Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 16. First kiss


__ADS_3


...---Happy reading---...


"A-aku, boleh peluk kamu ?", tanya Ara gugup. Bukan bermaksud apa-apa tapi sungguh, dia butuh itu sekarang. Neneknya memang ada tapi dia tidak mau menambah beban neneknya dan membuat neneknya sedih karena kesedihannya juga. Ara tidak punya lagi tempat bersandar dia butuh itu sekarang, sungguh kata-kata dan perlakuan om dan tantenya serta sepupunya sungguh menyakiti hatinya


Mendengar permintaan Ara, Gio melotot kaget tidak menyangka akan permintaan Ara. Pikirnya Ara akan meminta sesuatu yang berbentuk barang seperti uang atau sejenisnya tapi pikirannya jauh dari apa yang nyatanya terjadi.


"K-kalau gak bisa gapapa", sahut Ara cepat karena tak mendapat respon dari Gio.


Dengan cepat, Gio menarik Ara kedalam pelukannya, mengusap rambut panjang dan punggung gadis itu, berusaha menyalurkan kekuatan dan memberikan ketenangan pada Ara.


Perlahan tapi pasti, tangan Ara bergerak naik membalas pelukan Gio tak kalah erat. Sungguh, hatinya tidak sekuat yang terlihat. Dirinya rapuh dan dia juga manusia biasa yang juga merasa lelah dan sakit hati, dia hanya terlihat baik-baik saja bukan benar-benar baik.


Keduanya hening tanpa ada yang mau mengeluarkan suara. Gio hanya diam dan terus mengusap punggung gadis rapuh itu. Cengkraman kuat tangan Ara pada hoodie Gio membuat Gio paham gadis itu sedang menangis. Ara tak mengeluarkan suara ataupun isakan, dia hanya diam dengan air mata yang tidak berhenti keluar. Air mata yang dia tahan mati-matian akhirnya pecah juga dipelukan Gio, rasa sesak dihatinya berangsur menghilang bersamaan dengan air matanya yang terus mengalir.


"Menangis lah", kata Gio pelan hampir berbisik.


Seiring dengan kata-kata dan pelukan Gio yang mengerat, tangis Ara semakin tidak bisa dia bendung, perlahan isakan kecil lolos juga sampai akhirnya Ara menangis sejadi-jadinya dalam pelukan laki-laki itu. Pelukan Gio mengerat, berusaha menenangkan dan jika bisa Gio ingin berbagi rasa sakit itu.


"Mereka gak sayang aku. Mereka benci sama aku. Aku gak tau salah aku apa, gak ada yang sayang sama aku.", racau Ara disela tangisnya.

__ADS_1


"Apa aku gak pantas disayang ?", lanjutnya masih dengan sesenggukan.


"Ara pengen nyusul bunda sama ayah aja", ucapnya lirih.


Gio menggeleng pelan tidak setuju dengan ucapan Ara.


"Gak usah pikirin mereka. Disini masih banyak yang sayang sama kamu", sahut Gio yang masih memeluk Ara.


"Gak ada yang sayang aku", lirih Ara.


Gio diam membiarkan Ara meracau tidak jelas dengan tangis yang belum juga reda. Melihat Ara yang rapuh seperti ini, mengingatkan Gio pada adiknya. Melihat Ara menangis membuat hatinya ikut berdenyut nyeri persis saat melihat kondisi adiknya yang waktu itu jauh dari kata baik.


"Aku mau susul bunda sama ayah", kata itu kembali terulang membuat Gio semakin tidak bisa menahan sesuatu yang mendesak ingin keluar. Tangannya mengepal menahan amarah, tidak mungkin dia marah apalagi kondisi Ara yang seperti ini.


Beberapa menit terlewat, Gio melepas pangutannya dan menatap tajam Ara yang masih setiap mengeluarkan air matanya. Tangannya terulur mengusap air mata Ara. Gio menghela nafas kasar, bisa-bisanya dia melakukan itu dalam keadaan seperti ini namun perkataan Ara benar-benar memancing emosinya.


"Maaf", ucapnya pelan mengusap bibir bawah Ara yang basah akibat ulahnya.


"Kamu mau apa ?", tanya Gio tidak bersahabat


"Mau nyusul bunda sama ayah", sahut Ara pelan. Dia lelah, benar-benar lelah. Sudah bertahun-tahun dia diperlakukan seperti ini tanpa tahu salahnya dimana. Apa salah jika bundanya melahirkannya kedunia. Dia bekerja keras untuk hidupnya dan neneknya tapi saudara-saudaranya selalu meminta dengan paksaan, jika tidak menuruti tubuhnya yang akan jadi korban kekerasan mereka. Dia tak pernah merasa disayang kecuali dengan neneknya.

__ADS_1


"Kamu mau ninggalin nenek sendiri ? Mau tinggalin orang-orang yang sayang sama kamu sendiri ?", tanya Gio, tatapannya berubah teduh. Gio menghela nafasnya pelan, dadanya ikut sesak melihat Ara seperti ini.


"Gak ada yang sayang sama aku", sahut Ara lagi.


Gio menggeleng pelan lalu mengusap air mata yang sedari tadi tidak pernah berhenti itu. Gio berusaha menenangkan Ara. Laki-laki itu yakin selama mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari orang-orang itu Ara tidak pernah bercerita pada siapapun, dia hanya menyimpannya sendiri dan berujung menangis diam-diam.


"Banyak Ara. Ada nenek, Gea, Dara, bunda", dan juga aku, lanjutnya dalam hati.


"Kamu mau ninggalin mereka semua ?", tanya Gio lagi membuat Ara menggeleng pelan.


"Kamu kuat dan kamu bisa, banyak yang sayang sama kamu. Aku juga disini, kalau kamu butuh aku selalu ada", setelah mengatakan itu, Gio kembali menarik Ara kedalam pelukannya, mengusap rambut panjang Ara dan sesekali mencium puncak kepala gadis itu.


Gio tidak tahu kenapa dia berbuat seperti itu, tapi hatinya yang menyuruh itu. Entah mengapa gadis yang baru ditemuinya beberapa hari berhasil meluluhkan hatinya dan membuatnya bisa berbuat selembut ini.


"Jangan bicara kayak gitu lagi", pinta Gio. Kali ini Ara mengangguk pelan dalam dekapan Gio.


Keheningan kembali menyergap kamar Ara, hampir satu jam di posisi itu, Gio sudah tidak mendengar suara tangis Ara, nafas gadis itu juga terdengar teratur. Sepertinya karena lelah menangis, Ara tertidur.


Gio melepas pelukannya lalu membaringkan Ara dan menarik selimut sampai pada leher gadis itu. Gio menatap lama pada wajah sembab Ara. Tangannya bergerak menyingkirkan rambut yang menempel pada wajah Ara. Banyak pertanyaan yang muncul di pikiran Gio. Apa selama ini Ara hidup dengan baik atau justru sebaliknya ? Apa selama ini Ara hanya mendapat kasih sayang dari neneknya ? Dan apa penyebab pipi Ara memerah dan sedikit bengkak saat hari dia bertemu langsung dengan Ara ada sangkut pautnya dengan mereka tadi ?. Demi apapun melihat kejadian tadi dan kondisi Ara yang seperti ini membuat Gio takut, takut mental Ara terganggu dan berujung gadis ini yang berbuat tidak-tidak pada dirinya sendiri.


"Aku janji bakal bikin kamu bahagia terus", gumam Gio mengusap pipi Ara yang sedikit memerah bekas tamparan tadi.

__ADS_1


Entah dorongan dari mana, Gio mencium lama kening gadis itu membuat daranya berdesir hebat. Dia harus pergi dari sini, sebelum dirinya benar-benar tidak bisa menahan diri. Dia menyayangi gadis dihadapannya ini jadi sebisa mungkin dia akan menjaganya apapun caranya.


"Good night girl",


__ADS_2