Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 45. Alasan ketidaksukaan


__ADS_3

...---Happy reading---...


Ara duduk disamping Gio dengan wajah ditekuk. Gio paham gadisnya tengah marah sekarang.


"Kenapa ?", tanya Gio basa basi.


"Kenapa mau aja dipeluk-pekuk kayak gitu ?", tanya Ara kesal.


Gio tersenyum gemas melihat wajah Ara yang jutek tapi jatuhnya jadi menggemaskan.


"Kan udah dibilang, bukan aku yang meluk tapi dia", sahut Gio.


"Kenapa gak nolak ?", tanya Ara.


"Kan tadi udah nolak. Tenang sayang aku gak suka dia, sukanya kamu doang", bujuk Gio membuat Ara menahan senyumnya.


"Kenapa sih gak suka sama Rania, padahal dia cantik?", tanya Ara memainkan jari tangan Gio. Padahal tadi marah-marah sekarang langsung berubah jadi jinak begini.


"Aku gak suka sama orang bukan asal gak suka, sayang. Aku ada alasannya", sahut Gio.


Entah sudah keberapa kalinya Ara bertanya pertanyaan yang sama, membuat Gio lelah membahas itu terus. Keduanya kini sedang duduk di bangku taman dengan Ara yang bersandar pada bahu Gio.


"Iya tapi alasannya apa ?", tanya Ara lagi.


"Padahal katanya dia udah berjuang dari lama buat kamu, tapi selalu gak dilihat sama sekali. Gak takut nyesel", lanjut gadis itu menegakkan tubuhnya menghadap Gio.


Gio melepas kupluk yang dia pakai lalu memakaikannya pada Ara.


"Kenapa keluar gak pake jaket tebal, nanti masuk angin", kata Gio perhatian.


"Panas banget tadi, makanya pake ini aja. Ini juga tebal kok", sahut Ara menatap Gio yang begitu dekat dengan wajahnya.


"Iih jawab dulu pertanyaan yang tadi, jangan dialihkan", kesal Ara memukul pelan lengan Gio.


"Yakin mau tau ceritanya ?", tanya Gio merapikan rambut Ara. Gadis itu mengangguk antusias.


"Tapi nanti kamu malah nuduh aku yang enggak-enggak", kata Gio tidak yakin menceritakan semuanya pada Ara. Dia takut Ara akan berfikir jika dia hanya mengarang cerita dan menjelekkan Rania yang notabennya adik sepupu dari kekasihnya ini.


"Gak bakalan", sahut Ara cepat.


Gio menghela nafas pelan dan beralih menggenggam tangan Ara. Laki-laki itu sangat menyukai tatapan teduh dari kekasihnya ini.


"Aku gak tau harus cerita mulai dari mana", kata Gio.


"Ayolah Gii. Mau tau", ucap Ara membujuk Gio agar laki-laki itu menceritakan apa sebenarnya yang terjadi. Gio menghela nafas pelan. Jika Ara sudah ingin tahu sesuatu dia akan terus memaksanya. Gadisnya ini persis seperti adiknya yang sedikit pemaksa jika tingkat kekepoannya sudah tak bisa dibendung.


"Dengarkan dan jangan memotong", kata Gio mengusap kening Ara lembut. Gadis itu mengangguk dan bersiap mendengar cerita Gio.


"Kamu taukan seberapa sayangnya aku sama Gea. Bagaimana aku jaga dia banget ?", tanya Gio memulai ceritanya yang hanya dijawab anggukan dari Ara.

__ADS_1


"Gea dan Rania dulu bersahabat baik. Tapi entah berapa tahun yang lalu Rania melakukan kesalahan yang bahkan sampai sekarang belum bisa aku maafkan", kata Gio lagi menunduk memainkan jari Ara yang dia genggam.


"Apa ?", tanya Ara mengerutkan keningnya.


"Aku dari dulu emang gak pernah niat menjalin hubungan dengan siapapun apalagi hanya untuk main-main..."


"Tapi kok mau sama aku?",


"Jangan memotong sayang", Gio mengeratkan cardigan hitam yang dipakai kekasihnya itu. Ara cengengesan sendiri.


"Dari dulu hidup aku hanya berputar pada ayah, bunda dan adek. Gak pernah mau menjalin hubungan karena aku takut adek bakal kekurangan kasih sayang. Ayah sama bunda kan kerja mulu, jarang dirumah. Dan saat itu Rania katanya suka sama aku, tapi selalu aku tolak ya dengan alasan seperti tadi", lanjut laki-laki itu.


"Dia sering minta ke Gea buat tolongin dia. Dan Gea udah sering bujuk aku, tapi emang pada dasarnya aku yang gak mau. Sampai akhirnya Rania lelah dan menganggap Gea tidak pernah mendukung dia",


"Terus apa hubungannya kamu benci dia ?", tanya Ara.


"Sayang...."


"Iya iya lanjutkan",


Tangan Gio terangkat mengelus lembut pipi Ara yang dingin karena angin malam.


"Rania tau aku sayang banget sama Gea. Dia gertak aku dengan cara culik Gea..."


"Hah, kok bisa", lagi-lagi Ara memotong membuat Gio menghela nafas sabar.


"Gak dilanjut nih", kata Gio lembut masih mengusap lembut pipi Ara.


"Aku gak tau gimana ceritanya, mungkin Rania udah kepalang kesal sama aku sampai akhirnya dia lampiasin ke Gea dengan cara nyiksa adek saat itu", kata Gio berhasil membuat mata Ara melotot terkejut.


"Gea udah pernah dapat kekerasan sebelum kejadian itu dan itu awal trauma dia. Sampai akhirnya itu terjadi lagi karena Rania dan trauma Gea makin jadi aja. Dia takut keluar rumah, bahkan ketemu sama aku aja kadang takut. Aku masih ingat gimana perjuangan aku buat kembaliin mental dia waktu itu", kata Gio panjang lebar mengingat betapa menyedihkannya keadaan Gea saat itu.


"Aku lakuin banyak cara biar mental dia balik lagi. Itu yang paling tidak aku suka dari Rania, dia pernah mencelakakan Gea sampai mental Gea benar-benar rusak. Aku gak papa dia nyakitin aku mungkin aku gak akan semarah ini tapi kalau itu dia lakukan ke Gea, aku gak akan pernah maafin siapapun yang nyakitin Gea. Itu berlaku untuk semua orang", kata Gio menatap teduh pada Ara.


Sekarang Ara paham kenapa Gio begitu menjaga Gea dan sekarang dia paham kenapa kekasihnya ini begitu menyayangi Gea lebih dari dirinya sendiri.


"Aku jaga Gea bukan karena emang mau manjain dia doang, tapi aku punya pengalaman buruk yang buat aku harus bisa jaga dia dengan baik terlebih keadaan dia yang udah gak kayak kita", kata Gio.


"Pahamkan ?", tanya Gio pada Ara.


"Paham. Aku gak nyangka aja Rania bisa senekat itu", sahut Ara.


"Udah makan ?", tanya Gio mengalihkan pembicaraan membuat Ara mengangguk.


"Tadi sama nenek", jawabnya.


"Gii...",


"Apa sayang"

__ADS_1


Gio mengusap tangan Ara yang berada di genggamannya, berusaha menyalurkan hangat pada gadis itu.


"Kalau suatu hari nanti kamu ninggalin aku gimana ?", tanya Ara menatap Gio yang fokus pada tangannya.


"Gak akan", sahut Gio cepat.


"Tapi...."


"Gak akan sayang. Gak akan pernah terjadi",


Dapat Ara lihat kesungguhan pada mata coklat laki-laki itu. Ara memang paling sulit jika harus menebak raut wajah Gio tapi sorot mata itu selalu membuatnya paham apa yang dirasakan laki-laki itu.


"Tapi kalau aku yang ninggalin kamu gimana ?", tanya Ara semakin ngelantur membuat Gio menghela nafas sabar. Tidak suka dengan arah pembicaraan gadisnya. Laki-laki itu melepaskan tangan Ara lalu beralih memeluk gadis itu erat.


"Kalau kamu yang ninggalin aku, bakal aku cari sampai dapat. Mau kemana pun kamu pergi, aku akan cari", sahut Gio.


"Tapi beda cerita kalau kamu yang suruh aku pergi. Kalau kamu bahagia tanpa aku, aku yang akan lepas kamu walaupun berat akan aku coba", lanjut Gio meletakkan dagunya diatas puncak kepala Ara.


"Kok gitu?", tanya Ara.


"Kebahagiaan kamu yang utama. Kalau kamu bahagia tanpa aku, aku gak akan pikir dua kali untuk pergi", jawab Gio.


Ara membalas pelukan Gio lalu tersenyum tipis.


"Gii"


"Hmm"


"Tadi om dan tante datang dirumah bikin rusuh", adu Ara seperti anak kecil yang mengadu pada ayahnya.


Gio refleks melepas pelukannya dan meneliti setiap jengkal tubuh Ara, memeriksa apakah Ara dapat kekerasan lagi atau tidak.


"Gak dipukul kan ?", tanya Gio khawatir.


"Enggak kok. Cuma barang-barang dirumah diberantakin semua, gak tau mereka nyari apa. Soalnya setelah itu mereka langsung pergi. Makanya aku lambat kesini, beres-beres dulu", jawab Ara mendongak menatap Gio dengan tatapan polosnya.


Gio sudah mengetahui semuanya. Ara yang bercerita sendiri dan hal kecil seperti ini selalu Ara ceritakan pada Gio. Tidak seperti dirinya yang masih banyak menyembunyikan sesuatu dari kekasihnya ini. Sebenarnya Gio sudah menawari Ara bantuan untuk melawan tapi Ara menolak dengan alasan tidak ingin membuat keluarganya semakin membencinya.


"Nenek gimana ?", tanya Gio menatap Ara.


"Gak papa. Tadi udah istirahat sebelum aku kesini", jawabnya dengan senyum yang begitu menenangkan.


Gio kembali memeluk Ara meredam rasa tidak enak yang bersarang didadanya. Dia paham dan dia mengerti betul penderitaan seperti apa yang Ara rasakan. Hidup sendiri tanpa kedua orang tua dan dibenci oleh keluarganya sendiri bukanlah hal yang mudah untuk gadisnya ini lalui. Kadang jika Ara bercerita, Gio rasanya ingin menangis saja mendengar cerita Ara yang begitu menyakitkan untuknya. Hidup dikeluarga yang lengkap dan tak kekurangan apapun membuat Gio merasa tidak akan bisa dia lalui jika berada diposisi itu. Bahkan dengan senyum penuh ketulusan dan kesabaran Ara selalu menceritakan kesehariannya pada Gio. Ini yang membuat Gio sebisa mungkin tak menyakiti hati Ara, sebisa mungkin membahagiakan gadis kecilnya ini.


"Capek", adu Ara mengeratkan pelukannya. Capek yang di maksud sangat dimengerti oleh Gio.


"Jangan nyerah, bertahan terus. Ada nenek dan juga aku yang butuh kamu disini. Kalau gak kuat datang ke aku, cerita ke aku", kata Gio lembut membuat Ara mengangguk dengan senyum tipis.


"Terima kasih", kata Ara. "Terima kasih selalu ada dan terima kasih untuk sejuta kebahagiaan yang selalu kamu kasi ke aku", celetuk Ara. Senyum tulus gadis itu benar-benar membuat Gio jatuh lebih dalam pada Ara.

__ADS_1


"Bahagia terus cantiknya Gio"


...---To Be Continued---...


__ADS_2