
"Kakak ipar ada di kantor, sepertinya ingin menemui ayah"
Gio menatap pesan yang baru saja dikirim adiknya beberapa menit yang lalu. Langkahnya yang hendak memasuki apartemennya kini dia urungkan dan berbalik arah untuk menjemput sang istri.
Untuk apa istrinya itu bertemu dengan ayahnya, apa Ara lupa, ayahnya berniat memisahkan mereka. Gio menghela nafas kasar, Ara benar-benar menguji kesabarannya hari ini. Belum selesai dengan masalah tadi pagi, sekarang perempuan itu sudah membuat masalah baru dengannya.
Setelah kejadian di rumah besarnya kemarin, Gio belum berani mempertemukan Ara dengan kedua orang tuanya. Dia takut jika ayahnya benar-benar mengambil Ara darinya.
Setelah beberapa menit berkendara, Gio akhirnya sampai di gedung besar yang menjadi perusahaan besar keluarganya. Langkahnya dengan tergesa-gesa memasuki gedung itu tanpa menghiraukan tatapan dari orang-orang yang menatapnya aneh. Tidak, dia tidak tenang sama sekali saat dia belum melihat Ara ada didepan matanya. Jantungnya berdetak cepat dengan nafas memburu. Masa bodo dengan jabatan, dia hanya menginginkan Ara, itu saja.
...🖤🖤...
"Ada apa?" tanya Kevin menatap perempuan yang sudah dia anggap putrinya sendiri kini berdiri dihadapannya.
"Duduk dulu," ajaknya lembut. Ara hanya menggeleng pelan menolak ajakan laki-laki yang begitu mirip dengan suaminya itu.
"Ara mau bicara, Yah," ucap Ara memberanikan diri.
"Iya, bicaranya sambil duduk. Kamu pasti capek,"
"Ayah,"
Panggilan Ara mengalihkan Kevin yang sudah hampir bergerak menuju sofa di dalam ruangan besarnya itu. Laki-laki itu kini berjalan mendekat kehadapan Ara.
"Ara udah nikah sama abang," ucapnya.
"Beberapa hari yang lalu. Abang gak maksa Ara karena itu sama-sama kemauan kami berdua," ujarnya berusaha memberi Kevin pengertian.
"Ayah sudah tau," sahut Kevin.
__ADS_1
Ara melotot kaget ternyata ayah mertuanya itu sudah mengetahuinya tapi siapa yang memberitahukan Kevin kabar ini.
"Gio yang cerita sama ayah," ujarnya menjawab kebingungan Ara.
"Sudah liat berita hari ini?" tanya Kevin yang langsung diangguki Ara.
"Ayah, apa yang buat ayah gak merestui kami lagi, ayah gak suka ya kalau Ara yang jadi menantu ayah?" tanya Ara.
"Ayah gak mau kamu dapat laki-laki tidak bertanggung jawab sekalipun dia anak ayah,"
"Gio udah bertanggung jawab, Yah. Dia udah mengusahakan semua yang Ara inginkan. Dia rela kerja seperti itu hanya untuk Ara, melepas jabatannya demi Ara, lalu tidak bertanggung jawab seperti apa lagi, Yah?" tanya Ara menatap sendu kearah Kevin.
"Ara bahagia sama Gio, Ara cuma mau sama Gio gak mau sama orang lain. Kali ini Ara datang kesini tanpa sepengetahuan suami Ara. Ara datang karena keinginan Ara. Maafin Gio, Yah,"
"Ara kesini bukan karena tidak mau memiliki suami yang bekerja seperti itu. Sekalipun Gio jadi pengangguran, Ara akan ikut dia tapi maksud Ara kesini mau mengembalikan nama baik suami Ara didepan ayahnya sendiri. Maafkan Gio, semua hanya salah paham, Yah,"
"Kalau begitu tinggalkan Gio dan menikah dengan pilihan ayah,"
Suara dari pintu itu mengalihkan tatapan keduanya. Dua orang berbeda gender itu menatap Gio dengan tatapan terkejut, sejak kapan Gio ada disini. Mata Gio memerah menahan amarah, dengan nafas memburu dan tangan terkepal, Gio menatap tajam kearah Ara dan ayahnya bergantian. Dia marah pada Ara karena tanpa sepengetahuannya, perempuan itu datang meminta maaf atas namanya pada sang ayah. Gio marah pada ayahnya yang terus memaksa Ara meninggalkannya dan Gio marah pada dirinya sendiri karena tidak bisa mengatasi masalah seperti ini sendirian, bahkan istrinya ikut turun tangan.
"Ayah gak berhak suruh Ara tinggalin abang," ucapnya pelan namun penuh penekanan. Dia tidak akan pernah meninggikan suaranya kepada kedua orang tuanya.
"Dia istri abang, dan ayah gak berhak misahin kami berdua," ujarnya lagi.
"Abang sama Ara sudah nikah, hubungannya gak sebercanda itu lagi. Sekalipun ayah gak kasi restu dan suruh semua perusahaan atau tempat kerja buat gak terima abang, gak masalah. Abang akan tetap berusaha menghidupi istri abang dan abang gak akan ninggalin dia untuk kedua kalinya, jadi abang mohon, ayah jangan ambil Ara lagi," ujarnya penuh permohonan.
"Ara cuma punya abang begitu pun sebaliknya,"
Setelah itu tatapan tajamnya beralih menatap Ara yang kini menunduk takut melihatnya. Dengan mati-matian dirinya menahan amarahnya lalu berjalan mendekat kearah Ara, menarik perempuan itu lebih dekat padanya.
__ADS_1
"Abang pamit, Yah," setelah mengatakan itu Gio menarik Ara keluar dari ruangan kerja ayahnya.
...💔💔...
Ara terduduk di tepi tempat tidur sambil menunduk takut, sedangkan Gio duduk di kursi tepat dihadapannya. Setelah dari perusahaan ayahnya, belum ada percakapan antara keduanya. Gio diam menatap Ara yang masih menunduk sedangkan perempuan itu diam-diam menatap punggung tangan Gio yang terluka dan perban pada tangan kirinya yang sudah acak-acakan.
Ara mati-matian menahan tangisnya saat ingatannya kembali pada artikel yang memberitakan tentang pekerjaan Gio. Pasti tangan suaminya terluka karena pekerjaan barunya itu. Bukan, Ara tidak malu sama sekali, dia hanya tidak tega membiarkan Gio bekerja seperti itu, dia tahu Gio tidak terbiasa akan pekerjaannya sekarang.
Tatapan mengintimidasi Gio membuat Ara makin takut ditempatnya, terlebih lagi Ara lihat dengan jelas jika Gio melihat Aldi memeluknya tadi.
Tangan Gio terkepal kuat, tak peduli akan rasa sakit pada lukanya yang belum kering itu, dia mengepalkan tangannya kuat menyalurkan amarah dan rasa sesaknya mengingat apa saja kejadian yang dia alami hari ini. Mulai dari Ara yang berpelukan dengan laki-laki lain dan berani bertemu dengan ayahnya. Jika saja Gio tadi tidak datang kemungkinan besar Ara akan menyetujui keinginan ayahnya hanya untuk mengembalikan nama baiknya. Mengingat itu, amarah Gio semakin memuncak.
Gio berdecak kesal lalu mendorong kursi dengan kasar dan beranjak dari duduknya. Hal itu membuat Ara terkejut dan mendongak menatap Gio yang ternyata sudah masuk kedalam kamar mandi. Ara menghapus air matanya kasar lalu beranjak menyiapkan baju suaminya.
Sibuk dengan pakaian sang suami, Ara tak menyadari Gio yang hanya mengenakan handuk sudah berdiri dibelakangnya. Dengan kasar Gio menarik Ara hingga perempuan itu berbalik dan menatap Gio bingung. Melihat kilatan amarah dari pancaran kedua mata Gio, Ara menelan ludahnya kasar.
"Lepas Gii, sakit," Ara berusaha memberontak saat Gio menariknya masuk ke kamar mandi. Cengkraman tangan Gio benar-benar kuat hingga membuat kulitnya memerah.
"Gii...."
Ara terkejut saat tubuhnya diangkat dengan kasar lalu dimasukkan kedalam bathup yang sudah terisi full dengan air.
"Gii kamu mau ngapain?" tanya Ara panik.
Gio menulikan telinganya, tak mendengarkan permintaan Ara yang meminta dilepaskan. Bahkan kini Gio sudah mengguyur tubuhnya hingga basah dan menggosoknya dengan kasar. Emosi Gio kembali memuncak saat mengingat istrinya dipeluk dan dicium sembarangan oleh laki-laki yang sama sekali tidak diketahui.
"Gii, ampun. Jangan gini," ujar Ara berusaha memohon agar Gio tidak semakin kasar. Bukannya mendengarkan, Gio justru semakin menjadi, menuangkan sabun dan sampo pada tubuh istrinya dan menggosoknya dengan kasar.
Air mata Ara mengalir deras, dia tidak tahu apa yang membuat Gio jadi kasar seperti ini. Dia tahu Gio marah tapi apa harus seperti ini. Sedangkan laki-laki itu memandang Ara dengan tajam, lalu detik berikutnya laki-laki yang masih berdiri di samping Ara itu membanting botol sampo dan juga sabun lalu beranjak keluar dari kamar mandi.
__ADS_1
...-To be continued-...