Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 54. Fakta & Melawan trauma


__ADS_3

Ara diam mendengarkan tanpa memotong sedikit pun. Ara dibuat terkejut bukan main saat mengetahui fakta yang satu itu.


"Setelah kita bawa Aluna kerumah sakit, kenyataan lebih menyakitkan kita dapat....", Gio menggantung ucapannya dan mempererat pelukannya, berusaha menenangkan diri saat mengingat kejadian mengerikan itu.


"Kata dokter, Aluna tengah mengandung tapi bayinya udah gak ada karena mendapat kekerasan dan pelecehan yang mengakibatkan janinnya gak bisa bertahan. Kata dokter, Aluna udah meninggal sekitar 1 jam sebelum dibawa kerumah sakit. Dan Aluna gak mati bunuh diri tapi dibunuh", kata Gio pelan.


"Itu yang buat Ken makin benci sama aku. Dia kira aku yang udah buat Aluna kayak gitu, dia salah paham dan mikir kalau aku udah buat Aluna dan bayinya mati", lanjutnya.


Mata Gio terpejam mengingat masa-masa dimana Ken memukuli dan menyalahkannya atas segala yang terjadi, dadanya seketika sesak. Masih ada kebenaran yang belum Ken ketahui tapi Gio masih menyimpan itu. Menurutnya sekarang bukanlah waktu yang tepat memberitahukan Ken segalanya. Meski sudah berlalu hampir 4 tahun ini tapi dia yakin, Ken tidak akan pernah mau mendengarkannya.


"Jadi ini yang buat Ken benci sama kamu?", tanya Ara membuat Gio mengangguk.


"Ini yang buat kamu kesusahan buat tidur tiap malamnya?", tanya Ara lagi yang hanya dibalas anggukan oleh Gio.


"Aluna, gadis yang fotonya ada dikamar kamu?", pertanyaan ketiga Ara lagi-lagi dijawab anggukan oleh Gio. Tubuhnya sudah begitu lemas sekarang. Untung saja Ara selalu bisa memberinya kenyamanan dan ketenangan.


"Bayi Aluna.... "


"Anak Ken", jawab Gio sebelum Ara menyelesaikan pertanyaan.


"Siapa yang udah tega bunuh dia?", tanya Ara mendongak menatap wajah sendu Gio.


Gio hanya menggeleng, tak tahu. Bukan, bukan karena Gio benar-benar tidak tahu, hanya saja dia belum menemukan orang itu, bahkan sudah empat tahun dia dan Arsal selalu mencari orang itu tapi hasilnya sia-sia saja. Dia sama sekali tidak mengetahui Aluna memiliki musuh. Gadis itu terlalu baik untuk memiliki musuh, sejauh dia mengenal Aluna, dia sama sekali tidak mendengar Aluna membenci atau dibenci seseorang. Bahkan teman Aluna hanya mereka bertiga.


"Kamu sayang sama dia?", tanya Ara lagi.


Gio kembali mengangguk dan kembali merapatkan tubuhnya pada Ara. "Aku udah anggap dia adik aku. Kehilangan dia adalah salah satu pukulan berat buat aku", jawab Gio.


Sekarang Ara paham kenapa Gio se overprotective itu pada Gea. Dia punya pengalaman buruk dan dia trauma akan kehilangan.


"Raa... ", panggil Gio pelan.


"Iya? ",


"Jangan tinggalin aku ya. Apapun masalahnya, kalau kamu marah, maki-maki aku aja, pukul aku sampai amarah kamu terlampiaskan tapi jangan pernah sekali-kali kamu tinggalin aku", pinta Gio memohon.


"Aku udah gak mau kehilangan dan aku gak mau sendiri tanpa kamu", lanjutnya membuat dada Ara menghangat.


Ara mengangguk pasti sambil mempererat pelukannya.


"Raaa....",


"Hmmm",


"Kamu akan selalu jadi yang pertama dan terakhir, bahkan sampai aku mati nanti, cinta aku ke kamu gak akan pernah berubah".


...---🐰🐰🐰---...


Pagi ini setelah sarapan, kedelapan anak muda itu sedang berkumpul di dekat kolam renang, rencananya hari ini mereka akan berenang bersama. Tak ada yang berbeda, semuanya masih sama menyenangkannya. Hanya saja, Gio yang sedari tadi menempel pada adiknya. Akibat Ara yang kebelet dan sampai sekarang belum kembali juga membuat Gea harus menjaga bayi besar itu.

__ADS_1


Zian, Reyhan dan Dara sedari tadi sudah menyebur dan sekarang sedang lomba renang dadakan di kolam renang luas yang letaknya di belakang vila itu. Sedangkan Arsal kini sedang membujuk Naya untuk ikut berenang bersamanya.


"Abang masuk aja, gak papa kok", kata Gea lembut mengusap belakang kepala kakaknya yang kini bersender di bahunya, tak mau menatap air kolam.


"Jangan maksain diri", kata Gea lagi.


Gio menggeleng sebagai jawaban, dia sedang mengendalikan dirinya sekarang. Demi Arsal jadi jomblo, Gio benar-benar kesusahan mengendalikan diri.


"Abang mau belajar lawan ketakutan abang", sahut Gio pelan.


"Gimana mau lawan kalau abang aja dari tadi cuma meluk Gea gini, gak mau nyebur", sahut Gea.


"Gak ada yang mau ngajarin abang", ucap Gio jengkel masih dengan posisinya.


"Abang pintar renang kalau lupa", sahut Gea mendengus. "Kalau takut, ya udah lepas dulu, Adek ajarin deh", ujar Gea hendak melepas pelukkan kakaknya tapi kembali dipererat Gio.


"Kayak pintar renang aja", celetuk Gio membuat Gea terkekeh pelan.


"Bukannya trauma abang hilang, nyawa abang yang melayang", lanjutnya.


Dengan kesal Gea memukul punggung tegap kakaknya itu. Kalau ngomong suka bener, batin Gea.


Pandang Gea lalu teralih pada Dara yang sudah tertawa keras bersama Zian dan Reyhan. Dia bahagia melihat pemandangan didepannya. Naya juga sudah belajar berenang bersama Arsal.


"Diajarin Dara mau gak bang?", tanya Gea memberi penawaran yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Gio.


Bukan apanya, tapi.... "Adek tau sendiri, abang bisa tenang sama siapa aja", sahut Gio membuat Gea mendengus. Benar juga abangnya ini hanya akan bisa merasa tenang jika bersama bundanya, adiknya dan sekarang bertambah ada Ara juga.


"Calon istri abanglah, masa sama kamu", celetuk Gio yang terdengar begitu menyebalkan ditelinga Gea.


Tak jauh dari mereka, berdiri seorang gadis cantik dengan balutan baju kaos dan celana hot pants sedang mengamati keduanya dengan tersenyum hangat. Dia begitu menyukai interaksi kedua saudara itu, sangat menggemaskan menurutnya. Tapi dibalik senyum hangat itu, terselip rasa iri yang membuat dada Ara sedikit sesak. Dia tak memiliki saudara bahkan keluarganya juga membenci dirinya. Tapi juga ada rasa syukur bisa mengenal Gio dan keluarganya, dari mereka Ara bisa kembali merasakan bagaimana hangatnya sebuah keluarga.


Ara berjalan mendekat masih dengan senyumannya membuat Gio langsung melepaskan pelukannya. Bahkan jarak yang bisa dibilang tak terlalu dekat pun Gio bisa mengenali wangi parfum Ara membuatnya menyadari kehadiran gadis itu.


"Dah, sana", usir Gio pada Gea yang kini menatapnya sinis.


"Giliran pawangnya datang, malah ngusir. Siapa tadi yang merengek minta ditemani", kesal Gea.


"Dah ah, sana. Adek berisik", usir Gio lagi membuat Gea mendengus kesal lalu beranjak meninggalkan keduanya.


Ara berdiri didepan Gio sambil tersenyum tipis. Tangannya terulur mengusap lembut rambut laki-lakinya itu. Gio memejamkan mata menikmati setiap sapuan tangan halus Ara.


"Mau coba?", tanya Ara lembut membuat Gio membuka matanya dan mendongak menatap Ara.


Beberapa detik diam, Gio akhirnya mengangguk menyetujui. Dia harus berani melawan ketakutannya sendiri, kan?. Melihat persetujuan Gio, Ara tersenyum tipis dan menggandeng tangan Gio menuju ke pinggir kolam.


Gadis itu langsung turun dengan masih menggenggam tangan Gio. Sedangkan Gio, jangan tanyakan apa yang terjadi padanya sekarang. Sudah jelas tubuhnya menolak dan memberi reaksi yang berlebihan. Tubuh laki-laki itu seketika bergetar hebat saat pandangannya tertuju pada kolam, apalagi saat kakinya menyentuh air dingin di pinggir kolam.


"Gak papa. Ayo turun", bujuk Ara lembut.

__ADS_1


Gio yang sudah berjongkok itu, memejamkan mata dan menggeleng pelan. Demi Tuhan, bayangan itu seketika menguasai pikirannya.


"Jangan dipejamin matanya. Tatap aku", perintah Ara menangkup pipi Gio.


Laki-laki dengan balutan baju kaos hitam dan celana pendek berwarna senada itu perlahan membuka mata dan menatap mata Ara dalam. Bahkan ditengah ketakutan kekasihnya, Ara dapat lihat siapa orang yang ada dimata laki-laki tampan itu. Yah, hanya ada dirinya.


"Tatap aku dan lawan kalau dia mau datang lagi dipikiran kamu", kata Ara lagi.


Gio bahkan sama sekali tak mengalihkan pandangannya dari wajah cantik gadisnya itu. Seolah tenggelam dalam manik mata cantik milik Ara.Gio menggenggam tangan Ara yang ada dipipinya dan mengelak nafas pelan. sepertinya dia sudah sedikit lebih tenang.


"Sekarang kita coba", perintah Ara membuat Gio mengangguk.


"Turun pelan-pelan. Kalau kamu takut liat airnya, pejamin mata dan bayangin bunda lagi liat kamu sambil senyum manis banget", intruksi Ara lagi.


Gio perlahan menurut, matanya terpejam sesuai dengan apa yang diperintahkan Ara. Dalam kepalanya bayangan kejadian mengerikan itu saling berganti dengan bayangan wajah cantik bunda dan gadisnya membuat Gio masih tak bisa sepenuhnya tenang.


Laki-laki itu bisa merasakan apa air kini sudah menyentuh badannya sebatas pinggang. Dengan cepat Gio membuka mata dan menatap Ara tidak tenang. Dia belum bisa, sungguh.


Dengan sekali gerakan Gio menarik Ara, memeluk gadis itu erat dan menenggelamkan wajahnya diceruk leher Ara. Reaksi tubuh Gio membuat Ara yakin, laki-laki itu sudah tidak kuat.


"Gak mau disini", gumam Gio menggeleng cepat.


Sedangkan diujung sana, 6 orang remaja tengah memperhatikan Gio sedari tadi, bahkan Arsal dan Gea yakin Gio memang masih tidak bisa.


"Mau keluar Ara, mau keluar. Gak mau disini", rengek Gio.


"Oke oke kita ke tepi, sekarang lepas", perintah Ara. Gio menggeleng kuat.


"Aku gak kuat bawa kamu ketepi", kata Ara lagi setelah mendapat penolakan Gio.


Gio dengan cepat melepas Ara dan bergerak cepat ketepi kolam lalu berlari masuk kedalam vila. Dengan susah payah Ara mengejar Gio.


"Sayang... ", panggil Ara.


Ara menyusuri setiap ruangan dan berhasil mendapat posisi Gio. Laki-laki dengan baju basah itu sedang duduk dipojokan dengan tubuh bergetar dan kedua tangan memeluk lututnya sendiri. Persis seperti anak kecil yang dimarahi bundanya.


"Gio, sayang... ", panggil Ara ikut berjongkok didepan Gio.


Gio mengangkat kepalanya dan menatap Ara dengan tatapan antara takut, sedih dan merasa bersalah.


"Aku nyusahin kamu ya?", tanyanya pelan.


"Enggak sayang", sahut Ara.


"Aku belum bisa. Aku payah yaa?", tanya Gio lagi.


Ahh Ara rasanya ingin sekali menggigit pipi Gio saking gemasnya.


"Kamu udah hebat, udah mau coba. Besok-besok kita belajar lagi", hibur Ara mengusap lembut rambu Gio.

__ADS_1


...--To be continued--...


__ADS_2