Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 96. Bertemu Rania


__ADS_3

Rania menghirup dalam-dalam aroma segar khas pegunungan dari jendela mobilnya. Pagi tadi, mereka berangkat menuju tempat yang kemarin Rania katakan ingin berkunjung. Bisma hanya mengiyakan saja, hingga akhirnya disinilah mereka sekarang. Didalam mobil yang kini melaju di jalanan menanjak menuju sebuah pegunungan. Rania menatap setiap hamparan kebun teh yang selalu berhasil memanjakan matanya jika berkunjung kesini. Bukan hanya kebun teh, tapi sawah para penduduk disini semakin menambah keindahan dan memanjakan mata.


Udara segar yang jauh dari polusi udara karena kendaraan dan pabrik begitu terasa masuk kedalam indra penciuman Rania.


"Kita berapa hari disini?" tanya Bisma yang sedang fokus pada jalanan.


"Terserah kamu," jawab Rania tanpa menoleh.


"Loh kok aku, bukannya terserah kamu?" tanya Bisma lagi.


Rania kembali duduk tegap dan menoleh menatap Bisma yang masih fokus dengan jalanan.


"Kalau kerjaan kamu udah manggil, ya kita pulang lah." jawab Rania.


"Capek gak?" tanya Bisma menoleh sekilas, lalu mengusap perut istrinya.


"Enggak, baby juga gak rewel jadi gak gimana-gimana," jawab Rania.


"Bentar lagi kan?"


"Iya, pertigaan depan langsung belok kanan aja. Ada rumah bercat coklat depan taman kecil,"


Beberapa menit setelah mengendarai mobilnya, Rania dan Bisma sampai didepan sebuah rumah yang masih begitu terawat. Namun, ada satu hal yang membuat Rania terkejut bukan main. Rumah yang dia kira akan terlihat sepi, justru terlihat ramai. Di samping rumah itu, ada sebuah kini cafe yang lumayan ramai dan seseorang yang baru saja keluar dari rumah semakin membuatnya tak bisa berkata-kata.


Rania dengan tergesa-gesa keluar dari mobil dan berlari kecil menghampiri orang itu. Bisma yang panik ikut menyusul istrinya.


"Hati-hati," peringat Bisma menggenggam tangan istrinya saat berhasil menyamakan langkah mereka.


Kaiyara Zoe, perempuan dengan balutan baju kaos dan celana cargo tersebut menegang ditempatnya saat seseorang yang sangat dia kenal berdiri tepat dihadapannya. Ara menatap terkejut pada Rania dan Bisma yang kini menatapnya dengan binar kebahagiaan.


Ara yang masih terkejut hampir terjungkal saat seseorang menabrak tubuhnya cukup keras. Untung saja Ara sigap menahan berat tubuh Rania.


"Kemana aja Ra?" tanya Rania memeluk Ara erat.


"Kenapa gak pernah ngabarin?" tanyanya lagi.


Ara terus diam tanpa membalas pelukan ataupun pertanyaan Rania. Dia masih begitu syok.


"Raa, maaf," ujar lirih Rania.


Ucapan maaf yang diiringi isakan itu berhasil mengembalikan Ara pada kenyataan. Dia melepas pelukan Rania dan mengusap air mata adik sepupunya itu.

__ADS_1


"Kenapa nangis?" tanya Ara lembut.


"Aku minta maaf atas nama papa dan mama. Minta maaf atas kesalahan ku dan minta maaf atas segala yang sudah ku perbuat dan nyakitin kamu," jawab Rania menangis sesenggukan.


Bisma melangkah dan mendekati Rania, menepuk punggung istrinya dengan lembut berusaha menenangkan.


"Duduk dulu," kata Ara menarik Rania masuk kedalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu.


"Kamu kok bisa disini?" tanya Ara. Selain Ara, Rania juga satu-satunya orang yang tau tempat ini.


"Mau jalan-jalan. Kangen suasana disini makanya kesini tapi ternyata kamu juga disini. Kenapa aku gak kepikiran, aku udah dua tahun ini nyariin kamu," jawab Rania membuat Ara tertegun. Jadi selama ini, mereka mencarinya.


"Gimana keadaan mama dan papa disana, kamu juga apa kabar?"


"Baik,"


Ara mengangguk paham lalu menatap Rania dan Bisma bergantian. Ara tahu betul siapa yang Rania bawa. Senyum Ara mengembang sempurna.


"Balikan nih?" tanya Ara dengan senyum kecilnya.


Rania diam tak menjawab pertanyaan Ara. Dia terus memperhatikan Ara yang nampak begitu girang melihat kehadirannya. Rania tidak habis pikir, bahkan setelah semua apa yang dilakukannya, Ara masih mau menerimanya.


"Ra..," panggil Rania membuat Ara kembali menatap adiknya tersebut.


"Buat apa?"


"Kamu adik aku, semuanya juga sudah berlalu kenapa harus dipermasalahkan lagi, aku tidak apa-apa. Kita masih keluarga kan?" tanya Ara diakhir ucapannya. Baginya, tak perlu memperpanjang segalanya. Dia tahu, Rania sekarang sudah berubah, Bisma pasti bisa menangani kerasnya Rania.


Rania kembali berkaca-kaca mendengar ucapan Ara, dia terharu sekaligus merasa bersalah.


"Kita keluarga, Ra,"


Bisma hanya diam memperhatikan keduanya, dia juga ikut senang melihat keduanya kembali baik-baik saja sekarang.


"Ra," panggil Rania lagi.


Ara menatap tangan Rania yang menggenggamnya. Dia diam melihat apa yang Rania lakukan. Rania menarik tangan Ara lalu membawanya mengarah pada perut buncitnya, menuntun tangan Ara mengelus perutnya.


"Bentar lagi punya ponakan," kata Rania pelan. Ara baru menyadari jika perut Rania sekarang sudah membuncit.


Hati Ara teriris melihat perut Rania. Dia kembali teringat dengan anaknya yang dua tahun lalu meninggalkannya karena obat penggugur yang sengaja dicampur kedalam makanannya. Mata Ara berkaca-kaca menatap perut Rania. Demi Tuhan, dia merindukan anaknya. Tangan Ara refleks mengelus perutnya pelan. Jika anaknya masih bisa hidup, pasti sekarang dua sudah berumur 2 tahun dan pasti sangat menggemaskan.

__ADS_1


"Kami udah nikah setahun yang lalu dan sekarang lagi hamil. Nikahnya sepi gak ada kamu," ujar Rania.


Ara menatap Rania dengan tatapan berkaca-kaca. Selama dua tahun meninggalkan segalanya, ternyata begitu banyak hal yang dia lewatkan.


"Maaf gak hadir," ujarnya pelan.


Rania dapat melihat perubahan raut wajah Ara, berbeda saat pertama kali mereka bertemu tadi. Rania tidak bodoh sampai tak bisa melihat raut sedih dan sendu dari kakak sepupunya itu. Dia jadi penasaran apa yang sebenarnya, dia yakin pasti ada kejadian yang terjadi dua tahun belakangan.


"Kenapa?" tanya Rania.


"Gak papa, teringat seseorang aja,"


"Apa yang udah terjadi dua tahun ini?" tanya Rania sukses membuat Ara terdiam cukup lama. Tidak, dia bukannya tak ingin menceritakan semuanya pada Rania. Dia hanya tidak ingin kembali menangis karena teringat hal menyakitkan dimasa lalu.


Melihat keterdiaman Ara, Rania menghela nafas pelan lalu berujar, "ya udah kalo masih belum mau cerita,"


Ara menatap Rania cukup lama, mungkin tak ada salahnya dia menceritakan pada Rania. Tak enak juga selalu menahan sesak sendirian. Dengan helaan nafas panjang, Ara menceritakan segalanya pada Rania. Mulai dari kejadian malam itu, Gio yang mengkhianatinya, dirinya yang hamil, mendapat kabar pernikahan Gio dan keguguran yang diakibatkan oleh makanan yang dikirim Ken. Sama sekali tidak ada yang terlewatkan untuk dia ceritakan. Selama bercerita pun, tak ada air mata hanya perasaan sesak yang menyelimuti hatinya. Rasanya, Ara memang sudah tak bisa lagi menangis. Dia sudah terlalu lelah dan mati rasa. Bisma juga ikut terdiam cukup lama, dia bingung kenapa kejadiannya bisa seperti itu, padahal ada beberapa yang tak seperti itu. Dia tidak percaya Gio melakukan semua itu, yang dia tahu Gio tipe orang yang begitu penyayang dan menghargai perempuan. Dia merasa ada yang tidak beres disini.


"Jadi malam itu Gio lakuin itu ke kamu?" pertanyaan Rania dijawab anggukan oleh Ara.


"Maaf,"


"Maksudnya?"


Ara mengerutkan kening mendengar satu kata yang terlontar dari mulut Rania.


"Sebenarnya malam itu, Ken yang melakukannya. Mencampur minuman Gio dengan obat perangsang dan nyuruh gue biar bisa lakuin itu sama aku dan pisahin kalian berdua. Maaf, gara-gara aku semuanya jadi berantakan kayak gini," sesal Rania.


Ara cukup terkejut dengan penuturan Rania tapi mau bagaimanapun semuanya sudah terjadi, lalu apa yang harus disesali, tidak ada yang perlu disalahkan. Semuanya Ara anggap sebagai ujian dalam hidupnya.


"Anak mu, aku minta maaf," kata Rania menangis cukup keras. Yah, dia juga calon ibu dan pasti akan sangat sakit mendengar bahwa kakaknya kehilangan sang anak sebelum melihatnya, apalagi itu adalah hal yang disengaja.


"Gak papa, Nia. Semuanya sudah terjadi, jangan disesali. Mungkin jalan hidup aku dari Tuhan emang kayak gini, ikhlasin aja," sahut Ara.


"Gio...."


"Gak usah bahas dia. Aku gak mau," potong Ara cepat.


Rania menghapus air matanya lalu mengangguk mengiyakan meski sedikit tak terima. Dia hanya ingin menceritakan segalanya, tapi jika Ara tak ingin, dia juga tidak bisa memaksakan. Dia akan tunggu sampai Ara siap mendengar segalanya. Rania kembali memeluk Ara dengan erat, menumpahkan segala rasa sesal dan sakit yang dia rasakan. Dia masih begitu terluka mendengar bagaimana berantakannya hidup Ara sekarang. Bisma tersenyum kecil melihat keduanya kembali akur. Dia memang paling suka jika melihat keduanya akur seperti ini.


"Balik yuk, Ra?"

__ADS_1


Pertanyaan itu membuat Ara sukses terdiam dan langsung berubah datar. Dia tidak suka arah pembicaraan Rania sekarang.


...-To be continued-...


__ADS_2