
...---happy reading---...
Ara melangkahkan kakinya menyusuri trotoar jalan mencari kendaraan umum yang akan membawanya ke rumah kediaman Ananda. Dia tidak pulang bersama gadis yang akan dia ajar karena hari ini gadis itu tidak masuk, katanya sih gak ada kelas.
Gadis dengan balutan baju kaos putih, cardigan coklat dan rambut dicepol asal itu melangkah memasuki taksi yang sudah dia dapat. Tadi sepulang kuliah dia masih sempat pulang untuk berganti pakaian sebelum kembali ke pekerjaannya.
Setelah beberapa menit, taksi yang dia kendarai berhenti didepan sebuah rumah besar yang tak lain rumah Gio. Setelah membayar, Ara segera turun dan melangkahkan kakinya masuk. Belum juga sempat memencet bel, pintu besar itu terbuka menampakkan seorang laki-laki dengan balutan jaket denim berwarna biru tengah menatapnya dengan senyum tipis.
"Cari bang Gio ya?", tanyanya ramah.
Ara terdiam, kenapa jadi Gio. Jelas-jelas dia datang kesini untuk mengajar adik dari laki-laki itu, bukan bertemu Gio.
"Enggak kok. Cari Gea. Geanya ada kan ?", tanya Ara. Dia kenal laki-laki dihadapannya ini. Kalau tidak salah namanya Zian, laki-laki yang katanya sedang dekat dengan Gea dan mereka juga satu angkatan dikampus.
"Ada di dalam, masuk aja. Kalau gitu gue pamit", pamitnya lalu pergi meninggalkan Ara yang juga melangkahkan kakinya memasuki rumah besar dan megah itu.
"Kak Ara udah datang. Sini-sini, Gea ada banyak makanan", sapa Gea saat melihat Ara yang berjalan mendekat.
"Hari ini Gea belajar sendiri gak papa kan. Dara gak bisa ikut soalnya mama lagi sakit", lanjutnya saat Ara sudah duduk disofa samping gadis itu.
"Gak papa, emangnya bunda sakit apa ?", tanya Ara.
Gea terkekeh pelan mendengar pertanyaan Ara. Bukan. Bukan. Bukan bundanya yang sakit tapi mamanya, atau lebih tepatnya mama sahabatnya yang sudah dia anggap mama sendiri.
"Bukan bunda kak, tapi mama. Mamanya Dara", jawab Gea. Oke sekarang Ara mengerti maksud gadis ini.
"Calon mantu bunda udah datang", sahut suara dari dapur saat Ara hendak membalas ucapan Gea.
Ara dan Gea kompak menoleh dan menatap Vio yang berjalan mendekat dengan tangan yang membawa berbagai macam cemilan.
"Mantu ?", beo Gea.
"Iya mantu bunda. Tadi mantu laki-laki bunda udah pulang sekarang mantu cewek bunda yang datang. Tapi sayangnya abang belum pulang, masih ada tiga atau gak empat hari kedepan", cerocos Vio yang langsung duduk diantara dua gadis itu setelah meletakkan nampan berisi cemilan di meja.
Ara hanya diam. Apa sih maksud wanita ini, mantu ? Menantu ? Siapa yang dia sebut menantu ? Dirinya kah ? Astaga Ara jadi baper sendiri.
"Besok kan libur nih, Ara malam ini tinggal sama bunda dan Gea ya. Kebetulan abang sama ayah gak dirumah jadi sepi", kata Vio menatap Ara penuh harap.
Ara melotot kaget, astaga ini diluar ekspektasinya. Dia berfikir, jika dirinya akan sedikit susah berinteraksi dengan orang-orang terpandang ini tapi kenyataannya tidak, justru sepertinya menyenangkan bisa dekat dengan mereka.
"Maaf, bunda. Ara gak bisa, kalau Ara tinggal nenek bakal sendiri dirumah", kata Ara menolak dengan halus. Dia sebenarnya ingin tinggal tapi neneknya akan sendirian dirumah jika seperti itu.
"Ajak dia tinggal juga. Jangan khawatir, kalian belajar saja dan bunda yang jemput", sahut Vio tak mau mengalah.
__ADS_1
Gea hanya diam saja, percayalah sikapnya dan bundanya 11 12. Apa yang dia inginkan harus terpenuhi.
"Tapi bunda...",
"Tidak ada penolakan. Sekarang katakan dimana alamat rumah mu", kata Vio lagi.
"Biarin aja kak, bunda kalau udah kayak gitu gak bakal nyerah", sahut Gea yang sedari tadi diam.
"Kamu juga gitu ya", kesal Vio.
"Iya bunda ku sayang, iya".
...---🌻🌻🌻---...
Malam hari dikediaman keluarga besar Ananda, tepatnya di meja makan berkumpul 4 orang wanita yang berbeda generasi. Keempatnya kini tengah menikmati makan malam yang baru saja nyonya besar rumah itu masak sendiri.
"Eeemmm.. boleh gak saya panggil anda dengan sebutan ibu?", tanya wanita paruh bayah yang kini masih menguyah makanannya.
"Tidak apa-apa, nyonya", sahut perempuan yang kini umurnya sudah 60-an lebih.
"Saya sudah bilang, jangan panggil saya seperti itu", sahut Vio.
Perempuan itu sedang makan malam bersama putrinya dan ditambah dua orang lagi, Ara dan neneknya. Sesuai keinginan Vio tadi siang, semuanya benar-benar terjadi. Awalnya Muti, nenek Ara sedikit bingung akan kedatangan wanita asing yang menjemputnya tapi setelah dijelaskan baik-baik akhirnya dia mau ikut.
"Bukan, bukan seperti itu....", sahut Muti.
"Lalu bagaimana ?, Oke baiklah, saya panggil anda ibu dan anda bisa memanggil saya senyaman anda, nama juga gak papa", sahut Vio tersenyum manis.
"Turuti saja nek. Bunda Gea emang kayak gitu. Maklumin ya", timpal Gea yang sedari tadi diam. Sedangkan Ara hanya diam mengamati percakapan mereka. Jujur dalam hatinya dia begitu senang dan bersyukur bisa diterima dengan baik dikeluarga temannya ini dan terlebih lagi bukan hanya dirinya tapi juga neneknya.
"Bu, boleh gak nanti malam saya tidur sama Ara?", tanya Vio lagi.
Muti menolah pada cucunya yang sedari tadi hanya diam. Kemudian menatap Vio yang sedang menunggu jawabannya.
"Boleh", jawab Muti dengan senyum manis.
"Benar?", tanya Vio memastikan.
Muti kembali mengangguk dan kembali mengembangkan senyumannya. Hal itu membuat Vio tersenyum begitu senang. Gea mengerutkan keningnya, dia tidak marah atau cemburu bundanya menyayangi orang lain, hanya saja dia sedikit heran dan bingung, kenapa bundanya itu begitu menyukai Ara padahal mereka baru dua kali ini bertemu.
"Oke nanti Ara tidur sama bunda",
...---🌻🌻🌻---...
__ADS_1
Setelah makan malam dan mengobrol cukup lama, penghuni rumah memutuskan untuk beristirahat, jam sudah menunjukkan pukul 9 namun Ara dan Vio masih asik bercerita.
"Bunda sama ayah Ara udah gak ada. Kata nenek itu terjadi karena kecelakaan dan saat itu umur Ara baru satu tahun", kata Ara bercerita panjang lebar.
"Yang Ara punya sekarang cuma nenek", lanjutnya.
Sedari tadi saat masuk kamar bersama Vio, perempuan paruh baya itu menanyakan ini itu sampai Ara berinisiatif menceritakan semuanya. Keduanya sedang duduk berhadapan diatas tempat tidur.
"Maaf bunda gak tau", kata Vio menggenggam tangan Ara lembut. Ara hanya tersenyum tipis menatap Vio yang sekarang merasa tidak enak.
"Boleh gak aku peluk bunda?", pinta Ara begitu pelan.
Vio tersenyum tipis lalu tanpa menunggu lama dia menarik Ara kedalam pelukannya, memberikan pelukan hangat yang begitu gadis itu rindukan. Untuk yang pertama kalinya Ara merasakan pelukan hangat dari seorang ibu. Ara membalas pelukan Vio erat, pelukan hangat yang begitu Ara inginkan. Tanpa terasa air matanya mengalir, dia merindukan bundanya. Apa seperti ini rasanya dipeluk bunda sendiri, batin Ara bertanya-tanya.
Keduanya membisu sambil terus menikmati pelukan hangat itu tanpa mempedulikan seorang gadis yang sedang berdiri diambang pintu menatap mereka dengan senyum tipis. Gea membiarkan mereka untuk beberapa saat, dia tahu Ara gadis seperti apa dan bagaimana kehidupannya. Dia paham betul Ara membutuhkan itu.
"Ara capek bunda", gumamnya tanpa sadar masih dengan air matanya.
Vio mengangguk dengan mata berkaca-kaca, tangannya mengusap lembut surai panjang Ara berusaha memberikan ketenangan dan kehangatan.
"Ara kalau capek, istirahat dulu. Gak papa kok kadang kita memang butuh jeda sebelum kembali melangkah. Tapi Ara harus kuat dan gak boleh nyerah", kata Vio lembut.
Ara hanya mengangguk, air matanya masih saja tidak bisa dikontrol, "Ara kangen bunda sama ayah", racau gadis itu.
Tak sanggup melihat bundanya dan Ara menangis, Gea memutuskan panggilan videonya secara sepihak lalu mendekati keduanya. Tadi, Kevin menelfon memastikan keadaan dua wanita kesayangannya dan disana ada Gio, dua laki-laki itu menyaksikan pemandangan dihadapannya tadi. Gea hendak memberitahu bundanya namun saat melihat moment tadi Gea kembali mengurungkan niatnya.
"Gea gak diajak", sahut Gea membuat pelukan keduanya terlepas.
Ara menghapus air matanya lalu tersenyum menatap Gea yang sudah berdiri disampingnya.
"Kakak pinjam bunda sebentar", kata Ara.
"Selamanya juga gak papa, kan nanti kak Ara jadi mantu bunda, iya kan bund?", tanya Gea duduk disamping bundanya.
"Benar dan itu harus. Bunda gak mau orang lain, harus Ara", sahut Vio. Entah apa yang membuatnya begitu menyukai Ara tapi dari pertama bertemu Vio sudah menyukai gadis ini.
Ara hanya terkekeh pelan, astaga kenapa membahas ini lagi. Dia dan Gio saja belum pacaran kenapa sudah membahas menikah.
"Kalau abang gak mau, kita paksa", lanjut ibu dua anak itu.
Ara dan Gea tertawa melihat raut wajah Vio yang terlihat serius saat mengatakan itu. Ara mengamati kedekatan Vio dan Gea membuatnya teringat akan bundanya. Apa jika bundanya masih hidup, dia tidak akan sesusah dan semenyedihkan ini, harus bertahan hidup didunia yang begitu kejam untuknya ?.
"Salahkan aku jika semakin berharap", batin gadis itu.
__ADS_1
...---To Be Continued---...