Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 71. Retak


__ADS_3

"Gue ngapain disuruh nunggu disini," kata Rania saat Ken masuk kedalam kamar hotel tempat Rania menunggu atas suruhan Ken.


Ken mengacak rambutnya frustasi, lagi-lagi rencananya gagal. Laki-laki itu menghela nafasnya kasar.


"Gue nunggu berjam-jam disini tapi gak ada apa-apa. Ada apa sih, kak," kesal Rania yang tidak tahu menau dengan rencana Ken.


"GUE MAU BUAT GIO TIDUR SAMA LO MALAM INI," bentak Ken yang jengah dengan Rania yang sedari tadi tak berhenti berceloteh.


Rania terkejut mendengar bentakan Ken dan juga rencana Ken yang sama sekali tak mendapat persetujuannya.


"Gue gak setuju, yang benar aja lo," kesal Rania.


"Bukannya justru bagus banget buat lo, Gio tidur sama lo, lo ngandung anaknya, lo sama dia menikah. Udah gitu aja kok repot," sahut Ken menatap sini Rania.


"Gue emang suka sama Gio, gue mau milikin dia tapi bukan cara seperti itu. Lo gak mikir dampaknya yang lain. Oke kalau itu terjadi, tapi apa ada jaminan Gio bakal perlakuin gue dengan baik," sahut Rania tak kalah kesalnya.


"Itu urusan lo, yang jelas Ara dan Gio pisah," sahut Ken.


"Gila,"


"Gue udah gak mau lagi ikut sama lo buat mishain mereka. Kita cari cara kita masing-masing, gila ya lo dia itu sahabat lo kok lo tega lakuin itu ke dia," sahut Rania lagi.


Tanpa menunggu Ken menjawab ucapannya, Rania melangkah keluar dari kamar itu, mencari seseorang untuk mengantarnya pulang.


"Bisma," panggil Rania saat melihat Bisma yang hendak masuk kedalam mobilnya.


Bisma menoleh dan tersenyum tipis melihat Rania yang kini berjalan tergesa-gesa menuju kearahnya. Tanpa aba-aba gadis itu memeluk Bisma erat membuat laki-laki itu mengerutkan keningnya bingung.


"Ada apa?" tanya Bisma.


"Aku udah kalah ya?" tanyanya.


Bisma mengusap lembut rambut serta punggung gadis itu, Bisma paham apa yang gadis itu rasakan.


"Jangan ganggu mereka lagi ya," pinta Bisma.

__ADS_1


"Kita mulai hidup kita masing-masing. Biarkan Gio bahagia dengan pilihannya dan biarkan kakak kamu bahagia," kata Bisma memberi pengertian.


Rania hanya mengangguk dan terisak pelan. Mungkin ini saatnya dia merelakan Gio. Dari awal dia memang sudah kalah.


"Kita pulang," ajak Bisma.


Berbeda dengan Ken yang sudah mengacak kamar hotel tempatnya dan Rania tadi bertengkar. Barang-barang di kamar hotel itu sudah tidak ada yang tersisa, semuanya hancur.


"Arrrggghhh" pekik Ken.


"Gagal terus," lanjutnya dengan nafas memburu.


"Ini bukan akhir, Gio. Ini baru permulaan," lanjutnya.


Dentingan pada ponselnya membuat Ken berdecak kesal tapi tetap saja merogoh benda pipi yang berada di kantong celananya itu.


"Besok kita ketemu ada yang mau aku tunjukin"


Seperti itulah pesan singkat dari Veronica untuknya malam ini. Ken menghela nafas pelan berusaha menenangkan dirinya. Lalu setelah itu beranjak keluar kamar hotel dan pergi dari sana. Dia akan memikirkan cara apalagi yang akan dia lakukan untuk memisahkan Gio dan Ara. Sepeninggal Ken dari depan kamar hotel itu, seseorang yang sedari tadi bersembunyi lalu muncul dan menatap kepergian Ken dengan senyum miringnya. Dia sudah sedari awal acara mengamati gerak gerik Ken dan dia mengerti rencana apa yang akan Ken lakukan.


...-๐Ÿƒ๐Ÿƒ๐Ÿƒ-...


Pagi sudah menyapa penduduk bumi, Ara terbangun saat silau matahari dan suara isakan seseorang mengganggu tidurnya.


Ara terkejut saat melihat Gio sudah menenggelamkan wajah didadanya dan memeluknya erat dengan terus menangis. Ara tidak mengerti apa yang terjadi. Seketika ingatan gadisโ€”โ€”โ€”wanita itu kembali ke kejadian tadi malam yang membuatnya membeku ditempat.


"Maaf," suara lirih Gio membuat hati Ara serasa diremas kuat.


"Aku gak sengaja, maafin aku, Ra," racaunya.


"Pukul aku, Ara. Please pukul aku," katanya sesenggukan. Pelukannya pada tubuh polos Ara dia pererat.


Tadi pagi saat terbangun, dia terkejut melihat dirinya dan Ara tidur satu tempat dengan tubuh yang sama-sama polos tanpa pakaian. Dia ingin menyangkal semua apa yang terjadi tapi tanda merah yang ada di sekujur tubuh Ara dan bekas cakaran Ara di punggungnya membuatnya mau tidak mau menelan kenyataan pahit itu. Dia membenci dirinya sendiri, dia pikir kejadian semalam hanyalah mimpi liarnya tapi ternyata itu kenyataan dan itu yang membuatnya semakin membenci dirinya. Dia yang selama ini menjaga Ara ternyata dia sendiri yang merusak gadisnya sebelum waktu itu tiba.


"Maafin aku, sayang. Please maafin aku," lanjut Gio. Dia tahu Ara sudah bangun dan mendengar setiap racauannya.

__ADS_1


Air mata Ara juga ikut menetes mendengar suara lirih dan tangisan Gio. Dengan perlahan Ara melepas pelukan Gio dan menatap laki-laki itu tapi tak cukup lima menit, Ara mengalihkan tatapan membuat hati Gio benar-benar sakit melihat itu. Ara tak sanggup menatap wajah Gio, hatinya benar-benar sakit.


Tanpa sepatah katapun, Ara beranjak dari tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi sembari menahan perih pada area intinya. Melihat itu, tangis Gio kembali pecah. Dia tidak suka Ara seperti ini dan dia tidak suka melihat Ara menatapnya dengan tatapan asing seperti itu. Gio ikut bangun dan memakai celana pendeknya, menatap jendela kamar yang masih belum terbuka tirainya. Tatapan Gio kosong, air matanya sesekali turun membasahi wajahnya. Ini untuk pertama kalinya Gio menangis sampai sesenggukan seperti ini. Dia benci dirinya sendiri.


Pintu kamar mandi terbuka mengalihkan tatapan Gio, laki-laki itu beranjak mendekat pada Ara yang kini sudah menggunakan bajunya dengan lengkap. Laki-laki itu menuntun Ara duduk di tepi tempat tidur, berjongkok dihadapannya dengan tangan yang menggenggam tangan Ara erat.


Hati Gio kembali terasa diremas saat Ara sama sekali tak mau menatapnya. Air matanya kembali turun saat melihat beberapa tanda merah dileher gadisnya. Dia mengingat bagaimana Ara menjerit dan menangis meminta dilepaskan tapi dengan bodohnya, Gio mengedepankan nafsu dan tak mendengarkan Ara sedikit pun.


"Sayang..." panggil Gio lemah.


"Aku minta maaf," lanjutnya


"Aku gak sengaja. Tadi malam aku dijebak, ada yang campur minuman aku dengan obat perangsang, aku kesini niatnya mau nenangin diri dan cari jalan keluarnya tapi aku lupa kalau kamu udah pindah kesini," jelas Gio mengecup tangan Ara berkali-kali. Ara terkejut mendengar penjelasan Gio, siapa yang sudah melakukan itu dan apa alasannya. Semalam kemungkinan seperti itu yang dia pikirkan, karena jika tak dalam pengaruh apa-apa, Gio tidak akan pernah melakukan itu. Dia percaya dengan Gio karena sudah puluhan kali mereka berduaan dikamar bahkan tidur bersama dan sejauh itu Gio tak pernah melewati batasnya tapi tadi malam laki-laki itu benar-benar seperti bukan dirinya.


"Maafin aku," lirihnya. Air matanya tak henti-hentinya keluar membuat hati Ara sakit melihat itu.


"Aku bodoh, aku gak bisa nahan diri sampai maksa kamu dan lakuin hal yang gak pantas kita lakuin sekarang," lanjut Gio. Dia tampak frustasi saat Ara hanya diam saja.


"Ara, sayang. Maafin aku. Pukul aku, pukul kalau itu bisa bikin sakit kamu mereda, ayo sayang pukul." kata Gio membawa tangan Ara untuk memukul dirinya sendiri.


"Atau bunuh aku aja, aku siap. Bunuh aku kalau itu bikin kamu gak sedih lagi, Ara please bicara sayang," racaunya makin jadi.


"Rasanya aku benar-benar mau kamu bunuh aja, Ra. Aku gak bisa kayak gini maafin aku," Gio berujar masih dengan isakannya.


"Mau mati aja rasanya," lanjutnya.


Ara menatap Gio tajam saat kata-kata itu keluar dari mulut Gio. Dia marah tapi juga tidak bisa melihat Gio yang seperti ini, sungguh, dia sangat menyayangi Gio lebih dari dirinya sendiri.


"Gio.."


"Sayang, tolong, jangan liat aku kayak gitu," kata Gio memotong ucapan Ara dengan cepat. Dia tidak kuat melihat tatapan Ara padanya sekarang.


Ara menghela nafas panjang, apa kali ini dia harus berusaha mengikhlaskan semua yang terjadi, toh semuanya sudah berlalu, dia calon istri Gio dan Gio melakukan itu bukan sengaja tapi karena pengaruh obat. Apa harus seperti itu? tapi sungguh, hatinya juga sakit mengingat perlakuan Gio padanya tadi malam.


"Apa setelah ini kamu bakal ninggalin aku?"

__ADS_1


...--To be continued--...


__ADS_2