Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 130. Akhir Cerita I


__ADS_3

BRAKKK


Suara hantaman yang cukup keras terdengar membuat beberapa warga keluar melihat apa yang sedang terjadi.


Mobil yang dikendarai Gio dan Ara menghantam pembatas jalan cukup keras. Tangan kiri Gio terulur menahan tubuh istrinya agar tidak menghantam dashboard mobilnya tanpa mempedulikan kepalanya yang terbentur keras pada stir mobil. Dengan sisa kesadaran dan tenaganya, Gio membuka mata menoleh pada Ara yang meringis kesakitan. Ada sedikit kelegaan pada hatinya saat mengetahui tubuh istrinya tidak menghantam dashboard mobil namun tetap saja kekhawatiran tak bisa dia sembunyikan saat mendengar ringisan dari mulut istrinya.


"Gio," panggilnya lirih mencengkram kuat lengan Gio dengan tangan kanan sedangkan tangan kirinya mengelus perutnya.


"Tenang sayang," ujarnya berbisik pada perutnya tanpa menghentikan elusannya.


"Ya Tuhan ini sakit sekali," adu Ara. Air matanya sudah tidak bisa dibendung lagi.


Disampingnya, Gio masih berusaha mengumpulkan kesadarannya. Setelah beberapa menit, Gio berusaha keluar dari mobil tanpa mempedulikan darah yang mengalir dari kepalanya. Laki-laki itu berjalan keluar dan membantu istrinya untuk keluar dari mobil.


"Gio kepala kamu," Ara mengusap darah yang mengalir dari kening Gio dengan tangannya. Sedangkan Gio terus menggendong istrinya menjauh dari mobilnya yang bahkan bagian depannya sudah terbakar.


"Gak papa sayang, kamu bertahan ya," ucap Gio sesekali menggeleng kepalanya berusaha mempertahankan kesadarannya.


Setelah cukup jauh dari mobil mereka, Gio yang sudah tidak kuat akan sakit dikepalanya memilih berhenti dan duduk di tepi jalan. Bersamaan dengan itu warga datang hendak membantu mereka.


"Tolong panggilkan ambulance," kata seorang warga yang melihat keduanya yang langsung diangguki beberapa orang yang datang bersamanya tadi.


"Tahan sayang, sebentar lagi ambulance datang," kata Gio menatap istrinya yang kini berbaring menggunakan pahanya sebagai bantalan. Ringisan demi ringisan keluar dari mulut Ara.


"Baby bertahan sebentar lagi yaa, jangan menyakiti mama. Kalian harus kuat," ucap Gio pelan mengelus perut istrinya. Mata laki-laki itu sudah tergenang air mata. Dia merutuki ambulance yang belum juga sampai.


Laki-laki itu benar-benar sudah tidak bisa berfikir jernih. Masa bodoh dengan luka dikepalanya, Dia hanya ingin anak dan istrinya selamat. Hanya itu yang ada dipikirannya sekarang. Dia juga menyalahkan dirinya sendiri yang tak bisa berhati-hati saat membawa Ara dan juga calon anaknya. Ini semua salahnya.


"Maaf," ujar Gio mengelus pipi istrinya penuh rasa bersalah.


Ara menatapnya penuh pertanyaan, dia sudah tidak kuat untuk berbicara lagi. Air matanya semakin deras melihat Gio terluka. Perutnya terasa begitu sakit. Bohong jika perutnya tidak terbentur tadi, meskipun tangan Gio berusaha menghalanginya. Meskipun begitu dia bersyukur karena benturannya tidak terlalu keras hingga membuatnya masih bisa berharap anaknya akan baik-baik saja.


"Maaf karena aku, kamu jadi seperti ini," ucap Gio dengan suara bergetar. Dia tidak kuat melihat istrinya kesakitan. Sedangkan kepalanya sendiri pun sangat sakit.


"Jaga anak kita, sayang,"


Cukup, Gio sudah tidak kuat. Darah dari kepalanya semakin banyak dan sakitnya juga semakin tidak bisa dia tahan. Mendengar ucapan suaminya, Ara semakin menangis. Dia tidak tahu harus berbuat apa sekarang. Bersamaan dengan tubuh Gio yang ambruk, ambulance datang. Dibantu warga disana, Ara dan Gio di bawa ke rumah sakit.


...💔💔💔...


PLAK


Suara tamparan menggema disalah satu cafe yang membuat pengunjung terdiam. Semuanya menatap kearah dua perempuan yang sedang saling berhadapan.


"GILA LO," pekik Rania.


Amarah perempuan itu sudah diubun-ubun. Ingin rasanya dia membunuh perempuan yang ada dihadapannya sekarang. Tadi saat hendak menyusul suami dan anaknya ke perusahaan, dia menyempatkan diri untuk membeli makanan. Namun, saat melewati Naumi, Rania dibuat terkejut saat mendengar Naumi berbicara dengan seseorang dibalik telfon. Apalagi saat nama Ara dan Gio dia dengan begitu jelas.


Naumi menatap remeh Rania yang masih menahan amarahnya. Perempuan dengan balutan dress merah itu tersenyum miring.


"Bagus doang kalau dia mati. Saingan lo cuma gue buat dapatin Gio," ucapnya membuat dada Rania naik turun dengan nafas memburu.


Tatapan perempuan itu tajam seolah bisa menembus tubuh Naumi sekarang juga.


"Sayang, ada apa ini?" tanya Bisma yang baru saja datang. Ia hendak menjemput istrinya yang sedang membeli makan di cafe langganannya. Namun saat dirinya tiba, dia melihat istrinya menampar perempuan yang dulu adalah sahabatnya sendiri.

__ADS_1


"Gue udah gak mau sama Gio. Lo liat dia...," tunjuk Rania pada suaminya yang berdiri di sampingnya.


"Dia suami gue sekarang. Gue gak mau sama Gio, dia udah sama kakak gue. Mereka bahagia, dan lo.." Rania menjeda ucapannya dan kembali menatap Naumi dengan tajam.


"Mau merusak kebahagiaan mereka. Gila lo," ujar Rania begitu kesal.


"Sayang, ada apa?" tanya Bisma masih tak mengerti.


"Dia membayar orang untuk mencelakai Ara dan Gio. Dia ingin Ara mati agar bisa memiliki Gio," ucap Rania masih tak menyurutkan tatapan tajamnya.


Bisma membulatkan matanya terkejut dengan penuturan istrinya.


"Berhenti ganggu kehidupan kakak gue dan suaminya. Cari orang lain yang lebih daripada Gio," perintah Rania membuat Naumi kembali tertawa.


"Gue maunya Gio, gimana dong?" ucapnya tertawa pelan.


"Sinting ya lo," cecar Rania.


Belum sempat Naumi membalas, suara deringan ponsel Bisma menghentikan pertengkaran keduanya. Hening sesaat, bahkan Bisma yang menerima telfon pun terdiam sambil memandang istrinya dengan tatapan penuh arti.


"Kenapa?" tanya Rania tak sabaran saat Bisma memutuskan sambungan telfon.


"Ara..."


"Iya, Ara kenapa?"


Rania tak sabar bercampur panik dia tidak ingin sesuatu hal terjadi pada sepupunya itu.


"Mereka kecelakaan dan sekarang dibawa kerumah sakit," ucap Bisma pelan.


"Kamu bohong kan?" tanya Rania pelan.


"Kita ke rumah sakit sekarang," ucap Bisma tak kalah paniknya.


Sedangkan disisi lain, Naumi tersenyum senang. Rencananya berhasil yah walaupun sedikit menyakiti Gio tapi tidak apa-apa, yang jelas Ara akan mati hari ini juga.


"Baguslah," ucapnya pelan dan masih terdengar jelas di telinga Rania.


Plak


Tamparan kembali didapatkan oleh Naumi, namun perempuan itu sebisa mungkin menahan amarahnya. Dia tahu bagaimana jika Rania sudah marah. Bersahabat dengan Rania dulu membuatnya paham bagaimana sikap perempuan itu.


"BANGS*T, GILA LO. GUE PASTIIN SETELAH INI LO MENDEKAM DIPENJARA," teriak Rania begitu keras sebelum menarik Bisma pergi dari sana.


"Setelah gue dapatin Gio, lo yang akan gue buat gak tenang Rania," ucap Naumi menatap kepergian Bisma dan Rania dengan senyum miringnya.


...💔💔💔...


Rania berlari di koridor rumah sakit diikuti Bisma dari belakang. Rasa panik bercampur khawatir membuatnya tak mempedulikan apapun. Dia harus tau keadaan Ara sekarang juga. Dia khawatir terjadi apa-apa dengan perempuan itu.


"Geaa..." panggil Rania setelah tiba didepan salah satu ruangan yang diberitahukan Gea tadi padanya.


Gea menoleh dengan raut wajah tak kalah cemasnya. Disana sudah ada keluarga besar Gio, bahkan Ken dan Arsal juga ikut ada disana. Setelah mendengar kabar Gio dan Ara kecelakaan, tak menunggu lama mereka langsung menuju rumah sakit. Ken dan Arsal begitupun dengan Kevin, sedari tadi mondar mandir didepan ruangan yang sejak 30 menit yang lalu tertutup.


"Gimana keadaan Ara, dimana dia?" tanya Rania pada Gea yang sedang duduk sambil menenangkan Vio, bundanya.

__ADS_1


"Masih diperiksa, dokter belum keluar dari tadi," jawab Gea dengan nada gusarnya.


Rania membuang nafas kasar, dadanya mulai sesak dengan nafas yang tak beratur. Matanya memanas, sungguh, dia tidak sabar ingin mengetahui keadaan Ara, dia takut terjadi sesuatu pada Ara dan juga calon anaknya.


Bisma yang mengerti keadaan istrinya, berjalan mendekat dan memeluk Rania sambil mengusap punggung istrinya untuk memenangkan.


"Semuanya akan baik-baik saja," ucap Bisma berusaha menenangkan.


"Kenapa bisa seperti ini?" pertanyaan itu melucur dari bibir Ken yang sedari tadi terdiam.


"Kecelakaannya disengaja," lirih Rania yang masih memeluk Bisma.


Semuanya kompak menoleh dan menatap Rania yang sudah menangis dan ditenangkan Bisma.


"Naumi yang merencanakan semuanya. Rania sendiri yang mendengarnya," jawab Bisma mewakili istrinya.


"Naumi?" beo Arsal. Dia cukup mengenal gadis itu.


Bisma dan Rania mengangguk mengiyakan membuat Ken, Kevin dan Arsal kompak mengepalkan tangannya, geram.


"Biar Zian yang urus, Yah," kata Zian angkat bicara. Laki-laki itu lalu merogoh saku celananya, mengambil ponsel lalu mengirim pesan pada orang-orang kepercayaannya untuk mengurus semuanya.


Kevin mengangguk mengiyakan. Kembali hening, tak ada yang angkat bicara setelah itu. Hanya ada suara helaan nafas berat dan juga isakan Vio dan Rania yang belum mereda, hingga akhirnya pintu ruangan terbuka menampilkan sosok dengan balutan jas putih khas dokter. Semuanya mendekat hendak memastikan bagaimana keadaan Gio didalam sana.


"Bagaimana keadaan anak saya, dok?" tanya Kevin tak sabaran.


"Benturan pada kepala pasien cukup keras, terlebih lagi pasien terlambat ditangani," ujar sang dokter membuat semua menegang.


"Kita akan lakukan pemeriksaan lanjutan jika pasien sudah sadar untuk memastikan tidak ada keluhan lain dari pasien," jelas sang dokter.


"Saya permisi,"


Setelah membiarkan dokter tersebut pergi, semua orang dibuat semakin terdiam saat mengetahui kondisi Gio yang bisa dikatakan jauh dari kata baik-baik saja. Selang beberapa menit, pintu ruangan didepan kamar Gio juga terbuka menampilkan sosok dokter cantik dengan nametag Dokter Nada berdiri dengan raut panik. Vio yang tak kalah paniknya mendekat dan menodong dokter Nada dengan berbagai pertanyaan.


"Bagaimana keadaan cucu dan menantuku?" tanyanya pelan tapi tak sabaran.


"Sabar bun," ucap Kevin mengusap bahu istrinya dengan sayang.


Dokter Nada menghela nafas pelan dan menatap satu persatu orang yang ada disana. Raut khawatir terlihat jelas pada setiap wajah yang dia lihat.


"Dokter, bicaralah," desak Rania sudah tak sabar.


"Ara mengalami pendarahan akibat benturan pada perutnya saat kecelakaan. Kami butuh persetujuan dari suami untuk melakukan operasi namun Ara memaksa melahirkan normal. Dia juga memaksa Gio menemaninya," ucap dokter Nada mengutarakan keinginan Ara saat berada di ruangan tadi.


Mendengar itu, Vio menangis. Bagaimana bisa Gio menemani Ara sedangkan putranya itu sedang terbaring tanpa sadarkan diri.


"Yah, bagaimana ini?" tanya Vio memeluk suaminya dengan erat, menumpahkan rasa sesaknya. Bagaimana bisa kehidupan putra dan menantunya harus semenyedihkan ini.


"Bunda tenang, biar ayah yang....."


"Saya yang akan menemaninya," kalimat dari seseorang itu memotong ucapan Kevin begitu saja. Semua menoleh dengan tatapan terkejut saat orang itu berjalan mendekat.


...-To be continued-...


Siapa hayooo????

__ADS_1


__ADS_2