
Sudah beberapa hari ini Ara kembali bersama Rania. Berkat bujukan Rania dan bantuan Bisma, Ara akhirnya mau kembali dan hidup bersamanya. Yah, Ara sekarang tinggal bersama Rania, tidak ada yang tahu karena ini adalah syarat dari Ara jika Rania ingin dirinya kembali.
Keduanya kini sedang jalan-jalan disekitar kompleks karena permintaan Rania. Semenjak Ara kembali, Rania begitu manja padanya. Ara tidak masalah karena adiknya memang dari dulu manja padanya.
"Belum capek?" tanya Ara yang setia berjalan disamping Rania.
Rania menggeleng sebagai jawaban. Bumil itu sibuk menikmati eskrim yang mereka beli tadi.
"Kita pulang sejam lagi," kata Rania tiba-tiba.
Ara menoleh dengan mata membulat, terkejut. Bisa diterkam dia jika mengikuti Rania terus. Sebelum berangkat tadi, Bisma sudah mewanti-wanti padanya agar Rania tak terlalu lelah dan sekarang Rania mengatakan sejam lagi, ohh ayolah ini sudah satu jam mereka berkeliling.
"Ayo pulang," ajak Ara sambil menarik tangan Rania untuk ikut dengannya.
"Gak mau," ujar Rania keras kepala.
Ara menghela nafas pelan, Rania tidak boleh dikasari. Jika adiknya itu dikasari maka akan semakin keras pula nantinya. Ara hafal betul kelakuan Rania.
"Kita jalan-jalannya besok lagi. Kamu harus pulang, nanti dede bayi kecapean," kata ara selembut mungkin.
Rania memperhatikan Ara yang selalu sabar menghadapinya. Mungkin ini yang membuat Gio jatuh cinta pada Ara. Kakaknya itu memang wanita tangguh dan kuat, sabar dan juga penyayang.
"Ya udah, ayo," sahut Rania pada akhirnya.
Keduanya memilih pulang, untuk jarak tempat mereka sekarang ke rumah Rania tidaklah jauh. Setelah beberapa menit berjalan, keduanya tiba di rumah besar Rania. Mereka sedikit dibuat bingung dengan kehadiran sebuah mobil mewah berwarna putih terparkir dihalaman rumah.
"Siapa?" tanya Ara.
"Rekan bisnis Bisma kali. Ayo masuk," jawab Rania menarik Ara masuk kedalam rumah. Namun tiba-tiba langkah keduanya terhenti diambang pintu melihat siapa yang menjadi tamu keduanya.
Rania dan Ara cukup terkejut dengan kehadiran Gea disana, terlebih lagi dua tahun lalu gadis itu sudah dinyatakan meninggal. Rania dan Ara menatap Gea yang kini berjalan tergesa-gesa kearahnya. Masih tidak hilang keterkejutan keduanya karena kehadiran Gea yang tiba-tiba, Ara kembali dibuat terkejut saat Gea tiba-tiba berlutut, memeluk kedua kakinya sambil menangis sesenggukan.
__ADS_1
"Temui dia kak," mohon Gea.
'Dia', Ara paham betul siapa yang dimaksud Gea. Tak perlu bertanya untuk memastikan, Ara paham siapa 'dia' yang dimaksud Gea.
Ara tetap diam dengan wajah datarnya saat Gea terus memohon padanya untuk menemui Gio. Awalnya Ara kembali kesini untuk menemui ayah dan bunda dari gadis ini, tapi melihat keadaan Gea yang sekarang ternyata baik-baik saja, Ara memutuskan satu hal. Dia tidak akan terlibat lagi dengan keluarga konglomerat itu, dia kembali kesini untuk adiknya, Rania.
"Jangan katakan pada siapapun kalau aku ada disini," kata Ara datar lalu berbalik meninggalkan rumah Rania.
Ara berjalan tanpa tujuan, pikirannya sudah kemana-mana. Jika Gea disini berarti Gio juga ada disini. Tidak, dia tidak ingin bertemu lagi dengan Gio, sudah cukup. Semuanya sudah berakhir, dia ingin hidup jauh dari bayang-bayang Gio maupun keluarganya. Yang jadi pertanyaan besar dalam kepala Ara adalah bagaimana bisa Gea ada disini, Rania bilang gadis itu sudah meninggal. Bukan, Ara bukannya tidak bahagia Gea sehat kembali, hanya saja apakah Rania membohonginya jika Gea meninggal agar dia mau kembali kesini, tapi untuk apa Rania berbohong tentang kematian.
Ara menghela nafasnya kasar, kepalanya benar-benar ingin pecah memikirkan pertanyaan-pertanyaan yang muncul satu persatu di otaknya.
Ara dibuat terkejut saat seseorang dari belakang menariknya cukup keras hingga hampir terhuyung jika orang itu tak menahan pinggangnya.
Ara mengerjap menatap seseorang yang kini juga menatapnya dengan tatapan tajamnya. Seorang laki-laki dengan balutan baju kaos hitam dan celana selutut berwarna senada.
"Ikut gue," hanya itu yang keluar dari mulut orang itu dan menarik Ara dengan kasar masuk kedalam mobil.
Didalam mobil tidak ada yang bersuara, hingga bermenit-menit berlalu. Keduanya sibuk dengan pikirannya masing-masing.
"Kita mau kemana?" tanya Ara pada akhirnya.
Laki-laki itu diam dan fokus ke jalanan. Setelah berdecak sebal, laki-laki itu menancap gas mobilnya cukup kencang membuat Ara menutup matanya takut.
Setelah beberapa menit, keduanya sampai didepan sebuah rumah bercat putih. Ara tahu betul tempat ini, tempat yang menjadi saksi kerasnya hidup dia selama ini. Yah, mereka berada didepan rumahnya sendiri. Laki-laki yang membawanya kesini, keluar dari mobil lalu menarik Ara dengan kasar untuk ikut masuk kedalam.
"Sakit," lirih Ara saat cengkraman pada pergelangan tangannya semakin keras. Ara berusaha memberontak tapi tetap saja, tenaganya kalah dibandingkan laki-laki tersebut.
Semakin mendekati lantai dua, suara pecahan semakin terdengar jelas. Ara mengerutkan keningnya bingung dan semakin takut. Suara pecahan semakin mendominasi semakin membuat Ara ingin pergi saja dari sini.
"ARSAL LEPAS," bentak Ara berusaha melepaskan diri.
__ADS_1
"DIAM," sahut Arsal lantang membuat Ara terdiam.
Untuk yang pertama kalinya Ara melihat Arsal semarah ini. Ada apa sebenarnya, pikiran Ara sudah tak menentu dengan nafas memburu dan dada berdebar tak karuan. Demi apapun, dia takut.
Keduanya berhenti tepat didepan pintu kamar yang terbuka menampakkan seseorang yang masih belum bisa mengontrol amarahnya. Ara tertegun ditempatnya melihat keadaan Gio yang berantakan dan kacau, belum lagi pecahan kaca dan barang lainnya berserakan dimana-mana.
Arsal tadi pagi dikabari Gea untuk menemani Gio takutnya laki-laki itu mengamuk lagi dan benar saja, Gio kembali mengamuk, merusak semua apapun yang ada dalam jangkauannya. Setelah kemarin Gea mengganti semua perabotan yang Gio hancurkan, hari ini Gio kembali menghancurkan semuanya.
Saat dalam perjalanan, Arsal tak sengaja melihat seseorang yang persis sekali dengan seseorang yang dia kenal. Arsal yang penasaran lalu menghampirinya dan ternyata benar, dia adalah Ara, kekasih dari sahabatnya. Tak perlu pikir panjang, Arsal langsung membawa Ara kesini.
"Lo liat keadaan dia sekarang," kata Arsal berusaha menetralkan deru nafasnya. Sungguh, dia marah tapi tak tahu harus menyalakan siapa.
"Sudah dua tahun, setelah lo ninggalin dia keadaannya kacau kayak gini," lanjut Arsal.
"Gio berubah semakin dingin, tempramen, dan tak tersentuh. Setiap kali bayangan lo muncul dalam benaknya, ini yang dia lakukan, mengamuk, merusak semua barang dan menyakiti sirinya sendiri,"
Ara hanya diam mendengarkan apa yang Arsal katakan, benarkah Gio seperti itu. Bukankah Gio seharusnya sudah hidup bahagia lalu apa ini?.
Ara terus diam memperhatikan Gio yang sudah hilang kendali. Ara bisa lihat darah yang terus mengalir dari tangan laki-laki yang dulu begitu dia cintai itu, namun tidak ada yang harus dia lakukan. Dia dan Gio sudah berakhir dua tahun yang lalu.
"ANJING," pekik Gio lalu meninju kaca lemari yang ada di hadapannya.
Ara dan Arsal dibuat terkejut akan pekikan keras Gio. Jika boleh jujur, hati Ara sakit melihat Gio yang seperti ini, tapi balik lagi dia dan Gio harus saling melupakan. Tidak ada lagi yang tersisa diantara keduanya. Gio sudah terlalu menyakitinya.
"Lo hanya punya dua pilihan kan? Pilih yang benar-benar terbaik untuk lo dan Gio. Gue bawa lo kesini bukan buat kasihani sahabat gue, tapi gue pengen lo tau sehancur apa orang yang lo tinggal tiba-tiba saat lo gak tau kebenaran yang lainnya,"
"Lo gak boleh egois dan merasa tersakiti sendiri disini, karena dia juga tersakiti, jauh dari perkiraan lo," kata Arsal lalu melangkah mendekati Gio yang sudah duduk dilantai dan bersandar pada sisi kasur dengan kepala tertunduk.
'Kebenaran yang lainnya' kalimat itu terus berputar di kepala Ara. Perempuan dengan balutan dress rumahan itu masih berdiri diambang pintu menatap Arsal yang berusaha menenangkan Gio yang kembali membanting meja kaca yang ada di kamarnya.
Setelah bermenit-menit berlalu, Ara akhirnya memilih satu hal yang dia tidak tahu apakah benar atau tidak. Ara berbalik dengan mata berkaca-kaca lalu berlari menuruni tangga untuk pergi dari sana. Hatinya sakit melihat keadaan Gio dan menerima kenyataan yang ada. Disisi lain, Arsal menatap pintu yang terbuka sambil menghela nafas pelan. Segalanya terlalu rumit dan dia tidak tahu harus berbuat apa. Gio yang terlalu keras kepala dan Ara yang terlalu egois.
__ADS_1
...-To be continued-...