
Sedangkan ditempat lain, malam yang begitu tenang ini dihabiskan kedelapan orang dengan cara berbeda. Kedelapan remaja itu duduk mengelilingi api unggun yang sengaja mereka buat dipinggir pantai, lebih tepatnya sedikit jauh dari bibir pantai. Gio yang duduk membelakangi air laut terus menatap api unggun dengan gitar yang dia pangku, sesekali memetiknya membuat irama nada yang dia ciptakan sendiri. Sedangkan Ara bersender pada bahu laki-laki itu sambil memejamkan mata. Bersama Gio adalah kenyamanan yang tak pernah dia lewatkan.
"Lapar", keluh Naya, kekasih Arsal.
"Iya, ini bentar lagi kok", sahut Arsal.
Mereka memang sengaja berkumpul dan mengadakan acara bakar-bakar ikan sebelum mereka kembali besok pagi. Yah malam ini akan menjadi malam terakhir dari liburan mereka yang menyenangkan.
Sedari tadi, Arsal, Gea, Dara, Zian dan Reyhan sibuk membakar ikan untuk makan malam mereka. Sedangkan Gio hanya fokus menatap satu persatu orang yang ada disana.
"Nyanyi dong, bang", giliran Dara kali ini yang bersuara.
Gadis itu mengetahui, suara dua saudara itu bukan lagi hal yang patut untuk diragukan. Hanya saja mereka yang kurang suka menunjukkan bakat mereka itu.
"Mau lagu apa?*, tanya Gio yang langsung mendapat lirikan maut dari Arsal.
"Wah tumben lo mau", katanya.
"Gabut", sahut Gio singkat.
Arsal menghela nafas jengkel, selalu saja jawaban singkat yang dia dapatkan.
"Dek, mau lagu apa?", tanya Gio lagi pada Dara.
"Orang yang sama dari virgoun", sahut Gea dari arah belakang yang langsung diangguki Dara.
"Oke", sahut Gio menyanggupi.
Semua kembali ke posisi semua melingkari api unggun dengan makan mereka masing-masing. Kebetulan acara bakar-bakar mereka sudah selesai. Ara menatap Gio yang sudah fokus pada permainan gitarnya. Intro yang Gio petik membuat semua mengalihkan tatapan padanya. Saat hendak mulai bernyanyi, Gio sedikit menggeser duduknya menjadi serong menatap Ara yang juga sedari tadi menatapnya.
*Teringat lagi hal yang buat hati ku
Jatuh cinta dengan hebatnya padamu
Hingga kini ku belum mampu percaya
Kau milik ku slamanya.
Sembari bernyanyi, Gio menatap dalam manik mata Ara yang juga masih menatapnya. Lagu ini pernah mereka dengar di live akustik malam itu.
Ku temukan arti cinta
Diwaktu hidup dengan mu yang tak terduga
Seperti nadi mu yang slalu denyutkan setia
Aku bahagia menjadi pemiliknya
Bagaimana bisa aku jatuh cinta
__ADS_1
Berulang kali, berulang kali pada orang yang sama
"I love you", bisik Gio tanpa suara tapi Ara masih bisa membaca gerak bibirnya. Ara tersenyum hangat, di tengah-tengah Gio menyanyi bahkan masih sempat-sempatnya laki-laki itu berujar seperti itu.
Terima kasih kau tetap disamping ku
Ditengah kencang badai hidup menerpa
Saat dunia memaksamu tuk pergi
Kau tetap setia.
Ku temukan arti cinta
Diwaktu hidup dengan mu yang tak terduga
Bila waktu izinkan kita menua bersama
Dimata ku indah mu tetaplah sama
Bagaimana bisa aku jatuh cinta
Berulang kali, berulang kali pada orang yang sama.
Ku temukan arti cinta
Diwaktu hidup dengan mu yang tak terduga
Seperti nadi mu yang slalu denyutkan setia
Aku bahagia menjadi pemiliknya
Pada aku yang jauh dari sempurna
Bila waktu izinkan kita menua bersama
Dimata ku indah mu tetaplah sama
Bagaimana bisa aku jatuh cinta
Berulang kali, berulang kali, berulang kali pada orang yang sama.*
Gio menyelesaikan nyanyiannya dengan senyum hangat disambut tepuk tangan dari kedua adiknya dan juga pacar Arsal. Malam ini benar-benar menyenangkan untuk 4 pasangan yang ada disana.
"Aaaaa sayang banget", rengek Gio langsung memeluk Ara gemas.
"Hah? ", kompak keenam orang yang menatap Gio dengan tatapan terkejut sekaligus bingung. Benarkan ini Gio?
Ara tertawa pelan melihat reaksi mereka. Gio yang cuek dan dingin sekarang sudah tidak ada, digantikan dengan Gio yang hangat dan manja jika ada Ara.
__ADS_1
"Udah iih, malu tau diliatin orang", kata Ara hendak melepas pelukannya.
"Biarin, mereka juga udah ada pacar, ngapain malu", sahutnya.
"BUCEEEEEN", seloroh ke-enam orang yang sedari tadi memperhatikan keduanya.
Pipi Ara memanas saat benda kenyal tiba-tiba menyentuh kedua pipi dan keningnya. Gio benar-benar tidak tau tempat.
"ABANGGGG.....", teriak Gea dan Dara kompak melihat Gio yang asal nyosor saja. refleks Zian dan Reyhan menutup mata kedua gadis itu, takut Gio melakukan lebih jauh lagi. Arsal dan Naya tak jauh berbeda dari kedua pasangan itu.
"Anjing, gak tau tempat banget sih lo", kesal Arsal.
"Gak usah iri deh, kalian kan punya pasangan masing-masing. Lakuin juga, gak usah banyak protes", kesal Gio.
Laki-laki itu benar-benar berubah menjadi lebih banyak bicara dan menyebalkan. Jika dulu dia diam saja kadang membuat Arsal kesal lalu bagaimana dengan sekarang, pasti lebih kesal lagi.
"Heh", Ara menatap Gio dengan tatapan garangnya.
"Sayang banget sih sama kamu, gak tau lagi deh. Mau minta ayah nikahin besok", celetuk Gio.
...---🍒🍒🍒---...
Ken yang sudah berbaring disamping Veronica. Ken benar-benar memaksa Veronica tinggal bersamanya dan meninggalkan keluarganya. Alasannya, dia tidak ingin kehidupan Veronica berujung seperti kehidupan gadisnya dulu.
Veronica menggeliat pelan membuat Ken mengalihkan tatapannya. Laki-laki itu sedari tadi belum juga tidur. Sedangkan Veronica sudah tertidur sejak tadi dengan tangan Ken yang menjadi bantalannya dan tangannya yang melingkar dipinggang Ken. Sebenarnya Veronica tidak ingin tidur berdua dengan Ken tapi laki-laki pemaksaan itu yang terus memaksa sampai akhirnya dia menyetujuinya, toh lagipula mereka sudah melakukan lebih dari ini beberapa jam yang lalu.
Ken menatap wajah tenang Veronica yang tengah tertidur. Gadis itu terlihat cantik dan tenang dalam tidurnya.
"Kalau lagi diam gini, manis banget. Beda kalau udah mode garang", Kata Ken terkekeh.
Ken menelusuri setiap inci wajah Veronica lalu turun ke area leher jenjang perempuan itu. Tercetak jelas beberapa tanda merah yang dia buat tadi membuatnya kembali teringat ke kejadian beberapa jam yang lalu. Ken tersenyum senang, meskipun bukan yang pertama untuknya tapi ternyata ini yang pertama untuk Veronica. Laki-laki tanpa atasan itu mengecup sekilas bibir Veronica lalu kembali menatap dinding kamarnya yang terdapat puluhan foto seorang gadis cantik, Aluna Georgia. Laki-laki tersenyum hangat. Entahlah, melihat foto Aluna sekarang tak lagi membuat hatinya se sesak dulu. Hatinya sedikit lebih tenang meski tak dipungkiri rasa itu masih ada.
"Kamu hadir lagi dalam bentuk yang berbeda ya?", tanyanya membatin.
"Atau Tuhan sengaja kirim dia buat nemanin aku tanpa mengganti posisi kamu?". Mata laki-laki itu terus menatap lurus pada kumpulan foto yang dia cetak.
"Aku belum tau, apa aku mencintainya atau tidak. Tapi percayalah, meski nanti aku punya orang baru, aku tidak akan pernah melupakan mu dan dia. Kalian akan tetap punya tempat tersendiri dihatiku", batinnya lalu kembali menatap Veronica.
"Tetap disini, dan jangan pernah tinggalin aku", gumamnya mengecup kening Veronica lalu hendak tertidur. Tapi belum juga menutup matanya, deringan pada ponselnya membuatnya berdecak kesal.
"Apa lagi?", tanyanya langsung saat menerima panggil tersebut.
"Lo gimana sih kak, katanya mau pisahin mereka, tapi kenapa masih aja deket, liburan barang lagi", kesal dari seberang.
"Lo tau gak yang namanya sabar. Main halus, bego. jangan gegabah", sahut Ken dan langsung mematikan ponselnya.
Liburan bareng? Ken meremas ponselnya kuat. Bahkan Gio sudah sejauh itu. Dia sekarang tidak boleh lengah, dia harus bisa memisahkan Ara dan Gio. Bagaimanapun caranya, dia harus memisahkan mereka. Dia ingin Gio tau bagaimana rasanya ditinggalkan orang yang kita cintai.
"Tunggu, Gii. Permainan akan segera dimulai",
__ADS_1
...--TBC--...