Perjalanan Cinta CEO Muda

Perjalanan Cinta CEO Muda
Part 8. Berangkat bersama


__ADS_3

Hari ini, adalah hari pertama Ara akan mengajari Gea. Sebenarnya nanti sore, bukan pagi ini. Pagi ini dia ada kelas dan gadis itu juga pasti ada kelas.


Tadi pagi-pagi sekali, Gio menghubunginya hanya sekedar untuk memberitahunya jika dia boleh mulai bekerja hari ini, yang tanpa diberi tahu pun sebenarnya dia sudah tahu. Namun, Ara tidak tahu saja alasan dibalik Gio menelfonnya sepagi itu. Jelas saja hanya basa basi untuk bisa berbicara dengan gadis itu sebelum dia berangkat.


Pagi ini Ara begitu bersemangat untuk memulai harinya.


"Nek.. Ara berangkat dulu", teriak Ara dari teras rumah.


"Hati-hati", balas Muti, neneknya.


Ara berjalan dengan langkah riang menuju jalan raya. Namun saat kakinya menapaki jalanan didepan rumahnya, Ara dibuat terkejut dengan kehadiran dua orang yang sama sekali Ara tidak sangka.


"Pagi kak Ara", sapa seorang gadis yang tengah tersenyum manis kearahnya. Disamping gadis itu,, seorang laki-laki dengan baju kaos hitam dilapisi jaket denim berwarna biru dipadukan dengan celana jeans hitam yang sedikit robek dibagian lutut lalu sepatu sneaker berwarna putih membungkus kakinya tengah bersandar dibadan mobil dengan menunduk memainkan ponselnya.


Namun saat gadis dengan rambut panjang itu menyapa Ara, dia juga ikut mengangkat kepalanya menatap Ara yang terkejut setengah mati dengan kehadiran dua saudara itu, siapa lagi jika bukan Gea dan Gio. Tapi tunggu, mereka melupakan seorang gadis yang masih setia duduk manis didalam mobil dan juga ikut menyapa Ara lewat jendela mobil yang terbuka, dia Dara.


"K-kalian ngapain kesini?", tanya Ara masih dalam keterkejutannya.


"Jemput kakak", jawab Gea dan Dara hampir berbarengan.


"Hah ?", tanya Ara cengo.


"Dua tuyul ini yang maksa buat jemput kamu, biar bisa barengan katanya", kata Gio menjawab kebingungan Ara.


Gio tidak berbohong, Gea dan Dara lah yang memaksa Gio untuk sekalian menjemput Ara, dan Gio yang sedang melakukan pendekatan dengan gadis itu jelas saja tidak menolak.


Mendengar ucapan abangnya, Gea bahkan Dara tersenyum geli.


"Ciieee aku-kamu", lagi-lagi dua gadis itu menimpali hampir berbarengan membuat keduanya saling pandang dan melepas tawa keras mereka.


"Berisik", ketus Gio lalu beralih menatap Ara yang menatap ketiganya bergantian.


"Ayo,, nanti telat", kata Gio lalu masuk kedalam mobilnya.


"Ayo kak", ajak Gea menarik lengan gadis itu untuk masuk kedalam mobil.


Lagi dan lagi Ara menghela nafas dengan tingkah mengejutkan gadis itu, saat hendak duduk dibagian belakang bersama Dara, Gea lebih dulu menariknya dan mendorongnya agar masuk ke dalam mobil dan duduk tepat disamping Gio, tepatnya didepan.


Selama dalam perjalanan, hanya suara Gea dan Dara yang mengisi keheningan mobil itu, saking berisiknya mereka, Gio sampai beberapa kali menegur, tapi bukan Gea dan Dara namanya jika mau mendengar.


"Kak Ara hari ini ngajar Gea kan ?", tanya Dara tiba-tiba.

__ADS_1


Ara menoleh kebelakang menatap Gea dan Dara yang juga menatapnya.


"Iya, kenapa ?", tanya balik Ara.


"Dara boleh ikut gak ?", tanya Dara.


"Gak ada yaa,, gak mau gue", bukan, itu bukan suara Ara melainkan Gea langsung menyambar begitu saja.


"Kenapa ?", tanya Dara polos.


"Yaa lo mikirlah, kalau lo ikut belajar sama gue yang ada bukannya belajar kita malah ghibah,, rusuh, main mulu", jawab Gea.


"Kasian Kak Ara nanti tertekan ngadapin lo", lanjutnya.


"Enak aja",


"Lah kan yang paling rusuh tuh, elo bukan gue. Nah kalau gue ngajak lo, kasian kak Ara",


"Tapi gue mau.... Abaaaaaang ?",


"Apa ?", sahut Gio ketus.


Dia sudah begitu kesal dengan tingkah dua gadis ini yang sedari tadi tidak bisa diam. Telinganya sudah panas mendengar celotehan dan perdebatan keduanya.


"Gak ada", jawab Gio.


"Loh kok Abang gitu?", tanya Dara tidak terima.


"Kalian berdua itu kalau sudah bertemu gak bisa diam, ribut mulu. Benar kata Gea, bukannya belajar kalian berdua malah ghibah dan bertengkar. Ini saja Abang udah pusing dengarkan kalian tau", kesal Gio.


Dua gadis ini jika sudah bertemu pasti akan menguji kesabarannya.


"Eeehh... Ehmm boleh deh. Lo ikut gue belajar tambahan bareng kak Ara", sahut Gea kemudian.


Gio dan Dara mengerutkan kening bingung dengan jawaban Gea yang berubah, tapi tak urung juga membuat Dara terpekik kegirangan.


"Yeeeey. itu baru sahabat gue", kata Dara memeluk tubuh Gea dari samping.


"Tapi btw lo kenapa tiba-tiba berubah pikiran ?", bisik Dara pada Gea.


"Benar kata Abang, kalau lo ikut kita berdua bakalan rusuh mulu. Nah disitu Abang bisa gunain kesempatan deket atau apa kek sama kak Ara. Lo ngerti gak sih maksud gue?", balas Gea Abi berbisik juga.

__ADS_1


"Ah gue ngerti", jawab Dara.


Gio yang melihat keduanya dari kaca spion tengah menatap mereka curiga. Ada apa dengan mereka, batinnya.


Sedangkan Ara hanya tersenyum melihat tingkah dua gadis manis yang sebentar lagi akan merusuh dihidupnya itu. Tapi tingkah Gea dan Dara yang begitu ceria membuatnya selalu tersenyum jika bersama mereka.


"Gak papa kan kak ?", tanya Gea pada Ara.


Ara tersenyum hangat melihat keduanya lalu mengangguk sebelum berujar, " boleh, malah lebih seru kalau rame", kata gadis itu.


Gio menghela nafas pelan mendengar persetujuan Ara, belum tahu saja gadis ini jika keduanya bersama.


Setelah mengendari mobilnya beberapa menit, keempatnya sampai di depan kampus Gea. Dengan segera ketiga gadis itu keluar dari mobilnya menyisakan Gio yang menatap mereka melalui kaca mobil yang terbuka.


"Masuk, belajar yang benar. Awas kalau Abang dengar kalian bolos", ancam Gio dengan tatapan tajamnya.


Melihat tatapan tajam saudaranya itu, Gea langsung kicep. Dia paling tidak suka jika abangnya sudah menatapnya seperti itu. Seperti akan menelannya hidup-hidup, menakutkan.


Gio beralih menatap Ara. Gadis itu sedari tadi hanya lebih banyak diam dan ikut tertawa atau tersenyum dengan lelucon yang di buat dua gadis yang ada bersamanya sekarang.


"Raa,, nanti aku jemput boleh ?", tanya Gio meneduhkan tatapannya.


"Boleh, kan Gea sama Dara juga harus kamu jemput jadi sekalian aja", kata Ara.


"Mereka nanti dijemput sama ayah. Kamu pulangnya sama aku", kata Gio.


Hari ini karena kelas Gea lebih dulu selesai dan ayahnya sudah berjanji menjemputnya, maka dia akan pulang bersama ayahnya. Kedua orang tuanya sudah beberapa hari ini sibuk di luar kota.


"T-tapi....", ucapan Ara terhenti saat Gio langsung menyambar begitu saja.


"Gak terima penolakan", kata Gio.


Saat hendak kembali berbicara dengan Gea dan Dara, kedua gadis itu sudah lari terbirit-birit masuk kedalam kampus, tak ingin mengganggu moment berdua Gio dengan Ara.


Gio menghela nafas pelan. Dia belum selesai dan kedua gadis itu sudah pergi begitu saja.


"Aku pergi dulu", pamitnya.


"Gio kenapa sih?", batin Ara bertanya-tanya sambil memandangi mobil putih Gio yang sudah hampir menghilang dari pandangannya.


"Tapi manis banget",

__ADS_1


...****************...


__ADS_2