
Hai Hai semuaaaa!!!
Ketemu lagi kita.. Oke jadi kali ini aku bakal kasi tau kalauuuuuuu........PART INI AKAN SEDIKIT LEBIH PANJANG DARI BIASANYA, YEEEEY 👏👏
Jangan lupa vote, coment dan like yaa, tambahkan juga ke cerita favorit kalian dan jangan lupa follow author biar gak ketinggalan info. Okey
Happy Reading..
Enjoy yaa..
Siang ini Ara dan Gio benar-benar dibuat sibuk dengan segala urusan untuk acara nanti malam. Perihal kemarin, Ara dan Gio sudah berbaikan setelah Gio menceritakan semuanya. Awalnya Ara marah mengetahui Gio ikut campur tangan dalam urusan perusahaan Bimo yang menurun drastis tapi setelah bertengkar dengan Gio yang kelepasan membentaknya membuat dirinya harus mengalah dan membiarkan apa saja keinginan Gio. Apalagi alasan Gio melakukan itu karena dirinya, yah karena perlakuan om nya itu padanya. Ara akan mencari waktu yang tepat untuk membicarakan itu dengan Gio nantinya. Dan tentang orang-orang yang menyerangnya kemarin, Gio sudah menyuruh orang untuk mencari tahu tentang mereka.
Ara duduk di sofa ruangan Gio sembari menghela nafas lelah, punggungnya dia sandarkan pada sandaran kursi dan memejamkan mata untuk mengistirahatkan tubuhnya sejenak.
Matanya kembali terbuka saat merasakan tangan seseorang mengusap keningnya dengan lembut. Sosok laki-laki tampan duduk disampingnya dan menatap teduh dua bola mata cantik miliknya.
"Capek ya?" tanya Gio lembut.
Ara menggeleng pelan lalu meraih tangan Gio dan menggenggam jemari laki-laki itu. Gadis dengan balutan kemeja abu-abu itu memainkan gelang hitam milik Gio.
"Kamu dari mana?" tanya Ara.
Yah, beberapa jam yang lalu Gio pamit padanya entah kemana dan baru kembali barusan. Ara tahu laki-laki itu sibuk tapi tadi Gio tak memiliki jadwal meeting diluar kantor.
"Ada urusan tadi," jawabnya pelan.
Ara mengangguk, lalu gadis itu berujar, "Nanti malam pasti bakal rame banget,"
"Hmm kayak biasalah," sahur Gio.
"Gea dateng gak?" tanya Ara lagi. Dia tahu Gio tidak terlalu mengizinkan kehidupan Gea diketahui banyak orang terlebih nanti malam pasti akan banyak media yang hadir.
"Ikut,"
"Tumben kamu mau?"
"Dianya yang maksa, katanya kakak ipar nanti gak ada yang temani kalau aku gak pergi. Gitu," jawab Gio mengikuti cara bicara adiknya itu.
Ara terkekeh pelan lalu menyenderkan kepalanya pada bahu Gio. "Capek banget," katanya sembari memejamkan mata.
"Istirahat dikamar aja ya,"
"Tapi nanti kalau ada yang mau diurus lagi, gimana?"
"Biar aku suruh yang lain, sekarang kamu istirahat aja."
Ara hanya mengangguk, dia benar-benar lelah harus mengurus persiapan nanti malam. Meski tak bekerja sendiri, namun tetap saja sebagai sekertaris Gio, dia yang memegang kendali lebih banyak.
Usapan lembut pada rambutnya membuat Ara semakin ingin memejamkan matanya, tak lama dari itu tubuhnya melayang. Gio menggendongnya menuju kamar pribadi miliknya. Gio tidak ingin Ara terlalu kelelahan.
"Tidur ya, aku kerja dulu" ujarnya lalu beranjak keluar setelah mengusap rambut Ara dengan lembut.
...---🌻🌻🌻---...
Ara menatap satu kotak besar yang baru saja diantar padanya. Gadis itu kini tengah berada di apartemen Gio sendirian. Kotak yang berisi gaun berwarna peace.
*Kamu pake gaun ini, sopir aku yang bakal jemput. Maaf gak bisa jemput.
Love you ❤*
Seperti itu kira-kira isi surat yang ada didalam kotak itu. Ara yakin pasti Gio yang mengirimnya. dan apa tadi? Gio tak bisa menjemputnya? oke baiklah dia memaklumi itu. Ara melirik jam dinding yang sudah menunjukkan jam 7 malam, sedangkan acara akan diadakan jam 8 nanti. Masih ada satu jam untuk bersiap. Ara menghela nafas panjang, entah kenapa dia jadi gugup. Datang ke acara seperti itu dan bertemu dengan orang-orang berkelas membuat Ara sedikit tidak nyaman, namun bagaimanapun dia harus datang. Ara beranjak dari duduknya masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap.
Sedangkan di gedung hotel tempat akan dilaksanakan acara peresmian CEO baru di Ananda grup, Gio sedang terdiam diri dia salah satu kamar sambil memandang keluar jendela besar. Lampu kota dan taburan bintang selalu jadi kesukaannya. Sepertinya malam ini tidak akan hujan. Namun itu juga belum tentukan.
"Abang, udah belum?" teriak seorang gadis dari arah pintu masuk.
__ADS_1
Gio berbalik menatap adiknya yang tampak lebih anggun dari biasanya, gadis dengan dress berwarna hitam itu tampak sangat manis dan cantik.
"Udah," jawabnya.
"Acara peresmian masih aja kerja, ayo." ajak Gea menggandeng tangan kakaknya menuju aula tempat acara akan diselenggarakan. Gio menurut saja, mengikuti langkah adiknya.
Tepat di aula besar dengan dekorasi meriah itu sudah berkumpul banyak orang, ada Zian, Reyhan, Dara, Arsal, Kanaya, Bisma bahkan Rania dan Ken juga datang. Mereka semua sahabat-sahabat Gio yaa walaupun diantara mereka ada beberapa yang memiliki masalah dengannya. Gio tidak peduli, yang dia inginkan acara ini cepat selesai, dia sungguh lelah. Lagipula bukan dirinya yang mengundang mereka melainkan Ayahnya sendiri.
"Wihh CEO baru kita nih," celetuk Arsal menyambut Gio.
"Berisik," balas Gio ketus.
"Kok gak enak banget sih auranya, belum dapat jatah ya dari bu bos?" tanya Arsal yang langsung mendapat tatapan tajam dari Gio.
"Dapat kok, kan seharian ini abang sama kakak ipar bareng terus," sahut Gea dengan polosnya.
"Wah masa sih? jatahnya kurang kali makanya kusut banget," lanjut Arsal.
"Enggak kata abang setiap bareng kakak ipar pasti dia puas kok," celetuk Gea lagi membuat Gio menghela nafas lelah.
"Bawa nih pacar lo jauh-jauh dari dia, gak bagus buat perkembangan otak adek gua," kata Gio melirik Zian yang sudah menatap Arsal dengan tatapan tak bersahabat. Sedangkan yang lain hanya diam menatap dengan senyum tertahan, lain dengan Rania dan Ken yang sebenarnya begitu malas mendengar obrolan mereka.
"Btw, bu bos mana?" tanya Arsal saat menyadari Ara tak ada disana.
Seorang gadis dengan balutan gaun peace dengan rambut curly nya berjalan mendekati mereka dengan tergesa-gesa.
"Maaf terlambat," ujarnya setelah sampai didepan semua orang.
Gio menatap Ara tak berkedip, malam ini gadisnya itu begitu cantik dengan gaunnya. Polesan makeup tipis semakin menambah kecantikan Ara.
"Kedip goblok!" seru Arsal melihat Gio yang hanya berdiri mematung tanpa berkedip.
Bukan, bukan hanya Gio yang terpana akan kecantikan Ara malam ini tapi laki-laki dengan setelan jas hitam yang berdiri tak jauh dari mereka juga menatap kagum pada Ara. Ken mengakui kalau Ara memang benar-benar cantik.
Gio bergerak mendekat dan langsung merangkul pinggang Ara erat. "Cantik," bisiknya membuat pipi Ara memerah.
"Gak papa sayang," jawab Gio.
Ken dan Rania dibuat panas dingin ditempatnya melihat interaksi dia pasangan itu. Rania menyenggol bahu Ken membuat laki-laki itu tersadar lalu melirik Rania.
"Jadi kapan?" tanyanya pelan hampir berbisik.
"Malam ini." jawab Ken kembali menatap Gio yang kini mengecup puncak kepala Ara.
...---🌻🌻🌻---...
"Mohon perhatiannya," kata Kevin, ayah Gio yang kini sudah berdiri di panggung. Ruangan seketika hening, semua mata sudah menatap laki-laki tegap dan tampan itu.
"Terima kasih masih menyempatkan waktu di acara ini, untuk mengefisienkan waktu jadi langsung saja, malam ini saya Kevin Ananda mengumumkan bahwa perusahaan Ananda group mulai hari ini akan diambil alih oleh putra sulung saya Gio Pratama Ananda selalu CEO baru jadi seluruh tanggung jawab tentang Ananda group akan dia emban mulai sekarang," kata Kevin panjang lebar dan memberi kode pada Gio agar naik keatas panggung.
"Aku naik sebentar," pamit Gio pada Ara yang langsung diangguki gadis itu.
"Selamat malam," sapa Gio pada para tamu yang dibalas oleh ribuan orang-orang disana.
"Saya Gio Pratama Ananda yang akan menggantikan Ayah saya untuk mengemban tanggung jawab Ananda group. Mohon kerja sama dan bimbingannya," ucap Gio yang disambut tepuk tangan orang-orang. Banyak yang kagum dan jatuh cinta dengan paras pewaris keluarga terpandang itu Laki-laki dengan tubuh atletis yang dibalut jas formal berwarna abu-abu, wajah tampan, alis tebal, hidung mancung, mata sedikit sipit dan bibir tebal berwarna pink-nya mampu menghipnotis kaum hawa yang hadir disana tak terkecuali Ara, kekasihnya. Bahkan beberapa sudah ada yang berencana jika setelah ini mereka akan menjodohkan Gio dengan putri mereka.
"Selain ucapan terima kasih karena sudah hadir di acara malam ini, saya juga ingin menyampaikan sesuatu yang lebih penting," lanjut Gio tersenyum tipis membuat semua menunggu dengan antusias, bahkan Gea yang berada di sisi sebelah kiri tak jauh dari panggung harus menahan diri untuk tidak berteriak kali ini.
Lampu ruangan otomatis mati, hanya ada satu lampu yang menyala dan langsung menyorot seorang gadis yang kini terlihat terkejut. Ara bingung dan tidak mengerti kenapa lampu malah menyorotnya.
"Untuk gadis yang sekarang jadi sorotan, silakan naik ke panggung," kata Gio lagi.
Ara meneguk salivanya susah payah, pasti sekarang dirinya menjadi sorotan semua orang. Meski tak melihat tapi Ara yakin akan hal itu. Dengan hati-hati dan tampang bertanya-tanya, Ara berjalan mendekat kearah Gio. Setelah sampai di panggung lampu kembali menyala dan semua mata kini tertuju pada dua orang yang saling berhadapan diatas sana. Ara mengedarkan pandangannya menatap sekeliling, sungguh dia benar-benar malu jadi pusat perhatian seperti ini.
"Ada apa?" tanya Ara tanpa suara pada Gio.
__ADS_1
"Tunggu aja, sayang," jawab Gio pelan.
"Ehmm...." Gio tiba-tiba gugup saat berhadapan dengan Ara dalam jarak sedekat ini. Laki-laki itu menghela nafas kasar sebelum menyampaikan niatnya.
"ABANG PASTI BISA," teriakan yang berasal dari adiknya itu membuat Gio menoleh dan tersenyum sambil mengangguk pelan.
"JANGAN GUGUP PAK BOS, GAS BOS GAS. JANGAN KASI KENDOR." teriak Arsal tak mau kalah. Gio hanya mendengus pelan menanggapi sahabatnya itu.
"Ara.." panggilnya pada Ara yang masih diam mematung menatapnya sedari tadi.
"Aku gak tau mau bilang apa karena aku bukan orang yang pandai merangkai kata-kata, yang jelas aku bersyukur bisa kenal kamu dan berterima kasih karena kamu udah mau nerima aku yang banyak kekurangannya," kata Gio menatap dalam bola mata Ara yang mulai berkaca-kaca.
"Selama ini, hidup aku cuma berporos pada ayah, bunda dan juga adek tapi sekarang udah nambah satu....kamu," lanjutnya.
Gio berjalan melebih mendekat kearah Ara, mengusap pipi gadisnya yang sudah basah. Para tamu ikut terharu mendengar penuturan panjang laki-laki dingin itu, beda dengan Rania dan Ken yang berusaha mati-matian menahan diri demi kehormatan keluarga mereka.
"Aku sama sekali gak pernah mengeluh, terbebani dan merasa repot untuk segala hal yang aku lakukan buat kamu...." Gio sejenak menggantung ucapannya. Menarik nafas dalam-dalam lalu mundur selangkah sebelum berjongkok didepan Ara dengan bertumpu di kaki kirinya dan tangannya yang sudah memegang sebuah kotak cincin berwarna merah.
"Jadi Kaiyara Zoe, hari ini didepan semua orang, Aku Gio Pratama Ananda meminta dan melamar mu untuk jadi pasangan ku mulai hari ini sampai masa kita habis di dunia," lanjutnya memberanikan diri.
"Apa kamu bersedia?" tanyanya lagi.
Ara meneguk salivanya susah payah, dia jadi gugup sendiri. Demi apapun, Gio malam ini terlihat berbeda, semakin tampan dan memperlakukannya begitu manis.
Sorakan-sorakan dari para tamu yang meminta Ara untuk menerimanya membuat Ara menoleh lalu mendapati Kevin dan Vio yang menatapnya dengan tatapan teduh dan senyum manisnya. Andai ayah dan bundanya disini, dia pasti akan menatap ayah dan bundanya untuk meminta izin.
"Kakak ipar, kiw. Jawab dong," teriak Gea semangat.
"Kak Ara, ayo besok Dara antar ke KUA," Dara tak mau kalah ikut berteriak.
"Terima kak Ara," teriak Kanaya, kekasih Arsal.
"UDAH BU BOS, TERIMA AJA KITA SEMUA SETUJU DUNIA AKHIRAT," teriak Arsal ikut-ikutan.
Semua orang bersorak setuju membuat Ara kembali mengalikan tatapannya pada Gio yang masih berjongkok menunggunya menjawab pertanyaan Gio.
"Gio.." panggil Ara pelan menuntun Gio untuk berdiri. Dia kasihan jika Gio berlama-lama diposisi itu.
"Jadi....?" tanya Gio memastikan.
Ara menghela nafas pelan dengan seulas senyum manisnya, gadis itu mengangguk pasti membuat Gio seketika mengembangkan senyumnya, sorakan gembira dari kubu Arsal dan kawan-kawanlah yang paling heboh.
Gio memasangkan cincin di jari manis Ara lalu memeluk gadisnya itu erat, mencium puncak kepala Ara dengan sayang.
"Terima kasih," bisik Gio pelan.
"Terima kasih kembali," sahut Ara membalas pelukan hangat Gio.
Sementara itu, Rania dan Ken sudah terbakar ditempatnya melihat adegan itu. Saat Rania hendak pergi, tangannya ditahan oleh Ken. Gadis itu menoleh pada Ken yang masih menatap lurus kedepan.
"Lo pergi, rencana kita bakal gagal," kata Ken.
"Rencana apa? bahkan lo cuma diam aja melihat adegan itu," kesal Rania.
"Karena ini akan bagus untuk memperlancar rencana gue, jadi lo diam dan ikut kata gue," kata Ken tersenyum miring menatap Rania.
"Kak, lo..."
"Diam dan ikuti semua apa kata gue,"
...--TBC--...
siap masuk konflik yang sebenarnya guys???
stay tune, tunggu update selanjutnya.
__ADS_1
see you soon dan I love kalian semua.
Terima kasi banyak. 💓💓❤❤