
Ara, Gea dan Dara sedang duduk disebuah meja tepat di taman belakang rumah Gea. Gea dan Dara fokus mendengar apa yang Ara jelaskan.
"Kak Ara, lanjut nanti aja ya. Gea capek", keluh Gea.
"Ho'ooh, Dara juga", celetuk Dara yang duduk disamping Gea.
"Ikut-ikutan aja lo", kesal Gea.
"Terserah gue dong, mulut-mulut gue. Ah mau nyari makan dulu", kata Dara langsung beranjak masuk kedalam rumah.
"Kak Ara pintar berenang ?", tanya Gea lagi.
Ara menutup bukunya, lalu menatap Gea yang sudah menunggu jawabannya.
"Bisa, tapi agak takut kalau terlalu dalam", jawab Ara.
"Wah kakak hebat, Gea aja gak bisa. Btw nih kak, bang Gio tuh juga gak bisa berenang, dia takut liat air yg menggenang banyak gitu, air di bathtub aja abang gak bisa liat lama, katanya takut", kata Gea melirik kolam renang yang berada tidak jauh dari mereka.
"Kakak ngerti gak penjelasan Gea ?", tanya Gea pada Ara. Sadar penjelasan sedikit belibet.
Ara mengangguk lalu berujar, "Oh ya ?, kenapa ?", tanya Ara penasaran.
"Gak tau. Bunda cuma bilang abang ada trauma, gak tau deh trauma apa. Abang juga kalo ditanya gak pernah jawab, cuma bilang takut aja", jawabannya.
Oke, fakta baru yang Ara dapat dari seorang Gio, dia punya trauma dengan air, anggap saja seperti itu. Tapi kenapa ? ah Ara jadi penasaran, seperti apa sih sosok laki-laki itu.
Tak lama Dara datang dengan sejumlah makanan hasil rampokannya dari kulkas Vio.
"Maling lo ya", tuduh Gea.
"Selagi gratisan, ambil banyak kan gakpapa", kata Dara acuh, seolah berada dirumahnya sendiri.
Dara kembali duduk ditempatnya lalu membuka cemilan yang dia bawa.
"Kak Ara makan, anggap rumah sendiri. Anggap punya sendiri", kata Dara mempersilahkan.
"Kakak jangan sungkan. Anggap aja gak ada oang kalau perlu anggap orang gila", lanjutnya.
"Enak aja, lo aja kali. Kak Ara jangan dengerin dia, kadang emang otaknya gak beres", sahut Gea.
Ara tertawa pelan melihat tingkah dua gadis dihadapannya ini, persis anak kecil saat bertengkar, menggemaskan.
"Belajarnya lanjut dikit lagi ya, abis itu besok disambung lagi", kata Ara lembut membuat atensi keduanya beralih pada Ara.
Gea maupun Dara mengangguk menyetujui.
"Kak Ara udah cocok banget jadi ipar gue", bisik Gea pada Dara yang sebenarnya itu bukan definisi dari berbisik. Bahkan seseorang yang tengah berdiri didekat pintu tepat dibelakang mereka bisa mendengar ucapannya.
__ADS_1
"Kok gitu ?", tanya Dara ikut berbisik.
"Lembut banget coy, bisa ngajak gue ke jalan yang benar setelah lo sesatkan", jawab Gea lagi.
"Maksud lo gue cuma bikin lo sesat gitu ?", tanya Dara ketus.
"Ya iyalah, yang ngajak gue nyolong jambu depan kompleks siapa kalo bukan lo", balas Gea lebih ketus.
"Satu lagi, lo tadi ngajak gue bolos kan. Kalau abang tau mampuslah kita", lanjut Gea.
Ara yang mendengar itu semua melirik kearah pintu yang menghubungkan rumah dan taman belakang, disana berdiri seseorang dengan hoodie hitamnya sedari tadi berdiri mengawasi mereka.
Bibir Ara berkedut menahan tawa, jika dua gadis dihadapannya ini tau orang yang sedari tadi mereka bicarakan sedang menatap mereka dengan tatapan yang yaaahhh...dingin dan sedikit tajam, bagaimana reaksi mereka.
"Nah satu lagi, lo nginap disini semalam bukannya kerja tugas malah ngajak gue maraton sampai subuh", lanjut Gea masih mengingat satu persatu dosa sahabatnya itu.
"Gea..", panggil Dara pelan.
Dia sudah tidak tau harus berbuat apa, jangan sampai Gea mengingat semuanya. Masalahnya bukan karena dia menyesal tapi lebih ke malu, ya pikir saja sendiri mereka ini sudah kuliah dan kelakuannya masih seperti anak SMA saja, nyolong jambu, bolos, dan begadang unfaedah.
"Apa masih mau gue ingatin satu-satu?", tanya Gea ketus.
"Ekhemmmm", deheman seseorang dari arah belakang mereka membuat Gea dan Dara membeku ditempat. Tubuh keduanya langsung tegak seketika.
"Mampus", gumam Dara.
"Satu-satu apa, dek ?", tanya Gio lembut.
Gea menelan salivanya susah payah, Gio memang berbicara lembut padanya tapi baginya ini sebuah bencana.
Gio duduk berdampingan dengan Ara yang sudah menahan tawa sedari tadi. Raut ketakutan dari keduanya begitu menggemaskan dimata Ara.
"Coba ulang yang tadi", kata Gio dengan senyum manisnya.
"Y-yang m-mana", kata Gea tiba-tiba gugup.
"Yang kamu bilang tadi, mau ingatin satu-satu dosa Dara kan ?", tanya Gio.
"Bang ini gak seperti yang abang pikir", kata Dara mendramatis.
"Dara sama Gea kan anak baik-baik, mana mungkin nakal. Ya kan Gee", kata Dara diselingi tawa canggung.
Tatapan kedua gadis itu berpindah menatap Ara yang sedari tadi menatap mereka. Berbicara lewat tatapan, berusaha meminta pertolongan.
"Siapa yang nyolong?", tanya Gio.
Gea dan Dara saling tunjuk membuat Gio menghela nafas pelan.
__ADS_1
"Siapa yang bolos?", tanyanya lagi.
Masih sama, keduanya masih saling tunjuk.
"Siapa yang begadang unfaedah sampai lupa kerjain tugas ?",
Jawaban keduanya masih sama, saling tunjuk dengan wajah yang tertunduk takut.
Gio menghela nafas kasar. Astaga adik-adiknya ini benar-benar masih sama seperti anak kecil.
Tawa Ara pecah seketika, melihat raut wajah kedua gadis dihadapannya dan melihat tingkahnya membuat Ara begitu gemas.
"Astagaaa, Gio. Adik-adik kamu benar-benar yah", katanya berusaha meredam tawanya.
"Udah jangan dimarahin", kata Ara lembut.
Gio yang sedari tadi menatap Ara tak menghiraukan perkataan gadis itu, dia hanya sibuk memandangi wajah cantik Ara saat tertawa, ini yang pertama kalinya buat dia.
Sedangkan dua gadis dihadapannya menatap Ara dengan tatapan bangga.
"Kan gue udah bilang, kak Ara tuh udah cocok banget jadi ipar gue. Udah cantik, baik, pintar, pasti akan selalu belain kita nanti", kata Gea berbisik yang sebenarnya masih terdengar jelas oleh dua makhluk dihadapannya.
Gio tersenyum miring tanpa mengalihkan pandangannya. Sedangkan Ara yang ditatap seperti itu justru salah tingkah sendiri.
"Emmm... Gea, Dara. Belajarnya lanjut besok aja, kalian masuk dan istirahat", kata Ara gugup karena tatapan Gio.
Dengan segera, dua gadis itu langsung lari terbirit-birit masuk kedalam rumah meninggalkan Gio dan Ara.
Gio mengalihkan pandangannya menatap dua gadis yang sudah hampir hilang dari pandangannya.
"Gea, Dara. Abang belum selesai", teriak Gio lantang.
"Udahlah, Gii. Kamu kayak gak tau aja sifat adik kamu", kata Ara menenangkan.
"Tapi kalau dibiarkan, mereka gak bakal jera", kesal Gio.
"Gakpapa, kan sekali-kali", sahut Ara tersenyum simpul.
Gio mendengus kasar lalu menatap Ara yang sudah merapikan buku-bukunya.
"Raa..", panggil Gio pelan.
"Iya ?",
"Jalan yuk",.
...---TBC---...
__ADS_1