
...---Happy reading---...
Drrrt drrrt
Suara deringan ponsel Gio yang beradu dengan meja kaca mengusik tidurnya. Dengan mengerjapkan matanya, Gio merasakan tubuhnya tertindih sesuatu. Setelah mengumpulkan kesadarannya, Gio menatap Ara yang juga sedang tertidur dalam pelukannya. Pandangan Gio teralih pada ponsel yang sedari tadi bergetar. Gio perlahan meraih ponselnya lalu menggeser tombol warna hijau untuk menerima panggilan dari sahabatnya.
"Dimana lo. Gue udah jamuran nunggu lo disini", semprot dari seberang setelah panggilan tersambung.
Gio sedikit menjauhkan ponsel dari telinganya saat suara toa dari seberang sana masuk dengan tidak sopan kedalam indra pendengarannya.
"Apartemen", sahut Gio singkat dengan suara serak khas bangun tidur.
"Lo bilang bakal latihan hari ini. Lah ini gue nunggu sampai 2 jam lo belum datang juga", kesal Arsal.
Meskipun baru datang dari luar negeri, Gio sudah menjanjikan sahabatnya itu untuk latihan basket hari ini karena sudah lama juga tidak bermain dan dia hampir lupa akan hal itu. Gio melirik jam dinding dan tepat menunjukkan pukul 4 sore.
"Ngehhh.….", lenguh Ara yang tiba-tiba terganggu.
"Sssttttt..", Gio menepuk-nepuk punggung Ara berharap gadis itu kembali tertidur tapi sayang usahanya gagal, Ara sudah mengucek matanya berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Heh. Lo lagi ngapain ? Itu suara siapa, Gio?", tanya dari seberang sana saat tiba-tiba mendengar suara cewek.
"Lo jangan aneh-aneh ya, mau lo digantung sama ayah. Itu anak siapa Gio, lo jangan macam-macam. Berani ya lo sekarang.....", cerocos Arsal dari seberang yang sayangnya langsung terputus karena Gio yang menyahut dengan cepat.
"Tunggu, gue kesana sekarang", kata Gio langsung memutuskan sambungan telepon tanpa menjawab pertanyaan Arsal.
Setelah meletakkan ponselnya, Gio beralih menatap Ara yang mengerjapkan matanya berusaha mengumpulkan nyawanya.
"Kamu mandi ya, ikut aku", kata Gio menatap Ara yang juga langsung menatapnya.
"Kemana ?", tanya Ara. Gadis itu kembali menyandarkan kepalanya pada dada Gio, mencari kenyamanan.
"Latihan", kata Gio.
"Emang gak papa ?", tanya Ara lagi.
"Gak papa. Gih mandi", kata Gio lalu beranjak duduk membuat tubuh Ara juga ikut terangkat.
Ara menelan salivanya keluh, jarak sedekat ini terlalu intim untuknya dan itu tidak baik untuk kesehatan jantungnya. Jangan sampai detak jantungnya itu terdengar oleh Gio. Dengan menahan gugup setengah mati, Ara berusaha membalas tatapan Gio.
"Kamu duluan aja, aku mah gampang", kata Ara meringsut turun dari pangkuan Gio.
Gio hanya mengangguk lalu mengacak rambut Ara pelan dan beranjak masuk kedalam kamarnya. Namun belum sampai cukup 3 langkah, laki-laki itu kembali berbalik dan menarik Ara untuk ikut dengannya.
"M-mau kemana ?", tanya Ara.
__ADS_1
"Kamar", jawab Gio enteng.
"M-mau ngapain?", tanya Ara lagi.
"Ngapain ya enaknya", sahut Gio menatap Ara dengan tatapan jahil dan senyum miringnya.
"Ngeselin", kesal Ara sambil memukul lengan Gio membuat laki-laki itu terkekeh pelan.
"Kamu tunggu disini, aku mandi dulu", kata Gio setelah keduanya sampai didalam kamar. Ara mengangguk dan membiarkan Gio masuk kedalam kamar mandi.
"Gio, aku ambilin baju ya", teriak Ara setelah Gio menghilang dibalik pintu kamar mandi.
"Iya", sahut Gio dengan berteriak juga.
Setelah itu, Ara berjalan menuju lemari laki-laki itu dan membukanya. Ara sedikit tercengang dengan apa yang dia lihat, baju laki-laki hampir berwarna hitam, putih, dan abu-abu. Tidak ada warna terang seperti biru laut atau hijau. Hanya ada warna-warna kalem dan gelap. Terdapat banyak hoodie dan juga topi dalam lemari besar itu.
Tak tahu harus memilih yang mana, Ara hanya mengambil baju kaos berwarna hitam dengan celana jeans berwarna cream dan hoodie berwarna hitam dengan tulisan supreme pada bagian depannya. Setelah itu Ara meletakkan pakaian itu diatas tempat tidur dan juga ikut duduk untuk menunggu Gio. Ara tidak menyangka akan bisa dengan mudah dekat dengan Gio seperti ini, walau tidak dipungkiri dia masih saja gugup saat terlalu dekat dengan laki-laki itu tapi tetap saja rasa nyaman itu membuat Ara perlahan mulai terbiasa.
Asik melamun sampai Ara tak menyadari kehadiran Gio yang sudah berdiri dihadapannya. Gadis itu baru tersadar saat Gio menjitak pelan kepalanya.
"Ngelamun terus", kata Gio membuat Ara mendongak. Ara meneguk salivanya susah payah saat menatap apa yang seharusnya tidak dia lihat.
"GIO......", teriak Ara refleks menutup matanya. Gio refleks mengusap telinganya dan menatap Ara datar, pacarnya ini memang tidak jauh-jauh dari sahabatnya, sama-sama suara toa.
Ara merutuki Gio yang keluar hanya menggunakan handuk sebatas pinggang. Dengan rambut basah dan masih terdapat percikan air ditubuh laki-laki itu membuatnya semakin hot, ditambah lagi ABS laki-laki itu tercetak jelas dimata Ara.
Gio terkekeh pelan, entah apa yang dia pikirkan sampai dengan tidak tahu malunya keluar dari kamar mandi hanya menggunakan handuk.
"Pakai baju cepet, katanya mau latihan", kata Ara masih dengan mata tertutup dan menahan gugupnya mati-matian.
Gio menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, salah tingkah sendiri. Astaga gadis yang baru saja resmi menjadi pacarnya ini harus melihatnya dalam keadaan seperti ini. Tanpa banyak bicara lagi, Gio meraih baju yang Ara siapkan lalu memakainya.
"Berasa udah punya istri", celetuk Gio.
...---🌻🌻🌻---...
"Lo kenal sama gue?", tanya seorang laki-laki dengan balutan jaket denim hitam yang tengah duduk di sofa ruang tamu rumah minimalis itu.
"Hmm, kak Ken kan", jawab gadis itu.
Laki-laki tadi itu datang kerumah Ara hendak mencari gadis itu namun yang membuatnya terkejut malah bukan gadis itu yang dia temui tapi orang lain.
"Nama gue Rania", kata Rania memperkenalkan diri.
"Lo kenal gue dari mana dan ada hubungan apa lo sama Ara ?", tanya Ken penasaran.
__ADS_1
Rania tersenyum tipis, dari gelagatnya saja dia bisa tahu Ken menyukai kakak sepupunya itu. Tapi tidak apa, itu tidak masalah toh bukan miliknya yang dia ambil, bukan Gio yang menyukai Ara.
"Siapa yang gak kenal sama kakak, most wanted di SMA Jagarsa pada masanya bersama dua orang, kak Ken, kak Arsal dan....",
"Hubungan lo sama Ara ?", tanya Ken memotong ucapan Rania, seakan tidak ingin membahas masa itu.
"Adik sepupunya", kata Rania. "Ayah gue sama bundanya dia saudara kandung", lanjut gadis itu.
Ken hanya mengangguk saja. Detik berikutnya, matanya menatap ke seluruh penjuru ruangan mencari gadis yang dia hendak temui.
"Ara dimana ?", tanya Ken.
"Kerja", sahut Rania singkat membuat Ken mengerutkan keningnya bingung.
"Gue dari tempat kerjanya, katanya dia udah gak kerja disana satu bulan terakhir", kata Ken, membuat Rania ikut bingung.
"Enggak kerja", gumam Rania. "Tapi nenek bilang.......ah bentar deh", kata Rania beranjak dari duduknya dan menghampiri Muti yang ada didapur, tak sadar Ken juga menyusul langkah Rania namun laki-laki itu hanya berdiri diambang pintu dapur.
"Ara mana ?", tanya Rania to the point.
"Kerja, Nia. Kan nenek udah bilang", jawab Muti.
Rania mengalihkan tatapannya pada pintu dapur saat merasakan dirinya diperhatikan. Rania menatap Ken sejenak lalu kembali menatap Muti yang sedang mencuci piring.
"Kata kak Ken, Ara udah gak kerja di cafe A&G. Tadi katanya dia kesana tapi Ara gak ada", kata Rania lagi. Dia harus mengetahui tempat kerja Ara yang baru agar jika dia butuh uang dia bisa bertemu dengan gadis itu langsung.
"Cafe A&G", gumam Ken yang sempat mendengarnya tadi.
"Ara pindah kerja. Dia sudah tidak bekerja di cafe", sahut Muti masih dengan aktifitasnya.
Rania mengerutkan keningnya bingung, bisa-bisanya Ara melepas pekerjaan yang gajinya terbilang cukup besar. Siapa yang tidak mengetahui cafe A&G milik seseorang yang begitu dia sukai itu, bahkan kalangan anak-anak SMA juga tahu cafe hits itu.
"Terus Ara sekarang kerja dimana ?", tanya Rania penasaran, apa pekerjaannya sekarang gajinya lebih tinggi sampai-sampai dia melepas pekerjaannya yang satu itu.
"Jadi guru les privat", sahut Muti yang kini menatap Rania.
"Guru les privat", gumam Rania makin bingung. Gaji guru les privat tidak akan sebesar itu sampai Ara melepaskan pekerjaannya di cafe kan. "Dimana ? Les privat siapa ?", tanya Rania tidak sabaran. Sama halnya dengan laki-laki yang kini masih berdiri diambang pintu, juga ikut menajamkan telinganya.
"Nenek tidak tau pastinya dimana tapi kata Ara jadi guru les privat adik dari bosnya di cafe", sahut Muti.
"Bosnya, di cafe ?", gumam Rania yang masih didengar Muti. Wanita paruh baya itu mengangguk pertanda 'iya' untuk pertanyaan dari cucunya ini.
Rania mengerjapkan matanya saat otaknya berusaha mencerna ucapan Muti, apa jangan-jangan Ara.... Ah itu tidak mungkin, Rania menggeleng pelan mengusir pikirannya yang tidak-tidak, semoga saja tebakannya salah dan jangan sampai benar, jika itu benar ada hal yang Rania takutkan.
Sedangkan Ken yang mendengar itu mengepalkan tangan menahan amarahnya. Ingatannya kembali pada kejadian saat Gea memanggil gadisnya itu dengan sebutan kakak ipar. Dia harus mencari tau ini, dia tidak mau kecolongan, lagi.
__ADS_1
"Rania, gue pamit",
...---To Be Continued---...