
...---Happy reading---...
Waktu berjalan begitu cepat, dua minggu ini Gio habiskan hanya berada di kantor. Karena alasan magang, Gio sudah jarang masuk kampus dan sekarang dia menjelma sebagai mahasiswa magang di kantor yang dikelola sepupunya, Aresal Ananda. Jabatannya sekarang bukan lagi seorang CEO tapi anak magang biasa dan dia bisa berbaur dengan baik. Dia mengejar kelulusannya lebih cepat agar bisa dengan mudah mengelolah perusahaannya sendiri dan bisa segera menikahi gadisnya---ehh.
Berbicara tentang Ara, ada sedikit kelegaan bagi Gio saat mengetahui gadisnya itu juga satu minggu ini sudah ikut magang dan yang membuatnya semakin senang adalah gadisnya itu magang di kantor pusat yang dia kelolah tapi sekarang ayahnya yang mengambil alih untuk sementara. Tapi meskipun begitu, dia bisa tau keseharian Ara dan satu lagi, setiap sore dia bisa menjemput Ara.
Pagi ini Gio memutuskan masuk kampus karena ada beberapa hal yang harus dia urus. Suasana hatinya begitu baik karena tadi malam dia sempat bertemu dengan Ara. Hanya gadis itu yang mampu membuat moodnya semakin baik.
"Gioooooo", pekikan dari seorang gadis membuat Gio mendengus. Dia kenal suara itu, namun Gio menulikan telinganya, dia tidak ingin merusak mood paginya hari ini. Kakinya terus melangkah tanpa repot-repot berbalik atau menanggapi panggilan itu.
"GIOOOOO", teriakan dari orang lain berhasil membuat langkah Gio terhenti dan berbalik menatap datar pada Arsal, sahabatnya.
Oke sekarang dia bukan hanya akan menghadapi gadis perusuh itu tapi juga sahabatnya yang tololnya sudah tingkat dewa.
"Kenapa ?", tanya Gio setelah dua orang itu sampai didepannya.
"Kamu udah magang ya,, pantas aja kampus sepi gak ada kamu", kata Rania. Jujur saja dengan magangnya Gio membuatnya juga malas kekampus karena tidak ada laki-laki itu.
Gio tak membalas, bahkan menatap Rania pun tidak. Dia hanya menatap sahabatnya menunggu apa yang akan Arsal katakan.
"Lo gak masuk perusahaan?", tanya Arsal.
"Izin bentar, gue ada urusan", kata Gio.
"Lo sendiri kenapa disini?", tanya Gio. Harusnya kan Arsal juga masuk magang hari ini tapi sahabatnya tiba-tiba ada disini membuatnya heran.
"Gabut, malas diperusahaan mulu", jawabnya enteng. Arsal menarik Gio untuk melanjutkan langkahnya seolah hanya ada mereka berdua.
"Mentang-mentang perusahaan sendiri", sahut Gio.
"Apa-apa tuh harus dimanfaatin, tuan muda. Jangan kayak lo udah jadi CEO malah capek-capek jadi anggota lagi", sahut Arsal lagi.
"Namanya belajar", sahut Gio.
"Lah lo udah belajar dari dulu. Lo udah pintar dari lahir. Yang harusnya banyak belajar tuh gue. Kan gue bego banget", kata Arsal.
"Itu sadar", sahut Gio.
"Kenapa lo gak belajar malah keluyuran?", tanya Gio.
"Bapak gue udah kaya. Ntar kalau gue belajar terus tambah kaya, gue yang pusing habisin duit gue kek gimana", sahut Arsal lagi.
Oke sepertinya Gio harus perbanyak lagi stok sabarnya. Sahabatnya ini susah sekali diajak serius, ada saja jawaban yang dia berikan.
"Serah", sahut Gio.
Melihat Gio meninggalkannya begitu saja, tak tinggal diam Rania ikut mengejar Gio. Meskipun kesal karena tidak digubris sama sekali tapi dia tidak akan menyerah sampai Gio juga belajar menerimanya.
"Nanti jalan yuk", ajak Rania.
Gio menoleh dengan alis terangkat, "gue sibuk", sahutnya kemudian.
"Sibuk mulu, gak pernah ada waktu sama aku", kata Rania.
"Emang lo siapa gue ?", tanya Gio menusuk. Kadang-kadang memang seperti itu, ucapan laki-laki itu terkadang pedas untuk orang-orang yang tidak dia sukai.
"Dia mau jalan sama gue, Nia", sahut Arsal dari samping.
"Kita mau makan siang bareng. Ya kan sayang ?", tanya Arsal lalu mengedipkan sebelah matanya pada Gio
"Gila", gumam Gio.
"Aduh Rania, udahlah. Ngapain lo kejar kulkas dua pintu ini, mending sama gue", kata Arsal.
"Gak, ngapain. Gue sukanya Gio", sahur Rania.
"Tapi Gionya gak mau dan fyi Gio udah punya pacar", sahut Arsal begitu heboh membuat Rania terpaku ditempatnya.
Gio hanya menghela nafas pelan melihat tingkah Arsal. Haruskah sahabatnya itu membocorkan itu, tapi tidak masalah juga. Alasan ini bisa dia gunakan agar Rania menjauh darinya.
"Kami sempat latihan basket bersama", kata Arsal lagi, tak menyadari tatapan horor Gio.
"Mereka udah pacaran hampir satu bulan. Jadi lo sama gue aja, gimana ?", tanya Arsal lagi.
Rania menarik tangan Gio agar laki-laki itu berhenti melangkah. Gio menghempaskan tangannya pelan lalu menatap Rania dengan datar.
__ADS_1
"Itu beneran ?", tanya Rania dengan mata berkaca-kaca.
"Iya", jawab Gio singkat.
"Tapi kenapa, Gio. Selama ini aku yang berjuang buat kamu, kenapa orang lain yang dapat ?", tanya Rania dengan tatapan kosongnya.
"Gue gak pernah suka sama lo. Tanya sama diri lo apa yang udah buat gue benci sama lo", kata Gio lagi.
"Gea", sahut Rania.
"Hanya karena gue sempat gertak lo dengan menggunakan Gea, lo sampai segitu bencinya sama gue ?", tanya Rania.
"Hanya ?", tanya Gio.
"Lo bilang hanya ?", lanjutnya lagi
Gio melangkah mendekatkan dirinya dengan Rania, sedikit menunduk dirinya agar sejajar dengan tubuh kecil Rania. Sedangkan Arsal hanya mengamati keduanya, tidak ingin ikut campur.
"Kalau kata maaf lo bisa balikin mental adik gue, gue gak bakal mikir dua kali maafin lo. Kalau kata maaf lo bisa balikin adik gue kayak dulu gue gak bakal mikir dua kali buat belajar terima lo. Tapi.....", Ucapan Gio menggantung. Laki-laki itu lalu menegakkan tubuhnya dan kembali memberi jarak.
"Lo pernah berbuat tidak baik ke Gea, adik gue jadi trauma berat dan lo bilang itu 'hanya' ??", kata Gio menatap Rania datar.
"Waw, lo luar biasa Rania", katanya lagi.
"Gue gak pernah membenci orang tanpa alasan. Gue gak pernah benci orang kalau dia nyakitin gue. Tapi jika itu menyangkut sahabat dan keluarga gue, terutama Gea tanpa pikir dua kali pun gue akan benci orang itu selamanya", lanjutnya. Setelah mengatakan itu, Gio berbalik dan meninggalkan Rania yang masih diam mematung.
"Berhenti, Rania", kata Arsal sebelum menyusul Gio. Dia tahu sahabatnya seperti apa dan dia tahu Gio jika sudah nekat bisa melakukan apapun.
"GUE BAKAL LAKUIN APAPUN BIAR LO BISA SAMA GUE", teriak Rania yang masih bisa didengar Gio dan Arsal. Untung koridor kampus sedikit sepi sampai hanya beberapa orang yang melihat Rania berteriak.
"Cewek gila", gumam Gio.
...---🌻🌻🌻---...
"Ra, ada yang cariin", kata seorang karyawan wanita yang datang menemui Ara.
Ara mengerutkan keningnya bingung. Siapa, pikirnya. Jika itu Gio dia bahkan tidak perlu seperti ini. Ini perusahaannya jadi dia bebas dan selama magang pun Gio tak pernah menemuinya jika jam kerja seperti ini, satu lagi dia tidak pernah menemui Ara sebelum memberitahu gadis itu.
"Siapa kak ?", tanya Ara pada karyawan yang sudah lama bekerja disini.
"Enggak tau, teman kamu kali. Sana temui dulu siapa tau penting", sahut karyawan wanita itu.
"Tidak apa-apa, ini sudah hampir jam makan siang juga. Sana temui dulu", kata wanita dengan nametag Vera itu.
Dengan setengah hati Ara mengangguk. Sebenarnya tidak enak tapi mau bagaimana lagi, benar kata wanita tadi, siapa tau penting kan.
Setelah turun ke lantai dasar dan berjalan menuju ruang semacam kantin perusahaan, Ara mencapai seseorang duduk sendiri dan Ara yakin Ara kenal orang itu. Dengan langkah yang terpaksa, Ara menghampiri orang tersebut dan tanpa permisi duduk dihadapannya.
"Ada apa ?", tanya Ara to the point.
"Aku mau bicara sama kamu", sahut laki-laki yang tak lain adalah Ken.
"Iya, ada apa. Aku gak punya banyak waktu", sahut Ara.
"Jauhi Gio", kata Ken langsung pada intinya.
Ara mengerutkan kening bingung, dapat Ken lihat raut tak suka saat di wajah Ara saat mengatakan itu.
"Apa hak kamu?", tanya Ara tidak suka.
Laki-laki dengan baju kemeja putih dihadapannya ini sudah keterlaluan. Ara tidak suka jika kehidupan pribadinya diusik dan siapa dia sampai harus mengatur hidup Ara.
"Gio gak sebaik apa yang kamu pikir, dia jahat Ara. Dia gak lebih dari psychopat", kata Ken.
"Jaga ya ucapan kamu", kata Ara murka. Dia tidak suka jika orang merendahkan Gio, palagi sampai mengatakan jika Gio seorang psikopat.
"Atas dasar apa kamu bicara seperti itu. Kamu kenal dia ? Enggak kan", kata Ara lagi.
"Aku bahkan lebih kenal dia dari kamu, Ara. Percaya sama aku", sahut Ken tak mau kalah.
"Aku gak percaya", kata Ara lagi. Yang benar saja, kekasihnya bahkan begitu baik padanya.
"Kenapa harus dia Ara?", tanya Ken lagi.
"Aku bahkan bisa kasi lebih dari yang dia kasi", kata Ken.
__ADS_1
"Perasaan orang gak ada yang tau, dan aku suka dia pun bukan karena apa yang dia miliki", kata Ara kesal, bisa-bisanya laki-laki itu menilainya seperti itu.
"Baiklah, kamu yang paksa aku. Aku bakal tunjukin sama kamu orang seperti apa dia", kata Ken dengan tersenyum miring, melihat itu Ara sedikit ketakutan.
"Aku mau kerja lagi", kata Ara bangkit dan hendak beranjak namun belum sempat menjauh, cekalan pada tangannya berhasil menghentikan langkahnya.
"Lepasin", bentak Ara, namun percuma. Sekali gerakan Ken berhasil mengangkat tubuh Ara dan memaksanya masuk kedalam mobil. Ara berontak, tentu saja namun hal itu rasanya percuma jika tenaganya dibandingkan tenaga Ken yang luar biasa kuat.
"Sorry, Raa. Lo yang paksa gue", kata Ken setelah memaksa Ara ikut dengannya. Dengan mengemudikan mobilnya, Ken sesekali menoleh pada Ara yang masih berusaha membua ikatan tangannya yang sempat Ken ikat tadi.
"Kamu itu kurang ajar banget sih, lepasin gak", kata Ara kesal. Tangannya sudah perih akibat bergesekan dengan tali.
"Gue udah pernah bilang, gue akan dapatin lo baik dengan cara halus ataupun kasar. Dan sepertinya cara halus gak mempan, bahkan lo lebih milih orang lain, makanya gue pake cara kasar", kata Ken mendengar cara dan nada bicara Ken membuat Ara semakin ketakutan. Ken termasuk orang yang nekat dan apa yang sudah dia katakan akan dia lakukan.
"Lepasin Ken", pinta Ara.
"Gak akan", sahut Ken.
Ara mendengus dan kembali diam, fokus membuka ikatan pada tangannya. Dia tidak ingin mati sia-sia ditanag laki-laki ini.
Setelah beberapa menit mengemudi, mobil yang ditumpangi Ara dan Ken berhenti disebuah tempat yang ara bahkan tidak tahu tempat apa itu. Ken keluar dari mobil dan memaksa Ara turun lalu menyeret gadis itu untuk ikut dengannya. Saat pintu terbuka, Ara dapat melihat ruangan itu seperti ruangan yang biasa digunakan latihan atau bahkan lomba renang. Dan ruangan ini sangat-sangat luas. Ara menelan salivanya kasar, apa Ken akan menenggelamkannya sampai tewas atau akan membunuhnya dan membuat mayatnya kedalam kolam renang. Ara tak bisa berfikir jernih lagi sekarang. Dia takut dan berharap seseorang bisa menyelamatkanntya dari sini.
Disisi sebelah kanan dekat dengan ruang ganti, ada sebuah ruangan kosong yang Ken gunakan untuk menyekap Ara. Kenapa Ken membawanya kesini, karena hanya tempat ini yang jauh dari jangkauan orang-orang dan hanya tempat ini yang sepi di jam seperti ini. Dia bisa saja membawa Ara ke apartemennya tapi mamanya selalu datang setiap siang kesana. Dia tidak ingin membuat mamanya syok karena melihatnya menyiksa perempuan.
"Lepas. Untuk apa kamu bawa aku kesini", tanya Ara masih berusaha melepaskan diri.
Ken diam dan fokus mengikat tubuh kecil Ara pada sebuah bangku. Setelah dirasa selesai, Ken bangkit dan berdiri dihadapan Ara.
"Lo diam disini, gua bakal bawa lo jauh dari negara ini. Sampai orang lain gak nemuin lo lagi", kata Ken membuat Ara panik.
"Lepas Ken. Kamu mau apa ?", tanya Ara dengan mata berkaca-kaca, ucapan Ken barusan berhasil menganggunya. Apa yang tidak bisa dilakukan Ken, semuanya bisa saja terjadi. Obsesinya pada Ara bisa membuatnya melakukan itu. Dan jika itu terjadi siapa yang menjaga neneknya.
"Mau gue ?", tanya Ken menunjuk dirinya sendiri lalu menunduk mensejajarkan tubuhnya dengan Ara.
"Kamu", jawabnya sambil mengelus lembut pipi Ara.
Ara memalingkan wajahnya menghindari sentuhan Ken.
"Gue bisa ngelakuin apapun sekarang disini, Ara", kata Ken dengan tatapan menusuk.
"Gak ada orang. Cuma lo sama gue", kata Ken lagi. Tangannya terangkat mengangkat dagu Ara agar gadis itu menatapnya.
"Kita bisa lakuin itu supaya lo bisa jadi milik gue sepenuhnya", kata Ken lagi. Air mata Ara lolos saat mendengar ucapan Ken, demi apapun dia takut.
"Gio", gumam Ara pelan berharap laki-laki itu datang dan menyelamatkannya.
"Jangan sebut nama dia, cantik", peringat Ken lembut tapi menakutkan untuk Ara.
"Dia gak akan datang", kata Ken lagi.
"Giooo", kata Ara berani.
"Gue bilang jangan sebut nama dia", bentak Ken membuat Ara terkejut.
"Gio Gio Gio Gio Gio Gio Gio", sebut Ara dengan berani.
Plak
Satu tamparan mendarat mulut dipipinya membuat Ara menoleh dengan menahan perih, sudut bibirnya robek dan mengeluarkan darah segar. Tak masalah, toh ini sudah sering dia rasakan.
"Gio", kata Ara lebih lantang lagi.
"DIAM", bentak Ken menggelegar.
"GUE BILANG DIAM YA DIAM. JANGAN SEBUT NAMA DIA DIDEPAN GUE", kata Ken lagi dengan amarah yang sudah memuncak.
"Giooo", teriak Ara tidak takut.
Melihat Ara yang keras kepala, Ken memegang rahang Ara kuat dengan satu tangan membuat Ara kembali diselimuti rasa takut. Ken mendekat wajahnya pada wajah Ara. Ibu jari laki-laki itu mengusap dengan lembut bibir pink Ara membuag bulu kuduk Ara meremang. Susah payah Ara melepaskan diri namun gagal.
"Gue bilang jangan sebut dia didepan gue", kata Ken memperingati lagi.
"Gio", gumam Ara sambil terisak pelan. Berharap laki-laki yang sedari tadi dia sebut namanya datang dan menyelamatkannya.
Oke Ken mulai muak, dia harus memberi pelajaran pada gadis keras kepala ini, Ken semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Ara, saat hendak mencium bibir Ara, suara pintu terbuka dengan keras mengalihkan atensi keduanya.
__ADS_1
"Lo sentuh dia, lo mati"
...---To Be Continued---...