Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 121. Pregnant


__ADS_3

Pagi ini, Ara tak habis pikir dengan Gio yang terus-terusan merengek padanya, bahkan laki-laki itu kini tengah memeluk pinggangnya sambil terus menciumi perut rata miliknya. Sejak 10 menit yang lalu setelah keluar dari kamar mandi, Gio tak pernah mau melepas pelukannya. Laki-laki yang hanya mengenakan boxer berwarna biru gelap itu kembali mengeluarkan isi perutnya, entah sudah yang keberapa kali yang jelas hal itu yang membuat Gio tak mau melepaskan Ara pagi ini.


"Kita ke dokter ya," bujuk Ara untuk yang kesekian kalinya sambil mengelus rambut acak-acakan suaminya.


Gio menggeleng diperut Ara, mengeratkan pelukannya sambil memejamkan mata.


"Kita periksa perut kamu, siapa tau ada masalah atau kamu gak cocok sama makanan apa gitu," ujar Ara lagi.


"Gak mau," jawab Gio lemah.


Baru pagi hari tenaganya sudah terkuras habis akibat perutnya yang selalu merasa tidak enak. Ini untuk yang pertama kali dalam hidupnya dia merasa begitu tersiksa saat sakit.


"Kalau gak mau terus mana bisa ditau kamu kenapa," ujar Ara masih mencoba membujuk suaminya itu.


"Lapar tapi kalau makan pasti dikeluarin lagi, buang-buang makanan," adu Gio.


Ara tersenyum mendengar penuturan Gio, sungguh, Gio begitu menggemaskan jika seperti ini.


"Makan kamu aja, boleh gak,"


"Heh,"


Ara memukul lengan suaminya pelan. Enak saja, semalam sudah dapat jatah, yang benar saja pagi masih minta. Gio benar-benar tidak tau kondisi, sakit tapi masih saja menggodanya.


"Sayang, ngantuk," rengek Gio.


"Ya udah tidur,"


"Temenin,"


"Gak, nanti macam-macam lagi,"


"Gak macam-macam, beneran deh,"


"Kamu mah lain dimulut lain tindakan,"


"Kali ini beneran, cuma mau ditemenin sambil peluk gak aneh-aneh,"


"Bener?",


Ara menatap Gio yang mendongak menatapnya. Meyakinkan jika apa yang dikatakan suaminya itu benar adanya.


"Beneran," sahut Gio.


"Ya udah ayo, aku temenin,"


Setelah mendengar penuturan istrinya, Gio melepas pelukannya lalu berbaring dikasur yang langsung disusul Ara. Saat istrinya sudah ikut berbaring dengan sigap Gio langsung memeluk istrinya, menenggelamkan wajahnya pada dada sangat istri, menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya yang berhasil meredam rasa mual pada perutnya. Sebenarnya Gio sedikit bingung dengan kondisinya, hari ini dia tidak sempat masuk kerja karena pagi-pagi sekali dia kembali memuntahkan isi perutnya. Gio tidak tahu alasannya apa, dia tidak memiliki riwayat penyakit mag, dia juga tidak biasanya seperti ini, tidak mungkin masakan istrinya yang bermasalah bukan. Tapi, dari kemarin dia selalu mual-mual dan obatnya cuma satu, ya istrinya sendiri. Bersama dengan Ara seperti ini berhasil membuat mualnya hilang.


"Jangan aneh-aneh, tidur," peringat Ara saat tangan Gio masuk kedalam bajunya lalu meraba perutnya dan perlahan naik keatas.


"Cuma mau pegang kok," ujar Gio


Ara menghela nafas pelan. Iya, sekarang cuma pegang-pegang tapi lima menit kedepan pasti beda lagi ceritanya.


...🦋🦋...


Ara mengerjapkan matanya saat merasakan sentuhan pada pipi dan keningnya. Dia ikut tertidur saat menemani Gio yang katanya mengantuk tapi malah kembali mengajaknya 'bermain'.

__ADS_1


"Bangun sayang," bisik Gio yang sudah duduk di tepi kasur samping Ara.


"Capek," gumam Ara masih belum sepenuhnya sadar.


Gio terkekeh pelan, bagaimana tidak lelah jika dia mengajak istrinya bermain cukup lama pagi tadi, bahkan istrinya ini baru tidur satu jam setelah menyelesaikan permainan mereka.


"Bunda ada diluar," kata Gio mengusap pipi istrinya.


Dengan kesadaran yang belum terkumpul, Ara bangkit dengan tergesa-gesa sambil membungkus tubuhnya dengan selimut.


"Eh," Gio terkejut saat istrinya itu langsung terduduk.


"Pusing," rengek Ara.


"Siapa suruh bangun kayak gitu,"


"Kamu ngagetin,"


"Siapa yang ngagetin sayang. Aku cuma bilang bunda ada diluar,"


"Mau peluk," pinta Ara tak menghiraukan ucapan Gio tadi.


Dengan senang hati Gio memeluk istrinya dengan erat, menciumi pipi chubby istrinya.


"Ini siapa yang buat sebanyak ini?" tanya Gio sok polos sambil mengelus beberapa tanda merah di leher dan dada istrinya.


"Kamulah, siapa lagi emang," kesal Ara.


"Ya udah, mandi. Bunda nungguin,"


Gio terkekeh mendengar penuturan Ara, istrinya itu makin hari makin manja saja.


"Nanti dipeluk sampai puas," sahut Gio.


"Udah gak mual lagi?" tanya Ara.


"Lumayan enakan. Mandi dulu, atau mau aku mandiin hm?"


"Enggak, mandi sendiri,"


Setelah mengatakan itu, Ara melepas pelukannya dan bangkit dengan terburu-buru menuju kamar mandi. Bisa bahaya jika terus-terusan meladeni Gio.


Setelah beberapa menit berjalan pasangan suami istri yang sudah rapi itu keluar dari kamar menemui sang bunda. Vio beranjak dari duduknya dan langsung menarik Ara keluar dari apartemen diikuti Gio dari belakang. Gio dan Ara sebenarnya tidak tau Vio akan mengajak mereka kemana, mereka hanya ikut saja. Diperjalanan pun tidak ada yang membuka suara. Gio yang duduk di kursi belakang bersama istrinya, sedari tadi hanya sibuk menempel pada Ara sedangkan Vio fokus pada ponselnya.


"Mobil bunda bau banget sih," gumam Gio yang masih didengar jelas oleh Vio.


"Enak aja, harum gini dibilang bau," kesal Vio.


"Emang bau,"


"Terserah abang aja,"


Tak lama, mobil yang mereka tumpangi berhenti di parkiran sebuah gedung besar yang membuat Gio dan Ara mengerutkan keningnya bingung, dua orang itu saling pandang lalu kembali menatap Vio.


"Bunda sakit?" tanya keduanya bersamaan.


Yah, Vio membawa mereka ke rumah sakit, entah apa tujuannya.

__ADS_1


"Tidak," jawab Vio keluar dari mobil.


Ara dan Gio juga segera keluar dan mengikuti langkah Vio dengan raut makin bingung. Bundanya itu hanya diam dan terus berjalan entah kemana tanpa memberi penjelasan pada keduanya dan anehnya juga, Gio dan Ara hanya mengikuti dengan ekspresi bingungnya. Tak lama Vio berhenti di sebuah ruangan yang membuat Gio melototkan matanya menatap Vio.


"Bunda hamil lagi," pekik Gio, kentara sekali laki-laki itu tidak suka jika bundanya hamil lagi, bukannya apa-apa, dia hanya tidak ingin melihat bundanya kesakitan karena melahirkan lagi.


"Ck jangan berteriak, ini rumah sakit. Diam dan ikut bunda saja," jawab Vio kesal.


Gio langsung membungkam mulutnya, berbeda dengan Ara yang sedari tadi hanya diam. Ketiganya lalu melangkah masuk kedalam ruangan yang jelas itu adalah ruangan dokter kandungan.


"Duduk," titah Vio pada Gio dan Ara.


Gio dan Ara langsung mengikuti ucapan Vio meski masih dengan raut bingungnya. Sedangkan dokter yang ada di hadapan mereka hanya tersenyum melihat pasangan suami istri itu.


"Jadi gini dok, putra saya ini dari kemarin mual-mual, coba dokter periksa siapa tau putra saya hamil," celetuk Vio.


"Bunda," tegur Gio dengan wajah memerah malu.


Ara dan dokter dengan nametag dokter Nada itu tertawa mendengar ucapan Vio.


"Jangan dengarkan Vio, biarkan dia. Jadi apa keluhan kalian?" tanya dokter Nada, dokter kandungan sekaligus sahabat dari Vio.


"Saya gak ada keluhan kok dok, bunda salah bawa orang kesini. Mungkin yang harusnya dibawa tuh adek saya, bukan saya," jawab Gio.


"Emmm dok," panggil Ara tidak enak dengan jawaban Gio.


"Jadi gini, dari kemarin suami saya mual-mual terus, moodnya berubah-ubah dan dia gak suka bau jeruk padahal dulu suka banget bau gituan," sahut Ara mengingat perubahan sikap Gio.


"Ayo ikut saya," dokter Nada tersenyum mendengar penjelasan Ara lalu dokter itu beranjak menuju ke brankar membuat Gio dan Ara makin bingung.


"Ikut aja," ujar Vio.


"Tapi bunda, masa iya abang yang hamil,"


Ingin rasanya Vio memukul kepala putranya itu. Tinggal nurut saja apa susahnya sih, begitu kira-kira arti tatapan Vio.


"Bukan kau Gio, tapi Ara," sela dokter Nada. Dokter itu memang sudah sangat akrab dengan keluarga besar itu.


Ara mengerjapkan matanya namun meskipun begitu dia mengikuti saja setiap arahan dari dokter Nada, mulai dari naik ke brankar sampai dokter Nada melakukan USG padanya. Sementara Gio hanya berdiam diri menatap apa yang dilakukan pada istrinya.


"Bunda," panggilnya hendak meminta penjelasan tapi Vio lebih dulu menyuruhnya diam.


"Benar dugaan saya," ucap dokter Nada setelah melihat layar monitor yang menampakkan rahim Ara.


"Perubahan mood pada Gio, perubahan sikap dan masalah mual-mualnya itu disebabkan karena ini," tunjuk dokter Nada pada layar monitor tersebut. Ara dan Gio masih diam belum paham maksud dokter Nada.


"Kehamilan simpatik itu wajar terjadi, kehamilan dimana bukan lagi ibu yang merasakan mual dan perubahan mood seperti ibu hamil pada umumnya tapi justru suami yang merasakannya. Ini terjadi di trisemester atau awal kehamilan," jelas dokter Nada.


"Maksudnya dok?" tanya Gio linglung.


Dokter Nada menyinggungkan senyum lalu berucap, "Ara sedang mengandung, usia kehamilannya masih 3 minggu, masih sangat kecil. Dan ini janinnya," tunjuk dokter Nada kembali pada layar monitor.


"Istri saya hamil?" tanya Gio masih tak percaya.


"Iya, selamat Gii, sebentar lagi jadi papa,"


...-To be Continued-...

__ADS_1


__ADS_2