Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 48. sekertaris baru


__ADS_3

...---Happy reading---...


"Kenapa sekertarisnya ayah ganti?", tanya Gio pada ayahnya lewat sambungan telfon.


Laki-laki itu sibuk membereskan semua dokumen-dokumen pentingnya di meja, juga mengecek jadwalnya hari ini. Pagi tadi, ayahnya baru mengatakan jika dia mengganti sekertarisnya dan mungkin akan masuk siang ini, padahal dia ada meeting penting jam 10 nanti. Kenapa tidak dari kemarin, fikir Gio. Yaaa jika kemarin ayahnya memberitahu, dia tidak akan serepot ini.


"Ayah sih telat ngasih taunya", kata Gio hampir merengek.


"Kok kamu jadi makin manja semenjak pacaran sama Ara", sahut dari seberang.


"Ayah...",


"Iya iya. Kan bisa sendiri dulu bang, nanti juga bakal datang yang gantiin",


"Iya tau, abang bisa kerja sendiri tapi gak mungkin dong Yah abang kerja semuanya sendiri tiap hari, nandatangani berkas, ngatur jadwal, ngatur ini itu", kata Gio lagi.


"Sebentar lagi yang gantiin dia datang kok. Udah ah ayah ada meeting", sahut Kevin dari seberang dan mematikan sambungan ponsel secara sepihak.


Gio berdecak kesal, kembali fokus mengatur dan menyusun dokumen yang harus dia tanda tangani, belum lagi dokumen yang harus dia bawa ke meeting sebentar belum sama sekali dia urus.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu bahkan tak membuatnya mengalihkan perhatiannya. Dia hanya berteriak menyuruh orang yang entah itu siapa untuk masuk.


"Permisi pak", sapa seseorang yang kini berdiri dihadapan Gio yang masih sibuk dengan urusannya sendiri.


Gerakan Gio terhenti mendengar suara yang terdengar sangat familiar bahkan dia kenal diluar kepala. Segara Gio mengangkat pandangannya menatap seorang gadis dengan balutan baju kantor dengan rambut tergerai sudah berdiri dihadapannya.


"Surprise", teriak Ara dengan senyum manisnya.


"Kamu ngapain ?", tanya Gio belum konek.


Ara mendengus kasar lalu berjalan dan tanpa perintah duduk dikursi depan Gio.


"Ayah nyuruh aku bantu putranya disini", jawab Ara santai.


"Beneran?", tanya Gio memastikan.


Ara mengangguk sebagai jawaban membuat Gio tergesa-gesa mendekati Ara lalu memeluk gadis itu erat.


"Jadi ini yang kamu bilang kejutan kemarin, dan ini yang ayah bilang menggantikan posisi sekretarisnya ?", tanya Gio menangkup pipi Ara.


Ara mengangguk dengan senyum yang teramat manis membuat Gio senang bukan main. Bahkan laki-laki itu sudah menghujani seluruh wajah Ara dengan ciuman.


"Geli", kata Ara terkekeh pelan.


"Aku seneng banget tau", celetuk Gio kembali memeluk Ara dan memutar tubuhnya.


"Udah iih, aku pusing", keluh Ara membuat Gio berhenti dan tertawa pelan.


"Sesenang itu ya?", tanya Ara.


"Ya iyalah, siapa yang gak seneng kerja didampingi pacar sendiri. Aaaaaaa ayah baik banget deh", kata Gio mencubit pipi Ara gemas.


"Jadi, kita mulai dari mana kerjaan kita CEO tampan ku?",


"Gimana kalau kita pacaran dulu",


"Kamu ada meeting jam 10 dan selesai makan siang kamu ada pertemuan lagi dengan rekan bisnis ayah di cafe, malamnya masih ada kerjaan yang harus kamu kerjakan. Jadi malam ini kita pulang telat", sahut Ara yang sudah tau jadwal kekasihnya hari ini. Yah, ayah dari laki-laki ini sudah memberikan jadwal Gio padanya minggu ini dan untuk minggu depan dia yang akan membuat jadwal sendiri untuk kekasih sekaligus bosnya ini.


"Udah tau aja", celetuk Gio.


"Ya udah sekarang kamu selesaikan itu, aku urus keperluan meeting kamu nanti", kata Ara melirik tumpukan dokumen dimeja Gio.


"Cium dulu", perintah Gio.


Dengan terkekeh pelan, Ara mendaratkan ciuman di pipi dan bibir laki-laki itu. Dia sudah tak canggung lagi karena ini sudah seperti hal wajib yang Gio lakukan padanya. Jika tidak menuruti, siap-siap saja diamuk macan satu ini. Meskipun sudah sering melakukannya, tapi tetap saja jantungnya tak bisa berkompromi setiap kali dekat dengan Gio.


"Ya udah, kamu kerja", kata Ara yang diangguki Gio. Gadis itu berjalan keluar ruangan Gio karena mejanya memang ada di samping pintu masuk ruangan Gio.


"Semangat cantiknya Gio", kata Gio sedikit berteriak saat Ara hendak membuka pintu, gadis itu hanya tersenyum manis dan mengangguk.


"Kamu juga, sayang", balasnya sebelum benar-benar menghilang dibalik pintu.


Sedangkan laki-laki itu hanya menatap punggung kecil milik gadisnya hingga tenggelam oleh pintu ruang kerjanya.


"Ayah pengertian banget sih, kayaknya meja Ara harus dipindahkan jadi diruangan ini juga", celetuk Gio terkekeh pelan.

__ADS_1


...---🌻🌻🌻---...


Ruang meeting yang begitu tenang hanya terdengar terdengar suara dari seorang gadis yang menjelaskan memenuhi ruangan yang diisi hampir sebagian besar kaum adam tersebut. Saat yang lain fokus menatap gadis itu, lain dengan Gio yang sudah menahan kekesalannya mati-matian melihat para mata laki-laki dihadapannya itu secara terang-terangan menatap kekasihnya dengan tatapan kagum. Dia jadi menyesal menyuruh Ara menjelaskan segalanya.


"Mungkin hanya itu saja penjelasan dari saya, jika ada saran dan pertanyaan saya persilahkan", kata Ara menutup penjelasannya.


"Sudah sangat jelas", sahut Gio sedikit ketus. Ara menyadari itu, bahkan orang-orang yang ada didalam sana.


Semuanya diam menatap Gio takut-takut, pasalnya raut wajah laki-laki itu benar-benar tak bersahabat. Lain dengan Ara yang diam-diam tersenyum tipis melihat kelakuan Gio.


Gio berdiri tepat disamping Ara masih dengan wajah juteknya.


"Saya gak mau basa basi, jadi tolong perhatikan", kata Gio membuat semua orang yang ada diruangan itu menegakkan tubuhnya.


Tangan Gio tanpa aba-aba menelusup ke pinggang Ara dan menarik gadis itu lebih dekat dengannya. Ara terkejut bukan main, apalagi orang-orang yang ada disana, masih tak mengerti maksud Gio.


"Perkenalkan, Kaiyara Zoe, sekertaris sekaligus calon istri saya", ucapnya lantang.


Ara membulatkan matanya kaget, begitupun dengan orang-orang yang ada disana. Setau mereka Gio bukanlah orang yang mudah dekat dengan seseorang dan kabar yang beredar diluar sana adalah putra pewaris keluarga Ananda tidak akan menjalin hubungan atau menikah dengan siapapun sebelum adiknya menikah, dan apa ini sekarang. Bahkan adiknya masih semester awal dan dia sudah memperkenalkan calon istri, waw..akan ada banyak keluarga konglomerat yang akan patah hati jika mengetahui ini. Pasalnya Gio adalah sala satu calon menantu idaman mereka.


"Gio", tegur Ara berbisik pelan.


"Diam", balas Gio. "Meeting selesai", kata Gio lalu menarik Ara keluar dari ruangan itu.


Waktu berlalu. Setelah meeting tadi, Ara membantu Gio menyusun setiap dokumen dan hal lainnya didalam ruangan besar laki-laki itu. Terlalu fokus dengan pekerjaan mereka, sampai ruangan itu sangat-sangat hening. Tidak ada pembicaraan, keduanya hanya sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


"Ini kamu bawa, terus ketik ulang. Besok sudah harus ada dimeja aku", kata Gio menyerahkan map berwarna merah pada Ara yang langsung diterima gadis itu.


"Ya udah, kamu makan siang dulu", kata Ara beranjak berdiri diikuti Gio. Laki-laki itu diam dan terus menyorot Ara dengan raut yang masih tak berubah sama sekali.


"Kenapa sih, cemberut mulu dari tadi ?", tanya Ara lembut mendekat pada Gio yang masih diam menatapnya.


"Kenapa ?", tanya Ara menggenggam tangan Gio.


Gio menarik nafas pelan lalu kembali duduk dan menarik Ara sampai gadis itu duduk diatas pangkuannya. Tangannya melingkar di pinggang Ara dengan wajah yang dia tenggelam diceruk leher kekasihnya.


Ara kelimpungan sendiri, masalahnya ini dikantor, bagaimana jika ada yang lihat.


"Gio jangan gini", tegur Ara.


"Diam", balas Gio ketus.


"Bodo",


"Giooo",


"Diam sayang. Aku lagi kesel",


"Kenapa sih, mukanya dari tadi ditekuk mulu"


"Aku gak suka ya orang-orang liatin kamu kayak tadi",


"Emang kenapa sih, mereka kan punya mata",


Gio mendongak menatap Ara dengan wajah memelas.


"Gak suka, nanti kalau mereka suka sama kamu gimana", rengek laki-laki itu.


Ara tertawa pelan mengusap rambut Gio lalu mencium pipi laki-laki itu sekilas.


"Yang penting aku gak suka", sahut Ara.


"Kenapa gitu?" tanya Gio dengan polosnya membuat Ara terkekeh gemas.


"Kan udah ada kamu. Udah ah, jangan mikir yang aneh-aneh. Ayo makan siang dulu",


"Makan diluar, mau ?", tanya Gio mendekat pada Ara.


"Emmm, Gii.. Boleh nanya gak ?", tanya Ara hari-hari takut Gio tidak nyaman.


"Mau nanya apa, sayang?", tanya Gio bangkit lalu mengangkat tubuh Ara dan mendudukkannya di atas meja kerjanya. Kedua tangannya berada disisi kanan kiri Ara.


"Jangan gini juga, nanti ada yang liat", kata Ara pelan, lebih tepatnya gugup karena wajah Gio begitu dekat dengan wajahnya. Gadis itu juga takut ada orang yang tiba-tiba masuk dan melihat mereka sedekat ini, kan belum ada yang tahu hubungan mereka.


"Gak papa, gak ada yang liat juga", jawab Gio santai.


"Mau nanya apa ?", tanya Gio.

__ADS_1


"Kamu kenapa kayak gitu tadi, emang gak papa orang tau aku pacar kamu?", tanya Ara.


Gio mengangkat sebelah alisnya menandakan bingung dengan pertanyaan Ara.


"Emang kenapa kalau orang tau, kamu gak mau ?", Gio malah balik bertanya.


"Bukannya gitu, tapi kan kamu tau sendiri...."


"Aku gak suka kamu merendahkan diri lagi. Aku justru mau semua orang tau kalau kamu pacar aku, biar gak ada yang berani rebut kamu dari aku", Jawa Gio menegakkan tubuhnya.


"Tapi Gii, gimana sama ayah?", tanya Ara tidak enak.


"Loh bahkan ayah lebih antusias perkenalkan kamu", jawab Gio santai. Ara menatap Gio, apa laki-laki itu tidak berbohong ?


"Aku beneran. Ayah yang bilang gitu", kata Gio lagi karena memang seperti itu kenyataannya, ayahnya setiap malam bertanya kapan dia akan mengenalkan Ara ke semua orang.


"Kenapa jadi khawatir gitu ?", tanya Gio lembut.


"Gak tau, gak enak aja. Kayak gak pantas aja, aku gak punya apa-apa yang bisa aku banggain kalau ada disamping kamu", sahut Ara menunduk.


"Jangan selalu gitu dong, aku gak suka. Kamu gini aja aku udah suka banget, aku bersyukur punya kamu. Kamu gak perlu kayak gitu, aku sayang kamu apa adanya. Harus berapa kali sih aku bilang gitu biar kamu percaya", sahut Gio mengusap lembut pipi Ara.


Gadis itu mendongak menatap Gio. Laki-lakinya ini terlalu sempurna untuk dia yang terlalu banyak kekurangannya.


"Orang-orang pasti akan bilang aku gak pantas buat kamu dan akan suruh aku pergi......"


Ucapan Ara terpotong saat bibirnya dibungkam Gio. Laki-laki itu menciumnya dengan rakus, mel*mat bibirnya seolah besok tidak akan pernah lagi dia menciumnya. Tangan kanannya terangkat menekan tengkuk Ara, memperdalam ciumannya. Sedangkan tangan kirinya memeluk pinggang gadis itu erat.


Gio melepaskan ciumannya, namun tak cukup satu menit, ia kembali mel*mat bibir milik kekasihnya itu. Dia hanya memberi celah untuk Ara bernafas sebentar. Ara diam, tak tahu harus berbuat apa, dia sama sekali tak membalas perlakuan Gio seperti biasa, karena ini untuk pertama kalinya Gio menciumnya dengan kasar. Tindakan Gio membuatnya sadar betul telah memancing kemarahan kekasihnya.


"Akh...", desis Ara tertahan saat Gio menggigit bibir bawahnya.


Gio terlihat tak ingin menghentikan ciumannya, justru semakin mengobrak-abrik isi mulut gadisnya yang sudah lemas karena terkejut. Jantung gadis itu berpacu begitu cepat.


"Shiit", umpat Gio setelah melepas tautannya dan mengacak rambutnya kasar.


Laki-laki itu kembali mendekat pada Ara yang masih duduk di meja kerjanya dan menatapnya tanpa berkedip.


"Maaf", bisiknya menangkup pipi Ara.


"Aku kelepasan", lanjutnya.


"Sakit ya?", tanya Gio polos mengusap bibir Ara yang tadi dia gigit.


"Sayaaaaaang", rengek Gio melihat ara yang tak kunjung membalas ucapannya.


Mendengar suara rengekan Gio, Ara tersadar dan menatap Gio yang sudah menatapnya dengan mata berkaca-kaca. Ara tau sebentar lagi laki-laki itu akan menangis.


"Hiks maaf", isak Gio, kan dugaannya benar.


"Eh eh, kok nangis", Ara panik sendiri.


"Maaf hiks", kata Gio pelan, layaknya anak kecil.


"Sini peluk", kata Ara merentangkan tangannya.


Tanpa basa basi, Gio memeluk Ara erat dan kembali menangis.


"Aku minta maaf, hiks tadi kelepasan. Kamu sih pake acar bilang pergi, pergi. Gio gak mau Ara pergi, harus sama Gio terus hiks", cerocos Gio disela tangisnya.


"Iya Ara gak pergi. Maaf ya, gak lagi bilang kayak gitu", sahut Ara.


Gio melepas pelukannya dan menatap Ara yang kini menghapus sisa air mata diwajahnya.


"Gak boleh ya ngomong kayak gitu lagi", kata Gio.


"Iya gak akan lagi", kata Ara mengangguk pasti.


"Boleh cium lagi gak", pinta Gio.


"Iih tadikan udah", sahut Ara gugup. Gio ini jika sudah seperti ini dia tidak akan berhenti merengek sampai apa yang dia inginkan terwujud.


"Aaaaaaaaa Araaaa, mau cium", rengek Gio. Bibir kekasihnya sudah menjadi candu untuknya. Bukan sekali duakali Gio seperti ini tapi sering.


"Tapi....."


"Aaaaaa Araaaa", rengek laki-laki itu sambil menghentak-hentakkan kakinya.

__ADS_1


"Bodo ah, mau", kata Gio yang langsung menyerang Ara. Kali ini Ara tidak diam saja, dia membalas ciuman lembut dari kekasihnya, melupakan jika tadi mereka berencana untuk makan diluar


...---To Be Continued---...


__ADS_2