
Ara berjalan keluar dari rumahnya menuju toko kue yang berada tepat di samping rumahnya. Didepan toko kuenya itu ada beberapa kursi yang bisa digunakan pengunjung untuk duduk sambil menikmati kue atau hanya sekedar menunggu pesanan. Meski kecil Ara selalu mengutamakan kenyamanan pelanggannya. Toko kuenya sengaja dia desain seperti cafe namun lebih kecil dari cafe pada umumnya.
Dengan balutan baju kaos oversize berwarna hitam, celana cargo berwarna hijau army dan rambut dikuncir kebelakang, Ara menyapa setiap pelanggannya yang pagi ini sudah ada enam orang.
"Pagi ibu-ibu," sapa Ara ramah.
"Pagi neng. Waah segar banget," sapa salah satu wanita yang memakai jilbab berwarna hitam.
"Cuacanya juga cerah jadi harus semangat, saya ke dalam dulu ya. Selamat menikmati," ujar Ara lalu undur diri setelah diangguki ibu-ibu yang ada disana.
"Eh eh tau gak?" ujar ibu-ibu yang tidak memakai jilbab membuat teman-temannya berkumpul lebih dekat siap mendengarkan. Jika dilihat-lihat, wajah ibu-ibu itu memang terlihat lebih julid dari teman-temannya yang lain.
Kata-kata seperti itu adalah awal dari segala perghibahan yang akan ibu-ibu itu lakukan. Hal seperti ini bukan lagi hal biasa yang Ara lihat. Selama berada disini dan membangun tokonya ini, setiap pagi dan sore dia selalu mendengar dan melihat hal seperti itu di tokonya. Tak masalah bagi Ara. Dia pun juga tidak ikut campur, bukan urusannya.
"Ghibah pun dimulai," bisik karyawan Ara yang bernama Aura. Perempuan yang sudah bekerja bersamanya itu memiliki umur setahun lebih tua darinya. Ara sebenarnya tak mau menggunakan karyawan karena dia rasa masih mampu mengerjakan semuanya sendiri tapi karena Aura begitu membutuhkan pekerjaan, Ara terpaksa menerimanya. Lagipula jika perutnya nanti semakin besar Aura bisa membantunya mengurus toko.
"Husstt kakak jangan gitu," sahut Ara tersenyum tipis sambil menggeleng.
"Udah, udah. Ayo kerja lagi," kata Ara.
"Mau kerja apa, Ra. Kue udah semua kita buat subuh tadi. Sekarang mah tinggal tunggu pembeli aja," sahut Aura.
Yah memang seperti itu, Ara membuat kuenya setiap subuh dan menjual di pagi hari sebelum semua orang berangkat ke aktivitas mereka masing-masing. Beruntungnya lagi, lokasi rumah Ara bisa dibilang sangat strategis untuk membangun usaha seperti itu karena tidak terlalu jauh dari pinggir jalan yang merupakan jalan warga setiap hari menuju tempat bekerja mereka.
"Mending kamu istirahat, jangan kebanyakan berdiri dan jangan kecapean. Kasian ponakan aku," lanjut Aura.
Aura sudah menganggap Ara sebagai adiknya sendiri. Saat pertama kali Ara menceritakan hidupnya, Aura bahkan menangis. Ditinggal kedua orang tua, dibenci keluarga dan ditinggal sang suami saat sedang mengandung adalah hal paling berat menurut Aura.
"Kakak juga istirahat," kata Ara duduk di bangku tepat di samping Aura.
"Aku dari tadi udah duduk," sahutnya tersenyum kecil. Keduanya duduk memperhatikan ibu-ibu yang sedang duduk sambil ngerumpi sampai akhirnya keduanya dibuat tertegun saat samar-samar mereka mendengar cerita ibu-ibu yang tak terlalu jauh dari tempat mereka.
"Katanya Ara tuh hamil diluar nikah,"
__ADS_1
"Kata siapa?"
"Coba aja kalian pikir. Dia ngapain kesini sendirian dalam keadaan hamil muda apa gak mencurigakan?"
"Tapi kan aku pernah tanya sendiri dan dia jawab suaminya udah meninggal seminggu setelah kabar kehamilannya. Kalian jangan ngada-ngada,"
"Terus kenapa dia kabur kesini, pasti di kota ada mertuanya kan, atau jangan-jangan mdia dibuang juga sama mertuanya karena udah jadi pembawa sial untuk anak mereka?"
"Huussst kita gak tau apa yang terjadi, jangan bicara sembarangan. Bisa jadi dia hanya menenangkan pikirannya makanya kesini. Kalian tahulah kehilangan suami sakitnya kayak apa,"
"Tapi aku yakin ibu-ibu, Ara tuh hamil diluar nikah,"
Mata Ara dibuat berkaca-kaca mendengar ternyata dirinyalah yang menjadi bahan cerita ibu-ibu pagi ini. Hatinya sakit. Ara tidak menepis segala omongan ibu-ibu itu karena memang seperti itulah kenyatannya. Dia hamil diluar nikah tapi mengarang cerita seolah dirinya sudah menikah dan ditinggal mati suaminya. Hati Ara benar-benar sakit. Perempuan itu tersenyum miris.
"Jangan didengar," kata Aura menutup telinga Ara.
Aura menatap mata Ara yang menyorot tatapan sedih dan terluka. Bola mata cantiknya kini sudah terlapisi cairan bening yang siap meluncur kapan saja.
"Husst jangan didengar," kata Aura lagi menarik Ara kedalam pelukannya dan menutup telinga perempuan yang sudah dia anggap adiknya itu.
"Aku seburuk itu ya?" tanya Ara dengan suara serak dan bergetar.
"Enggak, Ra. Kamu gak gitu," jawab Aura.
"Tapi gimana kalau kenyataannya memang seperti itu?" tanya Ara lagi.
Aura sejenak terdiam sambil mengusap lembut punggung Ara. Hatinya ikut sakit melihat Ara seperti ini.
"Jangan dengarin apa kata orang. Fokus sama diri sendiri dan dede bayi. Kasian dede bayi kalau mamanya sedih dia psti juga bakal sedih," ujar Aura berusaha menenangkan.
Ara menghela nafas pelan dan membalas pelukan Aura lebih erat. Dia beruntung karena meski dalam keadaan seperti ini dia masih punya Aura yang selalu mendukungnya.
"Terima kasih, kakak selalu ada dan mau dengar Ara," ujar Ara tulus. Aura hanya mengangguk dan mengusap punggung Ara dengan sayang.
__ADS_1
"Kapan checkup lagi?" tanya Aura melepas peluakannya dan menatap Ara.
"Minggu depan, hari senin," jawabnya.
"Kakak temanin, mau?" tawar Aura membuat senyum Ara mengembang. Selama ini dia melakukan checkup sendirian tanpa didampingi siapapun. Dia tidak enak meminta pada Aura, takut merepotkan dan sekarang perempuan itu yang menawarkan diri. Bagaimana bisa Ara menolak.
"Mauuuu," sahutnya girang.
...-💔💔-...
Aldi sedang duduk berdua dengan bundanya di rumah makan samping klinik tempat dokter Anin bekerja. Sedari tadi dokter Anin melihat Aldi yang senyum-senyum sendiri menatap layar ponselnya.
"Mau makan sama bunda tapi bundanya di cuekin," sindir dokter Anin membuat Aldi mengangkat pandangannya dan menatap bundanya dengan senyum manisnya.
"Ponsel terus dari tadi. Kenapa sih? Kamu lagi suka sama seseorang ya?" tanya dokter Anin menyipitkan mata melihat Aldi.
Aldi tersenyum canggung dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal lalu mengangguk pelan. Dokter Anin melotot melihat respon Aldi. Baru kali ini putranya itu membicarakan masalah perempuan dengannya. Dulu, jika ditanya Aldi selalu mengalihkan pembicaraan dan tidak ingin membahas sesuatu yang menyangkut hubungan seperti itu.
"Siapa?" tanya dokter Anin.
"Nanti Aldi kenalin sama bunda kalau udah waktunya," jawab Aldi.
"Iyaa tapi kapan, ini perdana loh kamu suka sama orang," ujar dokter Anin.
"Nanti ya bund, kalau Aldi udah berhasil dapatin hatinya," jawab Aldi tiba-tiba lesu.
"Kok jadi lesu gitu, kenapa?"
"Dia susah beranjak dari masa lalunya, bunda. Dia kayak masih sayang banget sama masa lalunya. Bahkan beberapa minggu dekat sama Aldi dia gak nunjukin rasa tertarik dia sama Aldi. Dia hanya anggap Aldi teman biasa padahal Aldi suka banget sama dia," jawab Aldi panjang lebar.
Dokter Anin tersenyum tipis dan mengusap lengan putranya.
"Kalau jodoh pasti bakal kemana-mana kok," kata dokter Anin berusaha menenangkan.
__ADS_1
"Aldi harap begitu,"
...-To be continued-...