
Tak henti-hentinya bibir tipis Ara meringis merasakan sakit pada perut yang menjalar ke pinggangnya. Bahkan mata sembab yang sejak tadi menangis itu terpejam, menikmati rasa sakit yang begitu luar biasa menyerangnya.
"Dok..." panggilnya lemah pada dokter Nada yang sedari tadi memang berbagai peralatan dan juga mengecek kondisinya.
Dokter Nada mendongak menatap Ara yang kini menatapnya penuh harap. Dokter itu hanya diam menunggu Ara melanjutkan ucapannya.
"Keadaan suami saya bagaimana?" tanya Ara sangat pelan.
Dokter Nada menghela nafasnya saat mendengar pertanyaan dari pasiennya yang sekarang lebih butuh pertolongan, namun dia masih sempat-sempatnya bertanya tentang keadaan suaminya.
"Ketuban kamu sudah pecah, Ara. Syukur karena benturan yang terjadi saat kecelakaan tadi tidak keras hingga membuat anak mu masih baik-baik saja. Tapi saya tetap akan memintamu memilih antara operasi atau tidak, karena ini cukup beresiko untuk kamu nantinya," ujar dokter Nada panjang lebar tak menghiraukan pertanyaan Ara.
"Saya mau melahirkan normal..." ucap Ara tersendat karena rasa sakit itu kembali menjalar di perutnya membuat air mata yang tadi sudah berhenti sekarang kembali mengalir.
"Tapi tolong, panggilkan suami saya. Saya mau melahirkan ditemani suami saya," lanjutnya memohon.
"Tapi..."
"Masih ada waktu kan dok?" tanya Ara membuat dokter Nada terus memandangnya. Memang masih ada karena perempuan itu baru memasuki pembukaan lima jika memang perempuan itu memilih melahirkan normal.
"Saya mohon dok, suami saya sekarang pasti sudah sadar dan mau menemani saya," potong Ara cepat. Alasan dia ngotot ingin ditemani Gio adalah dia ingin melihat keadaan suaminya karena tidak mungkin jika dia yang berjalan menemui Gio sedangkan perutnya sudah sangat sakit.
Dokter Nada kembali menghela nafas, daripada terus berdebat dan semakin mengulur waktu lebih baik dia iyakan saja kemauan pasiennya ini. Dia juga paham betul apa yang dirasakan Ara sekarang. Tak menunggu lama, dokter Nada keluar dari ruangan untuk mencari Gio.
"Sabar ya, nak. Kita tunggu papa dulu. Papa harus liat baby lahir," ucapnya lirih mengelus perutnya.
"Sakit sekali, Tuhan," lirihnya dengan air mata mengalir deras.
Ini begitu menyakitkan terlebih lagi dia sedari tadi tidak tenang memikirkan kondisi Gio yang pingsan sebelum mereka ke rumah sakit.
Sedangkan di luar rungan Ara, semua orang dibuat menangis dengan permintaan Ara yang mereka rasa tidak akan terkabul, apalagi mengingat kondisi Gio yang masih belum sadar.
"Saya yang akan menemaninya," kalimat dari seseorang itu memotong ucapan Kevin begitu saja.
Ditengah kebingungan yang melanda beberapa orang tersebut, suara yang tiba-tiba terdengar mengalihkan fokus mereka dan betapa terkejutnya mereka saat melihat sosok laki-laki dengan balutan pakaian rumah sakit beserta perban dikepalanya berdiri tepat dibelakang mereka.
"Abang..." panggil Vio bergerak cepat mendekat pada putranya.
Benar, Gio sudah sadarkan diri. Meski keadaannya masih belum stabil, bahkan kepalanya begitu berat dan sakit tapi dia masih saja memaksakan diri untuk menemui dan menemani istrinya.
"Abang baik bunda," ucap Gio melihat raut khawatir bundanya.
"Sebaiknya izinkan Gio menemui istri Gio sekarang," lanjutnya yang langsung diangguki semua orang termasuk dokter Nada yang sudah kembali masuk kedalam ruangan. Begitupun Gio yang hendak menyusul. Namun, langkahnya terhenti saat tangan mungil Gea menahannya.
"Tangan abang," peringatan Gea melihat darah mengalir pada tangan kakaknya. Pasti Gio mencabut paksa infusnya tadi.
"Gak papa, kakak ipar mu lebih penting," setelah mengatakan itu, Gio melangkah memasuki ruangan tempat dimana istri dan anaknya berada.
"Gii..." panggil Ara melihat Gio berjalan mendekat.
Dengan tergesa-gesa Gio mendekati Ara den menggenggam tangan istrinya.
"Kamu gak papa?" tanya Ara dengan tangis yang sudah mulai berhenti. Tangan gemetarnya terangkat mengusap kepala yang terbalut perban itu.
"Gak papa sayang," jawab Gio lembut dan mencium kening Ara.
"Kenapa bisa seperti ini, Gio?" tanya dokter Nada mengalihkan atensi keduanya.
"HPL istri mu sudah dekat dan kalian melakukan perjalanan jauh. Ditambah lagi perut Ara tadi terbentur akibat kecelakaan. Untung saja semua masih bisa dikondisikan," terang dokter Nada menghela nafas.
Dengan cepat Gio menoleh pada Ara yang meringis pelan. Dia tidak tau perut Ara terbentur karena seingatnya dia sudah berusaha menahan tubuh perempuan itu.
"Dok, sebenarnya sejak pagi tadi saya sudah melihat tanda-tanda akan melahirkan, bahkan ada fleknya keluar. Pinggang pun sesekali nyeri...."
"Kenapa kamu gak bilang?" potong Gio menatap Ara.
Tak ada jawaban hanya ringisan yang semakin menjadi. Gio gelapan melihat Ara kesakitan. Ara semakin mengeratkan genggaman tangannya saat merasakan sakit yang luar biasa menyerangnya. Air mata perempuan itu kembali mengalir. Melihat itu, dokter Nada segera mengecek keadaan Ara dan mempersiapkan persalinan yang sebentar lagi akan dilakukan.
...❤❤...
"Sekali lagi, Ra" dokter Nada terus memberikan arahan pada Ara untuk mendorong bayinya keluar.
__ADS_1
Jam sudah menunjukkan pukul 8 malam saat perempuan cantik itu berusaha melahirkan anaknya dengan selamat. Didampingi Gio yang selalu memberinya semangat dan membisikkan kata-kata cinta untuknya, Ara berusaha sekuat tenaga. Air matanya mengalir mengingat bundanya. Apa seperti ini juga yang di alami bundanya dulu saat melahirkan. Bohong jika Gio sekarang merasa baik-baik saja. Dia juga sakit dan tersiksa melihat Ara yang sedang berusaha melawan rasa sakitnya. Rasanya dia ingin menukar posisi mereka saja.
"Tarik rambut aku kalau kamu gak tahan," ucap Gio pelan membuat Ara menggeleng. Dia tidak sanggup lagi mengeluarkan suaranya. Hanya genggaman tangannya yang dia pererat pada tangan Gio.
Ara menarik nafas lalu kembali berusaha mendorong anaknya keluar. Dia berjanji akan melahirkan anaknya dengan selamat malam ini. Rasa sakit dan air mata yang terus mengalir membuktikan bahwa perjuangan seorang ibu sangatlah besar untuk melahirkan satu nyawa ke dunia. Sedangkan di sampingnya, Gio ikut meneteskan air mata saat melihat perjuangan Ara. Tangannya terus menggenggam tangan Ara begitu erat. Sesekali mengusap dan mencium kening Ara dengan sayang.
"Gak kuat," lirih Ara mendongak, menatap Gio dengan sendu.
Gio menggeleng pelan. "Kamu kuat sayang. Kamu bilang mau besarin anak-anak sama aku," ujar Gio.
"Ayo semangat. Setelah ini kita akan membesarkan baby sama-sama. Aku sayang kamu, Aku cinta kamu. Ayo, sedikit lagi," ujar Gio memberi semangat.
"Bunda dan Ayah menunggu kita diluar, sayang. Jangan nyerah," lanjutnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ayo, Ara. Kasian bayinya," ucap dokter Nada.
Ara mendongak menatap Gio yang tersenyum kepadanya. Senyum manis suaminya yang membuatnya sedikit lebih tenang. Perempuan itu mengambil nafas panjang dan kembali berusaha melahirkan anaknya.
Oek oek oek
Bersamaan dengan suara tangisan bayi itu, air mata Ara dan Gio jatuh, sedangkan dokter Nada mengucap syukur. Gio untuk beberapa menit tak mempedulikan bayinya yang kini dibersihkan. Dia terus menatap wajah istrinya yang menatapnya sayu. Senyum tipis Ara membuat Gio terdiam dengan mata berkaca-kaca. Dengan segera memeluk istrinya dan menangis bahagia. Tak ada hari yang lebih bahagia dari hari ini.
"Terima kasih. Terima kasih sudah berjuang untuk melahirkan anakku dengan selamat," ucap Gio dengan suara bergetar mencium setiap sudah wajah Ara.
"Mau bobo sebentar. Capek," adu Ara yang justru membuat Gio kembali panik.
"Dok.." panggilnya panik. Namun saat merasakan genggaman pada tangannya, Gio menoleh pada Ara.
"Gak papa, Gio. Cuma mau istirahat sebentar," kata Ara menenangkan.
"Biarkan istrimu istirahat tuan muda," ujar dokter Nada.
Gio mengangguk dan membiarkan Ara beristirahat. Kata 'tidur' tadi membuatnya takut apalagi saat melihat wajah pucat dan mata satu istrinya.
...💗💗💗...
Dengan tangan bergetar, Gio menerima bayi kecil yang baru saja diberikan padanya.
Tangannya mengelus puncak kepala bayi mungil itu lalu turun mengelus pipi merah nanhalus milih anaknya. Setelah mengadzani anaknya, Gio berjalan mendekat kearah istrinya yang sedari tadi memandangnya.
"Anak kita," ucapnya parau memperlihatkan anaknya pada Ara.
Ara mengangguk. Dengan mata yang berkaca-kaca menatap Gio yang terlihat begitu bahagia hari ini. Laki-laki itu tak berhenti memandang wajah bayi kecilnya.
"Mau gendong," pinta Ara yang langsung diangguki Gio. Dengan perlahan bayi itu berpindah pada ibunya. Ara mengelus pipi bayi kecil itu lalu mencium keningnya.
"Anak mama," ucapnya pelan.
Gio duduk didepan Ara dan mengusap pipi istrinya dengan lembut. Tatapan cinta selalu dia berikan pada Ara. Senyumnya mengembang sempurna melihat Ara menggendong bayi kecil yang bahkan sampai sekarang dia rasanya masih seperti mimpi bahwa dia memiliki anak. Sungguh, demi Tuhan, dia sangat bahagia.
"Terima kasih," ucapnya begitu lembut dan tulus.
"Terima kasih karena mau mengandung anak ku. Terima kasih sudah berjuang keras melahirkan anak ku." ucapnya menatap Ara intens.
"Kita rawat sama-sama anak kita," pinta Ara yang langsung diangguki. Setelahnya Gio mencium kening Ara cukup lama lalu berpindah pada bayi yang masih anteng tidur.
Selang beberapa detik, ruangan Ara menjadi ramai saat orang-orang yang tadi menunggunya satu persatu memasuki ruangan itu. Bahkan kini bertambah, Veronica beserta putrinya dan juga anak dari Gea sudah ada disana.
"Selamat sayang," ucap Vio memeluk tubuh Ara.
Sedangkan Gio menatap ayahnya yang masih terdiam menatapnya. Detik berikutnya laki-laki paruh baya itu memeluk Gio dengan erat.
"Putra ayah sudah menjadi ayah sekarang. Selamat," ucapnya melepas pelukan keduanya.
"Tanggung jawab mu makin besar bang. Jaga anak dan istrimu, jangan pernah sakiti mereka," perintah Kevin.
"Pasti, Yah," jawab Gio dengan tegas.
Kevin menepuk punggung putranya dan tersenyum dia tahu putranya adalah orang yang bertanggung jawab dan selalu bisa diandalkan.
Setelah Kevin mundur hendak melihat cucunya, seseorang melangkah maju ke hadapan Gio. Gio hanya diam memandangi Ken yang kini masih terdiam. Saat hendak berbalik, suara Ken menghentikannya.
__ADS_1
"Selamat Gii dan maaf sekali lagi," ucap Ken begitu tulus.
Gio hanya memandangnya lama. Begitupun semua orang yang juga ikut menatap keduanya, menunggu apa yang akan terjadi.
Diluar perkiraan Ken dan semua orang, Gio justru tersenyum dan memeluk tubuh Ken. Dia sudah memaafkan semuanya. Ini semua karena istrinya yang tidak henti selalu memberinya saran tanpa membela dan menyudutkan siapa-siapa.
"Gue maafin. Kita mulai semuanya dari awal," ucap Gio setelah melepas pelukannya.
Ken tersenyum tipis begitupun semua orang yang ada disana. Mereka ikut lega melihat keduanya berbaikan. Ara menggenggam tangan Gio yang berdiri tak jauh darinya. Senyum manis langsung menyambut Gio begitu laki-laki itu menoleh.
Setelah itu semuanya bergantian mengucapkan selamat. Bayi kecil Ara sekarang sudah berpindah ke tangan bunda Vio yang sekarang duduk disofa bersama yang lain. Sedangkan Gio menyuapi Ara makan.
"Adekna pelempuan atau kayak Al?" suara lucu itu berhasil mengalihkan fokus Ara dan Gio. Suara dari keponakan kesayangannya yang sejak tadi menatap anaknya sambil memencet-mencet pelan pipi bayi kecil itu.
Ara terkekeh pelan lalu menatap Gio yang juga menatapnya. Bahkan tangan Gio sudah mengelus pipinya lembut. Laki-laki itu menoleh menatap Al yang kini menatapnya meminta jawaban. Anak umur 1 tahun itu masih menunggunya. Bahkan orang-orang sudah menatap Al dan Gio dengan senyum kecil.
"Bayinya cowok sayang. Sama kayak Al," jawab Gio.
"Belalti Al ada temen dong," sahut anak itu antusias yang langsung diangguki Gio.
"Al senang?" tanya Ara.
"Seneng banget," sahut Al membuat semua orang tertawa. Anak itu benar-benar pintar dan cepat tanggap.
"Namanya siapa, Gii?" Arsal itu angkat bicara.
Ara terdiam. Bahkan dia belum membicarakan itu dengan Gio tapi beda dengan Gio yang kini tersenyum tipis menatap Ara lalu kembali menatap semua orang yang menunggu jawabannya.
"Sagara Argian Ananda. Bisa di panggil Argi," jawab Gio membuat Ara tersenyum ternyata Gio sudah menyiapkan semuanya.
"Argi?" pertanyaan itu meluncur dari mulut Kanaya, istri Arsal yang sejak tadi diam. Gio hanya mengangguk.
"Berarti gabungan nama kakak doang. Argi, Ara dan Gio," celetuk perempuan yang juga sedang mengandung beberapa bulan.
Senyum Gio semakin melebar mendengarnya, karena itu memang benar. Dia sengaja memberi nama putranya yang merupakan gabungan namanya dan juga Ara.
"Namanya bagus," ucap Ara tiba-tiba.
Gio kembali menoleh pada Ara, "suka?" tanyanya yang dibalas anggukan.
Setelahnya Gio mendapat pelukan hangat dan erat dari istri tercintanya itu. Gio mengecup puncak kepala Ara dengan sayang. Sungguh, dia masih tak menyangka setelah apa yang mereka lalui, akhirnya mereka berhasil sampai dititik sekarang ini. Dia sangat bahagia. Laki-laki itu mengalihkan pandangannya pada kumpulan orang-orang yang kini bercanda dan mengajak bayinya bermain meski bayi itu hanya sesekali menggeliat. Lalu kembali menatap Ara yang kini mendongak menatapnya tanpa melepas pelukannya. Setelah melahirkan, istrinya itu semakin cantik membuatnya terus jatuh cinta.
"Terima kasih untuk segalanya, Gio. Aku sayang kamu, sekarang, nanti dan seterusnya sampai kita ke keabadian." ucap Ara tiba-tiba membuat Gio tersenyum dan mengusap rambut istrinya.
"I Love You More than anything. Terima kasih sayang." ucap Gio mengecup sekilas bibir istrinya.
...-The End-...
"Pada akhirnya semua akan berakhir happy ending. Jika sekarang kamu merasa sedih, berarti kamu belum sampai di ending itu"
~day 💗
Hai selamat malam.
Apa kabar kalian ?? Aku harap selalu sehat dan baik.
Gak terasa, Kisah Gio dan Ara akhirnya selesai. Rasanya masih gak percaya bisa menyelesaikan ini semua ditengah keadaan aku yang juga harus berjuang menyelesaikan tugas akhir ku. Terima kasih banyak untuk semua pembaca ku yang selalu menunggu ku update meski kadang lama. Terima kasih atas dukungannya, Terima kasih sudah menemani ku, Gio dan Ara sampai akhir. Maaf jika endingnya kurang ngefeel di kalian, aku akan berusaha terus memberikan yang terbaik.
Setelah ini aku akan buat sequel dari cerita Gio dan Ara, tungguin yaaa. Tentang perjalanan anak-anak mereka yang pasti tak kalah menyenangkannya dan buat kalian semua baper, tapi sebelum itu extra part juga akan ku usahakan untuk update.
Ayo kembali menjelajah di ceritaku yang lain nantinya :)
I LOVE YOU SO MUCH 💗💗
Gak tau lagi mau bilang, intinya Terima kasih dan sampai bertemu di cerita ku yang lain.
Salam sayang untuk kalian dia pun berada.
Tertanda.
day.
__ADS_1
Author