
"Jadi guru les privat Gea", kata Gio.
Ara terkejut mendengar ucapan Gio. Bagaimana bisa dia mengajar Gea jika dirinya juga bekerja disini dan siangnya dia ada kelas sampai sore terlebih dia mengejar kelulusannya sekarang itu membuatnya sulit mengatur waktunya.
"Berhenti bekerja disini dan jadi guru les privat Gea", kata Gio seolah mengerti pikiran Ara.
"Setiap hari setelah urusan mu selesai kamu bisa mulai mengajar Gea", kata Gio.
"Kenapa harus aku?", tanya Ara masih sedikit terkejut.
"Adikku susah dekat dengan seseorang dan sejauh ini aku lihat kalian dekat dan menurut ku kau bukanlah orang yang salah untuk mengajar dia melihat nilai mu dikampus begitu memuaskan", kata Gio panjang lebar.
"Tapi...",
"Gaji mu akan aku tambah lebih besar dari gaji mu yang disini", kata Gio.
Tidak, ini bukan masalah gaji, tapi ini tentang kenapa harus dia. Keluarga laki-laki ini masih bisa menggaji orang yang jauh lebih pintar darinya. Sungguh dia bingung.
"Kau tidak perlu datang setiap hari, datang saat jadwal mu kosong, aku tidak akan memberatkan mu. Lagipula jurusan mu dan dia samakan kalian bisa belajar bersama", jelas Gio lagi.
Sebenarnya ini hanya caranya agar bisa lebih dekat dengan wanita dihadapannya ini, dia tidak benar-benar mencarikan adiknya guru les, tapi jika ini salah satu cara, kenapa tidak.
Sebenarnya ini tidak sulit untuknya, hanya mengajar saja kan dan sama seperti yang Gio katakan, dia bisa belajar bersama dengan Gea terlebih lagi jadwalnya tidak ditentukan hanya pas jadwal dia kosong saja atau jadwal Gea kosong, tapi apa ini tidak berlebihan. Gajinya disini sudah lumayan besar dan kata Gio gajinya untuk mengajar Gea akan lebih besar dari ini. Kenapa Ara jadi bimbang begini.
"Aku tunggu jawaban mu sampai besok. Ini sudah malam, ayo pulang", kata Gio yang sempat melirik jam tangan hitamnya.
Ara mengangguk dan ikut beranjak menyusul Gio yang sudah beranjak menuju pintu. Setelah keduanya sampai di lantai pertama, mereka atau lebih tepatnya Ara sudah menjadi pusat perhatian karyawan-karyawan lainnya. Ada banyak pandangan yang mereka layangkan, pandangan bingung dan bertanya-tanya apa yang terjadi dan pandangan sinis yang memang dari awal tidak suka dengan Ara. Apalagi melihat Ara sedekat itu dengan pemilik cafe membuat rasa iri hati mereka semakin besar.
"Semuanya boleh pulang. Ini sudah terlalu larut, maaf", kata Gio.
Para karyawan mengangguk memaklumi dan langsung bubar untuk mengambil barang-barang mereka agar bisa segera pulang. Sama halnya dengan Ara. Namun sebelum beranjak pergi, ucapan Gio membuat langkahnya terhenti.
"Pulang bareng aku", kata Gio santai.
Ara membelalakkan mata mendengar perkataan Gio yang lebih mengarah pada perintah.
"5 menit aku tunggu di parkiran", setelah mengatakan itu, Gio langsung meninggalkan cafe menuju tempat mobilnya diparkir.
Ara berdecak kesal lalu segera berlari menuju ruangan tempat mereka istirahat dan menyimpan barang-barang mereka.
__ADS_1
Bagaimana bisa dia pulang dengan Gio, sedangkan masih begitu banyak karyawan disini, apa yang mereka katakan nanti. Ara memasukkan barang-barangnya kedalam tas lalu berganti baju.
"Ra, aku pulang duluan yah. Aku hari ini dijemput", kata Nina. Gadis itu terburu-buru memasukkan barang-barangnya kedalam tas karena sedari tadi kekasihnya sudah menunggu.
Ara mengangguk dengan seulas senyum manis menandakan bahwa dia tidak apa-apa pulang sendiri.
"Besok kita pulang bareng lagi kok. Daaah Ara", kata Nina langsung berlari menuju parkiran.
Setelah selesai mengemas barangnya, Ara duduk di sofa samping jendela, banyak yang menjadi beban fikiran gadis itu sekarang. Dia membutuhkan uang tapi gajian masih lama. Uangnya hanya cukup untuk dua hari kedepan, lalu setelah itu apa yang akan dia dan neneknya makan.
Ara menghela nafas pelan, dia sudah memutuskan untuk berhenti bekerja dan mengambil tawaran Gio. Mungkin itu adalah pilihan yang tepat. Gaji yang akan Gio berikan bisa dia gunakan untuk kebutuhan sehari-harinya dengan neneknya dan sisanya dia gunakan untuk menutupi tabungannya yang habis dikuras.
Mengingat tentang Gio, Ara membalikkan badan menatap jendela dan benar saja, Gio masih diparkiran menunggunya.
Ara membelalakkan mata melihat Gio yang masih anteng bersandar pada mobilnya sambil memainkan ponsel. Ara sejenak terdiam menatap Gio dari jauh. Sungguh, laki-laki sangat mempesona. Cerita diluar yang dia dengar memang benar, ketampanan laki-laki itu sudah tidak dipertanyakan lagi tapi yang menjadi pertanyaan Ara, orang-orang mengatakan jika laki-laki ini dingin dan cuek tapi kenapa saat bersamanya tadi Ara sama sekali tidak melihat itu.
"Kenapa aku harus terlibat dengan orang seperti mereka", gumam Ara.
"Kita jauh berbeda, hidup kita sangat bertolak belakang tapi sekarang bukan hanya terlibat dengan Gea aku juga akan terlibat dengan dia", kata Ara sambil terus menatap laki-laki berhoodie hitam itu.
"Aku dari dulu mengaguminya, bukan karena dia kaya atau pemilik perusahan besar di negara ini tapi aku mengaguminya karena kepintaran dan tanggung jawabnya. Di umur seperti ini dia sudah sangat produktif dan selalu memikirkan keluarganya", lanjut Ara.
Ponsel Ara berdering membuat pandangan gadis itu beralih dan merogoh saku jaketnya melihat siapa yang menelfonnya.
"Ini siapa ?", gumam Ara melihat sang penelepon hanya tertera deretan nomor tanpa nama.
Ara memutuskan mengangkatnya, siapa tau penting, pikirnya.
"Halo", sapa Ara.
"Kamu dimana, pulang duluan ?", tanya dari seberang.
Dengan gerakan cepat, Ara kembali menatap Gio dan benar saja laki-laki itu sedang menghubungi seseorang yang tidak lain dirinya sendiri.
"Masih di cafe kok, sebentar aku keluar dulu", kata Ara langsung mematikan panggilan telfon dan bergegas keluar.
Pandangannya menyapu setiap sudut cafe dan keberuntungan berpihak padanya. Sudah tidak ada karyawan cafe, hanya ada satpam yang berjaga diluar yang bertugas mengunci cafe setelah semua karyawan pulang. Dia bisa pulang dengan Gio tanpa diketahui karyawan lainnya. Bukannya apa-apa jika mereka tahu, Ara bisa direpotkan dengan pertanyaan-pertanyaan yang mereka asumsikan sendiri. Dia memilih pulang dengan Gio juga bukan tanpa alasan, ini sudah sangat larut, dia tidak mungkin pulang sendiri di jam yang sudah menunjukkan stengah 12, sudah tidak ada lagi kendaraan umum dijam seperti ini terlebih lagi, Gio yang sedari tadi menunggunya, membuat gadis itu merasa tidak enak jika harus menolak.
"Maaf yah lama", kata Ara setelah sampai didepan Gio.
__ADS_1
Gio mengangguk dan berujar, "gapapa, ayo pulang ini sudah hampir tengah malam",.
Setelah itu keduanya masuk kedalam mobil dan meninggalkan cafe menuju rumah Ara.
Diperjalanan, keduanya sama-sama bungkam. Tidak ada yang ingin memulai percakapan. Gio yang fokus pada jalanan dan Ara yang sibuk dengan pikirannya sendiri.
"Pak...", panggil Ara pada akhirnya.
"Gio", koreksi Gio. Dia tidak suka jika gadis yang duduk disampingnya ini memanggilnya dengan sebutan bapak. Apa dia setua itu, ini juga sudah bukan jam kerja kan dan mereka hanya berdua.
"Sudah ku bilang jangan memanggilku dengan sebutan bapak. Apa aku setua itu ?", tanya Gio membuat Ara menggeleng cepat.
"Bukan seperti itu", balas Ara canggung.
"Lalu ??.... Ini terakhir kalinya kamu memanggilku dengan sebutan bapak. apa tidak bisa kamu memanggilku dengan nama saja", kata Gio. Kenapa sekarang dia begitu banyak bicara dan cerewet seperti ini.
"Baiklah baiklah, Gio", kesal Ara.
Dia mengutuk orang yang mengatakan jika laki-laki disampingnya ini dingin dan cuek. Apanya yang dingin, dia begitu cerewet. Perkara panggilan saja dia menjadi ribet seperti ini.
"Nah gitu dong", kata Gio tersenyum tipis.
Ara yang melihat senyum laki-laki itu langsung terpesona. Beberapa kali bertemu, ini untuk pertama kalinya dia melihat Gio tersenyum, meskipun hanya senyum tipis, tapi ternyata senyum laki-laki itu sangat manis, sama seperti adiknya.
Ara berdehem dan mengalihkan pandangannya kedepan menatap jalanan kota yang masih sedikit ramai meski sudah jam begini.
"Gii..", panggil Ara membuat Gio menoleh sekilas sambil berdehem, lalu kembali menatap jalanan.
"Aku sudah mengambil keputusan dan aku setuju dengan penawaran mu", kata Ara menatap Gio.
Gio yang mendengar itu langsung menoleh antusias.
"Benar ?", tanya Gio memastikan.
Ara mengangguk pasti dan berkata, "Iya aku setuju",
"Good job girl", kata Gio sambil tersenyum manis pada Ara, dengan tangan yang refleks menepuk pelan puncak kepala gadis itu.
Deg
__ADS_1
...----------------...