Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 47. aneh


__ADS_3

...---Happy reading---...


Ara memasuki rumahnya dengan tergesa-gesa. Setelah mendapat telfon dari Tante Ani jika om dan tantenya datang merusuh lagi dirumahnya, Ara dengan cepat meninggalkan rumah Gio dan langsung pulang. Benar saja, saat sampai diambang pintu, Ara terkejut melihat rumah yang begitu berantakan bak kapal pecah. Perabotan rumah berpindah, guci pajangan ada beberapa yang pecah, laci nakas dan lemari semuanya terbuka. Diruang tamu neneknya yang sedang duduk di kursi roda berusaha membereskan barang-barang dibantu tante Ani.


"Nek, ini kenapa ?", tanya Ara menatap tak percaya pada rumahnya yang sudah seperti diterpa angin ****** beliung. Kedatangan gadis itu mengalihkan tatapan dua wanita paruh baya itu. Ara berjalan mendekat dan berjongkok dihadapan neneknya.


"Om dan Tante mu datang, gak tau cari apa sampai seperti ini. Nenek minta maaf tidak bisa mencegah mereka", sahut Muti berasa bersalah.


"Mereka cari apa sampai kayak gini, mereka kan tau Ara gak punya apa-apa", tanya Ara berusaha menghela nafas sabar dengan kelakuan keluarganya.


"Nenek gak tau", sahut Muti tidak ingin memberitahukan apa yang mereka cari. Dia tidak mau Ara khawatir dan terlibat pertengkaran dengan mereka, bukannya apa-apa, jika sudah adu mulut mereka akan berbuat kasar pada Ara.


Ara menghela nafas pelan lalu mendorong kursi roda neneknya kedekat sofa.


"Nenek disini aja, biar Ara yang beresin ya", kata Ara meletakkan tas selempangnya diatas kursi dan mencepol rambutnya. Dia rasanya ingin menangis saja melihat dirinya diperlakukan semena-mena oleh keluarganya sendiri, tapi air matanya enggan keluar, hanya hatinya yang terasa begitu perih.


"Tante bantu", ucap Tante Ani yang sedari tadi hanya memperhatikan keduanya.


"Terima kasih Tante", sahut Ara.


Dua orang itu lalu membereskan rumah Ara, meletakkan barang pada tempatnya semula. Hanya dilantai satu, dilantai dua biar menjadi urusan Ara nanti.


Sedangkan Muti yang duduk didekat sofa hanya menatap setiap gerak-gerik Ara dengan tatapan sendu dan perasaan iba pada cucunya itu. Apa salah dari cucu perempuannya sehingga anak-anaknya tidak ada yang menyukai Ara.


"Assalamualaikum", salam seseorang dari ambang pintu membuat tiga perempuan itu menoleh.


"Waalaikumsalam", sahut mereka bersamaan.


Ara mengembangkan senyumnya melihat siapa yang datang. Siapa lagi jika bukan kekasihnya, orang yang mampu menghilangkan rasa perih dihati Ara hanya dengan melihatnya. Sebelum pulang tadi, Ara sempat memberi kabar pada Gio jika mereka bertemu dirumahnya saja.


"Ini kenapa ?", tanya Gio terkejut melihat rumah Ara yang begitu berantakan, "ada maling ?", celetuknya sambil berjalan mendekat pada Muti, menyalami tangan wanita itu dan meletakkan paper bag diatas meja ruang tamu.


"Biasalah", sahut Ara membuat Gio paham maksud gadisnya itu.


Gio menghela nafas pelan lalu berjalan mendekat pada Ara, mengusap keringat yang mengalir dikening gadis itu.


"Jangan gini, malu", kata Ara menunduk dengan rona merah diwajahnya. Gio benar-benar tidak tau situasi, bukan hanya mereka yang ada disini tapi bisa-bisanya laki-laki itu berbuat begitu.


"Tidak apa-apa kok, biasalah anak muda", sahut tante Ani yang mendengar ucapan Ara.


"Aku bantu, setelah ini istirahat", kata Gio yang langsung diangguki Ara. Gio melepas jas hitamnya dan menggulung lengan kemeja putihnya sampai siku lalu membantu Ara menyelesaikan pekerjaannya.


Hampir dua jam berlalu, lantai satu bahkan lantai dua sudah selesai mereka bereskan. Muti sudah berada di rumah tante Ani setengah jam yang lalu, sedangkan Ara dan Gio berada dikamar gadis itu setelah membereskan lantai dua tadi.


Gio yang baru saja selesai mandi langsung menerima sodoran kaos hitam milik gadis itu. Jika ditubuh Ara kaosnya oversize tapi jika ditubuh Gio kaos bergambar beruang itu ketat membentuk lekuk tubuhnya.

__ADS_1


"Ketat banget", celetuk Gio membuat Ara tertawa pelan.


"Kamu aja yang kegedean", sahut Ara.


"Gambarnya kenapa Tedy bear gini, gak ada yang polos aja", cebik Gio. Ini pertama kalinya dia memakai baju seperti ini, bukan tidak mau tapi sedikit malu sih.


"Ah banyak protes deh bapaknya", celetuk Ara.


Gio mengacak rambut Ara pelan lalu menarik gadis itu kembali duduk ditepi tempat tidur.


"Coba cerita, ada apa?", tanya Gio lembut.


Ara menghela nafas pelan, apa yang harus dia ceritakan sedangkan dia sendiri tidak tau apa-apa.


"Gak tau apa-apa, katanya mereka cari sesuatu tapi gak tau apa", kata Ara menceritakan apa yang dia tahu.


"Aku gak ada disini, aku dirumah kamu tadi terus Tante Ani nelfon kalau mereka datang ngacak rumah", lanjut gadis itu menjawab kebingungan Gio.


"Mau dibantu cari tau ?", tanya Gio.


Ara menggeleng pelan, dia tidak mau Gio ikut repot karena masalahnya. Sudah cukup laki-laki itu dibuat repot dengan pekerjaannya.


"Besok aku aja yang nanya", sahut Ara lembut.


"Tapi nanti kalau dipukul lagi gimana ?" tanya Gio mengusap pelan rambut Ara.


"Benar ya, aku temenin", tanya Gio memastikan.


Ara mengangguk pasti. Lagipula om dan tantenya itu tidak akan berani berbuat apa-apa jika ada Gio disampingnya.


"Besok aku ada kejutan buat kamu", kata Ara antusias.


"Oh ya ? Apatuh", tanya Gio tersenyum tipis.


"Namanya juga kejutan jadi gak boleh dikasi tau dulu", jawab Ara.


Gio terkekeh gemas dengan tingkah Ara yang selalu saja bisa membuatnya gemas sendiri walau tak melakukan banyak hal.


"Ya udah, besok aja aku taunya" jawab Gio.


"Sayang", panggil Gio.


"Iya ?", Ara menyahut dengan mata yang berkedip lucu.


Gio bisa lihat jelas raut lelah, marah, kecewa dan terluka bercampur jadi satu dimata gadisnya yg sengaja ditutupi dengan senyum manisnya. Tapi entah mengapa, Ara sama sekali tidak menangis. Terakhir Gio melihat Ara menangis saat mereka belum pacaran dan Gio datang diam-diam dirumah gadis itu. Padahal bisa dibilang setiap harinya gadis itu selalu mendapat perlakuan buruk dari keluarganya.

__ADS_1


"Are you okey ?", tanya Gio pelan membuat senyum dibibir Ara menghilang seketika.


Reflek gadis itu menunduk dan menggeleng pelan, namun detik berikutnya kembali mendongak dan menampilkan senyum seolah dirinya baik-baik saja.


"Iya, aku baik-baik aja kok. Gak usah khawatir", kata Ara pelan.


Gio jelas tahu gadisnya berbohong, laki-laki itu menarik Ara kedalam pelukannya, menumpuk dagunya pada puncak kepala Ara dan mengusap lembut rambut serta punggung milik kekasihnya.


"Kalau lagi gak baik, bilang. Aku gak mau kamu bohong", kata Gio pelan.


Pertahanan Ara hampir saja runtuh, namun seketika dia kembali menarik nafas pelan lalu ikut melingkarkan tangannya di pinggang Gio, membalas pelukan laki-laki itu. Dia kali ini tidak mau menangis dan terlihat lemah. Tapi apa belum cukup dia terlihat baik-baik saja dikeadaan seperti sekarang.


"Aku okey", sahut Ara.


"Jangan kebiasaan mendam apa-apa, itu gak baik buat kamu. Ujung-ujungnya sesak sendiri kan", kata Gio lembut.


"Gak papa nangis, itu tidak menunjukkan kalau kamu lemah, tapi itu menunjukkan kalau kamu masih punya hati dan semua orang berhak nangis kok, gak ada yang larang",


"Dunia memang kadang gak berpihak sama kita, sayang. Tapi mau bagaimana pun kita harus tetap jalani, suka tidak suka itulah yang harus dijalani. Tugas kita hanya memperkuat dan meyakinkan diri kalau kita bisa",


Ara hanya diam dengan mata yang berkaca-kaca mendengar penuturan Gio. Iya, dia memang merasa semesta begitu kejam padanya. Mengambil kedua orang tuanya dan membuat keluarganya membenci dia. Itu bukanlah hal mudah untuknya. Hidup bertahan didunia yang tak mendukungnya membuatnya begitu lelah.


"Setiap orang punya titik lelahnya sendiri. Kadang saat berada disitu, kita mulai menyalahkan keadaan, rasanya ingin menyerah saja dan pergi agar bisa bebas dari semua masalah. Semua orang boleh ngeluh, gak ada yang larang. Tapi ingat boleh ngeluh tapi gak boleh nyerah. Kita mesti tunjukkin ke dunia kalau kita bisa, kita kuat. Bukan cuma ke dunia tapi ke orang-orang yang menganggap kita lemah. Semua orang punya porsi sedih masing-masing, begitupun bahagia. Percaya deh akan selalu ada pelangi setelah badai",


"Kalau merasa paling susah dan sedih ingat masih banyak diluar sana yang lebih susah dari kita. Selalu ingat Tuhan ngasih kita cobaan karena Tuhan anggap kita mampu buat lewatin itu, itu semua cara dia agar kita gak jauh darinya",


Gio melepaskan pelukannya lalu menangkup kedua pipi Ara hingga kedua mata mereka bertemu. Gio menatap mata bening itu begitu dalam.


"Cantiknya Gio kan wanita tangguh yang kuat dan sabar. Kalau cantiknya Gio capek, istirahat dulu. Kalau mau ngeluh datang ke Gio, cerita ke Gio. Tapi harus janji gak boleh nyerah, nanti kalau cantiknya Gio nyerah terus siapa yang temanin Gio lawan kerasnya dunia nanti",


"Kan setelah ini masih akan ada banyak cobaan yang harus dijalani", lanjutnya lalu mengecup kening Ara sekilas.


Ara menatap Gio dengan tatapan sendunya. Laki-laki dihadapannya ini selalu berhasil membuatnya tenang. Meski dulu, diawal-awal Gio begitu jarang mengeluarkan kalimat panjang seperti itu, tapi sekarang laki-laki itu tak pernah ragu bicara panjang lebar untuk selalu mengingatkan dan menenangkannya.


Ara kembali masuk kedalam pelukan Gio, menenggelamkan wajahnya di dada bidang laki-laki itu.


"Terima kasih", ucap Ara.


"Untuk apa ?", tanya Gio mengerutkan keningnya.


"Segalanya. Terima kasih selalu ngingatin aku, terima kasih selalu bisa jadi sandara aku, terima kasih selalu dengar keluh kesa aku, terima kasih selalu mengerti aku tanpa aku cerita, terima kasih udah sayang aku dan terima kasih selalu ada", kata Ara mendongak menatap Gio. Lagi dan lagi Ara tak hentinya mengucapkan kata terima kasih pada Gio yang selalu ada untuknya meski dia tahu, prioritas Gio bukan hanya dirinya tapi ada keluarga terutama adiknya.


"Udah tugas aku", sahut Gio. "Jangan ditahan terus ya, gak baik", lanjutnya tersenyum tipis dan tanpa aba-aba mengecup singkat bibir Ara.


"Iiih kesempatan dalam kesempitan", celetuk Ara memukul lengan Gio pelan membuat Gio terkekeh.

__ADS_1


"Duuh gemesin banget sih kesayangan",


...---To Be Continued---...


__ADS_2