Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 86. Paket


__ADS_3

Ara duduk didepan jendela kamarnya, memperhatikan buliran air yang mengalir di luar kaca jendela. Pagi ini cuaca kurang mendukung, bahkan beberapa hari ini hujan selalu turun di pagi hari dan berhenti di malam hari. Hari ini sudah dua minggu Aldi kembali bekerja. Beberapa hari tanpa Aldi cukup membuatnya menghela nafas, kesepian kembali lagi dia rasakan, belum lagi cuaca yang tidak mendukung membuat Aura tidak datang ke toko hampir dua hari ini.


Ara lagi-lagi menghela nafas pelan lalu berdecak sebal. Hujan pagi ini benar-benar menurunkan mood-nya. Dia ingin keluar, bosan dan sepi jika harus terus-terusan di rumah sendirian. Ara menumpu dagunya dengan tangan kanan lalu kembali mengamati susana di luar yang nampak mendung dan yang pasti sangat dingin. Ara kembali memperhatikan buliran air yang mengalir di kaca jendela dengan pikiran yang sudah melambung tinggi. Bohong jika Ara baik-baik saja, bohong jika Ara tak merindukan kehidupannya yang dulu, bohong jika Ara tak merindukan sosok hebat yang masih mengisi seluruh bagian dihatinya. Ara rindu kehidupannya yang dulu, Ara rindu Gio dan Ara rindu neneknya. Sudah beberapa bulan ini dia tidak mengunjungi makam sang nenek.


Mengingat kehidupannya yang dulu, kenangannya bersama Gio, bagaimana manjanya seorang Gio, bagaimana Ara liat sayangnya seorang Gio padanya dan bagaimana seorang Gio memperlakukannya dengan sangat baik rasanya mustahil percaya jika Gio mengkhianatinya. Tapi sebanyak apapun Ara menampik, kenyataan tetaplah kenyataan. Gio-nya sudah bersama orang lain, Gio sudah mengkhianatinya. Ara rindu sosok laki-laki hebatnya tapi apakah Ara masih bisa melihat Gio? Ara takut jika dirinya kembali, dia hanya akan merusak kehidupan Gio, dia takut jika dia kembali itu hanya akan semakin menyakiti hatinya. Dia takut jika Gio sudah menikah bahkan memiliki seorang anak juga.


Ara menghela nafas pelan, sesak didadanya kian mendera, rasa rindunya tak bisa dibohongi. Setiap malam, rasa rindu itu kian bertambah. Jauh didalam lubuk hatinya, Ara menginginkan kehidupan seperti ibu hamil lainnya. Ingin dielus perutnya ketika merasa tak nyaman, ingin dimanja seperti ibu-ibu hamil lainnya. Tapi keinginan Ara itu harus dia kubur dalam-dalam saat kenyataan kembali menamparnya, memberitahu bahwa dia hanya sendiri menghadapi kehamilannya.


"Kenapa harus gini, Gi?" tanya Ara lirih.


"Aku kangen, mau kamu. Tapi hati aku juga sakit setiap ingat kamu," monolog Ara.


"Anak kita sudah berumur 5 minggu, Gii. Dede bayi mau sama ayahnya," ucapnya sambil mengelus perutnya pelan.


Ara terkekeh miris lalu berceletuk, "Tapi gak mungkin kan kita ketemu lagi,"


"Aku gak menyesal, Gii. Sama sekali gak menyesal bisa kenal kamu dan bisa pernah jadi orang spesial di hidup kamu. Kamu udah ngasih aku malaikat kecil meskipun kejadian itu diluar kendali kita, tapi gak papa. Aku gak benci kamu, hanya saja hati aku sakit banget, aku gak bohong. Sakit banget rasanya pas tau kamu khianati aku dan berhubungan sama orang lain,"


"Setelah aku memutuskan pergi, saat itu juga hubungan kita selesai. Aku udah mutusin untuk pergi dari kamu dan mulai hidup aku sendiri, meski sulit dan kadang mau kembali tapi aku kubur dalam-dalam lagi keinginan itu. Hati aku udah terlanjur sakit,"


"Aku harap kita sudah tidak akan pernah bertemu lagi selamanya karena itu hanya akan semakin membuat hatiku hancur, hati yang sudah sepenuhnya milik kamu. Tenang aja, anak kita akan selalu aku jaga dengan baik,"


Ara mengusap air matanya yang entah sejak kapan sudah mengalir dipipinya. Menghela nafas dalam-dalam untuk meredam rasa sesak dihatinya.


Suara ketukan pada pintu rumahnya mengalihkan atensi Ara, perempuan itu mengerutkan keningnya bingung. Hujan masih begitu lebat, lalu siapa yang datang berkunjung ke rumahnya dalam keadaan yang seperti sekarang ini.


Ara membiarkan saja sampai akhirnya ketukan itu berubah semakin tidak sabaran membuat Ara beranjak membuka pintu.


"Siapa sih?" tanyanya dalam hati.


"Apa kak Aura, tapi ngapain kesini, ini kan hujan," lanjutnya.

__ADS_1


Setelah sampai didepan pintu, Ara memutar knop pintu lalu membuka pintu pelan. Tidak ada orang, hanya hujan lebat yang menghiasi halaman depan rumahnya. Ara yang hendak melangkah masuk ke luar rumah, tak sengaja menendang sebuah kotak berukuran sedang berwarna coklat.


"Paket?" monolog Ara.


Perempuan itu berjongkok mengambilnya lalu membaca kertas kecil yang tertera di atas kotak tersebut.


"Untuk Ara"


Hanya dua kalimat tapi membuat Ara kebingungan. Dia tak pernah memesan sesuatu dan lebih anehnya lagi, tak ada nama pengirim yang tertulis di sana. Ara diam mengamati kotak itu lalu kembali mengedarkan pandangannya mencari sang pengirim, siapa tau masih belum jauh. Tapi, yang Ara lihat hanyalah hujan deras. Ara menghela nafas pelan lalu kembali masuk kedalam kamarnya membawa kotak itu, setelah menutup pintu rumahnya.


"Apaan nih?" tanyanya membolak-balikan kotak yang ada di tangannya.


Ara duduk di tepi kasur lalu membuka dengan perlahan kotak tersebut. Setelah terbuka, Ara melihat isinya. Satu kata yang menggambarkan keadaan hatinya setelah melihat isinya.....


SAKIT.


Yah, hatinya serasa ditikam ribuan jarum, dadanya sesak matanya memanas dan tubuhnya lemas seketika. Kotak yang berisi puluhan foto seseorang yang dia kenal dan sebuah undangan cantik berwarna gold.


Tanpa aba-aba air mata Ara turun deras bersamaan dengan itu dia melempar kotak itu hingga isinya berhamburan. Perempuan yang sedang mengandung itu memukul dadanya sesak.


"Sakit," ujarnya lirih.


Sakit rasanya saat mengetahui semua kenyataan itu. Tidak, dia tidak bisa lagi menyangkal. Di undangan itu tertulis jelas nama Gio dan seorang wanita lalu di perkuat dengan foto-foto prewedding dan juga foto biasa mereka saat bersama. Dan yang membuatnya semakin sakit adalah foto USG. Umurnya sama dengan bayi yang ada di kandungannya, berarti Gio sudah selama itu bermain dibelakangnya. Demi Tuhan, katakan pada Ara kalau ini bohong. Dan siapa yang mengirimkan ini padanya?


Ara terisak hebat dengan nafas tersengal menahan sesak didadanya. Gio sudah memiliki anak dan akan segera menikah. Dilihat dari undangan itu, tanggalnya dua minggu kedepan acaranya akan berlangsung. Rasa sayangnya pada Gio yang masih ada membuatnya semakin sedak daat mengetahui jika orang yang dia sayang akan menjadi milik orang lain.


"Sakit Gii," ujarnya lemah masih dengan isakannya.


...💔💔...


Ken berjalan lunglai memasuki rumahnya. Hari ini terasa begitu lelah. Pekerjaan kantornya begitu mengurus tenaga. Belum lagi Arsal yang selalu merengek padanya untuk mencari Ara.

__ADS_1


"Udah pulang," sapa seorang wanita cantik dengan balutan dress rumahan berdiri di ruang tamu menyambut suaminya.


Ken tersenyum dan segera mendekati wanita itu. Ken memeluknya, menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sangat istri. Veronica tertawa pelan melihat tingkah Ken.


"Mandi dulu ya, terus kita makan," kata Veronica mengusap rambut Ken.


Ken tak menyahut, laki-laki itu hanya mengeratkan pelukannya membuat Veronica paham dengan tingkah Ken. Veronica melepas pelukannya, lalu menarik Ken menuju kamar mereka. Sesampainya disana, Veronica menepuk sisi tempat tidur meminta Ken untuk duduk. Ken menurut saja, duduk di samping istrinya lalu kembali memeluk Veronica erat.


Kehidupan Ken berubah 180° setelah menikah. Dia yang dulunya selalu memikirkan cara balas dendam pada Gio kini tak lagi memikirkan itu, dia yang selalu ingin memiliki Ara sekarang tak peduli lagi dengan gadis itu. Kehidupannya jauh lebih baik dengan hadirnya Veronica dan sang bayi sebagai pelengkap kebahagiaannya. Kehidupannya sudah bahagia, sangat-sangat bahagia sampai-sampai dia lupa akan seseorang yang menanggung semua masalah masa lalu mereka sendirian.


"Capek banget kelihatannya," celetuk Veronica.


Ken mengangguk, "Habis dari ngirim paket. Sekertaris Aku lagi sakit, makanya harus gerak sendiri. Mana kantornya jauh banget,"


"Ya udah mandi, yaa. Nanti aku temani istirahat," bujuk Veronica.


Ken diam sejenak, melepas pelukannya dan menatap sang istri dengan teduh. "Baby nyusahin gak hari ini?" tanya Ken mengelus perut Veronica yang sudah mulai membuncit.


"Enggak, dia selalu ngertiin mommynya," jawab Veronica.


Masa kehamilannya tak terlalu menyusahkan jika siang hari, tapi jika malam hari Ken selalu dibuat kelimpungan dengan permintaan aneh-aneh sangat istri, contohnya meminta mengajaknya ke kantor tengah malam atau membeli nasi goreng ditengah malam dan itu harus di beli tidak mau jika Ken menawarkan untuk dibuatkan. Yang benar saja, tengah malam siapa yang akan menjual nasi goreng? Dan untuk apa ke kantor tengah malam jam 1 dini hari? Ada-ada saja.


"Capek gak?"


"Enggak, di rumah kan gak ngapa-ngapain, paling masak doang,"


Ken diam masih menatap Veronica. Sedetik kemudian senyum miringnya terbit, lalu tampa aba-aba menggendong Veronica.


"Eh eh mau ngapain?" tanya Veronica terkejut dengan gerakan tiba-tiba Ken.


"Mandi sambil jenguk baby," jawab Ken tanpa dosa lalu membawa istrinya tanpa mendengarkan ocehan istrinya yang meminta diturunkan.

__ADS_1


...-To be Continued-...


__ADS_2