Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 102. Pernikahan Gea


__ADS_3

Prang prang


Suara pecahan kembali memecah keheningan kamar yang beberapa hari ini Gio tempati. Setelah dari rumah Rania tadi, Gio langsung pulang dan melampiaskan amarahnya pada barang-barang yang ada disekitarnya.


"BANGSAT," pekiknya keras.


Diambang pintu, Arsal berdiri memperhatikan Gio yang masih mengamuk tidak jelas. Demi apapun, Arsal lelah melihat Gio seperti ini. Apa Gio tidak lelah?.


Arsal berjalan mendekat lalu menyentak tangan Gio yang hendak memukul kaca lemari. Tak sampai disitu, Arsal melayangkan satu pukulan keras dan mampu membuat Gio terhuyung hingga punggungnya menabrak dinding cukup keras.


"SADAR BEGO," pekik Arsal. Sudah cukup, dia lelah dan tidak tega melihat Gio yang seperti ini. Dia tidak menyangka kedatangan sahabatnya bukannya membuat dia bahagia tapi justru membuatnya sakit melihat keadaan Gio. Ara memiliki pengaruh besar dalam hidup Gio.


"DIAM LO," teriak Gio tak kalah kerasnya.


"JANGAN HALANGI GUE," lanjut Gio menegakkan tubuhnya menatap Arsal penuh dendam.


"GAK ADA GUNANYA LO GINI TERUS, BANGSAT. LO HARUS BERUBAH. LO HARUS KUAT BUAT NYARI DIA," teriak Arsal jengah.


"Percuma, dia ada di rumah Rania tapi mereka gak mau gue ketemu sama dia," ujar Gio melemah, kembali menyandarkan tubuhnya pada dinding lalu merosot duduk dilantai.


Arsal menatap Gio tak percaya, jadi Gio sudah tahu jika Ara ada disini?.


"Apa salah gue, Ar. Apa salah gue sampai dia ninggalin gue dan buat gue hancur seperti ini?" tanya Gio.


"Gue gak mau orang lain, gue maunya dia. Gue mau sama dia. Lebih baik gue mati kalau gak sama dia,"


"Apa dia gak ngerti dan gak tau kalo gue maunya dia?"


"Jangan gini, Gii. Pikirin ayah dan bunda, adek juga sebentar lagi menikah, dia akan sedih liat lo kayak gini terus," sahut Arsal.

__ADS_1


"Justru karena itu, gue sayang banget sama Ara, bunda, ayah dan Gea, gue gak mau kecewain mereka, gak mau. Kalo gue gak bisa sama Ara, gue lebih baik mati daripada harus maksa ayah dan bunda buat terima orang baru lagi atau liat mereka nangis gara-gara gue gagal sama Ara. Demi Tuhan, Ar. Gue sayang banget sama Ara," ujar Gio pelan, sangat pelan.


"Gue hancur gak ada dia, gue gak bisa tanpa dia. Lo tau masalah Aluna belum kelar dan bertambah Ara yang tiba-tiba menghilang, gue hancur. Rasanya gue mau gila mikirin semuanya. Tiap hari gue gak bisa tidur dengan tenang, bernafas dan melangkah pun tidak tenang. Rasanya kosong," Gio menunduk menyembunyikan air matanya yang berusaha mati-matian dia tahan.


"Dua tahun, Ar. Dua tahun bukan waktu yang singkat,"


Arsal diam tak bisa menanggapi lagi, dia tahu betul sesayang apa Gio pada empat orang itu. Dia tidak akan pernah sehancur seperti ini jika tidak menyayangi Ara.


"Bantu gue, Ar. Bantu gue ketemu sama dia," ucap Gio mendongak menatap Arsal dengan tatapan memohonnya.


Arsal tanpa menunggu lama langsung mengangguk setuju, dia harus membantu Gio bagaimana pun caranya. Dia tidak bisa melihat Gio seperti ini terus. Jika Ara memang memilih meninggalkan Gio, setidaknya keduanya bisa berpisah secara baik-baik.


...🍍🍍...


Seminggu berlalu..


Gio melangkah masuk kedalam rumah besarnya dengan stelan jas rapi, Gio melangkah penuh wibawa. Banyak pasangan mata yang mengamatinya, memuji parasnya. Meski berjalan dengan wajah datarnya, itu tidak mengurangi ketampanan laki-laki itu.


Kedatangannya cukup terlambat karena ijab kabul sudah dilaksanakan. Dia cukup menyesal akan hal itu. Seharusnya sebagai seorang kakak, Gio ada disini sebelum ijab kabul tapi kenyataannya justru dia datang terlambat. Tidak apa-apa, dia sudah minta izin pada adik perempuannya itu. Dia ada beberapa urusan yang harus dikerjakan di kantor. Yah, hari ini juga dia masih menyempatkan diri mampir ke kantornya.


Berkat paksaan dari Arsal, Gio kembali ke kehidupannya yang dulu, mengurus pekerjaan dan kembali hidup normal seperti biasanya. Gio melakukan itu bukan sepenuhnya keinginannya tapi karena perjanjiannya dengan Arsal. Sahabatnya itu akan membantunya jika Gio mau berhenti mengurung diri dan kembali ke kehidupan sosialnya.


Demi bisa bertemu Ara, Gio menyanggupinya meski rasanya sedikit tidak enak. Dua tahun sudah berjalan dengan keadaannya yang seperti sekarang, jadi kembali normal lagi sedikit tak mudah untuknya.


Gio duduk di kursi paling depan melihat punggung adiknya yang bergetar memeluk ayahnya. Meski tatapannya datar, tak dipungkiri jika Gio ikut bahagia dengan pernikahan sang adik. Gio yang sedari tadi tak melepas pandangannya dari sang adik, sekarang melihat adiknya yang begitu cantik dan anggun berjalan mendekatinya.


"Bang," panggil Gea parau menatap sendu pada kakak laki-lakinya itu.


Gio tersenyum tipis, lalu beranjak berdiri dan memeluk adiknya begitu erat. Dia ikut bahagia dengan kebahagiaan yang adiknya rasakan.

__ADS_1


"Kenapa nangis, hm?" tanya Gio pelan.


"Kangen," jawab Gea.


"Gea kira abang gak bakal datang," lanjutnya dengan air mata yang terus mengalir.


"Masa gak datang di nikahan adik sendiri sih. Jangan nangis, nanti riasannya rusak kamu jadi jelek," sahut Gio terkekeh pelan.


Gea melepas pelukannya saat mendengar ucapan Gio. Gea terkejut, melihat Gio yang berubah. Setelah dua tahun terakhir, ini pertama kalinya lagi Gio terlihat seperti manusia.


"Kok natapnya gitu?" tanya Gio


"Kan riasannya rusak," tangan laki-laki itu mengusap dengan pelan air mata dipipi adiknya agar riasan sang adik tidak rusak.


"You okey?" tanya Gea terus memperhatikan Gio.


Gio tersenyum tipis lalu mengangguk mantap. Hah, rasanya begitu rindu dengan adiknya ini.


"Gea senang abang kayak dulu lagi," ujar Gea kembali memeluk Gio.


"Gimana sama Ara?" tanya Gea.


"Abang akan temui dia dan jelaskan semuanya," jawab Gio.


Laki-laki itu menatap Gea yang kini berdiri dihadapannya. Adiknya itu sangat cantik dengan riasan pengantin dan gaun yang dia pakai hari ini. Adiknya tersenyum senang dengan mata berbinar yang terus menatapnya. Gio jadi berfikir satu hal, apa selama ini dia sudah terlalu jauh dari keluarganya?


"Semangat, adek bakal bantu," kata Gea tersenyum makin lebar.


Gio ikut tersenyum dan mengecup kening adiknya, "Selamat atas pernikahannya. Jadi istri yang nurut dan berbakti pada suami, semoga bahagia selalu menyertai kalian," ucap Gio setelahnya.

__ADS_1


Gea mengangguk dan kembali memeluk Gio erat, rasanya sudah begitu lama dia jauh dari Gio. Disisi lain, ada dua orang yang sedari tadi memperhatikan Gio dari awal laki-laki itu masuk. Ken dan Rania. Keduanya menatap Gio dengan tatapan yang berbeda.


...-To be continued-...


__ADS_2