Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 109. It's You


__ADS_3

Ken menatap laki-laki berwibawa yang sedang duduk di hadapannya. Sudah beberapa menit keduanya hanya saling diam dan memandang satu sama lain, bahkan ayah dari sahabatnya itu sama sekali tak berniat mengeluarkan suara begitupun dengan Ken.


"Ayah," suara perempuan yang sedari tadi Ken temani duduk itu memecah keheningan.


Kevin beralih menatap putrinya yang kini juga menatapnya dengan sorot sendu. Ken memang meminta Gea untuk ikut dengannya menemui Kevin untuk membicarakan sesuatu, lebih tepatnya membujuk Kevin agar mengizinkan Gio menikah dengan Ara. Jelas saja Ken harus melakukan itu, dia harus bertanggung jawab atas apa yang sudah dia lakukan hingga membuat Gio tak lagi dipercaya oleh ayahnya sendiri. Dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Gio meski dia tidak tahu, masihkah Gio menginginkan persahabatan diantara mereka.


"Kalau kalian menemui ayah cuma untuk membujuk yah, maaf ayah tetap pada pendirian ayah" sahut Kevin seolah tau maksud dan tujuan Ken dan Gea menemuinya.


"Tapi kenapa, Yah?" tanya Gea. Entah sudah keberapa kalinya dia mempertanyakan itu.


"Kamu tau alasannya," jawab Kevin seadanya.


Ken dan Gea kompak menghela nafas pelan. Setau mereka, Kevin bukanlah orang yang sekeras ini lalu kenapa dengan putranya sendiri Kevin jauh lebih keras.


"Semua hanya salah paham, Yah," ujar Gea berusaha menyakinkan.


Ken mengangguk mengiyakan lalu berujar, "Ken yang buat semua jadi seperti itu jadi ini salah Ken bukan salah Gio, om,"


"Tapi tetap saja dia ninggalin Ara setelah itu," sahut Kevin tak mau kalah.


"Abang bukan berniat ninggalin, Yah. Saat itu bertepatan dengan kejadian penusukan abang. Saat Gea dan abang koma. Lagipula saat itu kak Ara tiba-tiba menghilang, jadi bukan sepenuhnya salah abang, semua hanya salah paham," ucap Gea.


"Ayah gak tau bagaimana hancurnya abang setelah ditinggal kak Ara dua tahun lalu. Dia trauma besar sejak kejadian Aluna dan belum sembuh tapi kak Ara juga tiba-tiba menghilang," dengan sangat terpaksa Gea membocorkan apa yang selama ini disembunyikan oleh kakak laki-lakinya itu.


"Ayah mungkin liat bang Gio setiap hari baik-baik saja, masuk kantor dan bekerja seperti biasanya. Tapi ayah gak tau, bagaimana abang setiap pulang ke apartemen. Mengamuk dan melukai dirinya sendiri dengan tujuan agar bisa sedikit melampiaskan rasa sakit hati dan ketakutannya selama ini," jelas Gea panjang lebar.


Mendengar penjelasan Gea, baik Kevin dan Ken menatap Gea dengan tatapan terkejutnya. Tidak mungkin separah itukan.


"Abang menarik diri dari keluarga kita dan tinggal sendiri dengan alasan apartemennya dekat dari kantor, abang lembur tiap malam kadang juga tidak masuk kerja, menghindari Gea dan bunda, menarik diri dari lingkungan sosialnya bukan tanpa alasan. Dia tidak mau bunda dan ayah khawatir dengan kondisinya, dia tidak mau ayah dan bunda bertanya lebih jauh tentang luka yang dia dapat setiap harinya dan dia tidak mau ayah dan bunda mendengar suara pecahan yang setiap hari terdengar karena amukannya," lanjut Gea menunduk mengingat semua kejadian yang selama ini kakaknya alami. Gea tahu semuanya tanpa Gio beritahu.


"Tekanan akibat dia menyaksikan langsung kematian Aluna ditambah dengan kepergian kak Ara membuatnya semakin tak terkendali dan tempramen. Bahkan dengan Gea pun abang gak mau ketemu,"


Dua laki-laki yang duduk bersamanya itu hanya diam mendengarkan cerita yang Gea ungkapkan. Ada rasa sakit saat mengetahui kebenaran jika selama ini putranya ternyata tak baik-baik saja, sedangkan Ken tak habis pikir ternyata kehidupan Gio tak sebahagia yang dia kira.

__ADS_1


"Setiap kali Gea tanya maunya apa, dia cuma jawab maunya kak Ara dan sekarang bang Gio udah ketemu tapi ayah mau pisahkan lagi, bagaimana keadaan abangnya Gea nanti, Yah?" tanya Gea mendongak menatap ayahnya dengan mata berkaca-kaca.


"Sudah cukup dua tahun terakhir abang tersiksa dengan kehilangan kak Ara, Gea pengen liat abang bahagia juga dengan hidupnya, bukan cuma ngurusin Gea terus. Gea gak mau liat abang selalu berusaha kasi kebahagiaan buat kita semua tapi mengesampingkan kebahagiaannya, bahkan ayah mau rebut semestanya bang Gio,"


Kevin terdiam meresapi semua ucapan putrinya, dia tidak tahu harus seperti apa menanggapi ucapan putrinya. Sedangkan Ken hanya diam, kata-kata yang dia susun tadi kembali tertelan setelah mendengar cerita Gea, sepertinya dia memang tak perlu bersuara sekarang.


Gea menghela nafas panjang melihat keterdiaman Kevin. Gea yakin ayahnya sedang berfikir keras tapi dia juga tidak tahu jika disuruh menebak jawaban ayahnya.


"Gea pamit, Yah. Suami Gea udah nunggu didepan," setelah mengatakan itu, Gea beranjak meninggalkan ayahnya yang masih menatap punggung putrinya itu.


...🦋🦋...


Gio duduk terdiam dipinggir kasur dengan mata yang menatap kosong kearah jendela besar kamar apartemennya. Setelah dari rumah kedua orang tuanya tadi, Gio dan Ara memilih kembali ke apartemen. Gio meninggalkan semua barang-barangnya di sana. Dia tidak mengambilnya lagi, bahkan mobil yang dia beli dengan hasil kerja kerasnya pun dia tinggal di rumah orang tuanya. Dia tidak main-main saat mengatakan akan mengembalikan semua hartanya pada sang ayah.


Suasana diluar sudah gelap pertanda malam sudah menjelang. Mereka memilih kembali ke apartemen karena hanya itu satu-satunya tempat yang mereka miliki, apartemen yang masih atas nama Ara itu sudah menjadi hak Ara dan dia tidak berhak mengambilnya kembali.


Asik melamun, Gio tidak menyadari kehadiran Ara yang sudah berdiri di hadapannya sejak tadi. Gio baru tersadar saat perempuan itu mengulurkan tangannya mengusap lembut rambutnya. Gio mendongak menatap Ara yang juga menatapnya dengan senyum kecil. Melihat Gio dengan mata sembab begini membuat Ara gemas dengan laki-laki itu.


"Makan dulu yuk," ajak Ara.


"Gak lapar," gumam Gio pelan.


Ara masih mengusap lembut rambut Gio membuat laki-laki itu kembali mendongak menatap Ara, sedangkan yang ditatap hanya tersenyum kecil.


"Nanti kamu sakit kalo gak makan," sahut Ara.


"Aku udah gak punya apa-apa, gak punya mobil, gak punya motor, gak punya rumah, gak punya pekerjaan juga. Aku gak main-main pas bilang mau kembaliin semuanya ke ayah. Kamu masih mau sama aku?" tanya Gio tiba-tiba.


Ara tersenyum semakin manis, menangkup pipi Gio membuat laki-laki itu menatap mata cantik perempuannya.


"Kita hadapi semuanya sama-sama. Soal kerjaan, kita bisa cari, aku bantu kamu karena aku udah ada kerjaan disini. Soal kendaraan, aku ada motor dari hasil toko kue aku di desa. Gak papa ya motor dulu, nanti kalau udah banyak uangnya kita beli mobil. Soal rumah, ini kan sudah rumah, emang mau yang kayak gimana lagi hm?" ujar Ara panjang lebar.


"Maaf ya, aku jadi nyusahin kamu dan buat kamu kayak gini," pinta Gio pelan.

__ADS_1


"Gak papa, kamu gak nyusahin sama sekali, justru aku yang harusnya minta maaf. Gara-gara aku pergi dulu membuat semuanya makin rumit," jawab Ara.


"Jangan minta maaf, sayang. Kamu gak salah," sahut Gio kembali memeluk Ara erat.


"Jadi kita nikah besok?" tanya Ara tiba-tiba.


Gio kembali mendongak menatap Ara, dia bingung harus menjawab apa, matanya kembali berkaca-kaca mendengar penuturan Ara. Entah mengapa hari ini dia begitu sensitif dan mudah sekali menangis setelah bertemu orang tuanya tadi siang.


"Kamu ragu?"


Gio menggeleng kuat. "Kamu gimana?" tanya Gio.


"Aku siap, asalkan orang itu kamu. Aku gak mau orang lain," jawabnya. Alasan utamanya ingin segera menikah dengan Gio adalah dia tidak mau Kevin benar-benar menjodohkannya dengan orang lain. Dia masih begitu mencintai Gio dan laki-laki itu masih menjadi semestanya.Meski dulu berniat membenci dan menghindari Gio tapi pada kenyataannya hati tetap tidak bisa berbohong. Dia masih mencintai Gio sama seperti dulu.


Gio kembali menangis, demi apapun ini menyakitkan untuknya. Ketika perempuannya kembali dan mau menikah dengannya justru orang tuanya yang tidak mau.


"Maaf karena harus nikah tanpa restu ayah," ucap Gio.


"Maaf, harusnya aku nikahin kamu dan bikin kamu bahagia tapi nyatanya aku malah nikahin kamu dan buat kamu sengsara. Maafin aku," rengeknya sambil menangis sesenggukan.


Ara tersenyum tipis mengusap pipi Gio yang basah karena air mata.


"Kan aku udah bilang, kita hadapi sama-sama. Aku gak pernah sengsara kalau sama kamu, aku selalu bahagia asal sama kamu," sahut Ara mengacak rambut hitam Gio.


"Kenapa jadi cengeng gini sih. Jangan nangis terus dong, aku aja udah gak nangis," lanjut Ara.


"Jangan nangis lagi ya,"


Gio mengangguk lalu kembali menenggelamkan wajahnya diperut rata Ara. "Lapar," gumamnya membuat Ara terkikih.


"Ayo cari makan diluar, aku belum masak sih sebenernya. Aku manggil kamu makan tadi buat cari makan diluar," cengir Ara.


Gio ikut tertawa pelan lalu beranjak berdiri, laki-laki itu mengecup bibir Ara sekilas lalu menarik Ara keluar kamar berniat mencari makan.

__ADS_1


"Let's go tuan putri,"


...-To be Continued-...


__ADS_2