Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 79. Patah Hati Terbesar


__ADS_3

"Positif," gumamnya sambil menghela nafas pelan.


Ara keluar dari kamar mandi dengan lesu, mendaratkan bokongnya di tepi tempat tidur dan menatap sendu testpack ditangannya. Semua hasilnya positif. Ara yakin dia sudah menggunakannya dengan benar dan ini adalah kebenarannya. Dia mengandung anak Gio.


Sekarang Ara bingung mau bagaimana. Haruskah dia memberitahu Gio atau tidak. Dia takut Gio menolak anak itu, dia takut Gio tidak menginginkannya, mengingat malam itu dia melakukan semuanya pada Ara bukan keinginannya sendiri. Dia hanya ada dalam pengaruh obat.


Tapi mau bagaimana pun, Gio berhak tahu. Itu darah dagingnya dan mereka harus mencari solusi sama-sama. Membicarakan ini dengan ayah dan bunda laki-laki itu. Ara lagi-lagi menghela nafas pelan mengingat orang tua Gio. Jika Gio nantinya menerima anak itu, apa keluarga laki-laki itu menerima anak hasil hubungan terlarang itu, hasil dari hubungan yang tidak disengaja. Kepala Ara rasanya ingin pecah sekarang juga memikirkan itu semua.


Ara melirik ke jendela besar kamar apartemennya. Langit sore sudah berganti menjadi gelap tanda malam sudah menyapa penduduk bumi. Setelah lama berfikir, Ara sudah memutuskan apapun yang terjadi dia harus memberitahu Gio masalah ini.


Ara mengambil ponselnya dia atas meja yang kebetulan berdenting menandakan pesan masuk. Ara tersenyum tipis, dia tebak itu pesan dari Gio.


Namun Ara dibuat kecewa saat harapannya tidak sesuai ekspektasi. Bukannya Gio, malah sebuah nomor baru yang mengirimkannya sebuah gambar dan juga video. Ara mengerutkan kening bingung.


Tak menunggu lama, Ara membuka pesan tersebut dan melihat gambar serta video apa yang dikirim seseorang padanya. Gadis dengan balutan baju tidur berwarna putih itu membulatkan mata kaget saat melihat apa yang ada di ponselnya. Tangannya bergetar hingga ponsel yang dia pegang terjatuh, kepalanya pusing serasa dihantam batu besar, sekelilinya terasa berputar, matanya memerah dengan lapisan bening yang siap meluncur kapan saja.

__ADS_1


Ara menarik nafas menenangkan diri. Dadanya luar biasa sesak, Ara memukul dadanya beberapa kali berharap rasa sesak itu hilang. Namun nihil, bukannya hilang rasa sesak itu semakin menghujam dadanya membuat hatinya sakit. Sakit sekali.


Ara kembali meraih ponselnya memastikan apa yang dia lihat tidak benar. Dari foto dan video itu, Ara tahu betul siapa laki-laki itu. Dari postur tubuhnya dari samping dan dari belakang, dia Gio, kekasihnya, calon suaminya. Tapi kenapa Gio melakukan itu? Kenapa Gio melakukan hal semenjijikan itu.


Awalnya Ara tak mau percaya tapi saat kembali menatap foto itu, dia yakin betul itu Gio. Ara hafal postur tubuh Gio dan tak mengelak, itu benar-benar Gio bukan orang lain.


Foto yang memperlihatkan Gio sedang berciuman mesra dengan seorang gadis yang Ara tidak kenal dan video yang memperlihatkan Gio sedang berhubungan dengan wanita yang entah itu siapa. Ara ingin menyangkal itu semua tapi suara desah*n pada video itu terdengar jelas bahwa itu suara Gio. Ara hafal suara laki-lakinya. Suara yang begitu mirip dengan suara yang iya dengar saat malam itu terjadi pada Ara dan Gio. Demi apapun, itu Gio dan dia terlihat begitu menikmati permainannya. Hati Ara benar-benar sakit melihat ini. Dadanya seolah ditikam ribuan belati tajam. Tolong, siapapun katakan padanya jika itu bukan Gio.


Dia ingin menyangkal, dia ingin mengelak tapi dari suara, postur tubuh, dan gaya laki-laki di video itu sama sekali tidak ada bedanya dengan Gio. Yah, dia tidak salah oitu Gio, calon suaminya, ayah dari bayinya.


"Jadi ini alasan dia jarang kesini, kalaupun disini hanya sebentar lalu pergi lagi," tanya Ara dengan air mata yang sudah mengalir.


"Tidak, tidak. Aku harus dengar penjelasan dia dulu,"


Ara menggeleng pelan. Dia akan menunggu Gio dan meminta penjelasan dari ini semua. Dia harus bisa bersikap dewasa sedikit meski tak dipungkiri hatinya sakit luar biasa mendapatkan itu. Tapi dia harus tetap menunggu Gio, harus.

__ADS_1


...—💔💔💔—...


Ara bolak balik bak setrika rusak didepan pintu kamarnya, ini sudah menunjukkan hampir jam 11 malam namun Gio belum juga datang. Biasanya laki-laki itu datang setiap jam 8 tapi Ara sudah menunggunya sudah berjam-jam dan tidak ada tanda-tanda Gio akan datang. Ponsel laki-laki itu sudah dia hubungi dan hasilnya 'nol', sama sekali tidak bisa dihubungi. Begitupun dengan Gea, Arsal dan orang-orang terdekatnya. Beberapa jam yang lalu, lagi, dia mendapat video dan foto yang sama dengan gadis yang berbeda terlebih lagi jelas di sana ada tanggal dan waktunya dan itu hari ini. Ara tak mau percaya sama sekali sebelum mendengar penjelasan Gio, namun laki-laki itu belum juga datang.


Ara lelah menunggu, merosotkan dirinya ke lantai dan menyadarkan tubuhnya pada pintu kamar, menangis sejadi-jadinya di sana. Kenapa Gio tega sekali padanya. Padahal dia ingin memberi kabar bahwa dia sedang mengandung anak mereka tapi apa yang Gio lakukan? Bermain dengan wanita lain dibelakangnya bahkan sampai berhubungan seperti itu? Ara benci Gio, Ara tak ingin lagi bertemu laki-laki itu.


"AKU MEMBENCIMU, GIO," pekik Ara memukul dadanya sesak.


Setelah lelah menangis, Ara beranjak menuju kamar, mengemasi barang-barangnya. Dia akan pergi dari sini, dia akan memulai hidupnya tanpa Gio, dan hidup berdua dengan anaknya. Dia akan pergi dari hidup Gio tanpa sepengetahuan laki-laki itu bahkan orang-orang terdekat laki-laki itu.


Sudah cukup, dia tidak ingin menunggu Gio lagi. Apa yang harus dia tunggu, toh Gio sudah asik dengan dunianya sendiri. Bermain diluar sana tanpa memikirkan Ara. Gio terlihat bahagia hidup seperti itu. Ara tak lagi ingin mengganggunya, biarkan dia hidup sendiri dan biarkan Ara hidup berdua dengan anaknya nanti. Ara tidak akan lagi menampakkan dirinya didepan semua orang termasuk Gio.


Ara menatap sekeliling ruang di apartemen milik Gio. Apartemen ini memiliki begitu banyak kenangan. Saksi bisu bagaimana manjanya seorang Gio, bagaimana bucinnya Gio pada Ara.


Air mata Ara menetes namun dengan cepat gadis itu tepis kasar. Dia tidak akan menangis, dia harus kuat untuknya dan untuk anaknya. Dia tahu akan pergi kemana dan dia pastikan tidak ada satu orang pun yang akan menemukannya nanti.

__ADS_1


"Selamat tinggal," setelah mengatakan itu, Ara berbalik sambil menarik koper miliknya dan meninggalkan apartemen Gio tepat jam 12 malam seorang diri.


...---To be continued---...


__ADS_2