Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 87. Benar-benar berakhir


__ADS_3

Hari ini double update, yeaay 👏👏👏


Happy Reading


Ara duduk dilantai kamar yang dingin sambil memeluk lututnya. Matanya menatap kotak yang beberapa jam yang lalu dia buang sembarangan. Hujan diluar sudah mulai reda digantikan dengan hembusan angin yang cukup membuat badan terasa amat sangat dingin. Ara tak peduli, dinginnya lantai dia nikmati. Air matanya sudah tak lagi mengalir, namun mata yang sudah hampir 2 jam menangis itu sudah sembab dan memerah. Ara terus menyorot kotak dan foto-foto yang sudah berserakan di lantai bersama undangan pernikahan itu. Ara sudah tak peduli dengan kondisi dan penampilannya yang jauh dari kata baik-baik saja. Rambut acak-acakan, mata dan hidung memerah serta pipi yang masih terlihat jelas bekas air mata di sana. Hatinya sakit, sangat sakit hingga rasanya oksigen tak mampu lagi memenuhi paru-parunya hanya untuk sekedar membantunya bernafas dengan lega.


Ara diam dengan pandangan kosong dan pikiran yang kacau. Perempuan berbadan dua itu merutuki dirinya sendiri yang begitu lemah dengan semua cobaan yang dia hadapi. Bolehkah Ara menangis dan berteriak jika dia sudah tidak sanggup lagi? Bolehkan dia meminta agar Tuhan segera menjemputnya? Dia lelah dan dia ingin bebas dari semuanya. Setiap hari selalu ada cobaan yang menghantamnya habis-habisan, selalu ada hal yang membuatnya rapuh dan membuatnya semakin tertekan. Harus bagaimana lagi Ara menyembuhkan dirinya sedangkan semesta seolah tak memberinya cela untuk bernafas lega sebentar saja.


Ayah dan bundanya meninggalkannya dalam waktu yang bersamaan, keluarganya yang membencinya, neneknya pergi tanpa memberinya waktu berpamitan dengan baik dan membahagiakannya, mendapat kekerasan dari keluarga sendiri, dirinya hamil diluar nikah dan di cecar habis-habisan oleh orang-orang diluar sana, hidup sendirian, dan apa ini? Seseorang yang dia harapkan mampu menyembuhkan lukanya justru jadi penyumbang luka paling besar dihidupnya. Gio, laki-laki itu selalu membahagiakan dan menemaninya namun juga menjatuhkan ke jurang paling dalam hingga dia tak mampu lagi kembali. Gio, laki-laki kesayangannya yang sudah memberikannya malaikat kecil, yang dia harapkan akan selalu bersamanya justru meninggalkannya dalam keadaan yang tak bisa dibilang baik sama sekali. Tidakkah Gio berfikir tentang dirinya? Tidakkah Gio memikirkannya sedikit saja sebelum mengambil jalan yang dia inginkan? Apakah Gio sudah tak lagi mencintainya? Lalu bagaimana dengan anaknya kelak? Demi Tuhan ini sungguh menyakitinya.


Sibuk melamun, Ara tak menyadari kehadiran seseorang yang berdiri menatapnya terkejut. Aura, perempuan itu datang menemui Ara karena khawatir dengan keadaan adiknya yang sudah dua hari tak dia temui, namun saat sudah bertemu bukan senyum manis yang menyambutnya namun justru kondisi kacau Ara yang dia lihat.


Aura tergesa-gesa melangkah mendekati Ara dan berjongkok di hadapan Ara, membawa gadis itu ke pelukannya. Seketika saat merasakan elusan lembut pada punggungnya, tangis Ara kembali pecah. Ara menangis sejadi-jadinya di dalam dekapan Aura, bahkan Aura juga merasakan sakit hati yang Ara rasakan. Aura belum tahu apa yang membuatnya seperti ini, dia hanya berusaha menenangkan Ara.


Setelah hampir 20 menit menenangkan, Aura sudah merasakan jika Ara jauh sedikit lebih tenang. Aura melepas pelukannya lalu membawa Ara duduk di tepi kasur, menatap mata perempuan yang sudah dia anggap adiknya itu. Mata sembab dan merah membuat Aura yakin pasti ara sudah menangis begitu lama.


Aura menangkup wajah Ara membuat keduanya saling bertatapan. "Kenapa dek?" tanya Aura lembut.


Ara diam dan terus memperhatikan Aura yang tampak begitu khawatir padanya. Hanya Aura yang sekarang dia miliki, jika nanti Aura juga pergi, maka dia akan kehilangan sosok kakak perempuan dan satu-satunya orang yang mengerti keadaanya. Air matanya kembali menetes namun dengan cepat di hapus Aura.


"Kenapa bisa jadi kayak gini?" tanya Aura lagi.


Ara menghela nafas panjang lalu tanpa mengalihkan tatapannya, Ara menunjuk kotak yang dia lempar tadi. Aura mengikuti arah telunjuk Ara membuat keningnya berkerut. Aura tak mengerti, dengan segera dia mendekati kotak itu, memungut semua foto dan memasukkannya kedalam kotak lalu pandangannya terhenti pada sebuah undangan pernikahan. Aura semakin dibuat bingung. Foto laki-laki ini kan yang menjadi lockscreen ponsel Ara tapi apa ini, bukankah Ara mengatakan laki-laki ini sudah meninggal? lalu foto prewedding itu ? undangan pernikahan itu? Aura benar-benar tidak mengerti. Dia beranjak kembali kesamping Ara setelah menyatukan semuanya kedalam kotak tadi.


"Bisa jelasin ke kakak?" tanya Aura hati-hati.


Cukup lama Ara terdiam lalu akhirnya dia mengangguk. Ara kembali memeluk Aura, dan memulai bercerita ada apa sebenarnya yang terjadi mulai dari keluarga hingga hubungannya dengan Gio yang berantakan. Setelah beberapa menit Ara selesai bercerita, Aura bungkam menatap tak percaya pada Ara yang mengusap air matanya. Tidak, dia tidak marah saat tahu Ara berbohong tentang kehamilannya, bagaimana pun Ara punya alasan untuk itu semua. Dia hanya terkejut dan prihatin dengan kehidupan Ara yang ternyata lebih berat darinya.


"Sekarang, semuanya benar-benar berakhir kak," kata Ara serak.


"Dengan adanya undangan itu, aku sama dia sudah benar-benar berakhir. Lalu bagaimana dengan anak aku nanti, apa aku sanggup jika suatu saat dia menanyakan ayahnya?" ujar Ara lagi, menunduk berusaha menahan sesak didadanya.


"Aku gak kuat. Mau mati aja tapi katanya gak boleh nyerah, kasian dede bayi," ujar Ara lemah.


Dia masih memikirkan anaknya, jika dia pergi kasihan anaknya, dia belum sempat melihat dunia tapi harus ikut bersamanya ke keabadian. Dia tidak tega.


"Tapi gimana kalau nanti dede bayi nanyain ayahnya?" tanya getir.

__ADS_1


Aura sekuat mungkin menahan perih di hatinya melihat kondisi Ara yang sekacau ini. Tak tahu harus berbuat apa, Aura hanya memeluk Ara dan memberinya ketenangan.


"Semuanya pasti bisa kamu laluin. Pasti bisa, harus kuat demi dede bayi, ya" pinta Aura mengusap punggung Ara lembut.


Ara mengangguk, yah memang harus seperti itu, dia masih kuat sampai sekarang hanya karena anaknya. Jika tidak, mungkin sekarang dia sudah bersama ayah dan bundanya diatas sana.


"Harus," balas Ara.


...💔💔...


Beberapa hari berlalu, setelah kejadian kemarin yang membuat dadanya begitu sesak, kini Ara kembali beraktivitas seperti biasa. Meski tidak di pungkiri, hatinya masih begitu sakit saat mengingat semua itu. Foto-foto yang dikirim kepadanya kemarin sudah Aura buang. Namun satu hal lagi yang membuatnya kembali sakit. Sama seperti kejadian sebelum dia pergi beberapa bulan lalu, seseorang kembali mengirimkannya hal yang sama, foto dan video Gio yang tak seharusnya dia tahu karena itu hanya akan menyakiti hatinya. Seolah dunia tidak mengizinkannya melupakan Gio. Ara jadi yakin ada seseorang yang mengetahui keberadaannya sekarang dan yang jadi pertanyaan adalah siapa orang itu dan apa untungnya dia melakukan semua ini padanya.


Jika orang mengatakan bahwa dirinya kuat makan Ara akan membatah dengan keras ucapan itu. Dia tidak kuat, dia masih sering menangis tengah malam dan hatinya masih sakit setiap kali mengingat Gio. Dia tidak kuat, dia hanya berusaha bangkit karena mau bagaimanapun, inilah kejadian yang sesungguhnya. Ini adalah kenyataan dan dia harus menghadapinya. Dia tidak ingin larut dalam masalahnya karena itu hanya akan berpengaruh pada kesehatan dan pertumbuhan anaknya nanti. Yah Ara bisa sejauh ini karena anaknya. Bayi yang berada dalam perutnya sekarang adalah penguatnya.


"Kita tutup toko aja yah," ucap Aura membuat lamunan Ara buyar seketika.


Ara menoleh menatap Aura yang berdiri disampingnya. "Loh kenapa?" tanya Ara.


"Kue udah habis, besok lagi aja. Kamu harus istirahat," jawab Aura. Ara mengangguk saja, memang benar dia lelah dan butuh istirahat. Dia tidak mau anaknya kenapa-kenapa nantinya.


Aura hanya tersenyum dan mengangguk menanggapi ucapan Ara.


...🍃🍃...


Arsal, Ken, Rania, dan Bisma duduk saling berhadapan di meja sebuah cafe dari 10 menit yang lalu. Selama itu pula, tidak ada yang mengeluarkan suara, mereka sibuk dengan pikirannya masing-masing. Atensi mereka beralih pada Arsal saat laki-laki itu menghela nafas kasar.


"Ada apa?" tanya Ken tak sabaran, dia ingin segera pulang dan bertemu istrinya.


"Sabar kek," ketus Arsal. Dia tahu betul kelakuan Ken setelah menikah, tidak bisa jauh dari Veronica terlalu lama. Bahkan jika dirinya harus bekerja sampai sore, Veronica harus menyusulnya kekantor. Aneh memang.


Rania dan Bisma diam saja menatap keduanya, sejujurnya mereka juga tidak tahu Arsal memanggil mereka untuk apa.


"Sudah ada kabar?" tanya Arsal serius.


Ketiga orang yang ada bersamanya sekarang mengerti kenapa mereka dikumpulkan disini. Ketiganya menggeleng pelan, memang seperti itu kenyataannya. Tidak ada kabar sama sekali tentang Ara. Perempuan itu seolah hilang ditelan bumi.


"Ada apa sih sebenernya, Ar?" tanya Rania. Pertanyaan itu sudah tak terhitung berapa kali dia pertanyakan.

__ADS_1


"Bukan hak gue buat ceritain semuanya," jawab Arsal. Jawaban yang selalu Rania dapat setiap kali dia bertanya, membuatnya jengah sendiri.


Rania mendengus kesal pada Arsal yang sama sekali tidak mau memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi.


"Ini udah hampir tiga bulan tapi jawaban lo selalu itu," sahut Bisma yang ikut tak mengerti dengan Arsal.


"Gue juga sebenarnya juga gak tahu apa yang udah terjadi, masalahnya apa, gue juga gak tau tapi gue butuh bicara sama Ara, gue butuh ngomong sama dia dan ngasih tau sesuatu ke dia," jawab Arsal saat melihat tatapan kesal dari tiga orang itu.


"Soal apa?" kali ini Ken yang angkat bicara.


"Gio.." jawabnya pelan.


"Emang ada apa sama Gio? Apa yang terjadi sebenarnya? Apa yang kita semua gak tahu?" tanya Bisma.


Dia juga baru menyadari bahwa laki-laki itu menghilang bak ditelan bumi. Semua tentang laki-laki itu hilang tanpa kabar setelah beberapa bulan yang lalu. Bahkan untuk menemui keluarganya pun sekarang begitu amat sangat sulit.


Arsal hanya menghela nafas pelan dan menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaan Bisma. Respon Arsal benar-benar membuat ketiganya semakin bingung. Apa sebenarnya yang terjadi.


...-To be continued-...


Btw ada yang kangen Gio gak??


Author kangen, dia udah gak ada kabar, gak tau masih hidup atau enggak.


Bagi yang kangen, nih Author kasi visualnya yaa biar kangennya sedikit terobati.



Dan ini, bumilnya Author, Bumil cantik dan yang bumil kuat.



Ini hanya sebatas Visual ya guys,, tapi kalau kalian punya versi kalian masing-masing juga gak papa kok. Kalian bebas berimajinasi sesuka kalian.


Thanks a lot


See you soon ❤❤

__ADS_1


__ADS_2