Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 125. Badmood.


__ADS_3

Sore dengan langit jingga saat matahari perlahan turun yang sebentar lagi digantikan dengan bulan menambah kesan cantik pada langit cerah tanpa tanda-tanda turun hujan malam ini.


Ara yang duduk di tempat tidurnya sedari tadi tak berhenti cekikikan akibat rasa geli yang ditimbulkan saat suaminya mencium perutnya berulang-ulang. Delapan bulan sudah berlalu, kehidupan rumah tangga keduanya terbilang cukup baik tanpa ada hambatan besar. Meski sering kali keduanya cekcok masalah sepeleh tapi itu tidak menjadi hal serius yang membuat mereka jadi pisah. Kehamilan Ara juga terbilang lancar. Baru satu bulan ini ibu hamil itu merasakan ngidam. Sedangkan bulan-bulan kemarin justru Gio yang harus uring-uringan mencari apa yang tiba-tiba dia inginkan.


Gio yang masih menggunakan jas kerjanya itu sedari tadi tak berhenti menciumi perut buncit istrinya yang selalu membuatnya gemas sendiri. Setelah puas dengan apa yang dilakukannya, Gio kembali menurunkan dress ibu hamil Ara yang sempat dia singkap lalu mendongak menatap Ara yang masih berusaha meredam tawanya.


"Udah makan?" tanya Gio.


"Udah tadi. Udah minum susu juga, dibuatin mbak Nita," jawab Ara menyebut nama asisten rumah tangganya.


Perempuan itu beralih duduk dihadapan Gio yang masih menatapnya. Ara bergeser lebih dekat pada Gio dan langsung memeluk suaminya itu. Tak perlu ditanyakan lagi, semenjak kehamilannya, Ara lebih manja dan sering kali membuat Gio kewalahan akibat Ara yang tak ingin ditinggal. Bahkan pernah sekali dia terpaksa membawa Ara ke perusahaan seharian full karena istrinya yang tidak mau jauh darinya.


"Kenapa sayang?" tanya Gio mengelus rambut Ara.


Ara menggeleng dan mempererat pelukannya. Ah, sungguh, posisi seperti ini selalu membuatnya nyaman dan tenang.


"Mau ini," pinta Ara memasukkan tangannya pada kemeja Gio dan mengelus perut kotak-kotak milik suaminya, itu merupakan hobby barunya.


"Gemes, bisa kotak-kotak gini. Liat, perut aku aja buncit," ucap Ara terkekeh pelan.


"Hasil begadang kita ini," jawab Gio mengelus perut Ara dan tertawa pelan.


"Pemaksaan dari kamu," sahut Ara.


"Enak aja. Aku gak maksa, orang kamu aja keenakan bahkan sering minta tambah,"


"Iih ngeselin," Ara mencubit pelan perut yang sedari tadi dia elus membuat Gio terkekeh. Setelahnya hanya keheningan yang menyapa.


"Gimana hari ini, baby nakal gak?" tanya Gio setelah beberapa menit keduanya hanya diam.

__ADS_1


"Enggak, anteng dia mah," jawabnya.


Gio sedikit merenggangkan pelukan Ara dan memperbaiki posisi duduk Ara agar perutnya tak tertindih nantinya. Tangan besar laki-laki itu tak henti mengelus lembut perut buncit Ara yang selalu direspon sang anak dengan tendangan-tendangan kecil membuat Ara terkekeh pelan.


"Jangan nakal ya sayang, nanti mama kesusahan," kata Gio berbicara pada anaknya.


"Kalau papa lagi kerja, baby harus bantu papa buat jagain mama," lanjutnya.


Ara yang menyembunyikan kepalanya dileher Gio terkekeh mendengar penuturan suaminya itu. Selama mengetahui Ara mengandung, Gio berubah menjadi suami dan ayah siaga yang selalu bergerak cepat untuk memenuhi kebutuhan istrinya.


"Gii...."


"Hmm,"


"Give me a kiss," pinta Ara.


Gio terkekeh pelan lalu mengecup setiap sudut wajah istrinya dan melu*at lembut bibir Ara.


"Sure,"


Gio kembali melu*at bibir Ara dengan lembut dengan tangan yang sudah kemana-mana. Setelahnya, hanya mereka yang tau kejadian apa setelah itu.


...❄❄...


Malam menjelang, Gio yang hanya mengenakan boxer berwarna biru navy itu sedang sibuk sendiri di dapur. Setelah menidurkan istrinya, Gio beranjak membuat makanan dan susu untuk sang istri jika nanti perempuannya itu terbangun. Ara memang sering kali mengeluh lapar jika tengah malam. Sedangkan asisten rumah tangga mereka hanya bekerja dari pagi sampai sore dan itu yang membuat Gio harus bergerak cepat memenuhi kebutuhan istrinya setiap malam.


Asik dengan alat masaknya di dapur, suara deringan ponselnya yang terletak tak jauh dari pantry yang dia gunakan mengalihkan atensinya. Setelah menuangkan sup ayam kedalam mangkuk, Gio bergerak meraih ponselnya yang sedari tadi berdering. Keningnya mengerut saat melihat nomor tak dikenal menelponnya malam-malam seperti ini. Takut jika itu hal penting, Gio menggeser tombol hijau dan mendekatkan ke telinga kirinya.


"Halo," sapa dari seberang.

__ADS_1


Gio masih diam menunggu orang tersebut kembali berbicara. Sebenarnya Gio sedikit bingung dengan seseorang yang menelfon nya terlebih lagi orang itu adalah perempuan, dia tidak mengenal nomor apalagi suara orang itu.


"Ini siapa?" tanya Gio pada akhirnya saat orang diseberang pun tak mengeluarkan suara.


"Ini aku Naumi, nomornya disimpan ya kak siapa tau nanti bisa komunikasi lebih," jawab dari seberang membuat Gio mendengus.


"Tidak, terima kasih. Jangan hubungi saya lagi," jawab Gio lalu mematikan sambungan telfonnya sepihak. Laki-laki itu lalu berbalik dan sedikit terkejut saat menemui istrinya tengah berdiri menatapnya dalam diam.


"Eh sayang. Kamu kenapa bangun?" tanya Gio mendekat.


"Kok kaget gitu?" tanya Ara tak mengindahkan pertanyaan suaminya.


"Kamu munculnya tiba-tiba. Kenapa sayang, mau makan?" tanya Gio mengelus kepala istrinya dengan lembut.


"Siapa yang nelfon?" tanya Ara lagi.


"Bukan siapa-siapa sayang," jawab Gio.


"Tapi kok kaget gitu pas habis telfonan," ujar Ara lagi.


Gio menghela nafas pelan lalu mengusap pipi istrinya. Dia tau mood istrinya memang tidak stabil dan lumayan sensitif seperti ibu hamil pada umumnya.


"Aku ada buat sup. Makan yuk, tadi kan belum makan," ujar Gio mengalihkan pembicaraan.


Ara menepis pelan tangan Gio lalu mengangguk dan mendahului suaminya duduk di meja makan. Dia sebenarnya tidak mood makan tapi dia masih memikirkan anaknya. Dia kesal pada Gio yang sepertinya tengah menyembunyikan sesuatu darinya. Dimasa kehamilan Ara, tidak biasanya Gio mendapat telfon di jam seperti ini, kalaupun ada pasti dari orang tua atau adiknya. Jika Gio sudah di rumah, urusan pekerjaannya benar-benar tidak boleh mengganggunya. Kalaupun ada pekerjaan, Gio akan mengerjakannya di ruang kerja.


Setelah makan dalam keheningan, kini keduanya kembali ke kamar. Ara berbaring membelakangi Gio yang kini menatap punggungnya dengan helaan nafas pelan. Mood istrinya sering kali membuatnya kewalahan. Tak ingin membuat istrinya semakin badmood, Gio memilih diam dan memeluk Ara dari belakang, mencium bahu istrinya yang terekspos karena dress tali. Sedangkan tangannya bergerak mengelus perut buncit sang istri.


"Good night sayang," bisiknya pelan.

__ADS_1


...-To be continued-...


__ADS_2