
Ara menghela nafas pelan melihat tingkah Gio. Sejak tadi, dirinya tak bisa bergerak karena Gio yang menjadikannya guling. Sikap manja laki-laki itu kini kembali.
"Pake bajunya dulu," kata Ara hendak melepas pelukannya. Sedari tadi laki-laki itu belum memakai bajunya saat terakhir kali dia memperlihatkan bekas jahitan di perutnya. Jangan berfikir macam-macam, mereka hanya rebahan dengan posisi Gio yang memeluknya erat, bukan melakukan hal lebih jauh dari itu. Gio tidak akan melakukan itu lagi.
"Nda mau," rengeknya.
"Manja banget sih,"
"Biarin, dua tahun gak bisa gini jadi harus kamu bayar,"
Ara menghela nafas pelan. Rasanya dia ingin sekali menenggelamkan Gio yang seperti ini. Bukan, bukan dia tidak suka tapi dia gemes pada laki-laki yang masih memeluknya erat.
"Kangen banget," ucap Gio entah yang keberapa kalinya.
"Maaf," ujar Ara.
Gio mendongak menatap Ara yang juga menatapnya. Gio hanya diam menunggu kelanjutan ucapan Ara.
"Maaf untuk dua tahunnya yang gak berkesan apa-apa, maaf untuk dua tahunnya yang menyakitkan, maaf karena tidak percaya sama kamu, maaf karena ninggalin kamu dan maaf karena hasutan orang lain aku membiarkan kamu sendirian," ucap Ara.
"Jangan minta maaf, kalau seandainya aku jujur sama kamu lebih awal semuanya gak akan kayak gini," balas Gio.
"Jadi kurus gini, matanya juga kenapa jadi gini?" tanya Ara mengusap dengan lembut mata Gio.
"Kurang tidur," cengir Gio.
"Sekarang harus lebih bisa jaga diri yaa, aku kan udah balik," sahut Ara, Gio mengangguk sambil terus mengamati wajah Ara yang kini sibuk memperhatikannya dan mengelus rambutnya.
Perlahan, tangan Gio yang melingkar dipinggang Ara terlepas. Tangan Gio beralih mengusap pipi Ara dengan lembut lalu hidung dan terakhir di bibir. Gio mengelus bibir pink itu dengan lembut.
"Boleh?" tanya Gio meminta izin.
Ara mengerjap beberapa kali dan menatap Gio dengan tatapan kagetnya. Jantung Ara berdetak cepat saat kembali merasakan usapan lembut pada bibirnya itu.
"Boleh gak?" tanya Gio lagi.
Ara hanya diam memandangi Gio. Melihat itu, Ara yang tak memberi respon apa-apa, Gio mendekat dengan mata yang tak lepas dari bibir ranum yang sedari tadi menarik perhatiannya. Saat hidung mancung keduanya bersentuhan, Ara menutup matanya. Merasa diberi akses, Gio tersenyum tipis lalu dengan segera mempertemukan bibirnya dengan bibir Ara.
Ara mencengkram lengah Gio saat benda kenyal itu menempel tepat di bibir nya, apalagi saat gerakan lembut dari Gio membuatnya semakin berdebar. Cukup lama membiarkan Gio bermain dengan bibirnya sendirian, Ara akhirnya membalas lu*atan Gio.
Laki-laki itu semakin menekan tengkuk Ara untuk memperdalam ciumannya. Gio ******* lembut bibir kekasihnya, menyalurkan rasa sayangannya yang dibalas tak kalah lembutnya oleh Ara.
Ciuman pertamanya lagi setelah dua tahun berlalu, setelah terpisah lama, akhirnya Gio bisa merasakan itu lagi dengan perempuan yang begitu dia cintai. Gio melepas pangutannya lalu menatap Ara dengan teduh, tangannya terulur mengusap pipi Ara yang sudah memerah.
"I love you so much," bisik Gio dengan suara beratnya.
Gio kembali memeluk Ara erat, seolah tak ingin Ara lepas sedetik pun darinya.
__ADS_1
"Besok kita nikah, gak ada bantahan lagi. Aku udah suruh asisten aku buat urus semuanya," ujar Gio. Ara melotot kaget, hendak protes tapi melihat tatapan tajam Gio, Ara mengurungkan niatnya. Beginilah jika punya kekuasaan, apa-apa hanya tinggal terima beres saja. Toh juga tidak ada yang salah dari rencana Gio, hanya saja ini terlalu cepat untuknya.
"Jangan pernah pergi lagi, aku hancur kalau kamu gak ada," ucap Gio. Ara mengangguk pasti, dia pasti tidak akan meninggalkan Gio lagi, dia janji akan hal itu.
Gio mengelus kepala Ara, lalu turun ke punggung dan menyusup masuk pada kaos Ara. Tangan besar laki-laki itu mengelus lembut perut rata Ara.
"Kemarin gak ada dede bayi ya disini?" tanya Gio spontan.
Gio mengingat saat malam itu mereka melakukannya tepat sekali dengan masa subur Ara, dia iseng bertanya siapa tau bibitnya unggul dan bisa langsung jadi. Sedangkan yang ditanya langsung menegang ditempatnya. Ara menghela nafas berat dan panjang, raut wajahnya berubah muram dan itu disadari betul oleh Gio.
Gio bangun dari rebahannya lalu menarik Ara untuk ikut duduk menghadapnya. Mata perempuannya itu berkaca-kaca setelah Gio melontarkan pertanyaan itu.
"Kenapa hmm?" tanya Gio.
"Aku ada salah bicara, aku minta maaf," ujar Gio mulai panik.
"Sayang, bicara. Aku ada salah ngomong, aku minta maaf, aku gak maksud buat ungkit itu. Aku...."
Ucapan Gio terhenti saat tiba-tiba Ara menubruk tubuhnya memeluknya dengan erat. Yang semakin membuat Gio tak mengerti sekaligus panik adalah saat tiba-tiba Ara menangis sesenggukan. Apa ucapannya tadi begitu menyakiti hatinya sampai Ara menangis sekeras itu.
"Sayang..." panggil Gio lembut, sangat lembut.
Laki-laki itu melepas pelukan perempuannya lalu menangkup pipi Ara, menghapus air mata Ara yang masih mengalir dengan begitu derasnya.
"Ada apa?" tanya Gio lembut.
"Maaf," ucap Ara pelan.
"Untuk?" tanya Gio.
Ara menelan salivanya lalu beranjak mengambil paper bag yang tadi ada diatas nakas. Ara kembali duduk didepan Gio membuat Gio terus memperhatikan gerak-gerik perempuan itu. Ara mengambil beberapa foto dan sebuah benda kecil yang semakin menambah kebingungan Gio. Laki-laki tak bertanya apa-apa, dia hanya terus menatap Ara dalam diam menunggu apa yang akan Ara lakukan.
Perempuan itu menyodorkan beberapa foto dan benda kecil itu pada Gio. Benda yang sudah bertahun-tahun dia simpan. Laki-laki itu menatap bergantian pada Ara dan benda tersebut lalu mengambilnya. Mengamati apa yang Ara sodorkan. Raut wajah Gio tak berubah sama sekali justru semakin bingung, tidak mengerti apa yang Ara berikan.
"Foto USG dan tespek aku beberapa tahun lalu. Setelah kejadian malam itu, aku hamil anak kamu," ujar Ara menjelaskan yang membuat Gio langsung menatapnya dengan cepat.
"Benarkah?" tanya Gio dengan mata berbinar bahagia.
Ara mengangguk pelan lalu kembali menunduk memainkan tangan Gio yang menggunakan gelang hitam dengan bandul gembok.
"Terus sekarang dede bayi dimana?" tanya Gio dengan antusias.
Hal itu membuat hati Ara semakin sakit saja melihat raut bahagia Gio saat dia bertanya tentang anaknya. Mata laki-laki itu tak lepas memandang foto hasil USG Ara yang terakhir kalinya, bahkan senyumnya tak pernah hilang sedikit pun.
"Dede bayi...." ucapan Ara menggantung membuat Gio semakin tak sabar menunggu jawabannya.
"Iya, dimana?" tanya Gio lagi.
__ADS_1
Ara menghela nafas pelan lalu mendongak menatap Gio. Tangannya terulur mengusap pipi Gio lembut dengan mata berkaca-kaca. Gio meraih tangan Ara lalu menggenggamnya erat, menunggu jawaban perempuan itu.
"Maaf," ujar Ara pelan dengan rasa sesak didadanya.
"Dede bayi udah gak ada," lanjutnya pelan, sangat pelan bahkan hampir tak terdengar. Gio mengerjapkan matanya menatap Ara tak percaya dan...bingung.
"Maksudnya gimana?" tanya Gio linglung.
"Aku gagal jaga dede bayi," jawab Ara.
Raut wajah Gio berubah datar dan dingin. Tatapannya masih terarah pada perempuannya. Tapi kali ini lebih datar dari sebelumnya. Melihat itu, Ara menggigit bibir bawahnya takut jika Gio marah padanya. Dengan memberanikan diri, Ara menatap Gio yang sedari tadi menatapnya.
"Aku gak sengaja. Makanan aku dicampur obat penggugur," lanjut Ara.
"Aku minta maaf," Ara langsung memeluk Gio dan menangis sejadi-jadinya. Gio diam meresapi setiap ucapan Ara. Setelah beberapa menit terdiam, Gio melepas pelukannya. Dengan rahang mengeras, wajah dan mata memerah menahan amarah, Gio memaksa Ara yang sudah menangis untuk menatapnya.
"Siapa?" tanya Gio.
Ara diam sembari menggeleng pelan. Tidak mungkin kan dia mengatakan yang sebenarnya, itu akan membuat hubungan keduanya semakin rusak.
"Siapa Ara?" tanya Gio memaksa yang masih dijawab gelengan kepala oleh Ara.
Gio berdiri dari duduknya, sambil menatap Ara yang masih duduk di kasur sambil menangis. Laki-laki itu menyambar baju kaosnya lalu kembali memakainya. Saat hendak melangkah keluar dari kamar, tangan mungil Ara menghentikan pergerakannya.
"Mau kemana?" tanya Ara.
"Jawab atau aku cari tau sendiri," ujar Gio.
Ara kembali terdiam. Apa yang harus dia lakukan sekarang, dia tidak ingin semakin merusak hubungan keduanya. Sudah cukup dimasa lalu yang membuat mereka jauh seperti ini.
"JAWAB ARA, SIAPA?" bentak Gio tidak tahan dengan keterdiaman Ara. Perempuan itu terlonjak kaget dan kembali menunduk takut.
"JAWAB," paksa Gio.
Ara terdiam cukup lama, melihat kemarahan Gio, Ara sudah tak berani lagi berbuat lebih jauh. Saat Gio hendak berbalik, suara Ara kembali menghentikannya. Sambil mengulurkan sebuah kotak yang masih dia simpan, Ara berujar pelan menyebut satu namanya yang membuat darah Gio mendidih seketika.
...-To be continued-...
Hai Hai, Author akhirnya update lagi, maaf yaa lama.
Gimana harinya?
Semoga selalu sehat.
Terimakasih banyak yang masih menunggu Author update. Lagi banyak tugas guys jadi waktunya kurang tapi Author akan usahakan yang terbaik.
Tungguin terus, Love kalian ❤
__ADS_1