Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 35. Gio cerewet


__ADS_3

...---Happy reading---...


Hari ini adalah hari libur, akhir pekan memang begitu menyenangkan dan waktu yang tepat untuk bermalas-malasan. Sama seperti laki-laki yang masih asik tenggelam dalam dunia mimpinya padahal jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi.


"Abang", teriak dari pintu samar-samar terdengar ditelinga Gio membuat tidur laki-laki itu terganggu.


Teriakan yang dibarengi dengan suara ketukan pintu cukup kencang itu membuat Gio terpaksa bangun dari tidurnya. Laki-laki yang hanya mengenakan celana pendek tanpa atasan itu bangun dan berjalan dengan malas menuju pintu. Setelah pintu terbuka, cengiran khas dari adiknya menyambutnya pagi ini.


"Kenapa ?", tanya Gio dengan suara serak. Laki-laki itu dengan malas bersandar dipintu kamarnya.


"Minta uang", kata Gea menengadahkan tangannya.


"Kamu bangunin abang pagi-pagi gini cuma buat minta uang ?", tanya Gio kesal.


"Pagi apanya, ini udah jam 10 bang Gio", sahut Gea.


"Ini hari libur, ngapain minta uang", kata Gio ketus. Kesal sekali tidur nyenyaknya di ganggu.


"Mau jalan keliling kompleks sama kak Ara beli jajanan", sahut Gea santai.


"Ya minta sama Ara lah", kata Gio belum sadar. Sedetik kemudian, matanya terbuka lebar.


"Ara ?", tanya Gio memastikan.


"Iya, itu kak Ara sudah dibawah. Pagi-pagi kesini katanya mau ngajar Gea, tapi tadi udah jadi Gea ajak jalan deh sekalian nungguin abang bangun", jawab Gea.


"Duit mana bang?", tanya Gea lagi.


Gio dengan tergesa-gesa berbalik masuk ke kamarnya hendak membersihkan diri. Dia tidak akan mengizinkan dua gadis ini pergi tanpa dirinya.


"ABANG, DUIT", pekik Gea kesal melihat Gio yang justru kembali masuk ke kamar dengan tergesa-gesa.


"Ambil sendiri di dompet abang", teriak Gio dari kamar mandi.


Gea bergegas masuk kedalam dan melihat dompet berwarna hitam terletak begitu saja diatas meja samping tempat tidur. Dengan senyum sumringah, Gea mendekat dan langsung menyambarnya.


"Ngapain ambil dikit kalau bisa banyak", gumam Gea membawa kabur dompet kakaknya.


Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaiannya, Gio berlari kecil menuruni tangga mencari keberadaan dua gadis kesayangannya.


"Pagi kesayangan abang", sapa Gio saat melihat bundanya berjalan hendak ke ruang tamu.


"Pagi, bang", sahut Vio menatap putranya yang seperti terburu-buru.


"Abang jangan lari-lari nanti jatuh. Mau kemana sih ?", tanya bunda membuat langkah Gio berhenti dan berbalik mendekat ke arah bundanya.


"Istri abang sama adek kemana ?", tanya Gio memeluk manja bundanya dari samping.


Kening bunda mengerut mendengar pertanyaan putra sulungnya, istri ? kapan Gio menikah.


"Kamu nikah diam-diam?",tanya bunda menatap horor Gio.


"Ck, bukan gitu bunda. Maksud Gio calon istri", jawab Gio membuat bunda mengangguk-angguk.


"Keluar sama adek, paling jalan-jalan disekitar kompleks", sahut bunda.

__ADS_1


"Oke terima kasih bunda. Abang susul mereka ya", kata Gio melepas pelukannya dan berlari kecil menuju pintu utama meninggalkan rumah mencari dua gadis itu.


Sedangkan di taman kompleks, Ara dan Gea sedang asik menikmati begitu banyak jajanan diatas meja taman. Diakhir pekan seperti ini memang sangat ramai penjual jajanan di taman kompleks perumahannya.


"Woi bocil", sapa seseorang saat Gea dan Ara sedang asyik-asyiknya bercerita. Spontan Ara dan Gea menoleh. Gadis berlesung pipi itu mendengus menatap siapa yang menyapanya sedangkan Ara hanya tersenyum tipis menyambut kedatangan laki-laki itu.


"Arsal", sapa Ara. Yap, dia Arsal sahabat Gio. Memangnya siapa lagi yang memanggil Gea dengan sebutan bocil kalau bukan laki-laki humoris itu.


"Ehh calon", sahut Arsal dengan senyum manisnya lalu duduk dihadapan gadis itu.


"Wihh makanan. Banyak bener, makasih loh cil tau aja gue laper", kata Arsal menatap berbinar pada makanan diatas meja.


"Heh kak, itu bukan buat kakak. Siapa yang terima kehadiran kakak disini", kata Gea ketus. Oke sedikit info, keduanya memang sulit akur jika bertemu seperti ini.


"Lo beli ini pake uang lo ?", tanya Arsal memicingkan matanya.


"Ya iyalah jelas. Masa Gea nyuri", jawab Gea ketus.


"Yang kasi lo uang siapa ?", tanya Arsal lagi. Seperti tahu betul kebiasaan Gea.


"Abang, tadi pagi", jawab Gea lagi. Ara hanya menatap keduanya dengan mulut yang terus mengunyah.


"Berarti makanan ini punya Gio, bukan lo", kata Arsal mengulurkan tangannya mengambil beberapa jajanan diatas meja.


"Bilang aja mau", ketus Gea.


"Kan tadi udah bilang, nyet", kata Arsal yang sibuk mengunyah makanannya.


"Mulut lo", kata seseorang yang tiba-tiba berdiri disamping Arsal dan menggeplak kepala laki-laki manis itu.


"Kok kamu disini ?", tanya Ara menatap laki-laki dengan balutan kaos hitam polos yang tiba-tiba datang.


"Salah ?. Mau ngapain kalian berdua datang ke taman serame ini?", tanya Gio sedikit ketus. Gea dan Ara meringis melihat raut tak bersahabat Gio.


"Tebar pesona, iya ?", tanya Gio lagi semakin ketus. Arsal menatap Gio cengo, selama bersahabat dengan laki-laki itu, baru kali ini dia melihat Gio sangat berbeda dari biasanya.


"Apa lo ?", tanya Gio tak bersahabat.


Arsal bergidik ngeri melihat tingkah Gio. Apakah berpacaran dengan Ara membuat Gio jadi seperti ini, tak lagi datar dan cuek.


"Lo kok cerewet?", tanya Arsal.


Sadar akan dirinya, Gio hanya berdehem pelan tanpa mau menjawab lalu kembali menatap Ara dan Gea yang sibuk dengan makanan mereka.


"Pulang", kata Gio membuat keduanya menoleh.


"Iih bang Gio aja yang pulang", kata Gea ketus. Siapa yang tidak kesal, dia baru saja sampai bahkan makanannya belum habis dan dia sudah disuruh pulang.


Gio berjalan mendekat ke arah Ara dan duduk tepat disamping gadis itu. Gio merebahkan kepalanya pada bahu Ara membuat Arsal mendengus pelan.


"Raa, jalan yuk", ajak Gio memainkan jari lentik gadis yang tengah sibuk makan.


"Mau kemana emangnya?", tanya Ara lembut. Belum sempat Gio membalas, suara Arsal lebih dulu menginterupsinya.


"Rii, jilin yik", Arsal mencibir.

__ADS_1


"Bucin lo", lanjut laki-laki itu.


"Iri bilang bos", sahut Gea.


"Lo juga gak ada pacar, cil. Jangan sok-sokan", jawab Arsal.


"Siapa bilang, tuh pacar Gea datang", tunjuk Ara pada seorang laki-laki dengan balutan hoodie abu berjalan mendekat. Arsal dan Gio sudah lebih dari tau siapa laki-laki itu. Arsal memukul meja keras membuat orang-orang yang ada disana terkejut.


"Lo kenapa sih?", tanya Gio kesal.


"Gue mau ke rumah bunda. Disini cuma dijadiin obat nyamuk", kata laki-laki itu ketus lalu beranjak membawa beberapa cemilan dan pergi bersama motor besarnya menuju rumah kediaman Ananda.


Refleks Gio bangkit dari duduknya dan menarik Ara untuk ikut. Bisa bahaya jika Arsal berada dirumah, terlebih hanya ada bunda disana. Bisa-bisa kasi sayang bundanya beralih pada Arsal dan melupakan Gio nanti. Jangan salah, sengklek-sengklek begitu bunda begitu menyukai Arsal.


"Adek kalau mau disini, terserah. Abang mau pulang, abang gak mau manusia kurang otak itu rebut bunda", kata Gio lalu pergi tak lupa membawa Ara bersamanya.


...---🌻🌻🌻---...


Setelah sampai dirumah, Gio dibuat terbelalak dengan Arsal yang duduk bergelayut manja dilengan bundanya persis jika dirinya sedang bermanja-manja dengan bundanya itu. Demi Upin Ipin, Gio benar-benar tidak suka melihat bundanya dekat dengan sahabatnya itu, bukannya apa-apa, Arsal begitu pintar mengambil hati orang lain termasuk bundanya. Bisa saja nanti bundanya melupakan dia dan lebih memilih Arsal.


Dengan tergesa-gesa, Gio mendekat dan langsung menarik Arsal lalu duduk diantara dua orang itu.


"Jauh-jauh lo dari bunda gue", kata Gio ketus menatap Arsal tajam.


"Kenapa emang, lo udah punya pacar sono manja-manja sama pacar lo", sahut Arsal melirik Ara yang duduk dihadapan mereka.


"Kenapa sih bang?", tanya bunda.


"Bunda jangan dekat-dekat dia. Dia bau", sahut Gio.


Arsal mendengus dan berpindah duduk disamping bunda. Arsal benar-benar menyukai wanita itu. Selain baik, dia juga begitu penyayang. Ibu Arsal memang masih ada tapi wanita itu sibuk dengan pekerjaannya hingga jarang punya waktu untuknya. Vio juga bahkan menganggap Arsal putranya. Selain karena keluarga mereka bersahabat, Gio dan Arsal sudah bersahabat dari mereka kecil.


"Bund, nanti kalau Gio nikah Arsal yang tinggal disini sama bunda ya", kata Arsal membuat Gio melotot.


"Enak aja. Bunda ikut gue lah, enak aja bunda disuruh jaga anak monyet kayak lo", kata Gio lagi.


"Dari pada ngurus anak manja kayak lo", sahut Arsal.


"Wah, kurang aja. Gue bukan anak manja", sahut Gio menatap Arsal tajam dibalas tak kalah tajam oleh laki-laki itu. Jika di dalam film kartun, mata keduanya sudah mengeluarkan laser berwarna merah.


"Iya, gak manja kalau di luar tapi beda lagi kalau lo sama bunda", kata Arsal.


"Ya iyalah jelas, lo juga gitu kalau lo lupa", kesal Gio.


"Bunda", panggil Arsal mengacuhkan Gio. Wanita yang dipanggil itu sontak menoleh menatap Arsal.


"Abang lebih cerewet ya sekarang ?", tanya Arsal jahil.


"Gue bukan abang lo. Ingat lo lebih tua satu bulan dari gue", sahut Gio lagi.


"Iya, bunda senang liat abang cerewet gak kaku, cuek, datar dan dingin kayak biasanya", sahut Vio.


Gio menoleh pada bundanya yang juga menatapnya dengan senyum manis lalu setelah itu, wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu menoleh pada Ara yang sedari tadi menonton pertengkaran mereka.


"Terima kasih, udah kembalikan anak bunda",

__ADS_1


...---To Be Continued---...


__ADS_2