
Seminggu berlalu, hari ini tepat acara wisudahan Ara dilaksanakan, kemarin acara wisudahan Gio juga sudah dilaksanakan. Nothing spesial menurut Gio tapi berbeda dengan Ara. Acara kemarin begitu spesial untuknya, karena untuk pertama kalinya dia datang mendampingi kekasihnya untuk ikut acara penting. Sedikit cerita, orang-orang sedikit terkejut dengan kehadiran sosok gadis cantik ditengah-tengah keluarga Ananda. Jelas gadis itu bukan keluarga Ananda tapi sangat dekat dengan keluarga konglomerat itu membuat sebagian besar orang berspekulasi bahwa Ara adalah orang spesial dikeluarga itu, terlebih lagi Vio, bunda Gio tak pernah melepas genggaman tangannya pada gadis yang katanya sebentar lagi akan menjadi menantunya dan Gea yang terus menempel pada Ara. Dan yang paling membuat Ara bahagia dan bangga adalah Gio, kekasihnya berhasil meraih gelar sebagai lulusan terbaik dengan nilai tinggi. Semua orang sudah tak meragukan itu. Lagi pula siapa yang akan meragukan kepintaran putra pewaris dari Kevin Ananda.
Ara tersenyum tipis mengingat momen kebersamaannya dengan keluarga kekasihnya kemarin, sangat-sangat menyenangkan dan membuat Ara kembali merasakan hangatnya keluarga utuh. Gadis dengan balutan kebaya berwarna biru muda itu menatap dirinya lewat pantulan cermin besar dengan senyum yang teramat manis.
Hari ini adalah hari terakhirnya menginjakkan kaki dikampus. Dia akan merindukan suasana kampus dan suasana belajar. Gadis dengan balutan kebaya modern berwarna biru muda itu memutar tubuhnya didepan cermin. Lagi dan lagi senyumnya mengembang. Dalam hati kecilnya dia berharap semoga kehidupannya kedepan lebih baik lagi.
Drrrttt drrrrtttt
Deringan pada ponselnya membuat perhatian Ara teralih. Dengan segera dia mengangkat telfon yang tak lain dari kekasihnya.
"Halo", sapa Ara lembut.
"Aku didepan", sahut dari seberang.
Setelah itu, Gio memutuskan sambungan telfonnya sepihak. Ara buru-buru mengambil tas selempangnya lalu berjalan keluar kamar untuk menghampiri Gio.
"Ah nenek", kata Ara menepuk jidatnya pelan.
"Semua sudah siap, kita hanya menunggu tuan putri", teriak Gea dari halaman depan saat melihat Ara berada diambang pintu rumahnya hendak berbalik masuk.
Ara menoleh pada sumber suara dan menemukan Gio beserta keluarganya dan juga neneknya ada disana. Jangan lupakan Arsal yang juga ikut. Ara berjalan mendekat dan berhenti tepat dihadapan mereka semua. Sedari Ara berjalan menujunya, Gio tak pernah melepaskan tatapannya pada gadis dihadapannya itu.
"Cantik", celetuk Gio terpesona dengan kekasihnya yang sedikit berbeda hari ini.
Gea menyenggol lengan Gio membuat kakak laki-lakinya itu berdehem pelan. Gio mendekat mengikis jarak dengan Ara. Tangannya terangkat membawa rambut Ara yang sebagian sengaja dia gerai ke belakang.
"Cantik banget sih", kata Gio membuat pipi Ara memerah malu.
"Riasannya rusak gak ya kalau aku cium", celetuk Gio. Mendengar itu, Ara refleks melotot dan memukul pelan lengan Gio yang terlapisi baju kemeja berwarna hitam.
"Bucinnya nanti aja, udah mau telat", celetuk Arsal dari belakang membuat Gio mendengus kasar.
"Kamu berangkat sama aku ya", kata Gio.
"Berdua ?",
"Ya iyalah cantik, masa berlima",
"Terus, yang lain gimana ?",
"Aku bawa mobil sendiri, aku juga udah minta izin sama nenek, sama ayah juga",
"Diizinin?"
"Ah banyak nanya"
Gio menggandeng tangan Ara lalu berbalik menatap keluarga serta sahabatnya yang sedari tadi masih menunggunya.
"Ayo", katanya lalu membawa Ara menuju mobilnya. Setelah itu, orang-orang masuk kedalam mobil masing-masing dan berlalu meninggalkan halaman rumah Ara.
Tak perlu waktu lama, 3 mobil mewah itu berhenti diparkiran kampus membuat semua mata memandang penasaran pada sang pemilik mobil.
Gio keluar terlebih dahulu disusul Ara, lalu dari mobil berwarna hitam keluar Kevin, Vio dan Muti lalu dari mobil berwarna merah dibelakang mobil Gio keluar 3 anak muda, Arsal, Gea dan Dara.
Orang-orang itu berjalan beriringan menuju aula tempat yang akan ditempati untuk melaksanakan acara hari ini. Sepanjang perjalanan, Gio tak pernah melepas genggamannya tangannya pada Ara menimbulkan tatapan dan bisikan-bisikan kecil dari orang-orang yang melihat dan yang mereka lewati.
"Itu Gio kan ?"
"Mereka pacaran?"
"Cocok, satu cantik satunya lagi ganteng"
"Enggak sih, mereka beda banget"
"Iya, beda status dan tingkat"
"Tapi itu gak masalah selama mereka saling suka lagipula mereka cocok",
Seperti itulah kira-kira bisikan-bisikan yang masuk kedalam telinga Gio dan Ara. Gio tak peduli sedangkan Ara diam dan menunduk, sedikit terganggu dengan kata-kata mereka, dia sadar betul posisinya sekarang.
__ADS_1
"Angkat kepalanya cantik, princess gak boleh nunduk nanti mahkotanya jatuh", kata Gio pelan mengangkat dagu Ara agar gadis itu tak lagi menunduk.
"Malu", cicit Ara.
"Gak boleh malu dan gak boleh nunduk", sahut Gio.
Tangannya tak lepas menggenggam tangan Ara sedari mereka keluar mobil dan berjalan menuju aula. Gio berhenti membuat Ara juga ikut berhenti, bukan hanya dia tapi orang-orang yang ikut berjalan bersamanya juga ikut berhenti.
"Kenapa ?", tanya Kevin.
"Gue colok juga mata lo", kesal Gio menatap Arsal yang sedari tadi tebar pesona pada gadis-gadis dikampus adik sekaligus kekasihnya itu.
"Ayah sama yang lain ke aula duluan aja, Gio sama Ara nanti nyusul", kata Gio menjawab pertanyaan ayahnya.
"Gak mau, Gea sama Dara mau ketemu kak Zian dulu", sahut Gea cepat.
Gio hanya menatap malas pada adiknya lalu beralih menatap ayahnya yang kini tersenyum kecil lalu mengangguk. "Kami tunggu di aula", sahut Kevin lalu melanjutkan langkahnya bersama Vio dan Muti.
"Lo ngapain ?", tanya Gio menatap Arsal yang tak beranjak.
"Cari cewek", jawabnya santai dan berbalik. Namun belum sempat melangkah, Niatnya harus diurungkan saat melihat dua orang berjalan mendekati mereka. Ken dan Rania, entah bagaimana gadis itu tiba-tiba ada disini.
Melihat kedatangan Ken dan Rania, refleks tangan Gio memeluk pinggang Ara dan menarik gadis itu mendekat padanya seolah menunjukkan bahwa gadis yang ada disebelahnya ini adalah miliknya. Sedangkan tatapan Ken tak lepas menatap Ara yang terlihat begitu cantik dan anggun hari ini.
"Abang", panggil Gea pelan pada Gio yang kini sudah menatap tajam kearah Ken.
Arsal berbalik menatap Gio lalu menghela nafas kasar. Situasi macam apa ini. "Ayo", ajak Arsal tak ingin terjadi pertengkaran. Namun belum juga dia menggapai tangan Gio, suara Ken sudah lebih dulu menginterupsinya.
"Ngapain lo disini?", tanya Ken menatap datar Gio.
Gio diam tak membalas pertanyaan Ken, tidak berguna pikirnya. Tatapan laki-laki itu lalu beralih pada adiknya.
"Tuh", kata Gio menunjuk kekasih dari adiknya itu dengan dagu. Gea mengikuti arah pandang Gio dan tersenyum lebar.
"Kak Zian", sapanya girang.
"Abang, Gea jalan duluan ya", pamit Gea membuat Gio mengangguk.
"Kakak ipar, Gea pergi dulu", kata Gea beralih menatap Ara yang tersenyum kearahnya.
"Nanti ketemu di...."
"Halah gatel", celetuk Rania tiba-tiba saat Ara belum menyelesaikan ucapannya.
"Siapa yang lo sebut gatel ?", sentak Gio dan Gea bersamaan, kesal karena ucapan Rania.
"Lo maunya siapa ?", tanya Rania menatap Gea.
"Dia..", katanya menunjuk Ara "atau lo", lanjutnya menunjuk Gea.
Gio mengepalkan tangannya menahan amarah, demi apapun, dia benci jika orang-orang terdekatnya dihina seperti ini.
Gea melangkah mendekat kearah Rania yang berdisiplin disamping Ken.
"Abang ikhlas adeknya dihina kayak gini ?", tanya Gea tanpa menatap Ken.
"Sadar diri cantik, yang gatal siapa. Gue, kakak ipar, atau lo ?", lanjut Gea karena tak mendapat balasan dari Ken.
"Lo datang kesini ngapain ? ini wisudahan kakak ipar dan abang gue, lah lo ?", tanya Gea.
"Tebar pesona ?", tanya Gea lagi.
"Dek...",
"Abang diam", sentak Gea pada Ken.
"Kenapa belain dia ?, suka ?. Bagus deh", sahut Gea remeh.
"GEA..."
__ADS_1
"Jangan bentak adek gue", kesal Gio.
Gio menarik Gea agar mundur kebelakang. "Bawa dia dari sini", kata Gio melirik Zian. Laki-laki dengan hoodie putih itu mengangguk lalu menarik Gea pelan untuk pergi dari sana diikuti Dara dan kekasihnya.
"Gii, udah. ayo pergi", kata Arsal berusaha membujuk Gio. Percayalah jika dua orang ini sudah bertemu, akan sulit sekali meredakan amarah keduanya.
"Nunduk, jangan tatap punya gue", kesal Gio. Ingin sekali rasanya dia mencongkel mata Ken yang tak henti menatap Ara.
Ara dan Arsal menahan tawa mendengar ucapan Gio. Mereka kira Gio akan mengamuk sekarang juga tapi tenyata tidak, dia hanya kesal Ara ditatap terus-menerus oleh Ken.
"Punya gue", desis Ken.
"Dihh",
"Ayo sayang", ajak Gio meraih tangan Ara hendak pergi dari sana, namun ucapan Ken berhasil menghentikan langkahnya sekaligus memantik emosi Gio dan juga Arsal.
"Gimana rasanya bahagia setelah membunuh orang yang lo sayang?", tanya Ken pelan membuat Gio terpaku menahan amarahnya.
...---🌼🌼🌼---...
Sudah dari sejam yang lalu Ara dan Gio kini berada di apartemen laki-laki itu. Setelah acara dikampus tadi, Gio dan yang lainnya langsung pulang. Nanti malam akan ada acara kecil-kecilan dirumah besar Gio itu yang membuat Gio mengungsikan Ara ke apartemennya. Dia ingin menghabiskan waktu dengan gadisnya. Sementara kedua orang tuanya bersama Muti pulang lebih dulu untuk menyiapkan acara nanti malam. Adik dan sahabatnya ? Gio tidak tahu, paling adiknya itu bucin dengan kekasihnya dan sahabatnya sudah jelas ngapel kerumah pacar-pacarnya.
"Cieee yang jadi lulusan terbaik", kata Gio memeluk Ara erat.
"Kamu juga ya, kalau lupa", kata Ara kesal, pasalnya ini sudah kesekian kalinya dia mengatakan itu.
Yap, Ara menjadi lulusan terbaik dengan nilai yang bagus. Memangnya siapa lagi yang meragukan kemampuan gadis itu. Dia tidak akan dapat beasiswa dikampus ternama itu jika bukan mengandalkan otaknya.
"Aku punya hadiah buat kamu", kata Gio melepas pelukannya dan terduduk tegap. Setelah mengatakan itu, Gio ngacir kedalam kamar dan kembali dengan kotak ditangannya.
"Apa tuh ?", tanya Ara dari atas sofa.
"Buka aja", sahut Gio yang kini sudah duduk disofa dan menyerahkan kado itu pada Ara.
Ara menerimanya lalu menatap Gio bingung sebelum benar-benar membuka kotak itu, Ara kembali menatap Gio yang sudah mengangguk menatapnya. Ara membukanya dengan hati-hati, setelah kotak terbuka matanya dibuat terbelalak m lihat sepatu cantik berwarna putih dengan merk ternama.
"Buat aku ?", tanya Ara pelan, Gio hanya mengangguk saja.
"Tapi ini mahal banget", kata Ara lagi.
"Emang penting ?", celetuk Gio.
"Iyalah, ini bisa buat jajan aku berapa bulan kedepan, atau mungkin setahun kedepan", jawab Ara.
"Ya udah jual aja", kata Gio enteng yang langsung mendapat pukulan dari Ara.
"Enak aja, ini dari pacar aku tau", sahut Ara. Gio terkekeh pelan lalu mengecup bibir kekasihnya sekilas.
"Ya udah, dipake ya", kata Gio lembut.
"Terima kasih", sahut Ara mengangguk pelan.
"Cium", pinta Gio menunjuk pipinya.
Ara meletakkan kotak sepatunya diatas meja lalu dengan gerakan cepat mengecup pipi Gio cepat.
"Lagi lagiiiii", pinta Gio girang membuat Ara terkekeh.
Saat bibirnya kembali hampir menyentuh pipi Gio, laki-laki itu iseng menoleh hingga bibir Ara mendarat mulus dibibir Gio membuat Ara terbelalak, belum lagi Gio yang kini sudah menahan tengkuknya. Gio memejamkan matanya sambil ******* lembut bibir tipis milik kekasihnya. Menekankan kepala Ara untuk memperdalam ciumannya ketika gadis itu membalas. Beberapa menit berlalu, Gio melepas pangutannya dan menatap Ara teduh.
"Aku sayang kamu, Ra", kata Gio lembut sambil mengusap pipi Ara disertai tatapan teduh. Berada di dekat Gio seperti ini membuat Ara begitu tenang dan nyaman. Dengan adanya Gio, dia bisa melupakan sejenak beban hidupnya, tak ada kata selain bahagia jika dirinya bersama dengan laki-laki yang kini menatapnya dalam dan teduh. Hal itu yang membuatnya semakin takut kehilangan Gio.
"Aku juga sayang sama kamu", balas Ara tak kalah lembut.
Setelah mendengar balasan dari Ara, Gio mengecup sekilas hidung mancung Ara lalu kembali turun ******* lembut bibit tipis kekasihnya yang kini menjadi candu untuknya.
"I love you", bisik Gio disela ciumannya.
...---To Be Continued---...
__ADS_1