
"Gio, hey", panggil Ara berusaha tenang. Gadis itu sudah berjongkok didepan Gio dan memegang lengan laki-laki itu yang masih mencengkram kuat rambutnya. Ara dan yang lainnya dibuat panik, apalagi saat nafas laki-laki itu semakin memburu dengan mulut yang terus mengerang seperti menahan sakit.
"Abang, sadar. Hey", panggil Gea ikut berjongkok berusaha menenangkan kakaknya.
Sementara disisi lain, Arsal mengerutkan kening saat melirik ponsel Gio yang terjatuh dan masih menyala. Laki-laki dengan balutan baju pantai berwarna hijau itu mengambil ponsel itu dan matanya seketika dibuat membulat sempurna saat menemukan foto seseorang yang sepertinya sengaja dilumuri darah lalu dipotret dan dikirim pada Gio. Pantas saja Gio bereaksi seperti itu. Selain dengan air, Gio phobia dengan darah. Namun saat Arsal mengecek nomor pengirim, sebuah nomor baru yang sudah tidak bisa dihubungi lagi. Keningnya dibuat semakin berkerut bingung. Siapa yang melakukan ini, batin Arsal menatap Gio yang masih berusaha ditenangkan adik dan kekasihnya.
"Arrrggghhh", lagi dan lagi Gio berteriak sambil memukul kepalanya, berharap dengan seperti itu bayangan-bayangan yang ada dikepalanya hilang.
Tubuh laki-laki itu masih bergetar hebat dengan keringat yang semakin membasahi wajahnya. Bayangan-bayangan masa lalu itu muncul seperti kaset rusak yang terus menerus hadir menghantam kepalanya, membuatnya pening.
"Giooo.... Giooo.... Giooo... Tolong"
"PERGIIIII", Gio berteriak keras saat tiba-tiba suara seseorang muncul seolah mengelilinginya saat ini.
"ARRRGGGHHH, PERGIIII", Gio semakin tak bisa dikendalikan. Ara dan Gea bahkan sudah kewalahan menghadapinya. Zian dan Reyhan juga tak tahu harus melakukan apa, mereka hanya membantu Ara dan Gea menenangkan Gio, begitupun dengan Dara. Sementara Arsal masih berdiri menatap Gio, namun otaknya sedang berfikir apa kira-kira yang bisa menenangkan laki-laki itu.
"Geaaa.... ", belum sempat Arsal menyelesaikan ucapannya, gadis itu sudah memeluk Gio erat, paham apa yang akan Arsal katakan. Gea paham apa yang terjadi pada kakaknya dan ini bukan pertama kalinya dia menghadapi Gio yang seperti ini. Tapi setelah sekian lama, baru kali ini Gio kembali seperti ini. Bukan hanya dirinya yang punya trauma tapi kakaknya juga, bedanya Gio menyembunyikannya itu dari orang tua mereka.
Sedangkan Ara memberi ruang untuk Gea. Dia paham dan dia juga belum terbiasa menghadapi Gio yang seperti ini, makanya dia lebih menyerahkan ke Gea untuk sekarang. Tapi, dia berjanji kedepannya dia yang akan menenangkan Gio jika terjadi lagi seperti ini.
"Abang, tenang. Ini adek, gak ada apa-apa bang. Jangan takut", kata Gea lembut berusaha memberi ketenangan pada Gio. Sementara itu, semua orang hanya memperhatikan. Usaha gadis itu tak sia-sia. Perlahan tapi pasti Gio bisa kembali tenang dan membalas pelukan adiknya. Air matanya yang sedari tadi menetes membasahi baju yang dipakai Gea.
"Capek", hanya kata itu yang sempat keluar sebelum laki-laki itu kehilangan kesadarannya.
...---💓💓💓---...
Ara duduk disisi tempat tidur dan menatap Gio yang masih setia memejamkan matanya. Tampak dari raut wajah gadis itu, dia begitu khawatir dengan keadaan Gio. Untuk pertama kalinya dia dihadapkan pada sosok Gio yang seperti ini.
Tangan mungilnya menggenggam tangan Gio lembut dan mengelusnya perlahan. Hatinya sakit mengetahui Gio ternyata selemah ini, dia tidak sekuat yang orang-orang bayangkan. Gio hanya pintar menyembunyikan semuanya.
Di ruangan itu hanya ada Ara dan Gio yang masih tak sadarkan diri. Sedangkan yang lain berada diruang tamu untuk beristirahat sekaligus menunggu Gio sadar. Bagi mereka yang tidak paham dibuat terkejut dengan tingkah Gio. Sedangkan Gea dan Arsal hanya menghela nafas sesekali.
"Bangun dong, sayang" kata Ara pelan.
"Makan dulu. Kamu belum makan siang loh", lanjut gadis itu menatap teduh wajah tampan kekasihnya. Bisa-bisanya gadis itu mengatakan makan siang padahal ini sudah hampir gelap.
Pergerakan tangan Gio yang digenggam Ara berhasil mengalihkan perhatian Ara. Seketika senyum gadis itu langsung mengembang saat melihat Gio berusaha membuka mata dan menyesuaikan cahaya dikamar vila itu.
"Gio", panggil Ara lembut membuat Gio mengalihkan fokus pada gadis disampingnya.
__ADS_1
Gio tersenyum tipis dan beranjak duduk dibantu Ara.
"Minum dulu", Ara menyodorkan segelas air minum saat posisi duduk Gio dirasa sudah nyaman.
"Aku nyusahin yaa, bikin kamu takut?", tanya Gio setelah meneguk habis air minumnya.
Ara menggeser duduknya dan menggenggam tangan Gio lembut. "Enggak kok", kata Ara kemudian.
"Kan aku udah bilang jangan dipaksain, kenapa dipaksa gitu", tanya Ara begitu lembut membuat Gio tersenyum tipis.
Laki-laki dengan balutan baju kaos hitam itu merentangkan tangannya bermaksud menyuruh Ara masuk kedalam dekapannya. Ara yang mengerti langsung memeluk Gio erat, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Gio.
"Jangan buat aku takut lagi", kata Ara pelan.
"Katanya gak takut?", kata Gio terkekeh pelan.
"Maksud aku, kamu gak nyusahin. Tapi bikin aku takut, takut kamu kenapa-kenapa", sahut Ara.
Gio mengusap rambut panjang Ara, sambil sesekali mencium puncak kepala Ara. Berada di dekat Ara seperti ini semakin membuatnya menemukan kenyamanan yang sama saat berada di dekat bundanya.
"Maaf", lirih Gio.
Gio sontak mencium kening Ara sekilas lalu tersenyum tipis. "Udah bikin kamu khawatir", sahutnya.
...---❣❣❣---...
"Lo bikin gue takut", kata Arsal menatap Gio.
Kedelapan orang itu kini tengah berkumpul diruang tamu vila setelah makan malam tadi. Arsal yang duduk disamping kekasihnya terus menyorot Gio yang tengah duduk berselonjor di karpet bulu.
"Sorry kalau gue nyusahin kalian semua", kata Gio menatap satu persatu orang yang ada disana.
"Santai aja, bang", sahut Zian yang kini sedang asik merebahkan kepalanya dipaha Gea.
"Gimana kalau kita cari tempat lain aja?", usul Reyhan yang sama posisinya dengan Zian, tiduran dengan kaki Dara sebagai bantalnya.
Semuanya mengangguk menyetujui, namun Gio dengan cepat menepisnya.
"Kalau cari tempat lain lagi, udah gak keburu. Kita cuma waktu sampai besok sore", sahut Gio.
__ADS_1
"Tapi Gii... ",
"Udah, gue gak papa kok", kata Gio berusaha menyakinkan yang lain.
Semua hanya mengangguk pasrah, Gio memang keras kepala. Kedelapan orang itu kembali fokus bercerita kehidupan sehari-hari diselingi dengan candaan dan perdebatan yang bersumber dari Arsal, Gea dan Dara.
"FUCKBOY", pekik Gea dan Dara kesal karena Arsal selalu saja menggoda keduanya.
"Daripada lo, digantung", kata Arsal enteng menunjuk Gea.
"Wah gak bisa dibiarin", kali ini Dara sudah siap melempar bantal sofa yang dia pegang.
"SERANG", pekik Gea dan Dara lalu menerjang tubuh Arsal dan memukul tubuh laki-laki itu dengan brutal, bodohnya lagi Kanaya, kekasih Arsal ikut-ikutan menyerang dengan tawa polos dan tampang tak berdosa. Gadis itu bahkan tidak tahu masalahnya apa, melihat Arsal dipukuli membuat senyumnya mengembang dan juga ikut-ikutan. Gio, Ara, Zian dan Reyhan hanya menikmati tontonan didepan mereka dengan tawa yang sudah pecah sedari tadi.
"Anjir, durhaka lo semua", teriak Arsal menangkis setiap pukulan dari tiga gadis itu. Sedangkan yang lain hanya menatap Arsal prihatin dengan tawa yang sudah meledak-ledak.
Lelah tertawa, Gio menarik Ara untuk ikut dengannya. Dia ingin menghabiskan malam bersama gadisnya hari ini.
"GIO TOLONGIN GUE", teriak Arsal melihat Gio yang sudah melenggang pergi dari sana. Gio acuh, menulikan pendengarnya dan terus berjalan menarik Ara pelan.
"Mau kemana?", tanya Ara mengikuti langkah Gio.
Laki-laki itu hanya diam dan terus berjalan. Setelah beberapa menit, sampailah mereka ditaman samping Vila. Gio menyuruh Ara duduk di bangku taman yang memang tersedia disana. Tangan besar laki-laki itu menggenggam kedua tangan Ara dan mengusap-usapnya, bermaksud memberi kehangatan pada gadisnya. Ara diam dan terus menatap Gio.
"Aku boleh nanya gak, Gii?", tanya Ara berhasil mengalihkan tatapan Gio. Laki-laki itu menatap Ara teduh.
"Boleh", kata Gio lembut.
"Emm, apa yang buat kamu jadi kayak tadi. Sebenarnya apa yang udah terjadi dan apa yang gak aku tau?", tanya Ara hati-hati takut Gio marah.
Gio menghela nafas pelan dan menyandarkan tubuhnya pada sandaran bangku. Tahapannya beralih menatap langit dan hamparan lautan yang sedikit jauh darinya, bahkan tak terlalu jelas terlihat jika itu lautan. Sudah dia duga, Ara akan bertanya seperti itu. Sedangkan gadis dengan balutan hoodie kebesaran hanya memperhatikan setiap gerak gerik Gio, menunggu Gio bercerita.
Gio melirik Ara lalu menarik gadis itu lebih dekat padanya. Tangannya beralih memeluk pinggang Ara dan menyandarkan kepala Ara pada dada bidangnya membuat Ara refleks melingkarkan tangannya pada pinggang Gio. Hening beberapa menit, hanya terdengar helaan nafas kasar dari mulut Gio, seolah-olah tengah mempersiapkan dirinya untuk bercerita.
"Kalau belum siap gak papa", kata Ara hendak melepas pelukannya, namun tangan Gio menahannya dengan mempererat pelukannya. Laki-laki itu menaruh pipinya pada puncak kepala Ara.
"Dulu........ ",
...---To be continued---...
__ADS_1