
...---Happy reading---...
Pagi-pagi sekali Ken sudah berada di jalan hendak menemui Ara. Pikirannya jadi tidak tenang setelah mendengar tempat kerja Ara yang baru. Dia harus mendengarkan langsung dari Ara, jangan sampai apa yang dia takutkan terjadi. Setelah beberapa menit mengendarai mobil, Ken tiba di rumah minimalis berwarna putih itu. Namun, belum sempat Ken masuk ke halaman rumah, sebuah mobil sport putih keluar dan meninggalkan rumah itu. Ken kenal siapa pemilik mobil itu, tanpa pikir panjang Ken membuntuti mereka dan mengikuti kemana mereka pergi.
Dalam mobil Ken terus bertanya-tanya apa sebenarnya hubungan Ara dan Gio, kapan mereka kenal dan sudah sejauh apa mereka sekarang.
Ken mengenal Gio ? Jelas, bahkan sangat mengenalnya dengan baik, ada kisah yang belum selesai diantara mereka dan Ken begitu benci jika harus menceritakannya atau hanya sekedar mengingat. Tapi jika itu akan terungkap, biarkan waktu yang kembali mengungkapnya dia cukup jalani saja tapi jika diperlukan dia yang akan membongkar semuanya. Apapun akan dia lakukan jika seseorang berani mengambil apa yang sudah menjadi miliknya.
Tanpa terasa mobil yang dia kendarai berhenti ketika mobil yang sedari tadi dia ikuti juga berhenti. Lapangan basket, tempat mereka sekarang. Tempat yang begitu Ken kenali, tempat yang sudah beberapa tahun belakangan tidak pernah dia kunjungi, tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan. Ken menggeleng pelan berusaha menghalau ingatan yang hendak masuk kedalam kepalanya.
Ken turun dari mobil dan memandang dari jauh apa yang dua orang itu lakukan. Dari sini Ken dapat mendengar dengan jelas perbincangan mereka dan melihat apa yang mereka lakukan. Ken tersenyum masam melihat senyum manis yang terbit dibibir Ara, jujur saja selama mengenal gadis itu, belum pernah sekalipun senyum itu timbul untuknya, bahkan jadi penyebabnya pun tidak pernah. Melihat Ara yang begitu enteng tertawa bersama Gio membuatnya panas sendiri.
"Aku sayang banget sama kamu, Raa", kata itu adalah kata terakhir yang Ken dengar sebelum benar-benar pergi dari tempat itu. Setelah berada dalam mobil, Ken memukul dengan keras stir mobilnya.
"Gio, Gio dan Gio. Kenapa selalu dia", teriak Ken dengan amarah yang sudah memuncak.
"Kali ini. Kali ini gue gak bakal biarin lo ambil apa yang udah jadi milik gue. Apapun caranya gue bakal ambil dia", kata Ken lagi.
Ken mengacak rambutnya frustasi, dia butuh pelampiasan untuk melampiaskan amarahnya. Melihat Gio memeluk Ara erat benar-benar membuatnya kepanasan.
"Aaarrggghh anjing", umpat Ken.
"Gio brengsek", segala umpatan keluar dari mulutnya. Tangannya tanpa henti memukul stir mobilnya keras. Bahkan dia sama sekali tidak merasakan sakit setelah melakukan itu.
"Tunggu saja, tuan muda".
...---🌻🌻🌻---...
Gio yang baru saja selesai membersihkan diri melangkahkan kakinya keluar kamar hendak menemui Ara. Namun tepat di ruang tamu, Gio melihat Ara yang sedang tidur nyenyak disofa. Gio mendekati gadis itu dan berjongkok disamping sofa.
"Cantiknya aku", gumam Gio pelan.
"Kecapean", kata Gio menyibakkan anak rambut yang menutupi wajah Ara.
"Baru juga segitu", kata Gio sambil terkekeh.
Tak ingin mengganggu tidur nyenyak gadisnya, Gio beranjak dan melangkah menuju dapur untuk membuat makan siangnya dengan Ara. Bahkan gadis itu belum makan dari pagi, Gio lupa jika tadi pagi dia langsung membawa Ara ke lapangan tanpa memberinya sarapan.
Akhir-akhir ini Gio moodnya semakin baik, tidurnya pun sudah lebih nyenyak tak seperti kemarin-kemarin sebelum Ara ada. Gio merasa dirinya sudah sedikit tenang sekarang, tapi meskipun begitu Gio tak lengah dan tak pernah hanyut dalam kebahagiaan. Dia sadar betul setiap hal didunia ini akan selalu ada timbal baliknya. Setiap kesedihan pasti ada kebahagiaan dan begitupun sebaliknya. Dia hanya bisa berharap dan terus berdoa agar kehidupannya kedepan selalu baik dan tidak ada permasalahan yang terlalu berat untuk dia hadapi. Dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan keluarga dan juga gadisnya, meskipun harus mengorbankan dirinya, dia tidak masalah yang jelas orang-orang yang dia sayang bahagia.
Saat hendak menuangkan makanan yang sudah dia masak kedalam piring, bersamaan dengan itu suara benda jatuh dan dari arah ruang tamu mengangetkannya. Dengan tergesa-gesa Gio meletakkan alat masak yang dia pegang lalu berjalan dengan cepat kearah ruang tamu. Tepat di pintu pembatas ruang tamu dan dapur, mata tajamnya menatap Ara yang sudah terduduk dilantai sambil mengusap pinggangnya.
"Kenapa ?", tanya Gio saat sudah sampai tepat dihadapan Ara.
"Jatuh", jawab Ara dengan mata berkaca-kaca. Rasa sakit pada pinggang yang terbentur lantai dan rasa kaget saat jatuh membuatnya jadi linglung.
Gio mengangkat tubuh Ara kembali duduk disofa dan memperhatikan raut wajah gadis itu.
"Kok bisa jatuh, kamu ngapain?", tanya Gio lagi.
Ara mendongak menatap Gio masih dengan mata yang berkaca-kaca, lalu pandangannya beralih pada vas bunga yang berserakan dilantai.
"Vas bunganya pecah. Maaf", kata Ara menunduk.
__ADS_1
"Gak papa. Sekarang cerita kenapa bisa jatuh gitu, yang mana yang sakit?", tanya Gio lembut.
"Pinggang", jawab Ara pelan seperti anak kecil yang ketahuan berbuat nakal, Ara mengusap pinggangnya pelan.
"Kenapa bisa jatuh?", tanya Gio lagi. Laki-laki tampan itu sekarang seperti seorang ayah yang mengurus anaknya. Melihat interaksi keduanya begitu menggemaskan.
"Tadi kan aku tidur, terus kaget. Pas mau balik badan eh tau-tau udah dipinggir sofa jadi jatuh deh", kata Ara menjelaskan.
"Terus gak sengaja kebentur meja jadi vas bunganya jatuh terus pecah kayak gitu", lanjut gadis itu sambil menunjuk vas bunga.
Mendengar penjelasan Ara membuat Gio terkekeh pelan, astaga gadisnya ini begitu menggemaskan. Tanpa sadar tangannya menyentuh lutut Ara membuat gadis itu refleks memukul lengan Gio.
"Kdrt mulu", kata Gio.
"Itu kamu pencet sakit", kata Ara menunjuk lututnya, dan benar saja lutut gadis itu sedikit memerah akibat mencium lantai apartemennya.
Gio beranjak membuka laci dekat tv lalu mengambil kotak obat dan mengobati luka Ara.
"Makanya jangan ceroboh", kata Gio sambil terus memberi obat merah pada lututu gadisnya. Ara tak membalas, dia fokus menatap ciptaan Tuhan yang ada dihadapannya ini.
"Udah ayo makan", ajak Gio membuat Ara mengangguk kaku.
...---🌻🌻🌻---...
Setelah makan siang, Gio dan Ara sedang berada di ruang tamu dengan Ara yang duduk lesehan di atas karpet bulu sedangkan Gio duduk disofa tepat dibelakang Ara.
"Katanya mau jalan", kata Ara. Matanya menatap lurus acara kartun yang sedang dia nonton, mulutnya juga tak henti menguyah cemilan yang diberikan Gio.
"Nanti aja, masih siang juga", jawab Gio yang juga fokus pada ponselnya.
Hening. Rungan itu kembali hening setelah Gio mengatakan itu. Tidak ada yang membuka suara sampai Ara tak tahan dan berbalik melihat Gio yang masih fokus dengan gamenya.
"Gio", panggil Ara.
"Hmm",
"Gio"
"Hmm",
"Giooo",
"Apa sayang?", tanya Gio lembut. Bolehkah Ara terbang sekarang ?, Rasanya dia ingin menyublim saja, nada lembut dan panggilan sayang dari Gio benar-benar membuatnya baper.
Gio kembali menatap Ara dengan alis terangkat. Tadi panggil-panggil, sekarang diam, pikir Gio.
Ara menatap Gio yang juga menatapnya, "kenapa ?", tanya Gio pada akhirnya membuat Ara menggeleng.
"Aku ngapain diajak kesini kalau cuma dikacangin. Pacaran noh sama game kamu", kata Ara cemberut. Mendengar itu, Gio jadi terkekeh pelan.
"Hadap depan", perintah Gio. Meskipun bingung, Ara masih tetap menuruti. Detik berikutnya dia merasakan tubuhnya terangkat dan pelakunya adalah Gio. Laki-laki itu tanpa merasa berat sedikitpun mengangkat tubuh Ara dan memposisikannya tepat dihadapannya.
Gio kembali meraih ponselnya dan melanjutkan gamenya. Laki-laki itu meletakkan kedua tangannya diatas bahu Ara sampai Ara juga bisa melihat apa yang Gio lakukan. Gio bersandar pada sandaran sofa membuat tubuh ara juga ikut bersandar pada dadannya.
"Gio denger gak ?", tanya Ara.
__ADS_1
"Apa?", Sahut Gio fokus pada ponselnya.
"Jantung aku detaknya kecang banget", sahut Ara polos yang kini mendongak menatap Gio dari bawah.
Gio hanya terkekeh pelan dan mengecup sekilas kening Ara. "Jantung aku juga sama", sahut Gio setelahnya.
Ara membenarkannya karena dia punggungnya yang menempel pada dada Gio dapat merasakan detak jantung itu.
"Gio, aku boleh nanya ?", tanya Ara membuat Gio bergumam sebagai jawaban.
Mata Ara kembali ikut mengamati layar ponsel Gio yang menampilkan area game Gio.
"Sebelum sama aku, kamu pernah dekat sama seseorang ?", tanya Ara hati-hati.
"Pernah", jawab Gio jujur. Mendengar jawaban jujur Gio, ada rasa sedikit tidak enak dihatinya tapi dia sendiri yang bertanya bukan.
"Benarkah?", tanya Ara tak percaya karena sejauh yang dia lihat Gio bukan tipe orang yang suka gonta ganti pasangan.
"Pernah, tapi gak sampai tahap suka atau bahkan pacaran", kata Gio lagi.
"Loh kenapa ?", tanya Ara.
Gio menghela nafas pelan lalu mematikan ponselnya dan melemparnya asal keatas meja kaca yang ada didepannya. Tangannya kemudian terangkat memeluk Ara dengan erat.
"Ya karena gak suka. Dulu sahabat aku suka sama dia..."
"Jadi kalau sahabat kamu gak suka sama dia, berarti kamu juga suka?", tanya Ara.
Gio menggeleng dan meletakkan dagunya pada bahu Ara.
"Aku, sahabat aku, sama dia sahabatan dari lama. Aku sayang dia cuma sekedar sahabat aja gak lebih dan gak kurang. Dia perempuan pertama setelah bunda dan Gea yang berhasil masuk ke hidup aku tapi tidak ke hati", jawab Gio. Laki-laki itu mengeratkan pelukannya pada Ara.
"Kamu satu-satunya perempuan yang berhasil masuk ke hidup aku dan juga hati aku", lanjutnya.
"Kok gitu?", tanya Ara.
"Entahlah. Sayang gak butuh alasan kan. Aku suka kamu lebih dan kurang kamu, selain itu dalam satu kali ketemu bunda bisa suka banget sama kamu, itu yang buat aku yakin", jawab Gio.
"Bunda itu to orang yang susah suka dan dekat sama orang. Kalau dia bisa suka dan dekat berarti ada sesuatu yang dia suka dari orang itu, sama kayak kamu", lanjut Gio menatap Ara dari samping.
"Makanya, aku bakal lakukan apapun supaya kamu gak diambil orang dan pergi dari aku. Aku sayang banget sama kamu", kata Gio membuat Ara salah tingkah.
"Ekhemmmm... T-tadi kan kamu bilang sahabat kamu. Arsal ya ?", tanya Ara mengalihkan pembicaraan.
"Bukan", sahut Gio.
"Terus siapa ?, Ada lagi ?", tanya Ara. Gio hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Terus mereka dimana ?", tanya Ara lagi.
"Ada", sahut Gio.
"Iya ada. Dimana ?", tanya Ara.
Raut wajah Gio berubah tidak enak, matanya memanas, pelukan pada Ara mengerat dengan nafas berat seperti sedang menahan sesuatu atau lebih ke mengendalikan sesuatu dalam dirinya.
__ADS_1
"Jauh", sahutnya dengan suara rendah dan pelan.
...---To Be Continued---...