Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 98. Gio Pratama Ananda


__ADS_3

Seorang laki-laki dengan balutan jaket bomber berwarna hitam dipadukan dengan sepatu vans dan celana ripped jeans berwarna hitam dan kaca mata hitamnya berdiri di depan rumah minimalis bercat putih. Rumah ini masih sama terakhir kali dia menginjakkan kakinya disini. Rumah yang menyimpan begitu banyak kenangan. Rumah yang selalu menjadi obat dari segala lara yang dia rasakan.


Kakinya melangkah memasuki rumah dengan tangan yang menarik koper besar berwarna hitam. Hari ini adalah hari pertama setelah satu tahun dia kembali ke negaranya. Dia akan kembali memulai semuanya dari awal. Setelah sampai didalam rumah, mata tajam laki-laki itu menyapu setiap sudut ruangan yang menyimpan banyak kenangan. Tak ada yang berubah sama sekali. Laki-laki itu menghela nafas panjang lalu kembali melangkah menaiki tangga dan masuk kesebuah kamar yang paling besar di lantai dua rumah itu.


Diambang pintu, langkahnya terhenti, kembali menatap setiap sudut kamar yang membuat dadanya semakin sesak. Sudah dua tahun berlalu tapi sama sekali tidak ada yang berubah. Tata letak setiap furnitur rumah, warna dinding, dan setiap sudut sama sekali tidak ada yang berubah, sama seperti perasaannya yang sama sekali tidak berubah meski sudah dua tahun lamanya.


Gio Pratama Ananda, laki-laki itu berjalan menuju kasur dan duduk di tepi tempat tidur yang dulu menjadi saksi awal kedekatannya dengan gadisnya. Gio menghela nafas pelan menatap sebuah foto berukuran besar terpajang didinding. Foto gadisnya yang sudah dua tahun ini menghilang tanpa bisa dia temukan keberadaannya. Rasanya, ilmunya dalam melacak dan mencari orang dalam waktu singkat tak berguna sekarang.


Hari ini adalah hari pertama dia kembali memulai kehidupannya di negara kelahirannya. Setelah kabar Gea meninggal dua tahu lalu, Gio sudah tak pernah kembali kesini. Dan ini kali pertamanya dia datang setelah mendengar rencana adiknya akan menikah. Yah, Gea sempat dikabarkan meninggal tapi karena mukjizat dari Tuhan, adik perempuannya itu masih bisa tertolong dan kini kembali sehat seperti biasanya.


Gio kembali mengamati setiap sudut ruangan. Kamar tempatnya sekarang adalah kamar Ara, gadisnya. Yah, beberapa tahun lalu, Gio berhasil mengambil alih rumah itu dari Bisma, meski dengan cara yang sedikit memaksa. Gio sengaja melakukannya agar dia bisa tinggal dan memulai kehidupannya kembali dari rumah ini. Rumah yang selalu menjadi obat rindunya.


Dua tahun lalu, dia sempat kembali kesini tapi hanya sehari, mengabarkan berita tentang adiknya pada orang-orang terdekatnya. Atas paksaan keluarganya, Gio memilih kembali kesini.


"Lo yang bego, lo bodoh, goblok, idiot, orang paling bodoh yang pernah gue kenal,"


"Jaga ucapan lo,"


"Memang seperti itu bukan, lo sama sekali gak nyari dia. Lo malah pergi dari sini tanpa kabar sedikit pun dan lo kembali hanya bawa berita duka lalu mau balik lagi. MIKIR GAK LO,"


"Dia yang pergi ninggalin gue,"


"Karena semua gara-gara lo, salah lo. Dia gak akan pergi kalo bukan karena salah lo, bego. Lo sama sekali gak nyari dia. Ngapain lo balik lagi, Hah?"

__ADS_1


"Katanya lo sayang sama dia, halah bacot tau gak,"


Pertengkarannya dengan Rania hari itu kembali terlintas di ingatannya. Gio menghela nafas pelan, amarahnya tiba-tiba memuncak mengingat semua perkataan Rania. Tidak ada yang tau bagaimana dia, yang tau hanyalah dirinya sendiri dan dengan seenaknya orang-orang menyalahkannya. Tidak tahukah mereka jika Gio juga tersiksa. Dia yang memang tak pernah tidur nyenyak semakin tak bisa tenang dua tahun belakangan.


"Arrrggghhh," pekik Gio lalu melempar vas bunga yang ada diatas meja.


Semakin hari, hidupnya semakin tak punya tujuan. Bayang-bayang masa lalu semakin kuat menghantam dan membuatnya patah. Permasalahan Aluna belum selesai lalu sekarang Ara. Itu semua sudah cukup membuatnya pusing bahkan hampir gila.


Suara pecahan memecah keheningan dalam kamar tersebut. Tidak ada barang yang luput dari jangkauannya. Kaca lemari dan meja rias sudah pecah berhamburan diatas lantai. Tangannya memar dan dialiri darah segar. Kamar yang awalnya rapi dan bersih kini seperti kapal pecah. Darah berceceran dimana-mana, perabotan serta hiasan dikamar tersebut sudah tak terbentuk lagi.


"ABANG," teriakan dari arah pintu tak Gio hiraukan.


Laki-laki dengan penampilan berantakan itu, tidur telentang diantara barang-barang pecah menatap langit-langit kamar dengan mata memerah dan nafas memburu. Dari tangannya terus mengalir dari akibat memukul kaca. Tangan kanannya menggenggam sebuah foto yang bingkainya sudah rusak dia banting tadi.


Setelah selesai membalut perban pada tangan Gio, Gea mengusap rambut kakaknya lalu menoleh pada Zian. Zian yang mengerti tatapan Gea, mengangguk kecil lalu mendekat dan membantu Gio beranjak dan membaringkan tubuh calon kakak iparnya itu diatas kasur.


Gio hanya diam tak menolak atau mengiyakan. Gea semakin ingin menangis saja melihat keadaan Gio. Kakaknya bukanlah orang seperti ini, tapi sekarang dia jauh dari dirinya sendiri, tempramen, dingin dan tak tersentuh. Gea bahkan sudah sangat jarang berkomunikasi dengan Gio. Kakak laki-lakinya itu seolah membangun dinding tebal untuk dirinya, keluarga dan dunia luarnya.


Gea hanya mampu menahan sesak didadanya setiap kali Gio seperti ini. Bisa Gea simpulkan, menyakiti dirinya sendiri adalah hal paling mudah untuk Gio menghilangkan rasa sesak dan sakit dihatinya.


"Kamu keluar aja, nanti aku panggilin orang buat beresin semuanya," kata Zian menatap punggung Gea yang sedang membersihkan kamar tersebut.


Gea diam tak menyahut ataupun berbalik. Dia terus memungut kaca dan beberapa barang yang berserakan.

__ADS_1


"Aw," ringisan itu membuat Zian panik dan berjalan mendekati Gea yang kini terduduk memegangi jarinya yang tergores kaca.


Air mata gadis itu mengalir deras. Zian tahu, bukan sakit pada jarinya yang membuat Gea menangis tapi rasa sakit pada hatinya yang membuat dia seperti ini.


Gea menghapus air matanya lalu mendongak menatap Zian yang sudah berjongkok dihadapannya.


"Sakit," keluhnya.


Zian hanya mengangguk dan membersihkan jari Gea, setelah itu menarik Gea masuk kedalam pelukannya. Dia paham betul gadisnya butuh pelukan. Sudah beberapa tahun ini Gio seolah semakin jauh dari keluarga dan lingkungan sosialnya. Gea menoleh menatap Gio yang kini memejamkan matanya.


"Kita bantu sama-sama," ujar Zian berusaha menenangkan.


"Kalau gak ketemu?" tanya Gea beralih mendongak menatap calon suaminya.


Zian balas menatap mata bening Gea, mengusap air mata Gea lalu mengelus lembut rambut gadisnya.


"Pasti ketemu. Besok kita kerumah Rania," ujar Zian.


"Ngapain?" tanya Gea.


"Minta maaf sekalian cari info siapa tau dia sudah dapat,"


Gea menghela nafas pelan lalu mengangguk saja. Gio yang merasakan sakit tapi dia juga ikut merasakannya. Bagaimana tidak, kakak yang awalnya begitu hangat kini berubah jadi semakin dingin dan tempramen. Gea sering sekali mendengar keluhan orang-orang dikantor jika Gio sering marah-marah tidak jelas dan mengacak ruang kerjanya. Gea berharap dia bisa bertemu dengan Rania secepatnya. Persetan dengan rasa takut, dia harus membantu Gio menyelesaikan semuanya.

__ADS_1


...-To be Continued-...


__ADS_2