
...---Happy reading---...
Laki-laki dengan balutan hoodie hitam berdiri didekat jembatan sebuah danau dekat taman yang dia janjikan tadi pada seorang gadis. Dia baru kembali hari ini dan langsung mengajak gadis itu bertemu. Gio mengamati suasana taman dalam diam. Banyak pasang mata yang menatapnya heran pasalnya sedari tadi laki-laki itu hanya berdiri diam menatap taman dengan tatapan datarnya.
Tangan yang bertumpu pada pembatas jembatan kecil itu terus bergerak memainkan gelang hitam dengan bandul gembok yang melingkar indah ditangannya. Ini sudah hampir satu jam dia mengabari Ara tadi tapi gadis itu belum juga datang.
Gio menghela nafas lega saat seseorang yang dia tunggu akhirnya datang juga. Namun gadis itu terlihat celingak-celinguk mencari keberadaannya. Gio merogoh saku hoodie mengambil ponsel lalu menghubungi gadis itu.
"Arah jarum jam 9", kata Gio setelah panggilannya tersambung.
Dari posisinya, dapat dia lihat gadis itu menatap kearahnya dengan senyum manis. Ara memutuskan sambungan telfonnya lalu berlari kecil menghampiri Gio.
"Maaf ya lama", kata Ara setelah sampai disamping Gio.
Gio berbalik menghadap Ara yang sedari tadi mengembangkan senyumnya. Gio rindu dengan gadis ini.
"Oh iya kamu kok bisa udah ada disini, kapan pulangnya", tanya Ara.
"Terus ngapain langsung kesini, bukannya istirahat malah langsung keluar. Emangnya kamu gak lelah", lanjutnya.
"Ah satu lagi, kamu udah makan, kamu naik apa kesini. Jangan bilang kamu bawa kendaraan sendiri. Kamu ya benar-benar gak ada capeknya. Kalau mau ketemu kan bisa besok-besok, atau hari ini dirumah kamu. Aku hari ini kan ngajar Gea", cerocos Ara bahkan saat Gio belum menjawab pertanyaan pertamanya.
Gio terkekeh pelan lalu mengacak rambut Ara gemas.
"Cerewet", hanya itu respon Gio membuat Ara mendengus namun tak urung tersenyum juga.
Jantung Ara berdetak lebih kencang dari sebelumnya. Senyum dan wajah tampan Gio benar-benar dia rindukan, aish baru satu minggu tidak bertemu laki-laki ini berhasil membuatnya uring-uringan.
"Udah makan ?", tanya Gio.
Ara mengangguk sebagai jawaban,"udah tadi sebelum kesini, makanya lama", ucapnya tertawa canggung.
"Ra..", panggil Gio pelan.
"Hmm",
"Aku mau ngomong",
Ara menelan salivanya kasar, tiga kata itu berhasil membuat jantungnya semakin menggila namun tak urung juga membuatnya gelisah. Apa yang akan Gio katakan, apakah dia akan dipecat, atau lebih parahnya disuruh tak mendekati Gio dan Gea lagi, atau Gio akan mengatakan jika dirinya bakal pindah keluar negeri. Demi apapun Ara belum siap, baru beberapa hari ini dekat tapi mereka harus kembali asing lagi. Raut wajah Ara yang tadi ceria tiba-tiba berubah lesu dan itu disadari betul oleh Gio.
Gio menyentil kening Ara membuat gadis itu meringis dan refleks mengusap keningnya.
"Jangan mikir yang aneh-aneh", kata Gio memperingati seolah tau apa yang ada dipikiran gadis itu.
"Gimana gak mikir aneh-aneh, kamu baru datang langsung serius gitu", kata Ara sedikit kesal.
"Aku gak dipecat kan, jangan dong. Aku nyaman sama kerjaan aku sekarang, aku sekarang punya teman", kata Ara menatap Gio.
Gio mendengus kesal, bisa tidak gadis dihadapannya ini tidak membicarakan pekerjaan saat bersamanya.
"Gak usah mikirin itu", kata Gio lagi.
"Terus kamu mau ngomong apa", tanya Ara.
Mengenal laki-laki ini hampir sebulan sudah cukup untuknya sehingga tidak terlalu canggung lagi.
"Satu bulan cukup kan ?", tanya Gio.
"Cukup apa ?. Benar kan kamu mau pecat aku", kata Ara lesu.
"Bukan itu", sahut Gio cepat.
__ADS_1
"Ya makanya kamu bicara yang benar, jangan sepotong-sepotong, aku gak ngerti", kata Ara.
"Aku gak biasa bicara panjang", kata Gio.
"Aku gak ngerti kalau kamu bicara sepotong-sepotong begitu. Jelasin baik-baik makanya", kata Ara lagi.
Astaga, Gio baru tahu gadis ini ternyata menyebalkan sekali.
"Kau ini menyebalkan sekali. Baiklah, dengarkan aku baik-baik", kata Gio.
Ara menatap Gio dengan serius, menajamkan telinganya agar bisa memberikan respon cepat dengan apa yang Gio katakan nanti. Gio beralih meraih tangan Ara, menggenggamnya erat.
"Sebelum berangkat kemarin, aku sempat bilang saat aku pulang kata teman itu berubah kan ?", kata Gio yang hanya diangguki Ara, meskipun tidak mengerti.
"Hari ini aku mau nanya sama kamu. Aku rasa satu bulan bukan lagi waktu yang singkat untuk mengenal satu sama lain. Jujur dari awal aku ketemu kamu, aku udah suka sama kamu. Aku lakuin banyak cara biar bisa dekat sama kamu, termasuk ngajar Gea. Dan itu berhasil, aku bisa dekat sama kamu", kata Gio.
"Seminggu lebih ini, selain bantu ayah kerja aku juga yakinin diri sendiri kalau aku beneran suka sama kamu atau enggak. Dan jawabannya iya aku suka kamu. Aku harap satu minggu ini juga kamu udah bisa yakinin diri sendiri dengan perasaan kamu itu. Rasa kamu itu hanya sekedar teman atau bukan", lanjut laki-laki itu.
Ara melongo melihat Gio mengeluarkan kata-kata sepanjang itu. Untuk pertama kalinya, Ara melihat Gio mengatakan sesuatu dengan kalimat panjangnya. Melihat itu Gio berdecak kesal, sungguh ternyata gadis ini benar-benar menyebalkan. Dia sudah kalimat sepanjang itu tapi respon gadis itu diluar dugaannya.
"Ck, Ara kamu dengar tidak", tanya Gio mulai kesal.
Ara gelagapan sendiri, astaga kenapa dia tiba-tiba jadi bodoh seperti ini. Gio tadi mengatakan apa ? Bahkan dia sama sekali tidak mengerti.
"E-e-h d-dengar k-ok", jawabnya gelagapan.
Gio menatap Ara malas, dari cara gadis itu menjawab pun sudah menjelaskan jika dia sama sekali tidak mengerti.
"Jadi gimana ?", tanya Gio.
"G-gimana apanya?", tanya Ara dengan polosnya.
Astaga, Gio rasanya ingin menenggelamkan dirinya saja. Bukan hanya rasa gugup yang dia lawan mati-matian tapi juga gengsinya tapi lihatlah gadis ini bahkan sama sekali tidak mengerti.
"Aku suka sama kamu. Kamu gimana suka juga gak sama aku?", tanya Gio kesal.
Arrrggghhh, Gio ingin berteriak saja sekarang.
"Enggak marah Ara", sahut Gio berusaha sabar.
"Itu tadi bicaranya ketus banget", sahut Ara.
Gio lagi-lagi menghela nafasnya pelan berusaha meredam amarahnya. Dia tidak mau rencananya hari ini gagal.
"Kamu mau gak jadi pacara aku", kata Gio to the point. Persetan dengan gengsi, yang dia mau ini cepat selesai, diterima atau tidaknya itu urusan belakang. Dia masih bisa berjuang kok.
"Hah?", mendadak otak Ara berhenti berfungsi.
"Jawab Ara", kata Gio hampir kehilangan kesabarannya.
Sejenak Ara diam mencerna semua ucapan Gio. Dia sadar betul akan perasannya dan ternyata perasaan laki-laki itu sama dengannya tidak ada yang lebih menyenangkan dari itu, tapi bersamaan dengan rasa bahagia itu, rasa khawatir timbul dalam diri Ara, lagi dan lagi perbedaan status sosial menamparnya dengan keras.
"T-tapi Gii....", ucapan Ara menggantung, apa yang harus dia katakan pada laki-laki ini. Sedangkan Gio hanya memandang Ara menunggu gadis itu menyelesaikan ucapannya.
Gio dapat merasakan tangan yang dia genggam sedari tadi itu balas menggenggam tangannya lebih erat seolah memberikan keberanian pada pemilik tangan itu untuk melanjutkan ucapannya.
"Aku suka sama kamu. Aku sadar itu", kata Ara mampu membuat senyum manis Gio mengembang sempurna.
"Tapi Gii,, kita berbeda", lanjutnya membuat senyum Gio perlahan memudar.
"Berbeda apanya?", tanya Gio.
"Aku sayang kamu tulus. Tapi kita berbeda, dari segi kehidupan, status sosial, latar belakang keluarga kita jelas jauh berbeda. Aku tau kamu bisa terima aku tapi bagaimana dengan keluarga kamu, apa mereka bisa terima aku nantinya. Kamu kalangan atas hidup dengan segala fasilitas dan hidup yang berkecukupan sedangkan aku, bahkan aku harus kerja keras buat hidup aku. Bunda sama ayah aku udah gak ada, aku yatim piatu, apa keluarga kamu bakal bisa terima itu semua", kata Ara menunduk.
__ADS_1
Akhirnya apa yang dia takutkan bisa dia ungkapkan juga. Dia terlalu rendah jika disandingkan dengan orang sekelas Gio.
Gio mati-matian menahan amarahnya saat kata-kata itu keluar dari mulut Ara. Bisa tidak gadis ini tidak merendahkan dirinya sendiri seperti ini. Gio tidak suka.
"Kita sama Ara. Gak ada yang beda", sahut Gio membuat Ara mendongak menatap Gio yang juga menatapnya dengan tatapan teduh.
"Aku gak peduli kata orang, yang jelas aku sayang kamu. Dan harus kamu tau keluarga besar aku gak pernah memandang orang dari status sosial. Kamu lihat bunda kemarin ? Apa dia ada memperlakukan kamu dengan tidak baik karena dia tau kamu orang kayak gimana ?", tanya Gio membuat Ara menggeleng.
"Aku, Gea, bahkan semua anggota keluarga dari dulu diajarkan untuk tidak memandang orang lain dengan status sosial. Kita sama, gak ada yang beda. Percaya sama aku", kata Gio meyakinkan.
"Tapi Gii...",
"Apa lagi ?, Takut orang bakal bilang kamu deketin aku karena harta ?. Gini Ra, ini hidup kita, kita yang jalani, selagi tidak merugikan orang lain ngapain kita dengarin apa kata orang. Ada aku yang selalu ada disamping kamu",
Ara menatap mata Gio yang menyorotnya teduh dengan tatapan yang meyakinkan jika semuanya akan baik-baik saja. Ara menghela nafas pelan meyakinkan diri jika pilihan yang akan dia pilih hari ini adalah yang terbaik untuknya.
"Bagaimana ? Mau ya ?", tanya Gio lembut.
Samar-samar Ara mengangguk dengan senyum tipis membuat senyum Gio mengembang seketika.
"Beneran ?", tanya Gio memastikan.
"Iiish iya. Jangan ditanya terus, malu tau", sahut Ara menunduk malu.
"Kamu serius kan, gak bohong ?", tanya Gio masih tak percaya.
Ara memukul lengan laki-laki itu membuatnya meringis karena pukulan Ara bukanlah hal yang bisa dikatakan pelan.
"Kok mukul", tanya Gio.
"Y-yaaa kamu sih, udah dibilang jangan tanya mulu masih aja nanya, aku malu tau", kata Ara dengan kesal tapi pipinya merona malu.
"Boleh peluk gak?", tanya Gio
Tak menunggu jawaban Ara, Gio memeluk Ara erat seolah tak ingin lepas. Oke kebahagiaannya hari ini bertambah dan orang yang dia jaga juga bertambah. Tidak masalah, Gio akan melakukan apapun untuk menjaga gadisnya ini.
"Terima kasih" ucapnya mengecup puncak kepala Ara gemas.
"Gio peluknya jangan erat-erat", kata Ara pelan saat pelukan Gio benar-benar erat, selain sesak, Gio menekan punggungnya yang terbentur tembok membuatnya semakin sakit.
"Kenapa sih, iih aku seneng tau. Bahagia banget malah", kata Gio semakin mengeratkan pelukannya membuat Ara meringis pelan.
"Sesak", gumamnya masih dengan ringisan.
Mendengar ringisan yang keluar dari mulut Ara, Gio refleks melepaskan diri lalu menatap Ara cemas.
"Kenapa ? Ada yang sakit?", tanya Gio menatap Ara.
Ara gelagapan, dia tidak mungkin memberitahu Gio apa yang terjadi hari ini. Sebisa mungkin dia merubah ekspresinya menjadi kembali baik-baik saja.
"Gak papa kok", katanya berbohong.
"Kamu gak bisa bohongin aku", kata Gio.
Fyi, Gio adalah tipe orang yang susah dibohongi. Dia tahu jika orang yang dia ajak bicara berbohong. Apalagi perempuan, jangan lupakan jika adiknya perempuan dan dia belajar banyak dari sana.
"Gak papa kok", kata Ara lagi.
"Coba liat", kata Gio hendak mengangkat hoodie Ara untuk dia lepas.
"Heh. Ini ditaman", kata Ara memukul lengan Gio.
Gio mengalihkan pandangannya ke penjuru taman, benar saja bahkan tak sedikit dari mereka memperhatikan keduanya. Gio beralih menarik tangan Ara pelan untuk meninggalkan taman, dia harus memeriksa apa yang terjadi dengan Ara sebenarnya.
__ADS_1
"Ayo"
...---To Be Continued---...