saat sampi disamping mobilnya tepat dihadapan gadis itu.


"Gio yang tadi bohong kan ? kamu gak punya pacar kan ?", tanya Rania masih tidak percaya dengan ucapan Gio.


"Apa hubungannya sama lo, minggir gak", kesal Gio. Dia benar-benar muak dengan gadis itu.


"Apa sama sekali gak dapat kesempatan?", tanya Rania lagi.


"Setelah apa yang lo lakuin, lo masih nanya itu", kata Gio diikuti senyum miring.


"Minggir", kata Gio makin tajam.


Tanpa protes lagi Rania membiarkan Gio pergi.


"Kita liat nanti, Gio", kata Rania lalu ikut meninggalkan area parkiran.


...****************...


Ara menatap pesan yang dikirim Gio beberapa menit yang lalu, apa dia harus pulang dengan laki-laki itu ? Ara bingung. Dia hari ini akan mengajar Gea tapi gadis itu sudah pulang sejak beberapa jam yang lalu dan jelas saja dia tidak bisa ikut, kelasnya masih belum selesai.

__ADS_1


Pergi sendiri sebenarnya dia bisa tapi masalahnya dia sama sekali tidak tau menahu alamat Gea. Ara menghela nafas pelan, mau tidak mau dia harus pulang dengan Gio. Dia sebenarnya ingin sedikit menghindar dari laki-laki itu tapi jika begini, bagaimana dia bisa menghindar.


Ara mengalihkan pandangannya saat sebuah mobil hitam berhenti tepat dihadapannya. Dia tau siapa pemilik mobil itu tapi dia berusaha cuek dan sebisa mungkin berpura-pura tidak melihatnya.


Laki-laki tampan dengan balutan jaket denim berwarna biru keluar dari mobil mewah itu dan berjalan mendekati Ara.


"Gue antar mau ?", tanya laki-laki itu.


Ara menoleh dan menatap datar laki-laki yang tengah berdiri dihadapannya itu, tampan memang siapa yang tidak suka dengannya dan mungkin Ara satu-satunya orang yang tidak suka dengan laki-laki ini.


"Gue ada jemputan", kata Ara masih bersikap sopan.


"Bilang aja lo pulang bareng gue", sahut laki-laki itu lalu langsung menyambar tangan Ara.


Ara sudah berusaha menepis namun cengkraman tangan itu semakin mengerat membuatnya meringis kesakitan.


"Lepas, sakit tau", kesal Ara yang sudah beranjak dari duduknya.


"Gue gak bakal lepas kalau lo gak pulang bareng gue", tekan laki-laki itu.


"Gue gak mau jangan maksa", kesal Ara.


Ini yang Ara tidak suka, laki-laki ini selalu saja seenaknya dan tukang paksa membuatnya risih.


"Kenapa sih lo selalu nolak gue?", tanya laki-laki itu lagi.


"Karena gue gak mau terlibat sama lo dan gak suka sama lo", kata Ara lebih tegas.


"Iya tapi kenapa ?",


"Gue gak suka, masih kurang jelas", kata Ara lagi.


"Lo pulang bareng gue gak mau tau", kesal laki-laki itu lalu menarik Ara untuk masuk ke mobilnya.


Ara tentu saja berontak, dia tidak mau dan dia takut dengan laki-laki ini.


"Lepas. Gue gak mau pulang sama lo", kesal Gea berusaha melepaskan diri.


Saat hendak mendorong Ara kedalam mobil, bahu laki-laki itu ditahan dari belakang oleh seseorang membuat pergerakannya berhenti dan beralih menatap siapa orang itu.


"Kalau dia gak mau jangan di paksa", kata orang itu dingin.


Ara menoleh cepat saat mendengar suara itu, dia kenal betul pemilik suara yang kini berdiri dibelakangnya. Dia, Gio.


Gio menarik Ara sampai gadis itu terlepas dan langsung menyembunyikan gadis itu dibelakangnya.


"Jangan kasar-kasar sama cewek", katanya datar.


"Dia balik sama gue, jadi gak usah lo paksa gitu", lanjutnya lagi. Tatapannya tajam dan aura sekitarnya yang sudah berubah.


"Emang lo siapanya ?", tanya ketus laki-laki dihadapan Gio.

__ADS_1


"Pacar",


...****************...


__ADS_2