
Pagi menjelang, matahari masih malu-malu menampakkan wujudnya. Diluar sana embun masih belum menguap dari daunan, suara burung dan ayam berkokok sedikit menganggu tidur Ara. Selain suara-suara dari luar, suara dari kamar mandi juga mengalihkan atensinya.
Ara beranjak dari tidurnya, menoleh menatap kasur di sampingnya yang sudah kosong. Gio sepagi ini sudah hilang. Setelah nyawanya terkumpul, Ara menoleh pada pintu kamar mandi yang sedikit terbuka dengan suara dari dalam yang membuat senyumnya mengembang tipis.
Dengan langkah pelan, Ara berjalan menuju kamar mandi dan langsung masuk, melihat suaminya yang lagi dan lagi mengeluarkan isi perutnya pagi ini. Ara berjalan mendekat lalu langsung mengurut tengkuk serta kepala Gio dengan lembut. Gio mengangkat wajahnya menatap sang istri lewat pantulan cermin. Dengan wajah memerah laki-laki itu tersenyum tipis pada Ara. Gio membasuh mukanya lalu berdiri dengan tegak menghadap istrinya.
"Kenapa bangun, aku ganggu ya?" tanya Gio mengusap kepala Ara.
Ara menggeleng lalu menarik Gio keluar dari kamar mandi, menyuruh suaminya itu duduk disisi tempat tidur. Setelah itu, perempuan dengan balutan piyama berwarna merah tersebut mengambil minyak kayu putih yang selalu tersedia di meja rias nya. Ara kembali dan ikut duduk disamping Gio, mengusap minyak tersebut pada perut kotak-kotak sang suami. Jangan heran, setelah menikah Gio lebih suka tidur tanpa atasan dan hanya mengenakan celana pendek saja.
"Udah enakan?" tanya Ara.
Gio yang sedari tadi hanya memperhatikan gerak gerik istrinya langsung mengangguk dengan senyum tipis.
"Maaf ya, gara-gara aku, kamu jadi repot gini," ujar Ara merasa bersalah.
Gio semakin tersenyum, tangannya terangkat merapikan rambut istrinya yang acak-acakan sehabis bangun tidur.
"Gak papa sayang, ini gak masalah kok. Lebih baik gini daripada aku yang liat kamu kesiksa tiap hari kalau kamu yang alami ini semua," sahut Gio.
"Mau jalan-jalan pagi gak?" tanya Gio mengalihkan pembicaraan.
"Mau tapi aku belum mandi," jawab Ara lesu.
"Gak papa. Gak usah mandi dulu, nanti juga bakal keringatan lagi. Habis dari jalan-jalan baru mandi," ucap Gio.
Ara mengangguk semangat tanda setuju. Dengan gerakan cepat dia berlari kecil menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan sikat gigi.
"Jangan lari-lari sayang," peringat Gio. Mendengar itu, Ara berbalik dan langsung menyengir lucu kearah Gio sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu kamar mandi.
Gio menggeleng pelan melihat tingkah istrinya yang semakin kesini semakin manja dan kekanakan, tapi meski begitu, Gio tetap menyukainya.
...🍒🍒...
Gio dan Ara kini berada di taman dekat rumah mereka. Tak jauh, hanya menempuh waktu sekitar 10 menit berjalan kaki mereka sudah sampai. Sedari tadi Ara tak pernah lepas dari genggaman Gio.
"Gii.." panggil Ara.
"Iya sayang?" Gio menoleh menatap istrinya yg kini menatapnya dengan mata berbinar-binar.
"Mau itu, boleh gak?" tanya Gio menunjuk gerobak eskrim yang tak jauh dari tempat mereka berdiri.
Ara kembali mendongak menatap Gio yang masih menatapnya.Gio hanya tersenyum tipis lalu mengangguk sambil mengelus lembut kepala istrinya.
__ADS_1
"Ayo beliin," ujar Ara menarik Gio dengan tidak sabaran.
Setelah membeli eskrim, Gio mengajak Ara untuk duduk di salah satu bangku taman yang ada disana. Taman yang tak terlalu ramai hanya di isis beberapa anak-anak dan remaja yang sedang lari pagi membuat Gio tak khawatir membawa istrinya kesini. Gio terus mengamati Ara yang tengah sibuk dengan eskrimnya. Sesekali laki-laki itu mengusap sudut bibir istrinya yang belepotan.
"Pelan-pelan, gak ada yang bakal ambil kok," ujar Gio membuat Ara menoleh lalu menyengir memperlihatkan gigi rapinya.
"Habis," ucapnya menunjukkan cup eskrim yang sudah kosong.
Gio mengambil benda tersebut dari tangan istrinya lalu membuangnya pada kotak sampah terdekat. Saat hendak berbalik menuju istrinya, suara dari arah lain membuatnya menoleh.
"Gio," panggil seseorang.
Gio mendengus melihat siapa yang memanggilnya. Tanpa perlu repot-repot membalas sapaan gadis tersebut, Gio berbalik dan mendekat pada Ara.
"Pulang yuk," ajaknya meraih tangan Ara membantu istrinya itu berdiri.
"Kok cepet banget?" tanya Ara bingung.
"Ada kutu loncat," jawab Gio membuat kening Ara mengerut bingung.
"Kutu loncat?" ulang Ara diangguki Gio.
"Hai kak Ara," sapa seorang gadis dari arah belakang Gio yang tak lain dan tak bukan adalah Naumi. Mendengar suara gadis itu, Gio mendengus. jujur dia risih jika berada di dekat gadis itu. Sedangkan Ara memiringkan kepalanya menatap siapa yang memanggilnya dari arah belakang sang suami.
"Loh Naumi, kamu ngapain disini?" tanya Ara basa basi, melingkarkan tangannya dipinggang Gio.
"Ohh itu, emmm...rumah Naumi dekat sini kak. Naumi juga sering olahraga pagi di taman ini jadi yaa gitu deh," jawab Naumi. Meskipun menjawab pertanyaan Ara, pandangan gadis itu hanya mengarah pada Gio yang tak menatapnya sama sekali.
"Gitu ya. Oh ya udah, kami...."
"Udah mau pulang ya kak?" tanya Naumi yang langsung diangguki Ara.
"Sebentar dong kak. Naumi masih mau cerita-cerita sama kakak," ujar Naumi lagi.
"Kenapa?" tanya Ara pelan. Dia sadar betul suaminya risih berada di dekat gadis itu.
"Kakak tinggal disekitar sini?" tanya Naumi.
"Iya,"
Mendengar itu, Naumi tersenyum manis. Langkahnya mendekati Gio akan lebih mudah jika seperti ini, tempat tinggal mereka ternyata dekat.
"Kalau gitu, kapan-kapan Naumi mampir yaa kak?" tanya Naumi.
__ADS_1
"Kami gak terima tamu," jawab Gio ketus.
"Gii.." tegur Ara.
"Sayang, ayo pulang," ujar Gio menarik tangan Ara.
"Eh, eh bentar dong kak," cegah Naumi memegang lengan Gio namun langsung ditepis kasar laki-laki itu.
"Jangan pegang-pegang," ujar Gio galak. Dia tidak suka disentuh sembarangan, beda cerita kalau istrinya yang menyentuhnya.
"Galak banget sih," Ara ikut nimbrung. Perempuan itu sudah mati-matian menahan tawanya melihat raut wajah kesal Gio.
"Maaf ya Naumi, suami saya lagi gak mood, permisi," pamit Ara menarik Gio pergi dari sana.
Setelah beberapa menit berjalan mereka tiba di rumah. Sedari tadi, Gio hanya menggerutu kesal akan tingkah Naumi yang benar-benar membuatnya kesal dan risih.
"Kenapa sih kesal gitu?" tanya Ara mengelus pipi Gio yang kini duduk didepannya. Keduanya berada di teras depan rumah.
Gio menarik Ara lebih dekat lalu memeluk pinggang istrinya, menenggelamkan wajahnya pada perut Ara yang masih rata sambil mengecupnya berkali-kali.
"Kesal banget iih," gumam Gio.
"Kenapa sih kok kayak dendam banget sana Naumi," tanya Ara.
"Aku tuh kesel sama dia. Dia selalu ganggu aku, gak di rumah gak di kantor. Risih tau, sayang," jawab Gio.
Ara tertawa pelan sambil mengusap rambut Gio dengan lembut.
"Ayo masuk, mandi dulu. Hari ini kekantor kan?" tanya Ara.
"Enggak sayang,"
"Loh kenapa?"
"Males. Nanti kalau mual-mual di kantor kan gak enak, gak ada kamu juga,"
"Loh kenapa jadi aku,"
Gio mendongak menatap istrinya yang juga menatapnya.
"Soalnya kamu bisa selalu jadi obat buat aku," jawab Gio tersenyum manis yang dibalas tak kalah manis oleh Ara.
"Gemesin banget sih," ujar Ara terkekeh pelan lalu menunduk mencium kening Gio.
__ADS_1
...-To be continued-...