Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 80. Menghilang


__ADS_3

Asal mengetuk pintu apartemen Gio berulang kali berharap orang yang ada didalam segera membuka pintu.


"Goblok, gue kan tau sandinya," maki Arsal pada dirinya sendiri.


Sudah 20 menit dia mengetuk pintu apartemen tapi tak mendapat jawaban. Emang dasarnya Arsal yang goblok sampai dia lupa jika dia punya akses keluar masuk apartemen sahabatnya. Arsal menekan angka untuk membuka pintu apartemen. Setelah terbuka, Arsal bergegas masuk dan mencari keberadaan kekasih dari sahabatnya itu dengan tergesa-gesa.


Satu kata yang bisa menggambarkan keadaan apartemen itu, kosong. Arsal di buat kelimpungan saat mengetahui apartemen itu kosong. Segera laki-laki dengan balutan baju kaos abu-abu itu mengambil ponselnya dan menghubungi nomor Ara. Lagi dan lagi, tidak bisa di hubungi. Arsal menghela nafas kasar.


"Kemana sih lo, Ra. Di kantor gak ada di apartemen gak ada," monolog Arsal duduk di tepi tempat tidur.


"Gue harus cari lo kemana lagi?" tanyanya mengacak rambutnya frustasi.


Arsal keluar dari apartemen menuju parkiran. Dia harus segera menemukan Ara bagaimana pun caranya. Banyak hal yang harus dia bicarakan pada Ara. Arsal melajukan mobilnya tanpa arah, menengok ke kanan dan ke kiri berharap dia menemukan gadis itu secepatnya. Berkali-kali laki-laki itu juga menghubungi nomornya namun tetap tidak bisa tersambung.


Hanya satu orang yang Arsal harapakan bisa memberitahunya tentang keberadaan gadis itu. Yaps, saudara laki-lakinya. Selama ini, Ken selalu bisa mencari tahu keberadaan Ara dengan cepat, melacak lokasinya untuk menemukannya segera.


Setelah berkendara cukup lama, Arsal sampai dipekarangan rumah saudaranya. Setelah menikah, Ken memang sudah membeli rumah dan tinggal sendiri. Dengan tergesa-gesa Arsal keluar dari mobil lalu mengetuk pintu rumah kakak laki-lakinya itu. Tak menunggu lama, pintu terbuka menampilkan sosok gadis cantik yang menatapnya bingung.


"Ada apa, Ar. Tumben kesini?" tanya Veronica.


"Abang ada?"


"Ada didalam. Ayo masuk!"


Keduanya masuk dan duduk di ruang tamu yang kebetulan sudah ada Ken sedang bermain PS.


"Ken," panggil Arsal setelah dirinya duduk di samping laki-laki itu.


"Apaan?" tanya Ken tanpa menatap adiknya.


"Gue mau minta tolong," ujar Arsal pelan.


"Apa?"


"Bantu gue cari Ara,"


Ken menoleh dengan mengerutkan keningnya bingung. Maksudnya apa, dia sama sekali tidak mengerti. Mencari Ara? Bukankah gadis itu selalu bersama Gio. Memangnya kemana laki-laki itu?.


"Bukan urusan gue," sahutnya ketus.


"Kali ini aja, gue butuh dia banget dan gue udah cari kemana-mana tapi gak ketemu. Cuma lo harapan gue satu-satunya," ujar Arsal memohon.


"Memangnya ada apa, Ar?" tanya Veronica yang sedari tadi diam mengamati.


"Ara hilang dan ada yang harus gue bicarain sama dia, penting banget," jawab Arsal.


Veronica menghela nafas pelan melihat suaminya tampak acuh. Ken memang pernah mengatakan jika dirinya sudah tidak mau terlibat dengan mereka lagi. Veronica juga sudah mengetahui semua yang menjadi alasan suaminya itu menjauh dan membenci mereka. Menurut Veronica Ken tidak salah bersikap seperti itu tapi apa harus berlarut-larut seperti ini?.


"Ken," panggilnya pelan.

__ADS_1


"Gak mau, sayang. Aku udah bilang aku gak mau dan kamu tahu itu," jawab Ken tegas.


"Gak ada yang salah bantu orang Ken. Lagipula ini adik kamu sendiri loh," uangnya berusaha membujuk suaminya.


Arsal yang melihat interaksi keduanya tersenyum tipis. ken benar-benar sudah bisa beranjak dari masa lalu dan menemukan kebahagiaannya.


"Kalau kamu gak mau bantu Arsal, setidaknya lakukan itu untuk aku dan baby," lanjut Veronica mengelus perutnya yang sudah sedikit membuncit.


Ken menghela nafas kasar, jika seperti ini bagaimana bisa dia menolak. Veronica selalu punya cara sendiri dalam membujuknya. Membawa nama anaknya yang membuat Ken sama sekali tak bisa menolak sedikit saja.


"Ya udah, cium dulu," sahut Ken tersenyum manis.


Veronica melotot, Ken benar-benar tak tahu tempat. Disini masih ada Arsal dan dia dengan seenak jidat meminta di cium. Wah kurang ajar emang.


"Kalau gak mau ya udah," ujar Ken membuat muka.


Veronica mengerjakan matanya lalu melirik Arsal yang menampilkan raut wajah juteknya melihat Ken. Dengan terpaksa, Veronica mendaratkan ciuman di kedua pipi Ken dan juga bibir suaminya itu membuat Ken mengembangkan senyum tipis.


"Goblok, ya Tuhan kenapa hamba selalu jadi saksi uwu orang lain," kata Arsal menyindir.


Ken tidak peduli, laki-laki itu beralih mencium perut istrinya lalu beranjak berdiri, "ikut gue," perintah Ken pada Arsal yang mendengus pelan. Keduanya berjalan menuju ruang kerja Ken.


Cukup lama Ken berkutat dengan komputer miliknya, namun tetap saja lokasi gadis itu susah dijangkau. Arsal tak mengerti kode-kode apa saja yang ada di komputer itu. Otak Arsal tak sampai jika harus memikirkan itu.


"Gak bisa Ar, susah," kata Ken.


Arsal menghela nafas pelan, "Kemana lagi gue harus cari dia?" gumamnya pelan.


"Gue butuh bicara sama dia," jawab Arsal.


"Iya emang kenapa?" tanya Ken lagi.


"Lo gak perlu tau. Gue pamit, harus cari dia lagi," kata Arsal melangkah menjauh keluar dari ruang kerja Ken.


Tapi langkah laki-laki itu terhenti diambang pintu saat Ken tiba-tiba bersuara dan membuatnya menoleh sambil tersenyum.


"Rania," sebut Ken.


Arsal tersenyum manis, kenapa dia melupakan hal itu. Rania adalah saudara Ara dan bisa jadi dia mengetahui keberadaan gadis itu.


"Makasih, sayang deh sama abang," ujar Arsal.


Ken bergidik ngeri membuat Arsal tertawa puas dan kembali melangkah menjauh dari Arsal.


"Hubungi gue kalau lo butuh," teriak Ken yang masih didengar Arsal.


"Oke," sahutnya ikut berteriak.


"Kakak ipar, gue pulang dulu," pamit Arsal di pintu rumah utama.

__ADS_1


Setelah itu Arsal kembali memasuki mobilnya menuju rumah Rania, dengan harapan dia bisa menemukan Ara atau bisa mendapat sedikit informasi tentang gadis itu.


Saat melewati kompleks perumahan Ara, Arsal dibuat terkejut saat matanya tak sengaja melihat pintu rumah Ara yang awalnya kosong kini terbuka lebar. Tanpa pikir panjang laki-laki itu berbelok dan masuk ke pekarangan rumah Ara. Namun sayang, Arsal di buat menghela nafas saat yang dia temui di sana bukanlah Ara tapi tak lain dan tak bukan adalah Rania yang sedang mengemasi barang-barangnya bersama seorang laki-laki yang Arsal kenal.


"Lo ngapain disini?" tanya Bisma melihat kehadiran Arsal.


"Gue kira Ara ada disini, taunya kalian. Terus kalian ngapain disini, inikan rumah Ara?" Arsal balik bertanya.


"Gue mau tinggal disini sendiri, Ar." jawab Rania.


Yah, Arsal bisa melihat ada 4 koper besar diruang tamu itu. Dia kira Rania akan mengeluarkan barang-barang dari rumah ini ternyata tidak. Gadis itu mau tinggal disini, sendiri.


"Kenapa?" tanya Arsal penasaran.


Laki-laki itu berjalan mendekat ke arah Rania dan Bisma yang masih berdiri menatapnya. "Gue capek jadi boneka ayah gue terus," hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Rania.


Tanpa banyak orang tahu, Rania bukanlah anak yang disayang kedua orang tuanya. Dia juga merupakan anak broken home meski tak separah anak-anak broken home lainnya. Orang tuanya masih punya sedikit hati untuk tak memperlakukannya kasar hingga masuk rumah sakit. Dia sesekali hanya di pukul jika tak mengikuti kemauan ayahnya. Hanya selalu dibentak dan setiap hari mendengar keributan antara ayah dan mamanya. Dia lelah dan ingin tinggal sendiri. Berhubung rumah Ara kosong jadi dia memilih tinggal disana.


"Lo ngapain nyari Ara, mau nikung sahabat lo ya?" tuduh Bisma seenak jidat membuat Arsal melotot.


"Gue ada pacar ya, enak aja lo," ketus Arsal.


"Terus ngapain lo nyari pacar sahabat lo?" tanya Bisma lagi.


"Ara ngilang, di apartemen Gio gak ada dan di sini juga gak ada, gue udah cari kemana-mana tapi gak ketemu. Gue perlu ngomong sama dia," jawab Arsal.


"Kok lo tau di sini gak ada?" tanya Bisma lagi.


"Gue udah nyuruh Ken lacak dia tapi emang susah dan Ken yakin dia udah gak ada di sekitar sini," jawab Arsal lesuh.


Sudah dari pagi dia mencari Ara tapi sama sekali belum menemukan gadis itu.


"Gue kira tadi dia yang disini, taunya lo berdua." kata Arsal lagi.


"Kenapa gak balikan aja?" tanya Arsal.


"Diam," sahut ketus dari Rania dan Bisma bersamaan.


"Tuhkan jodoh," ejek Arsal.


"Diam deh lo. Sono cari Ara lagi," balas Bisma.


"Lo gak tau gitu keberadaan kakak lo?" tanya Arsal membuat Rania menggeleng pelan.


"Gue udah gak pernah berhubungan sama dia udah lama banget. Tapi kalau ada kabar, gue pasti ngabarin lo," jawab Rania.


"Emang ada apa sih, lo kok panik gitu?" tanya Bisma bingung.


"Gak ada apa-apa. Gue pamit," setelah itu, Arsal meninggalkan rumah Ara meninggalkan dua manusia yang menatap punggungnya dengan isi pikiran berbeda-beda.

__ADS_1


...--to be continued--...


__ADS_2