Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 85. Kepergian Aldi


__ADS_3

Hari berlalu begitu cepat. Hari ini adalah jadwal checkup Ara ke dokter kandungan. Ara sudah menghubungi dokter Anin dan dia mengatakan agar Ara datang jam 10. Jam menunjukkan pukul stengah 10 saat Aura datang mengetuk pintu rumahnya. Perempuan itu tinggal hanya beda 3 rumah dari rumah Ara. Sesuai janjinya kemarin, dia akan menemani Ara untuk konsul ke dokter.


Ara keluar dengan menggunakan hoodie hitam milik Gio yang dipadukan dengan rok tennis skirt dengan warna putih. Ara tersenyum senang saat mendapati Aura yang sudah berdiri didepan pintunya.


"Lama banget sih bumil," keluh Aura.


"Ya maaf kak, namanya juga cewek," sahut Ara.


Aura terkekeh kecil lalu menggandeng tangan Ara untuk segera pergi ke klinik. Ini sudah hampir jam 10. Untung jarak dari rumah Ara ke klinik tidaklah jauh. Hanya menempuh waktu sekitar 10 menit dengan sepeda motor. Aura meminjam sepeda motor keponakannya untuk mengantar Ara menuju klinik.


Setelah berkendara beberapa menit, Ara dan Aura sampai didepan klinik yang memang merupakan klinik terbesar di desa ini. Jika disini, fasilitas cukup memadai untuk ibu-ibu hamil jadi jika ingin periksa atau melahirkan tidak perlu ke kota untuk mencari rumah sakit besar.


"Ayo," Aura menarik tangan Ara masuk kedalam klinik menuju ruangan dokter Anin.


"Kakak ikut aku ke dalam ya," pinta Ara yang diangguki Aura dengan antusias.


"Emang mau masuk, mau liat ponakan," sahut Aura.


Keduanya melangkah masih setelah mengetuk pintu ruangan serba putih itu. Didalam sudah ada dokter Anin yang menunggunya dan seseorang yang Ara kenal. Ara menghentikan langkahnya saat orang itu berbalik dan menatap Ara dengan tatapan terkejutnya.


Dia, Aldi. Duduk berhadapan dengan dokter Anin yang tersenyum menyambut kedatangan Ara. Sedangkan Ara menatap Aldi tak kalah terkejutnya. Bagaimana bisa laki-laki itu ada disini, batin Ara.


"Ara kenapa bengong," panggilan dari Aura itu membuat Ara tersadar dan menatap perempuan yang juga menatapnya.


"Ayo duduk, itu dokternya udah nungguin. Kasian kamu sama dede bayi kalau kelamaan berdiri," lanjut Aura membuat Aldi makin tidak mengerti maksud dari ini semua. Dede bayi? Jangan bilang jika Ara sudah.... Ah sial Aldi benar-benar dibuat bingung.


Tanpa kata Aldi beranjak dari duduknya saat Ara dan Aura berjalan mendekat dan hendak duduk di kursi depan dokter Anin.


"Pagi Ara," sapa dokter Anin.


Ara hanya tersenyum kikuk, masih syok dengan kehadiran Aldi yang tiba-tiba.


"Dok itu siapa?" bisik Aura pada dokter Anin. Sedari tadi, dia sudah ingin menanyakan itu.


"Ohh itu anak saya, dia datang kesini mau pamit dia hari ini mau balik katanya ada panggilan dadakan dari kantor tempat dia bekerja. Padahal ini masih hari liburnya," jawab dokter Anin.


Aura mengangguk mengerti sedangkan Ara langsung menatap Aldi yang juga sedari tadi menatapnya. Pikiran Ara tiba-tiba kosong, dia tidak tahu harus bereaksi seperti apa.


"Apa ada keluhan selama seminggu ini?" pertanyaan itu mengalihkan atensi Ara. Perempuan berhoodie hitam itu menatap dokter Anin sambil menggeleng pelan.


Selang beberapa menit, pemeriksaan selesai dan Ara mendapat beberapa arahan dari dokter Anin yang intinya jangan terlalu lelah dan banyak pikiran, ama seperti minggu kemarin. Hanya itu yang masuk ke kepala Ara. Selama pemeriksaan berlangsung pun, Aldi masih berada di ruangan itu, memperhatikan setiap gerak gerik Ara yang tak pernah mau melihatnya.

__ADS_1


Saat didepan klinik, Ara dikejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba menariknya menjauh dari Aura. Aura yang kaget hendak mengejar namun berhenti saat mendapat kode dari Ara bahwa dirinya akan baik-baik saja. Dia juga menerima pesan dari perempuan itu untuk pulang lebih dulu.


"Apa maksudnya ini semua, Ra?" tanya Aldi dengan nafas memburu, menghempaskan tangan Ara yang sedari tadi dia genggam. Matanya menyorot Ara dengan tajam, entah apa yang membuatnya semarah ini. Keduanya berada di taman samping klinik yang memang sangat sepi.


"Kamu hamil, kenapa gak bilang?" tanyanya lagi.


"Sama siapa?"


"JAWAB ARA,"


Ara tersentak kaget saat Aldi tiba-tiba membentaknya. Ara takut tapi sebisa mungkin mengendalikan ekspresi wajahnya. Ara menghela nafas pelan, mungkin ini saatnya dia menceritakan segalanya pada Aldi.


Dengan perasaan campur aduk, Ara mendongak menatap Aldi yang sedari tadi menatapnya dengan tajam.


"Duduk disitu, aku jelasin semuanya," jawab Ara menarik Aldi duduk di bangku taman. Dia lelah berdiri terlalu lama.


Ara menghela nafas pelan menatap lurus kedepan berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengatakan yang sejujurnya pada Aldi.


"Selain masih ada dia dihati aku, ini alasan aku gak bisa terima kamu," ujar Ara memulai ceritanya. Sedangkan Aldi hanya menatap Ara dalam diam, menunggu kelanjutan cerita perempuan disampingnya itu.


"Aku hamil sudah empat minggu lebih. Ceritanya panjang kenapa sampai bisa seperti ini, aku yang memilih pergi dan hidup berdua dengan anak ku,"


"Sama siapa?" tanya Aldi pelan. Tatapan tajamnya berganti dengan tatapan teduh saat melihat wajah Ara yang menampakkan kesedihan.


"Sekitar 5 bulan yang lalu kejadian tidak mengenakkan terjadi sama aku dan tunangan aku. Hari itu acara perusahaan baru saja selesai. Aku tidak tau kejadian apa yang terjadi setelah pulang dari pesta itu. Aku yang memang tinggal di apartemen tunangan ku malam itu pulang cepat karena permintaan adik ku. Semuanya berjalan seperti hari biasanya, aku pulang ke apartemen, lalu tidur. Tapi tengah malam, tunangan aku datang. Dia lupa aku tinggal di sana. Dia yang berada dalam pengaruh obat hendak menenangkan diri di sana tapi kehadiran aku membuat semuanya runyam. Dia memaksa ku melakukan itu. Awalnya aku marah tapi setelah dia menjelaskannya aku paham dan aku berusaha ikhlas menerima itu semua", ujar Ara panjang lebar.


"Semuanya kembali membaik dan berjalan seperti hari-hari sebelum kejadian itu, tapi saat aku dinyatakan hamil, aku dapat sesuatu yang buat hati aku sakit. Dia mengkhianati aku dan itu sebabnya aku pergi,"


Ara menarik nafas kasar berusaha meredam rasa sesak dihatinya. Jujur, dia benar-benar tidak ingin membuka luka itu tapi apa boleh buat, sekarang dia harus menceritakannya pada Aldi.


"Jadi kalian?"


"Iya, kami belum menikah. Aku hamil diluar nikah. Aku sempat mau ngasih tau dia tapi aku lebih dulu tau kabar tentang dia yang mengkhianati aku. Aku sebenarnya gak mau percaya tapi mata kepala aku sendiri yang memastikan kalau itu dia,"


Aldi diam menatap Ara, apa serumit ini hidup perempuan yang sekarang dia suka.


"Kamu mau kalau aku yang tanggung jawab?" tanya Aldi.


Ara melotot lalu menatap Aldi tajam, bagaimana bisa kalimat seperti itu keluar dari mulut Aldi tanpa beban dan tanpa pikir panjang sebelumnya.


"Kamu jangan bercanda,"

__ADS_1


"Aku gak bercanda," sahut Aldi tegas.


Ara menghela nafas pelan, menggeser tubuhnya hingga berhadapan dengan Aldi. Perempuan dengan hoodie hitam dan rambut digerai itu menatap Aldi dengan sorot teduh penuh ketenangan.


"Aku gak mau. Selain karena kamu berhak dapat yang lebih baik, aku juga udah memilih hidup berdua dengan anak aku. Banyak yang jadi pertimbangan, Al. Apalagi keluarga kamu. Oke kalau kamu gak masalah terima aku yang kayak gini, tapi bagaimana dengan keluarga besar kamu, apa mereka menerima kamu menikah dan bertanggung jawab atas apa yang gak kamu lakukan?. Jangan khawatir, Al, aku akan tetap hidup dengan baik dan akan tetap kuat." ujar Ara memberi pengertian.


Aldi menghela nafas pelan, benar yang dikatakan Ara. Keluarganya pasti tidak akan terima, tapi apa itu tidak bisa diperjuangkan?. Aldi menatap mata Ara, mengusap lembut pipi perempuan itu. "Aku maunya kamu," ujar Aldi pelan.


"Kita cukup jadi teman ya, ini keputusan aku dan aku harap kamu bisa terima," sahut Ara.


"Aku mohon," pinta perempuan itu. Aldi diam-diam menghela nafas pelan. Haruskah dia menuruti perkataan Ara?


"Aku sore ini pulang, ada kerjaan dadakan," ujar Aldi mengalihkan pembicaraan.


"Kamu pergi bukan karena aku kan?"


Aldi terkekeh pelan mendengar ucapan Ara. Sebenarnya salah satu alasan Aldi menerima tawaran menggantikan temannya bekerja karena ingin menjauhi Ara sejenak, berusaha mengerti dan menerima keputusan Ara.


"Enggak, emang ada kerjaan. Dadakan banget jadi pulangnya juga dadakan," jawab Aldi.


"Kamu harus janji sama aku, kalau aku gak disini kamu harus jaga diri, jangan kecapean, banyak istirahat dan makan teratur. Jangan tidur larut malam dan jangan melakukan hal-hal berat," peringat Aldi membuat Ara tertawa.


"Siap," sahutnya dengan senyum manisnya.


...-To be continued-...


Hai Hai, jumpa lagi kita.


Maaf yaa kemarin gak update, lagi sibuk banget. Mau update malam tapi gak keburu.


Terima kasih karena masih setia menunggu, jangan lupa like dan komennya yaa.


By the way HAPPY NEW YEAR.


Kalau tahun kemarin banyak mengecewakan atau sedihnya, semoga tahun ini akan lebih baik lagi.


Semangat terus kalian, buat yang sedang berusaha untuk sesuatu jangan pernah menyerah yaah.


Jaga kesehatan kalian dimana pun kalian berada.


Love you ❤

__ADS_1


See you soon 🥰😘


__ADS_2