Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 63. Lukanya masing-masing


__ADS_3

Hari ini tepat 3 hari Muti meninggal tapi tak ada yang berubah Dirumah bernuansa putih itu sekarang semakin sepi.


"Sayang, makan dulu yaa", bujuk Gio.


Ini sudah ke lima kalinya dia berusaha membujuk Ara agar gadis itu mau makan sedikit saja, tapi gadis itu hanya menggeleng dengan menatap lurus kedepan dengan tatapan kosongnya.


Selama tiga hari ini juga, Gio dan Gea menginap dirumah Ara untuk menemani gadis itu, takut terjadi hal yang tidak diinginkan. Tiga hari setelah kepergian neneknya, gadis itu lebih banyak diam dan selalu melamun, mata sembab dan penampilan yang kacau sudah cukup menjelaskan jika dia benar-benar terluka, belum lagi keluarganya yang selalu menyalahkannya.


Kepergian neneknya adalah pukulan paling berat yang Ara terima. Tidak ada yang akan baik-baik saja jika ditinggal orang tersayang. Sama halnya dengan Ara, bahkan Gio harus berusaha keras membujuk Ara hanya untuk sekedar makan.


"Ayo dong sayang, kamu belum makan lo seharian ini", bujuk Gio lagi namun sama sekali tak ada respon. Dia bingung harus bagaimana lagi membujuk Ara, adiknya juga tidak ada disini untuk membantunya. Biasanya, Ara akan makan jika Gea yang membujuk tapi sekarang, adiknya itu pergi katanya ada tugas kelompok dari kampus.


"Ara udah belajar nakal?", tanya Gio pelan.


"Iya, Ara mau jadi gadis nakal sekarang", tanyanya lagi dan berhasil, Ara mengalihkan tatapannya pada Gio.


"Ara udah gak mau makan, mau sakit, mau bikin nenek sedih disana?", tanya Gio lagi.


Ara hanya diam menatap Gio yang kini menatapnya dengan tatapan teduh khasnya.


"Ara mau liat nenek bahagia?", tanya Gio yang perlahan diangguki Ara.


"Bangkit ya sayang. Aku tau kamu sedih, tapi sampai kapan kamu mau nyiksa diri begini, nenek gak akan suka liat kamu begini. Mau ya nenek sedih?", ujar Gio mengelus pipi Ara, lagi-lagi hanya mendapat respon gelengan.


"Kalau Ara mau nenek bahagia, Ara harus bangkit dan gak boleh sedih terus. Jangan mempersusah nenek disana, sayang. Dengan begini kamu udah mempersusah beliau", lanjutnya.


Mata ara berkaca-kaca menatap Gio yang sedari tadi begitu sabar menghadapinya.


"Kita boleh sedih, boleh nangis tapi jangan lupa buat bangkit lagi, hidup masih panjang sayang. Banyak yang harus kamu kejar buat buktiin ke nenek, ayah, sama bunda kalau kamu gadis kuat dan bisa bahagiain mereka",


"Mereka selalu pantau Ara dari sana", tunjuk Gio pada langit biru lewat jendela kamar Ara yang memang terbuka lebar.


"Jangan merasa sendiri, disini masih ada aku, Gea, ayah, bunda, Dara, dan yang lainnya",


"Jadikan aku tempat pulangnya kamu, kalau mau cerita cari aku, kalau mau ngeluh cari aku, kalau kamu kehilangan arah cari aku, aku akan selalu ada dibelakang kamu. Aku selalu siap dan ada buat kamu",


Jelas Gio panjang lebar. Gio bukannya tak mengerti kondisi Ara, namun dia tidak ingin Ara selalu larut dalam kesedihannya. Dia ingin gadis ceria dan cerewetnya balik lagi.


"Boleh peluk?", tanya Ara serak.


Gio menatap Ara tak percaya, setelah tiga hari tak mau membuka suara, akhirnya Ara mau juga berbicara padanya.


"Sini peluk", kata Gio merentangkan kedua tangannya siap menyambut Ara.


Ara menggeser duduknya lalu masuk kedalam pelukan Gio, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Gio, menikmati usapan lembut pada rambut dan punggungnya.


"Maaf", ucapnya lirih.


"Pasti kamu kesusahan jaga aku dari kemarin, capek ya?", tanyanya mendongak.

__ADS_1


Gio mencium sekilas kening gadisnya itu sebelum berujar "Gak ada kata capek sayang dan jangan selalu minta maaf".


"Terima kasih", kata Ara kembali memeluk Gio.


"For what?",


"Everything. Makasih udah jaga aku dan selalu ada",


"Anything for you, sayang"


"Jangan sedih-sedih lagi ya, kita lewati sama-sama. Mau?", tanya Gio yang langsung diangguki Ara.


Gio tersenyum tipis, melepas pelukan mereka dan mencium seluruh wajah gadisnya itu. Ara terkekeh kecil membuat Gio menghela nafas lega. Senyuman itu yang dia rindukan.


"Sekarang cantiknya Gio makan dulu biar gak sakit", kata Gio kembali menawari Ara makan.


Gadis itu tak lagi menolak membuat Gio dengan sigap mengambil makanan yang dia letakkan diatas meja lalu menyuapi Ara dengan telaten. Tak tinggal diam, Ara mengambil sendok dari tangan Gio dan ikut menyuapi Gio.


"Gantengnya Ara juga harus makan",


...---💓💓💓---...


Ken berdiri memandangi puluhan foto gadis cantik yang masih melekat di dinding kamar apartemennya. Senyum gadis itu selalu berhasil membuatnya tenang. Hatinya sedikit perih saat matanya tak sengaja menatap salah satu dari puluhan foto yang ada disana. Foto hasil USG beberapa tahun yang lalu. Foto anaknya yang berada dikandungan Aluna. Sampai hari ini, dia masih belum bisa berdamai dengan keadaan dan dirinya sendiri. Tepat dibawah foto itu, sebuah foto kembali membuat emosinya terpancing. Foto mereka berempat. Foto yang paling Ken benci tapi anehnya dia juga tidak mau membuat foto itu.


"Kamu ngapain?", tanya Veronica yang baru saja masuk.


Ken tak merespon atau menoleh sama sekali, matanya sibuk mengamati satu persatu foto tersebut.


"Hmm", sahutnya.


"Cantik yaa", kata Veronica lagi.


Dia sudah mengenal Aluna, kemarin Ken sudah menceritakan semuanya. Mulai dari Ken yang bersahabat dengan Gio, Aluna yang mengandung anaknya sampai Aluna yang harus pergi lebih dulu bersama anak yang dia kandung. Veronica tahu semuanya dari cerita Ken kemarin.


Ken berbalik mengamati wajah perempuan itu dengan lekat. Tangannya perlahan terangkat memeluk Veronica, dia rindu dan hanya perempuan ini yang bisa mengobati rasa itu meski hanya sedikit, sangat sedikit.


"Gue kangen Ve", lirih Ken.


Tidak ada sahutan, Veronica hanya diam mengusap lembut punggung laki-laki itu.


"Kenapa dia ninggalin gue secepat itu. Ini nyiksa gue", keluh Ken.


"Gue sayang dia, sayang banget. Tapi dia ninggalin gue",


"Lo gak akan ninggalin gue juga kan?", tanya Ken setelah melepas pelukannya dan menatap Veronica dengan tatapan sendu.


Veronica menggeleng dengan senyum hangatnya, "gak akan", ujar perempuan cantik itu.


Ken kembali memeluk Veronica erat seolah perempuan itu hanya miliknya dan tidak akan melepaskannya.

__ADS_1


"Temani gue terus", pintanya membuat Veronica mengangguk.


"Gue harap suatu saat lo bisa liat gue juga dan hati lo bisa sepenuh nya buat gue", batin Veronica.


...---🥰🥰🥰---...


Sedangkan di sisi lain, Rania menatap sengit seseorang yang kini memaksanya ikut ke apartemen besar dan mewah itu.


"Ngapain sih lo ganggu gue terus", kesal Rania.


Dia benci jika terus berurusan dengan laki-laki ini. Bisma, mantan pacarnya. Sebenarnya dia tidak benci bagaimana pun juga Bisma adalah orang yang berarti dalam hidupnya, hanya saja dia tidak suka jika Bisma selalu mencampuri urusannya.


Tadi saat hendak menemui Ara untuk memberinya peringatan, lagi-lagi Bisma mencegahnya sampai akhirnya disinilah mereka sekarang, apartemen mewah milik laki-laki itu.


"Bisa gak, lo berhenti ganggu Gea dan Gio terus", sentak Bisma tidak suka.


"Kenapa, gak suka lo?", balas Rania tak kalah kesalnya.


"Dia sahabat lo dan Gio pacar kakak lo...",


"Ya terus kenapa, hubungannya sama lo apa?", tanya Rania masih dengan nada yang sama, tinggi.


"Berhenti Rania, lo kenapa jadi kayak gini", tutur Bisma sudah tak habis pikir.


"Jangan selalu gunain Gea buat dapatin Gio dan jangan lo hancurin kebahagiaan kakak lo dengan cara rebut Gio. Ini bukan Rania yang gue kenal", lanjut Bisma.


Rania yang dia kenal adalah gadis baik, ceria dan lembut. Tak pernah dia lihat Rania yang kasar dan pendendam seperti ini.


"INI SEMUA KARENA LO",


"CUKUP RANIA", bentak Bisma lelah.


"BUKAN GUE, TAPI RASA IRI LO YANG BUAT LO KAYAK GINI", bentaknya dengan nada tinggi dan nafas memburu, dia benar-benar emosi sekarang


Rania yang melihat itu sontak melangkah mundur, takut karena baru kali ini Bisma seemosi ini.


"Berhenti sebelum lo menyesal. Ara kakak lo, gadis itu baik dan setau gue lo juga sama baiknya, tapi kenapa sekarang lo jadi gini. Gue kangen liat kalian yang akur, gue kangen Rania gue yang dulu", ujarnya melemah.


Mata Rania berkaca-kaca siap menangis, Bisma yang melihat raut ketakutan Rania, mengusap wajahnya kasar. Dia kelepasan lagi.


Bisma menarik Rania kedalam pelukannya, berusaha menenangkan gadis itu.


"Maaf, gue kelepasan", katanya pelan.


Seketika tangis Rania pecah. Dia juga lelah seperti ini ingin berdamai tapi rasa iri dan dendam itu selalu saja menutup matanya setiap kali melihat Gio dan Ara begitu dekat. Menyalahkan orang lain atas keadaan yang tak berpihak padanya.


"Gue benci sama lo", kata Rania sesenggukan dan memukul dada Ken.


"Gue harap lo berfikir jernih, Nia. Ara butuh lo", kata Bisma mencium puncak kepala gadis itu.

__ADS_1


"Gue juga butuh lo"


...--To be Countinued"...


__ADS_2