Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 90. Paket lagi


__ADS_3

Waktu tak terasa begitu cepat berlalu, hari demi hari berganti, jam berputar, menit dan detik terlewati membuat kenangan di setiap masanya. Genap 4 bulan sudah kandungan Ara saat ini, perutnya yang sudah mulai membuncit membuatnya harus semakin hati-hati saat beraktivitas.


Ara duduk diruang tamunya, sembari memejamkan mata berusaha mengatur nafas setelah membersihkan rumahnya. Setelah hamil, dia sudah tidak bisa banyak melakukan aktivasi berat. Bukan hanya karena takut anaknya kenapa-kenapa, dia yang dulunya aktif kesana kesini sekarang harus banyak beristirahat karena tubuhnya yang cepat lelah.


Ara meneguk salivanya, hari ini entah kenapa dia ingin sekali makan makanan manis. Selama kehamilannya, baru kali ini dia begitu menginginkan sesuatu. Ara menoleh pada jendela. Hujan masih begitu deras jika harus membeli makanan, lagipula dimana dia akan mendapatkannya di jam seperti ini. Biasanya penjual kue-kue akan buka sore jam 5 sampai malam dan sekarang jam masih menunjukkan pukul 1 siang. Dan kali ini, dia tidak menginginkan kuenya. Dia ingin membelinya.


"Sabar ya sayang, nanti kita beli," kata Ara mengelus lembut perut buncitnya.


Usia kandungannya sekarang menginjak 4 bulan, saat memeriksakan kandungannya dan melakukan USG, semuanya berjalan lancar dan tidak ada yang perlu Ara khawatirkan. Bayinya sehat dan tumbuh dengan baik di perutnya. Hati Ara tersentuh setiap kali mengingat bagaimana detak jantung anaknya yang dia dengan untuk pertama kalinya. Ada rasa yang berbeda dalam hatinya. Sampai sekarang dia kadang masih belum percaya jika ada kehidupan yang tumbuh ditubuhnya.


"Masih hujan deras, mama takut petir. Kita belinya nanti aja ya," katanya lagi.


Sejauh ini, dia sudah berhasil menyimpan lukanya rapat. Meski tak dipungkiri sesekali rasa sesak itu hadir saat dia mengingat kejadian-kejadian dan laki-laki yang menjadi penyebab dirinya berada disini sekarang namun dia tak lagi peduli, yang dia pedulikan hanya anaknya. Hidupnya hanya tentang anaknya bukan orang lain baik itu Gio maupun yang lainnya.


Ara menoleh pada pintu masuk saat seseorang mengetuk pintu rumah. Dengan segera Ara bangkit dari duduknya lalu membuka pintu takut jika yang datang berkunjung adalah Aura karena diluar sedang hujan. Dia tidak ingin kakaknya itu kedinginan.


Ara membuka pintu dengan pelan namun keningnya mengerut bingung saat tak mendapati siapapun diluar rumahnya. Ara menatap sekeliling dengan bingung. Jelas-jelas tadi dia mendengar suara ketukan tapi siapa yang mengetuk pintunya. Didepan rumahnya tidak ada orang sama sekali. Ara yang hendak keluar tak sengaja menendang sebuah paper bag berwarna biru putih.


Lagi dan lagi kejadian seperti ini. Kemarin sebuah kotak berisi puluhan foto Gio dan seorang wanita, sekarang apalagi ini. Ara menghela nafas kasar lalu berjongkok mengambil benda tersebut dan membawanya masuk.


Setelah duduk di kursi ruang tamunya, Ara membolak-balikkan paper bag tersebut dan mendapati sebuah note kecil yang menempel diluarnya.


"Untuk Ara, dimakan ya"


-Ken.


Kurang lebih seperti itu kalimat yang tertulis disana. Ara mengerutkan keningnya bingung. Ken ? Apa yang dimaksud disini adalah Kenneth Leondra? Tapi bagaimana laki-laki itu tau dia disini sedangkan tempat ini tidak ada seorang pun yang tau selain dirinya, dan untuk apa dia repot-repot mengirimkannya hal seperti ini. Bukankah laki-laki itu sudah menikah, lalu kenapa dia masih mengganggunya. Yang menjadi pertanyaan besar Ara sekarang adalah, jika Ken mengetahui dirinya disini berarti Arsal dan Gio juga tau keberadaan dirinya.


Ara menghela nafas panjang berusaha meredam rasa takut dalam dirinya. Tidak, mereka bermusuhan jadi jika Ken mengetahui dirinya disini berarti dia tidak akan memberitahukan pada Gio.

__ADS_1


Ara membuka isi paper bag yang berwarna biru itu, dan mengeluarkan sebuah kotak makanan yang memang sangat Ara inginkan. Sebuah martabak manis rasa coklat keju. Demi apapun, mata Ara berbinar melihatnya. Makanan ini yang sedari tadi dia inginkan. Ara menelan salivanya menatap kotak martabak itu. Haruskah dia memakannya? Tapi bagaimana bisa Ken tahu dia menginginkan makanan ini sekarang?


Ara menatap kotak itu, menimbang apakah dia harus memakannya atau tidak. Setelah beberapa menit, Ara membulatkan tekatnya untuk tak memakannya. Ara yang hendak membuang makanan itu, berhenti sejenak lalu kembali duduk menatap kotak ditangannya. Martabak itu begitu menggodanya. Dia sangat menginginkan itu tapi makanan ini kan dari Ken. Ara menghela nafas kasar. Persetan dengan siapa yang mengirimnya, dia sangat menginginkan itu. Dengan segera, dia membuka kotak makanan itu dan langsung melahapnya. Satu kata yang bisa menggambarkan rasanya. Enak, tentu saja ini enak. Ara yang memang menginginkan makanan itu berhasil menghabiskan beberapa potong.


Ara menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa setelah menghabiskan beberapa potong martabak dan langsung meneguk air minumnya.


"Enak," katanya begitu girang.


"Anak mama seneng gak?" tanyanya mengelus lembut perutnya.


"Itu makanan dari om, temen papa," ujarnya lagi mengulas senyum tipis. Jika dipikir-pikir, Ara selalu menyebut kata papa pada anaknya tapi entah itu akan dia lakukan lagi setelah anaknya lahir atau tidak. Ara menghela nafas berat. Lebih baik dia istirahat daripada harus memikirkan orang-orang yang belum tentu memikirkannya.


Ara beranjak dari duduknya hendak menuju kamar untuk istirahat. Namun belum juga langkahnya mencapai pintu kamar, Ara berhenti dan meringis hebat. Rasa sakit tiba-tiba dia rasakan pada perutnya. Ara mengelusnya lembut.


"Tenang sayang, mama makannya kebanyakan ya? Kita istirahat, okey," ujar Ara pelan.


"Sayang kenapa?" tanya Ara pada janinnya seolah bertanya pada orang yang bisa menjawab pertanyaannya.


"Jangan buat mama takut, bertahan sayang," ujarnya lirih. Demi Tuhan ini sangat menyakitkan.


"Tolong," teriak Ara keras-keras saat rasa sakit itu semakin menghantam perutnya. Bahkan darah yang mengalir semakin banyak membuatnya panik sendiri. Dalam keadaan sendiri dan hujan deras seperti ini, siapa yang akan menolongnya.


"TOLONG," teriaknya lagi. Entah ada yang mendengar atau tidak. Dia hanya bisa meminta tolong sekarang.


"Sabar sayang. Tenang yaa, bertahan, mama berusaha cari bantuan," Ara panik bukan main, belum lagi rasa sakitnya benar-benar membuatnya tidak kuat. Tapi mau bagaimana lagi, tidak ada pilihan lain selain bertahan untuk anaknya kan.


"Ya Tuhan, Tolong. Bunda, Ayah tolong Ara," ujarnya sesenggukan.


"Bunda ini sakit," lirihnya.

__ADS_1


"Anak Ara gak bakal kenapa-kenapa kan, Yah?"


Seperti orang bodoh yang terus berbicara dan meminta tolong, Ara benar-benar sendirian. Dia takut dan panik bukan main. Darahnya semakin banyak keluar rasa sakitnya pun semakin tak bisa dia tahan. Air matanya mengalir deras menandakan dia benar-benar takut. Takut terjadi sesuatu dengan anaknya.


"Tolong," ujarnya pelan, sangat pelan.


Ara menunduk mengusap perutnya yang semakin sakit. Dia tak ingin anaknya kenapa-kenapa, Tuhan tolong katakan padanya kalau anaknya akan baik-baik saja. Ara menangis dalam diam, dia tidak bisa berbuat apa-apa. Berdiri pun dia sudah tak sanggup.


Ditengah kekalutannya itu, seseorang tiba-tiba membuka pintu rumahnya dan terkejut melihat kondisi Ara yang sudah bersimbah darah.


"ARAAAA..."


...-To be Continued-...


Siapa kira-kira yang datang???


Apakah Gio?? hmm masa sih???


Atau Ken??


Atauu......Ada opsi lain?? coba komen, menurut kalian siapa yang datang?.


Author update lagi, yeay 👏👏🤍


jangan lupa like dan komennya


Thanks a lot 💓❤


see you di part berikutnya.

__ADS_1


__ADS_2